Friday, June 8, 2012

SEKEDAR MA'RIFAT

Salah satu aspek Tuhan -sebagai pusat keimanan- adalah misterium tremendum (misteri yang mengandung kedahsyatan, selanjutnya lebih kita kenal dengan sifat Jalal). Inilah aspek ketuhanan yang pada gilirannya berpeluang menimbulkan “ketercekaman”. Al Gazali menguraikan “ketercekaman” ini pada bagian pendahuluan kitab Minhajul ‘Abidin dengan sangat informatif sebagai “taufiq yang khusus” dari Allah kepada hamba yang dipilih-Nya, hingga mendorong hamba tersebut untuk memasuki gerbang kehambaan. Aspek ini perlu sebagai sarana untuk menimbulkan ketaatan kepada hukum Tuhan dan penghambaan kepada Nya. Namun Tuhan juga memiliki aspek fascinosum, aspek penimbul pesona rasa cinta (selanjutnya lebih kita kenal dengan sifat Jamal). Dan untuk menimbulkan rasa cinta atau sayang ini adalah dengan memahami dan mengenal-Nya, sebagaimana kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”.

Berikut secara ringkas saya mencatat sebagian dari uraian Al Imam Abu al-Qasim ‘Abdul Karim bin Muwazin al-Qusyairi (Imam Qusyairi) dalam karya beliau Ar-Risalah al-Qusyayriah.
Beliau menulis :
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ
“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya …” (QS, al-An’am, 6:91).

Dalam beberapa kitab tafsir dijelaskan bahwa maksud ayat diatas adalah, “Mereka tidak mengenal Allah sebagaimana seharusnya Dia dikenal.”
Diriwayatkan oleh ‘Aisyah. ra bahwa Nabi Saw telah me ngatakan, “Landasan sebuah rumah adalah pondasinya. Landasan agama adalah pengenalan terhadap Allah, keyakinan, dan akal yang menjaga dari kekeliruan. ‘Aisyah lalu bertanya, “Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, apakah akal yang menjaga dari kekeliruan itu ?” Beliau menjawab, “Menahan diri dari ketidakpatuhan terhadap Allah dan bersemangat dalam men taati-Nya.”

Ditinjau dari segi bahasa, para ulama mengartikan ma’rifat (ma’rifah) sebagai ilmu (‘ilm). Jadi dalam pandangan mereka, semua ilmu adalah ma'rifat, dan semua ma'rifat adalah ilmu, dan setiap orang yang mempunyai ilmu (‘alim) tentang Tuhan adalah seorang ‘arif (ahli ma'rifat), dan sebaliknya. Akan tetapi di kalangan Sufi, ma’rifat adalah sifat dari orang yang mengenal Allah dengan nama-nama serta sifat-sifat-Nya dan berlaku tulus kepada Allah dengan perbuatan-perbuatannya, yang kemudian mensucikan dirinya dari sifat-sifat yang rendah serta cacat-cacat, yang tertegun di pintu (maksudnya seperti pengemis -mengharapkan rahmat dan ampunan- kepada Allah), dan yang senantiasa mengundurkan hatinya (dari hal-hal duniawi). Kemudian dia menikmati kedekatan dengan Tuhan, yang mengukuhkan ketulusannya dalam semua keadaan nya. Godaan jiwanya berhenti, dan dia tidak mencondongkan hatinya kepada pikiran apa pun yang akan memancing perhati annya kepada selain Allah, - sebab dia menjadi orang asing bagi manusia dan bebas dari petaka-petaka jiwanya, dirinya telah tersucikan dari rasa senang dan peduli terhadap selain Allah- ketika munajat-munajatnya dengan Allah SWT secara rahasia bersifat konstan, ketika dia yakin akan setiap kilasan dari Allah dan akan kembalinya dia kepada-Nya, dan ketika Allah SWT mengilhaminya dengan membuatnya menyadari akan rahasia- rahasia-Nya mengenai takdirnya, maka dia pada saat itu disebut seorang ‘arif, dan keadaannya disebut ma'rifat. Singkatnya, derajat ma'rifat yang akan dicapainya ditentukan oleh derajat di mana dia terasingkan dari dirinya sendiri.

Manakala para syaikh berbicara tentang ma'rifat, maka masing-masing dari mereka mengemukakan pengalamannya sen diri dan menunjukkan apa yang datang kepadanya pada saat tertentu.

Syaikh Abu ‘Ali ad-Daqqaq berkata, “Salah satu tanda ma'rifat adalah dicapainya rasa gentar. Bagi orang yang ma'ri fatnya meningkat, maka rasa gentarnya kepada Allah juga meningkat.” Beliau juga menyatakan, “Makrifat membawa keten teraman dalam hati, sebagaimana pengetahuan membawakan kedamaian. Jadi, orang yang ma'rifatnya bertambah, maka bertambah pula ketenteramannya.”

Asy-Syibli berkomentar, “Bagi sang ‘arif tidak ada keterikatan, bagi si pencinta tidak ada kesedihan, bagi si hamba tidak ada tuntutan, bagi orang yang takut kepada Allah tidak ada kelegaan, dan bagi setiap orang tidak ada jalan lari dari Allah.” Ketika asy-Sibli ditanya tentang ma'rifat, dia menjawab: “Yang pertama daripadanya adalah Allah SWT dan yang terakhir tak mempunyai ujung.”

Abu Hafs berkata, “Sejak aku mencapai ma'rifat, tak ada lagi kebenaran ataupun kebatilan yang memasuki hatiku.” Ucapan Abu Hafs ini tak mudah dipahami. Mungkin sekali Abu Hafs menunjukkan bahwa dalam pandangan Sufi, ma'rifat menjadikan si hamba kosong dari dirinya sendiri karena dia dilimpahi oleh dzikir kepada-Nya dan dengan demikian tak melihat apa pun selain Allah SWT, tidak pula dia berpaling kepada selain Dia. Sebagaimana seorang yang berakal berpaling kepada hati dan fakultas-fakultas reflektif dan ingatannya berkenaan dengan pikiran-pikiran yang datang ke dalam benaknya atau keadaan keadaan yang ditemuinya, maka sandaran sang ‘arif adalah Tuhannya. Jika seseorang disibukkan dengan Tuhannya semata, maka dia tidak akan berpaling kepada hatinya sendiri. Lebih jauh, bagaimana mungkin masalah tersebut memasuki hati seseorang yang tak punya hati ? Ada perbedaan antara orang yang hidup dengan hatinya dan orang yang hidup dengan Tuhannya. Ketika ditanya tentang ma'rifat, Abu Yazid menjawab, “Sesungguhnya raja-raja, jika mereka memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina” (QS, an-Naml, 27:34). Inilah arti yang dimaksud oleh Abu Hafs.

Abu Yazid menyatakan, “Manusia mempunyai keadaan-keada an, tapi sang ‘arif tidak. Sifat-sifat manusiawinya terhapus dan dzatnya telah berubah menjadi dzat lain. Sifat-sifatnya telah hilang karena sifat-sifat dari selain dirinya telah menggantikannya.” Al­ Wasiti berkata, “Makrifat tidaklah sahih jika dalam diri si hamba masih ada rasa kepuasan dengan Tuhan dan kebutuhan terhadap Nya.” Dengan ucapan ini al-Wasiti memaksudkan kebutuhan dan kepuasan adalah tanda-tanda ketenangan dan kewarasan jiwa pada diri si hamba dan tanda-tanda tetapnya sifat-sifatnya, arena kebutuhan dan kepuasan adalah di antara sifat-sifatnya, tetapi sang ‘arif terlebur dalam obyek ma'rifatnya. Bagaimana bisa ma'ri fatnya menjadi sahih, sementara dia lebur dalam wujud-Nya atau terserap dalam menyaksikan-Nya, tetapi belum sepenuhnya men capai wujud dan masih dipisahkan oleh kesadaran akan sifat apa pun yang mungkin dimilikinya? Karena alasan ini al-Wasiti juga mengatakan, “Barangsiapa memiliki pengetahuan langsung tentang Allah, berarti terputus, dia menjadi bisu dan tak berkemampuan.”

Ahmad bin ‘Asim al-Antaki berkata, “Semakin orang menge nal Tuhan, semakin dia takut pada-Nya.” Salah seorang Sufi menyatakan, “Barangsiapa mengenal Allah SWT niscaya merasa sakit akan wujudnya sendiri, dan bumi dengan keluasannya terasa sempit baginya.” Dikatakan, “Barangsiapa mengenal Allah, maka penghidupan akan menggembirakan baginya dan hidup menye nangkan; segala sesuatu gentar kepadanya, dia sendiri tak takut pada sesuatu pun di antara makhluk-makhluk Allah, dan dia menjadi akrab dengan Allah SWT.” Dikatakan, “Barangsiapa mengenal Allah, maka keinginan akan benda-benda akan mening galkannya, dan dia tidak terikat ataupun terpisah dari mereka.” Dikatakan juga, “Makrifat mendatangkan rasa malu dan sikap memahasucikan Tuhan, sebagaimana menegaskan tauhid menda tangkan kerelaan dan kepasrahan kepada Tuhan.”

Ruwaym berkomentar, “Makrifat adalah cermin sang ‘arif. Jika dia menatapnya, nampaklah Junjungannya.”
Dzun Nun al- Mishri mengatakan, “Prilaku sang ‘arif (terhadap orang lain) adalah seperti perilaku Allah SWT, dia bersabar terhadapmu karena dia meniru sifat-sifat Allah.”
Al-Husayn bin Manshur berkata, “Apabila si hamba mencapai tahapan ma'rifat, Allah bahkan menjadikan pikiran-pikiranya yang menyimpang sebagai sarana ilham, dan Dia menjaga batinnya agar pikiran-pikiran tentang selain Dia tidak muncul di situ.” Dia juga mengatakan, “Tanda seorang ‘arif adalah bahwa dia kosong dari dunia ini maupun dari akhirat.”
Sahl bin ‘Abdullah mengata kan, “Derajat paling tinggi dalam ma'rifat adalah kekecewaan dan kebingungan.” Dzun Nun al-Mishri menegaskan, “Orang-orang yang paling mengenal Allah adalah yang paling besar kebingung annya tentang diri-Nya.”Seorang laki-laki berkata kepada al-Junayd, “Di antara para ‘arifin, ada sebagian yang mengatakan, “Meninggalkan setiap macam kegiatan adalah bagian dari kesalehan dan kebajikan.” Al Junayd menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang meng usulkan agar meninggalkan semua amalan, yang menurut pen dapatku merupakan kekeliruan serius. Pencuri dan pezina ber keadaan lebih baik dari mereka. Sang ‘arif memperoleh amal-amal dari Allah SWT dan mereka kembali kepada Allah melalui amal-amal tersebut. Seandainya aku hidup seribu tahun, aku tidak akan mengurangi pelaksanaan amal kesalehanku sedikitpun.”
Al-Junayd menyatakan, “Seseorang tidak akan menjadi ‘arif sampai dia menjadi seperti bumi, diinjak oleh orang yang saleh maupun yang jahat, dan sampai dia menjadi seperti awan menaungi semua makhluk, dan sampai dia menjadi seperti hujan menyirami segala sesuatu, baik yang menyintainya maupun yang membencinya.”
Ibn Atha’ menjelaskan, “Makrifat dibangun dengan tiga tiang: rasa gentar, malu dan keakraban.” 
Dzun Nun al- Mishri ditanya, “Dengan apa engkau mengenal Tuhanmu?” Dia menjawab, “Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku. Kalaulah tidak karena Tuhanku, niscaya aku tidak akan mengenal Tuhanku.”
Asy-Syibli mengatakan, “Sang ‘arif tidaklah menampak sesuatu pun selain Dia, tidak pula dia berbicara dengan pembicaraan tentang sesuatu selain-Nya, dan tidak melihat satu pelindung pun bagi dirinya selain Allah SWT.”Dikatakan, “Sang ‘arif memperoleh keakraban dengan dzikir kepada-Nya, dan lari dengan penuh rasa takut dari ciptaan-Nya. Dia membutuhkan Tuhan, dan Tuhan membuatnya tak bergantung pada makhluk-Nya. Dia bersikap rendah diri terhadap Tuhan, dan Dia memuliakannya di antara makhluk-Nya.”Al-Junayd menyatakan, “Allah berbicara dari batin seorang ‘arif ketika dia diam.”
Abu Bakr al-Warraq berkomentar, “Diamnya seorang ‘arif adalah paling bermanfaat, dan bicaranya adalah paling baik dan paling menyenangkan.”Ketika al-Junayd ditanya tentang sang ‘arif, dia menjawab, “Warna air adalah warna wadahnya.” Artinya, sifat seorang ‘arif selalu ditentukan oleh sifat keadaannya pada saat tertentu.Ketika ditanya tentang tanda seorang ‘arif, Abu Turab men jelaskan, “Dia (sang ‘arif) tidak dibuat kotor oleh sesuatu pun, dan segala sesuatu dibuat menjadi suci olehnya.”
Abu ‘Utsman al-Maghribi berkata, “Cahaya pengetahuan bersinar bagi sang ‘arif, hingga dia melihat dengan ilmu hal-hal gaib yang mentakjubkan.”
Yahya bin Mu’adz ditanya tentang sang ‘arif, dan men jawab, “Dia adalah manusia yang berada bersama makhluk dan sekaligus terpisah darinya.” Di waktu yang lain dia berkata, “Mula-mula dia ada; kemudian dia terpisah.”
Dzun Nun al-Mishri mengatakan, “Ada tiga tanda seorang ‘arif ; pertama, cahaya ma'rifatnya tidak menghalangi cahaya tirakat (‘hidup serba minimal’) nya; kedua, dia tidak percaya pada pengetahuan batin apa pun yang bertentangan dengan ketentuan lahir ; ketiga, melimpahnya rahmat Allah SWT kepadanya tidak mendorongnya untuk merobek tirai yang me nutupi kesucian kegaibain Ilahi.”
Muhammad bin al-Fadhl menyatakan, “Ma'rifat adalah kehidupan hati bersama Tuhan
Post a Comment