Friday, June 22, 2012

Mujahidah

Ummu Mutiah, Perempuan Pertama Penghuni Surga 

  Fatimah Az-Zahra, walaupun putri kesayangan Rasulullah SAW, namun tidak pernah manja. Pantang baginya meminta sesuatu kepada sang ayah. Hidupnya sederhana, dan taat beribadah.

Sebagai seorang istri, serta ibu dari Hasan dan Husein, Fatimah selalu sabar dan ikhlas. Tugas kesehariannya dijalani sendiri, seperti menggiling gandum sampai tangannya lecet. Tidak ragu mengangkut air untuk kebutuhan keluarga hingga alasnya berbekas di dadanya. Rumah Fatimah selalu bersih, dan rapi berkat keuletannya mengurus perabotan di rumah.

Suatu hari Fatimah menanyakan kepada ayahnya, siapakah perempuan yang pertama kali masuk surga? Rasulullah menjawab, “Wahai Fatimah, jika engkau ingin mengetahui perempuan pertama masuk surga, selain Ummul Mukminin, dia adalah Ummu Mutiah.”

“Siapakah Mutiah itu, ya Rasulullah? Di manakah dia tinggal?” tanya Fatimah penasaran. Karena tidak ada yang mengenal Mutiah. Rasulullah menjelaskan, Ummu Mutiah yang dimaksud adalah perempuan yang tinggal di pinggiran Kota Madinah.

Jawaban itu membuat Fatimah tercengang. Ternyata bukan dirinya perempuan yang masuk surga pertama kali. Padahal Fatimah sebagai putri Rasulullah, dan telah menjalankan ibadah, amalan, serta bermuamalah dengan baik.

Untuk memenuhi rasa penasaran, Fatimah berkunjung ke rumah Mutiah di pinggiran Madinah. Dia ingin menyelidiki amalan dan ibadah apa yang dilakukan Mutiah hingga Rasulullah menyebut namanya sebagai perempuan terhormat.

Keesokan harinya, Fatimah pamit kepada suaminya mengunjungi kediaman Mutiah. Dia mengajak putranya Hasan. Setelah mengetuk pintu, memberi salam, terdengar suara dari dalam rumah. “Siapa di luar?” tanya Mutiah.

Fatimah menjawab, “Saya Fatimah, putri Rasulullah.”

Mutiah belum mau membuka pintu, malah balik bertanya, “Ada keperluan apa?”

Fatimah menjawab, ingin bersilaturahim saja. Dari dalam rumah Mutiah kembali bertanya, “Anda seorang diri atau bersama yang lain?”
“Saya bersama Hasan, putra saya,” jawab Fatimah dengan sabar.

“Maaf, Fatimah,” kata Mutiah, “Saya belum mendapat izin dari suami untuk menerima tamu laki-laki.”

“Tetapi Hasan anak-anak,” balas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga. Besok saja kembali lagi setelah saya mendapat izin dari suami saya,” timpal Mutiah.

Fatimah tidak bisa menolak. Setelah mengucapkan salam ia bersama Hasan meninggalkan kediaman Mutiah.


Mujahidah: Ummu Mutiah, Perempuan Pertama Penghuni Surga (2)
Keesokan harinya, Fatimah kembali mengunjungi rumah Ummu Mutiah. Kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, Husein pun ingin ikut ibunya. Tiba dikediaman Ummu Mutiah, terjadi lagi dialog dari balik pintu.

Menurut Mutiah, suaminya telah mengizinkan Hasan masuk ke rumahnya. Sebelum pintu dibuka, Fatimah mengatakan, kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, melainkan bertiga bersama Husein. Mendengar jawaban Fatimah, Mutiah urung membukakan pintu.

Mutiah menanyakan, apakah Husein seorang perempuan? Fatimah meyakinkan Mutiah bahwa, Husein cucu Rasulullah, saudaranya Hasan. “Dia seorang anak laki-laki.”

“Saya belum meminta izin kepada suami kalau Husein mau berkunjung ke rumah ini,” kata Mutiah.

“Tapi Husein masih anak-anak,” tegas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, Husein laki-laki juga. Maafkan Fatimah, bagaimana kalau kembali besok, setelah saya meminta izin kepada suami,” kata Mutiah.

Fatimah tidak bisa memaksa Mutiah. Dia bersama Hasan dan Husein kembali pulang, namun besok berjanji untuk datang lagi.

Keesokan harinya, Mutiah menyambut kedatangan Fatimah bersama Hasan dan Husein dengan gembira. Kali ini kehadiran Hasan dan Husein telah mendapat izin dari suaminya. Fatimah pun bersemangat ingin segera ‘menyelidiki’ ibadah, amalan, dan muamalah apa saja yang dilakukan perempuan pertama masuk surga ini.

Keadaan rumah Mutiah jauh dari yang dibayangkan Fatimah. Rumahnya sangat sederhana, tanpa perabotan mewah. Namun, semuanya tertata rapi dan bersih. Tempat tidur beralaskan seprai putih yang harum. Setiap sudut ruangan tampak segar dan wangi membuat penghuninya senang berlama-lama di rumah. Hasan dan Husein pun merasa betah bermain di kediaman Ummu Mutiah.

Selama berkunjung, Fatimah tidak menemukan sesuatu yang istimewa dilakukan Mutiah. Namun, Ummu Mutiah kelihatan sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. “Maaf Fatimah, saya tidak bisa duduk tenang menemanimu, karena saya harus menyiapkan makanan untuk suami,” ungkap Mutiah yang terlihat sibuk.

Mendekati waktu makan siang semua masakan sudah tersedia. Mutiah menuangkan satu per satu makanan di wadah khusus untuk dikirim ke suaminya yang bekerja di ladang. Yang membuat Fatimah heran, selain makanan, Mutiah membawa bekal sebuah cambuk.

“Apakah suamimu penggembala?” tanya Fatimah. Menurut Mutiah, suaminya bekerja sebagai petani, bukan penggembala.

“Lalu, untuk apa cambuk tersebut?” tanya Fatimah semakin penasaran.

Siti Masyitah, Pemegang Teguh Kebenaran


Mujahidah: Siti Masyitah, Pemegang Teguh Kebenaran (1)

 Ketika Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra Mikraj tercium aroma sangat harum. Rasulullah SAW penasaran bertanya kepada Malaikat Jibril, “Harum apakah itu wahai Jibril?”

Malaikat Jibril menjawab, “Itu adalah wangi dari kuburan seorang perempuan salehah bernama Siti Masyitah, dan anak-anaknya.”

Kisah perempuan yang memegang teguh kebenaran dan keimanan kepada Allah SWT ini diriwayatkan dalam hadis Ibnu Abbas.

Siapa Siti Masyitah, perempuan salehah yang dimaksud Malaikat Jibril? Ia hidup di zaman Fir’aun, si Raja kejam yang menganggap dirinya sebagai tuhan. Di sekitar Fir’aun ternyata ada beberapa orang dekatnya secara diam-diam beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa AS. Mereka mengikuti tuntunan Kitab Taurat yang disampaikan Nabi Musa AS.

Orang-orang terdekat itu adalah Siti Asyiah, yaitu istri dari Fir’aun, dan Siti Masyitah yang mengurus anak Fir’aun. Seorang lagi bernama Hazaqil, yakni pembuat peti untuk menaruh bayi Musa yang dihanyutkan ke Sungai Nil. Ketaatan ketiga orang ini terhadap Allah SWT tidak diketahui oleh Fir’aun.

Di istana, Hazaqil menjadi orang kepercayaan Fir’aun. Dia menikah dengan Siti Masyitah yang bertugas sebagai pengasuh anak perempuan Fir’aun. Suatu hari terjadi perdebatan sengit antara Fir’aun dengan Hazaqil. Fir’aun menjatuhkan hukuman mati kepada ahli sihir yang menyatakan beriman kepada Nabi Musa. Keputusan tersebut ditentang keras oleh Hazaqil.

Sikap tersebut membuat Fir’aun curiga terhadap orang dekatnya ini. “Jangan-jangan Hazaqil selama ini beriman pula kepada Nabi Musa,” pikir Fir’aun. Sikap Hazaqil tersebut diganjal hukuman mati oleh Fir’aun. Namun Hazaqil tidak takut menghadapi ancaman Fir’aun, karena dia yakin Tuhan yang diimani-Nya tidak ada yang lain, kecuali Allah.

Suami Siti Masyitah ini ditemukan meninggal dengan kondisi mengenaskan. Tangannya terikat di pohon kurma, tubuhnya penuh dengan tusukan anak panah. Masyitah sangat sedih melihat kondisi suaminya. Namun dia bersabar, dan berserah diri kepada Allah.

Keadaan ini dia adukan kepada istri Fir’aun. Siti Asyiah memberikan nasihat agar Masyitah bersama anak-anak sabar. Namun, dia bisa membaca isyarat dari Siti Masyitah yang beriman kepada Allah. Di akhir nasihatnya, Asyiah mengatakan bahwa selama ini dia juga beriman kepada Allah, tapi menyembunyikan di hadapan suaminya.Sepeninggal suaminya, seperti biasa Masyitah menjalankan tugasnya sebagai perias putri Fir’aun. Ada kisah sepele, tapi berdampak besar. Gara-gara sisir yang terjatuh, akhirnya terungkap jati diri Masyitah.

Saat itu, Masyitah sedang menyisir rambut anak Fir’aun. Tiba-tiba sisir dalam genggamannya terjatuh. Ketika mengambil lagi sisir tersebut, bibirnya reflek mengucap, “Bissmillah.”

Ucapan itu membuat anak Fir’aun terkejut. “Apakah ucapan yang kamu maksud adalah bapakku,” tanya anak Fir’aun.

Siti Masyitah dengan jujur berkata, “Ucapan itu bukan ditujukan untuk bapakmu, melainkan kepada Tuhan yang sesungguhnya, yaitu Rabb-ku, juga Rabb ayahmu, yaitu Allah. Karena tiada Tuhan selain Allah.”

Jawaban itu membuat anak Fir’aun tersinggung, berarti ada tuhan lain kecuali bapaknya. Anak Fir’aun itu mengancam melaporkan keyakinan Masyitah tersebut kepada bapaknya. Masyitah tidak gentar, karena dia yakin Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, bukan Fir’aun.

Laporan anaknya membuat Fir’aun murka. Dia tidak menyangka, pengasuh anaknya adalah pengikut Nabi Musa. Masyitah dipanggil lalu ditanya oleh Fir’uan, “Apakah benar apa yang disampaikan anakku? Siapakah tuhan yang engkau sembah selama ini?”

Masyitah tidak mengelak tuduhan itu. “Betul, Raja yang lalim. Bahwa tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai alam dan isinya,” jawabnya tegas.

Jawaban itu membuat Fir’aun semakin marah. Dia memerintahkan para pengawal menyiapkan minyak mendidih di dalam tembaga besar. Wadah panas itu untuk menggodok Masyitah beserta anak-anak yang disaksikan masyarakat luas. Sebelum dimasukkan ke minyak panas, Masyitah diberi kesempatan sekali lagi untuk memilih; dia dan dua anaknya selamat jika mengakui Fir’aun sebagai tuhan. Sebaliknya, nyawanya terancam jika tidak mau mengakui ketuhanan Fir’aun.
Post a Comment