Friday, June 22, 2012

Makna Al-Qalam


Makna Al-Qalam Menurut Para Sufi (1)


Bagi para sufi, ayat pertama surah Al-Qalam ayat 1, yaitu Nun, wa al-Qalam, wa Ma Yasthurun (Nun, demi pena dan apa yang dituliskannya), bermakna amat dahsyat. Misteri ayat ini diungkap para sufi dengan perspektif sangat berbeda dibanding makna dalam kitab-kitab tafsir kontemporer.

Ternyata tiga komponen dalam ayat ini, yaitu nun, qalam, dan lembaran menjadi asal usul segala ciptaan Tuhan. Aziz Al-Din Nasafi (Wafat 695H/1295M), seorang sufi dari Bani Kubrawi, yang pikirannya banyak dipengaruhi oleh Ibnu Arabi, menjelaskan bahwa nun adalah ‘bak tinta’.

Sedangkan qalam adalah pena, yang merupakan substansi pertama atau biasa disebut sebagai akal pertama, dan lembaran (ma yasthurun) ialah lembaran yang terpelihara (lauh mahfuz) atau ummul kitab. Nun sebagai bak tinta adalah tempat menyimpan tinta, merupakan kelengkapan pena untuk menulis.

Nun dihubungkan dengan QS Al-Kahfi: 109, “Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)’.”

Berbeda dengan Ibnu Arabi yang mengartikan nun dengan malaikat yang diperintah untuk menggunakan pena itu untuk menulis. Pendapat sama juga dikemukakan Imam Ja’far. Sebagian lagi mengartikan nun sebagai sungai di surga dan sejenis ikan yang pernah menyelamatkan Nabi Yunus.

Bagi Ibnu Arabi, nun ialah malaikat yang melukis semua kejadian. Sang penulis memiliki pengetahuan majemuk dan beraneka ragam. Nun dan penanya aktif memberi pengaruh, sedangkan lembaran atau kanvas tempat menuangkan tulisan bersifat reseptif. Jadi, menurutnya, nun wa alqalam wa ma yasthurun adalah hierarki antara Tuhan dan makhluk-Nya.

Wa al-qalam adalah sumpah Tuhan (qasm) pertama dalam Alquran yang turun tidak lama setelah lima ayat pertama: Iqra’ bi ismi Rabbikalladzi khalaq, khalaqa al-insana min alaq, iqra’ warabbuka al-akram, alladzi ‘allama bi al-qalam, ‘allama al-insana ma lam ya’lam.
Pena atau kalam, sebagaimana juga disinggung dalam ayat keempat tadi, merupakan ciptaan Allah yang pertama dari tiada menjadi ada melalui kun fa yakun. Dalam sebuah hadis yang sering muncul dalam kitab-kitab tasawuf, pena ini diperintah dengan kata-kata, “Tulislah pada lingkaran pertama ini, yaitu lembaran Tuhan.” Pena lalu menjawab, “Wahai Tuhan, apa yang harus aku tulis?”

Perintah berikutnya muncul, “Tulislah segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi hingga hari kebangkitan.” Pena menulis semuanya, sesudah itu pena menjadi kering. “Tuhan telah selesai dengan penciptaan, persediaan, dan ketentuan-ketentuan yang pasti.”Menurut Nasafi, pena Tuhan ialah akal pertama. Pena menulis pada dirinya sendiri dan lingkaran pertama dalam sekejap mata.

Ia mengaitkan hadis di atas dengan QS Yasin: 82. “Sesungguhnya perin tah-Nya bila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepa danya, ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.”

Mekanisme dan cara kerja pena dapat pula dihubungkan dengan hadis yang sering dirujuk dalam kitab-kitab Syiah, bahwa kesimpulan Alquran ialah surah Al-Fatihah. Kalau dipadatkan, kesimpulannya terdapat pada ayat pertamanya, Bi ismi Allah al-Rahman al-Rahim.

Jika dipadatkan lagi, pemadatannya terletak pada titik di bawah huruf ba pada kata bismillah. Mulanya, pena menggoreskan ujungnya dalam sebentuk titik, lalu meledak dan lahirlah kepingan-kepingan yang kian besar dan mengalami expanding universe atau wa inna lamusi’un menurut istilah Alquran.

Kejadian ini juga dapat dihubungkan dengan QS Al-Anbiya': 30, “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, lalu Kami pisahkan antara keduanya. Dan, dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka, mengapa mereka tiada juga beriman?”
Wa ma yasthurun¸tidak lain adalah lembaran-lembaran atau kanvas tempat pena itu menuliskan huruf-hurufnya. Lembaran itu kemudian disebut dengan Lauh Mahfuz. Lauh Mahfuz ini sering juga disebut dengan blueprint dari penciptaan dan kejadian seluruh makhluk. Tidak ada satu pun makhluk dapat tercipta dan tidak ada satu pun peristiwa terjadi tanpa tercatat di lembaran terpelihara ini. Dalam QS Al-An’am: 59, disebutkan, “Dan, pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”Lauh Mahfuz sering juga disebut Al-Kitab atau ada yang menyebutnya Umm Al-Kitab. Al-Kitab dalam arti Lauh Mahfuz inilah yang disebut di dalam QS Al-Baqarah: 1-2, Alif Lam Mim, Dzalika al-Kitab la raiba fih (Kitab ini tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang bertakwa).

Perhatikan redaksi ayat ini, menggunakan kata dzalika al-kitab (kitab di sana) bukan hadza al-kitab (kitab ini). Dengan demikian, maksud Al-Kitab pada ayat kedua surah Al-Baqarah ini ialah Lauh Mahfidz atau wa ma yasthurun, bukannya Alquran seperti umumnya dipahami dalam perspektif tafsir eksoteris.

Menurut Ibnu Arabi, pena adalah akal dan lembaran adalah jiwa. Hubungan antara akal dan jiwa sama dengan hubungan antara pena dan lembaran. Ilustrasi lain, menurutnya, hubungan antara akal dan jiwa seperti hubungan antara kecemerlangan bulan dan cahaya matahari.

Sementara itu, hubungan antara akal dan Sang Pencipta seperti hubungan cahaya matahari dan matahari itu sendiri. Ia menyamai matahari dalam cahayanya. Juga ketika jiwa menerima limpahan akal sehingga keunggulan-keunggulannya menjadi sempurna, menyamai akal dalam tindakan-tindakannya.

Dengan demikian, pena bersifat reseptif dalam hubungannya dengan Tuhan, namun bersifat aktif dalam hubungannya dengan lembaran. Hubungan antar makhluk, baik makhluk makrokosmos maupun makhluk mikrokosmos, dapat dengan mudah dipahami melalui pendekatan seperti ini.

Untuk lebih jelasnya, pembahasan misteri qalam akan dilanjutkan dalam artikel mendatang dengan mengungkapkan perkawinan makrokosmos dan mikrokosmos. Pendapat para sufi tentang nun wa al-qalam wa ma yasthurun bisa memberikan wawasan sedemikian luas akan kemahakuasaan Allah SWT.

Pembahasan yang lebih bersifat esoteris seperti ini juga bisa membebaskan Alquran dari lingkaran pemahaman eksoteris yang terkesan kering dan menjenuhkan. Dengan segala kelemahannya, pendekatan esoteris terhadap ayat-ayat Alquran sudah merupakan suatu keniscayaan. Minimal pada ayat-ayat tertentu yang bisa memberikan perspektif baru di dalam dunia kosmologi Islam kontemporer.


Post a Comment