Tuesday, June 19, 2012

Sifat Dua Puluh (20)

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.
Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..
Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun 1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,
sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “”Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”. Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )
Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).
Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)
Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..
Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!
bahwa kalam Asy’ari  dan  tasawuf adalah penyebab kemunduran Sunni  walaupun Asy’ariyah dan sufi  telah berjasa dalam menemukan keharmonisan mistis antara ukhrawi dan duniawi, meski tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan masyarakat muslim yang asy’ariyah  dan sufi sangat terbelakang di banding Barat.
Ilmu kalam lahir sebab polemik hebat antara sesama umat islam sendiri, ataupun antara umat islam dengan pemeluk agama lain. Keretakan ini sesunguhnya sudah mulai terbentuk setelah Rasul wafat
Setiap generasi memiliki tantangan yang khas. Setiap tantangan menghasilkan pemecahan yang khas pula. Maka dari itu, tidak mengherankan satu peradaban yang dibangun oleh generasi tertentu memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan peradaban yang dibangun oleh generasi yang lain. Setiap keunikan dalam peradaban tersebut adalah kebaikan dalam dirinya sendiri. Artinya adalah bahwa tidak setiap kebaikan yang ada pada masa tertentu adalah kebaikan juga pada masa yang lain.Untuk itu perubahan demi perubahan seharusnya diupayakan sebagai usaha pembaruan sebagai respon dari tantangan zaman.
Mu’tazilah  dipelopori oleh Wasil ibn Atho’. Mu’tazilah inilah, menurut Nurcholis Madjid, sebagai pelopor yang sungguh-sunggguh digiatkannya pemikiran tentang ajaran-ajaran pokok Islam secara lebih sistematis. Paham mereka amat rasional sehingga mereka dikenal sebagai paham rasionalis Islam. Sikap rasionalik ini dimulai dari titik tolak bahwa akal mempunyai kedudukan tinggi bahkan kedudukannya boleh dikatakan sama dengan wahyu dalam memahami agama.(Nurcholis Madjid, tt:21)
.
melihat perlunya pergeseran paradigma dari yang bercorak tradisional, yang bersandar pada paradigma logico-metafisika (dialektika kata-kata), kearah teologi yang mendasarkan pada paradigma “empiris” (dialektika sosial politik). Teologi bukan tentang ilmu semata, tetapi menjadi ilmu kalam (ilmu tentang analisis kalam atau ucapan semata dan juga sebagai konteks ucapan, yang berkaitan dengan pengertian yang mengacu pada iman).
Pada dasarnya al-Asy’ari dan Mu’tazilah setuju bahwa Allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam memandang makna keadilan. Al-Asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga ia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah penguasa mutlak. Dengan demikian, jelasnya bahwa Mu’tazilah mengartikan keadilan dari visi manusia yang memiliki dirinya, sedang Al-Asy’ari dari visi bahwa Allah adalah pemilik mutlak.
.
Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional mendapat tantangan keras dari golongan tradisiona Islam, terutama golongan Hanbai, yaitu pengikut-pengikut mazhab ibn Hambal. Mereka yang menentang ini kemudian mengambil bentuk aliran teologi tradisonal yang dipelopori Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (w. 324H/935M).(Abdurrahman Badawi, 1984:497) Disamping aliran Asy’ariyah, timbul pula suatu aliran di Samarkand yang juga bermaksud menentang aliran Mu’tazilah. Aliran ini didirikan oleh Abu Mansur Muhammad Al-Maturidi (w.333H/944M). Aliran ini kemudian terkenal dengan nama teologi Al-Maturudiyah.(H.AR. Gibb, 1960:414)
Rumusan klasik di bidang teologi  sunni yang kita warisi dari para pendahulu Muslim pada hakikatnya tidak lebih dari sekumpulan diskursus keagamaan yang kering dan tidak punya kaitan apapun dengan fakta-fakta nyata kemanusiaan. Paradigma teologi klasik yang ditinggalkan para pendahulu hanyalah sebentuk ajaran langitan, wacana teoritis murni, abstrak-spekulatif, elitis dan statis; jauh sekali dari kenyataan-kenyataan sosial kemasyarakatan. Padahal, semangat awal dan misi paling mendasar dari gagasan teologi Islam (Tauhid) sebagaimana tercermin di masa Nabi saw.
.
Kritik atas Teologi Islam Klasik
Kalau kita perhatikan bahasan tentang doktrin-doktrin teologi Islam klasik itu adalah trend teosentris. Tuhan dan Ketuhanan (theos) menjadi core teologisnya. Dengan perumusan diskursus terutama pada Tuhan dan ketuhanan, sudah barang tentu teologi semacam itu (hanya) relevan sebagai alas struktur dari religiusitas yang “membela” Tuhan, bukan manusia. Untuk konteks zaman pertengahan Hijriyah, ketika era formatis Islam masih berlangsung, boleh jadi masih menemuni signifikansinya
.
Namun, untuk kontek saat, tatkala dunia telah bergerak maju kearah dunia modern yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tidak dapat dielakkan lagi untuk merekontruksi teologi Islam yang asalnya membela Tuhan (teosentris) menuju keberpihakan kepada kemanusiaan (antroposentri) sebagai suatu rangka pikir untuk memahami kenyataan sekaligus suatu motivasi religius untuk membalik-mengubanya menjadi lebih baik.
Merekontruksi teologi sunni  klasik merupakan sebuah keniscayaan. Karena dengan mempertahankan doktrin-doktrin teologi Islam klasik yang lebih cenderung kepada trend teosentris atau Ketuhanan (theos) yang menjadi pembahasan pokok teologisnya telah jauh menyimpang dari misinya yang paling awal dan mendasar, yaitu liberasi atau emansipasi umat manusia.
Rumusan klasik sunni  di bidang teologi pada hakikatnya tidak lebih dari sekumpulan diskursus keagamaan yang kering dan tidak punya kaitan apapun dengan fakta-fakta nyata kemanusiaan. Paradigma teologi klasik yang ditinggalkan para pendahulu hanyalah sebentuk ajaran langitan, wacana teoritis murni, abstrak-spekulatif, elitis dan statis; jauh sekali dari fakta-fakta nyata kemanusian dan kenyataan sosial kemasyarakatan. Padahal, semangat awal dan misi paling mendasar dari gagasan teologi Islam (Tauhid) sebagaimana tercermin di masa Nabi saw. sangatlah liberatif, progresif, emansipatif dan revolutif
.
Disamping itu, kita membutuhkan formulasi teologi Islam kontemporer sebagai sintesis dari perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam perspektif perkembangan masyarakat modern dan postmodern, Islam harus mampu meletakkan landasan pemecahan terhadap problem kemanusiaan (kemiskinan, ketidakadilan, hak asasi manusia, ketidakberdayaan perempuan dan sebagainya)
.
Oleh karena itu, diskursus teologi Islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaan, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Dengan demikian, agar Islam lebih survive dalam menghadapi dunia modern dan postmodern, maka perlu adanya perubahan diskursus teologi Islam yang pada mulanya hanya berbicara tentang Tuhan (teosentris) beralih pada persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris).
teologi tidak sekedar sebagai dogma keagamaan yang kosong melainkan menjelma sebagai ilmu tentang perjuangan sosial, menjadikan keimanan berfungsi secara aktual sebagai landasan etik dan motivasi tindakan manusia
metodologi teologi sunni  tidak bisa mengantarkan kepada keyakinan atau pengetahuan yang menyakinkan tentang Tuhan tetapi baru pada tahap ‘mendekati keyakinan’ dalam pengetahuan tentang Tuhan dan wujud-wujud spiritual lainnya.
teologi sunni tidak ‘ilmiah’ dan tidak ‘membumi’, Untuk mengatasi kekurangan teologi klasik yang dianggap tidak berkaitan dengan realitas sosial maka perlu beralih ke teologi syi’ah
Pemikiran ini, minimal, di dasarkan atas dua alasan; pertama, kebutuhan akan adanya sebuah ideologi (teologi) yang jelas di tengah pertarungan global antara berbagai ideologi. Kedua, pentingnya teologi baru yang bukan hanya bersifat teoritik tetapi sekaligus juga praktis yang bisa mewujudkan sebuah gerakan dalam sejarah
.
“…Jika para pendahulu telah memulai muqaddimah konvensional mereka
yang bersifat keimanan itu dengan nama Allah;
maka kami memulainya atas nama bumi yang terampas, atas nama kemerdekaan, atas nama kebaikan,atas nama perlawanan,
atas nama persamaan dan keadilan, atas nama persatuan umat
atas nama kemajuan,atas nama kebangkitan umat,
atas nama cinta kemurnian, atas nama mereka yang terbungkam,
dan atas nama seluruh kaum Muslimin yang tertindas…”
.
Teologi sunni yang bersifat dialektik lebih diarahkan untuk mempertahankan doktrin dan memelihara kemurniannya, bukan dialektika konsep tentang watak sosial dan sejarah, disamping bahwa ilmu kalam sunni juga sering disusun sebagai persembahan kepada para penguasa, yang dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi.
Sedemikian, hingga pemikiran teologi lepas dari sejarah dan pembicaraan tentang manusia disamping cenderung sebagai legitimasi bagi status quo daripada sebagai pembebas dan penggerak manusia kearah kemandirian dan kesadaran
.
Selain itu, secara praktis, teologi tidak bisa menjadi ‘pandangan yang benar-benar hidup’ yang memberi motivasi tindakan dalam kehidupan konkrit manusia. Sebab, penyusunan teologi tidak didasarkan atas kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia, sehingga muncul keterpecahan (split) antara keimanan teoritik dan keimanan praktis dalam umat, yang pada gilirannya melahirkan sikap-sikap moral ganda atau ‘singkritisme kepribadian’.
Fenomena sinkritis ini tampak jelas dengan adanya ‘faham’ keagamaan dan sekularisme (dalam kebudayaan), tradisional dan modern (dalam peradaban), Timur dan Barat (dalam politik), konservatisme dan progresivisme (dalam sosial) dan kapitalisme dan sosialisme (dalam ekonomi).
.
Dalam  kitab  kuning  Pesantren  tradisional  yaitu  Kitab  “Kifayatul  Awam” : Menurut  abu  hasan  al   asy’ari   “Wujud   adalah  maujud  itu  sendiri  maka  wujud  Allah  Ta’ala  adalah  Zat  Nya  sendiri, maka  jadilah  wujud  itu  bukan  sifat, maka  jadilah  sifat  sifat  yang  wajib  itu  12”
Saudaraku…
Imam  Al  Asy’ari  berpendapat  bahwa  sifat  ma’nawiyah  itu  tidak  ada,  yang  ada  adalah  sifat  ma’ani ( sumber  kutipan : Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997 )
Saudaraku…
Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.
Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..
Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun  1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,
sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “”Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”. Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )
Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).
Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)
Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..
Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!
saudaraku…
Bahasa dan istilah-istilah dalam teologi sunni klasik adalah warisan nenek moyang dalam bidang teologi yang khas yang seolah-olah sudah menjadi doktrin yang tidak bisa diganggu gugat
istilah-istilah dalam teologi sebenarnya tidak hanya mengarah pada yang transenden dan ghaib, tetapi juga mengungkap tentang sifat-sifat dan metode keilmuan; yang empirik-rasional seperti iman, amal dan imamah, yang historis seperti nubuwah dan ada pula yang metafisik, seperti Tuhan dan akherat.
analisa realitas perlu dilakukan untuk mengetahui latar belakang historis-sosiologis munculnya teologi dimasa lalu dan bagaimana pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat atau para penganutnya. Selanjutnya, analisa realitas berguna untuk menentukan stressing bagi arah dan orentasi teologi kontemporer.
teologi sunni  dinilai gagal memberi arahan kepada kemanusiaan, karena akhirnya yang terjadi justru totalitarianisme. Disini mungkin saya  terilhami oleh inspirator revolosi sosial Iran; Ali Syariati
————————————————————————————————————–
Khusus  tentang  kepercayaan  kepada  Allah  dan  Rasul, aliran tradisional  membahas hukum hukum  akal  ( law  of  reason ) yang  terbagi   dalam  tiga  kategori  : wajib, mustahil, dan  jaiz..  Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles
Post a Comment