Thursday, June 14, 2012

assab'ul-matsani dan empatwali qutub


assab'ul-matsani dan empatwali qutub
1.      Suatu ketika Rasulullah saw.
mengadu kepada Tuhan: “Aku
akan meninggalkan dunia ini,
Aku akan meninggalkan umatku.
Siapakah yang akan menuntun
mereka setelahku? Bagaimana
nasib mereka sesudahku?”, Allah
lalu menurunkan firman-Nya :
" ﻭﺁﺗﻴﻨﺎﻙ ﺳﺒﻌﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺜﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﻘﺮﺁﻥ
ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ "
Jangan khawatir, Aku telah
mengaruniakanmu Assab’ul-
matsani dan al-Qur’an yang
agung. Dengan keduanya maka
umat islam sesudahmu akan
selamat dari kesesatan (bila
mereka berpegang kepadanya).
Assab’ul-matsani dan al-Qur’an,
dua pegangan yang
menyelamatkan kita dari
kesesatan, dua perkara yang
telah membuat Rasul tenang
meninggalkan umat. Apakah
Assab’ul-matsani itu? dan apakah
al-Qur’an itu? Mungkin semua
kita tahu apa itu al-Qur’an,
sebuah kitab suci yang
mengandung tuntunan-tuntunan
Tuhan kepada para hamba-Nya,
yang tentunya bila diamalkan
dengan baik maka selamatlah
kita.
Namun tentunya Qur’an saja
tidak akan cukup? Lalu
bagaimana dengan Assab’ul-
matsani? apakah semua kita
mengetahuinya? dan sudahkah
kita mengamalkannya atau
berpegang kepadanya? Dan
mengapa Assab’ul-matsani
menempati posisi pertama
sebelum al-Qur’an? sedikit tidak
itu menunjukkan bahwa
Assab’ul-matsani merupakan
pegangan yang sangat urgen,
yang tanpanya keisalaman
seseorang menjadi samar dan
diragukan.
Ironinya, para ahli tafsir berbeda
pendapat dalam menafsirkan
firman-Nya “Sab’an minal-
matsani”. Ada yang mengatakan
bahwa Assab’ul-matsani itu
adalah surat Fatihah dengan
alasan karena surat Fatihah
adalah induknya al-Qur’an dan
secara kebetulan jumlah ayatnya
pun tujuh ayat.
Ada pula yang menafsirkannya
dengan tujuh surat terpanjang
dalam al-Qur’an, yaitu: Surat-
surat Baqarah, Ali Imran. Annisa’,
al-Ma’idah, al-An’am, al-A’raf dan
al-Anfal (bersama Attaubah).
Ada yang berpendapat bahwa
Assab’ul-matsani adalah al-Qur’an
itu sendiri.
Dan masih banyak lagi
penafsiran lain tentang apa itu
Assab’ul-matsani. Sebagaimana
mereka juga berbeda pendapat
tentang; kapan malam Lailatul-
qadr, apa itu Ism a’zam, apa itu
Shalat wustha, kapan waktunya
Sa’atul-ijabah, siapa itu wali Allah,
apa itu Kaba’ir, dan lain
sebagainya. Agaknya para
ulama’ memang tak pernah lepas
dari perbedaan. Apapun
sebabnya, kita tetap meyakini
adanya hikmah yang tersirat.
Dan apapun faktanya, kita tetap
harus mencari yang benar lalu
menerimanya dan juga
membelanya. Yang salah, kita
maafkan bersama, mungkin saja
bukan rizki mereka. Yang
berijtihad dengan baik dan
benar, tetap akan dapat pahala.
Sementara mereka yang
menjadikan hawa nafsu sebagai
alat penafsir utama, tanpa
landasan ilahi yang bisa diterima
“Wa man lam yaj’alillahu lahu
nuran fama lahu min nur”, maka
laknat sudah menyelimuti
mereka. Belum mendapat nur
dan restu dari Allah, sudah
seenak-enaknya menafsirkan
firman Allah.
Bila kita teliti dengan seksama,
kita akan melihat sejumlah
penafsiran di atas ternyata
belum mampu memberikan
sebuah kepuasan, sebab walau
tampak berbeda namun
sebetulnya sama dan tak
berbeda, semuanya menisbatkan
Assab’ul-matsani itu kepada al-
Qur’an itu sendiri, baik itu surat
Fatihah, tujuh surat terpanjang
maupun yang lainnya, semua itu
adalah al-Qur’an (bagian dari al-
Qur’an). Sebuah tanda tanya
yang harus terungkap adalah:
Bukankah Allah swt. telah
menyebutkan “Aku telah
mengaruniakanmu Assab’ul-
matsani dan al-Qur’an yang
agung”? bila Allah telah
menyebut al-Qur’an setelah
Assab’ul-matsani maka sudah
tentu Assab’ul-matsani adalah
perkara lain selain al-Qur’an.
Tidakkah kita menyadari hal itu?
Bila Assab’ul-matsani adalah
surat Fatihah, bukankah surat
Fatihah merupakan bagian dari
al-Qur’an itu sendiri? bukankah
Allah telah menyebut al-Qur’an
sesudahnya “wal-Qur’an al-
azim”? yang mana surat Fatihah
sudah terkandung di dalamnya?
Ataukah surat Fatihah itu bukan
bagian dari al-Qur’an?
Apabila Assab’ul-matsani itu
adalah al-Qur’an atau sebagian
dari isi al-Qur’an, tidakkah cukup
Allah mengatakan: Aku telah
memberimu al-Qur’an (saja,
tanpa menyebut Assab’ul-
matsani)? bukankah al-Qur’an
telah mencakup semua surat-
suratnya termasuk Fatihah dan
tujuh surat terpanjang?
Lalu mengapa Assab’ul-matsani
disebutkan oleh Allah? Walhasil,
Assab’ul-matsani adalah perakra
lain selain al-Qur’an. Bukan al-
Qur’an, bukan pula beberapa
surat atau ayatnya. Kalau anda
masih bersikeras mengatakan
Assab’ul-matsani itu adalah surat
Fatihah, maka anda telah berani
memisahkannya dari al-Qur’an!
dan anda telah menodai
kemukjizatan firman-Nya yang
terlepas dari segala kecacatan,
bahasa dan sastranya.
“Sab’an minal-matsani” terdiri
dari tiga kata; Sab’an, Min dan al-
Matsani. Sab’an berarti tujuh. Min
berarti dari. Sementara al-Matsani
adalah bentuk jama’ dari Matsna
yang artinya dua-dua. Dengan
demikian maka Matsani berarti
empat-empat (berkelompok-
kelompok, setiap kelompok
terdiri dari empat).
Kelompok-kelompok itu amat
banyak, namun Allah hanya
menyebutkan / mengutus tujuh
kelompok saja dari kelompok-
kelompok itu (sebagai pemimpin
matsani yang lain) “Sab’an minal-
matsani”; Tujuh kelompok dari
kelompok-kelompok al-Matsani.
Tujuh kelompok itulah yang
disebut dan dimaksud dengan
Assab’ul-matsani, yang mana
setiap kelompok terdiri dari
empat orang.
Tujuh kelompok itulah yang
bertugas melayani Rasul dan
umat sejak awal penciptaan
sampai kiamat menjelang.
Tujuh kelompok itulah yang akan
menunjuki umat ke jalan yang
benar.
Tujuh kelompok itulah yang akan
membimbing umat dalam
mengamalkan al-Qur’an.
Tujuh kelompok itulah yang akan
meneruskan dan mewarisi
perjuangan Rasul saw.
Tujuh kelompok itulah yang akan
melayani sandal Rasul saw. demi
menjunjung tinggi siyadah
beliau.
Tujuh kelompok itulah yang bila
diikuti, dipegang dan ditaati
umat maka selamatlah mereka
dari kesesatan.
Tujuh kelompok itulah pelayan-
pelayan Rasul dan umat sampai
hari kiamat (maupun
sesudahnya).
Allah berfirman: “Wa atainaka
sab’an minal-matsani wal-
Qur’anal-azim”; Aku telah
mengutus demi kamu hai
Muhammad tujuh kelompok
matsani yang akan melayanimu
dan melayani umatmu, Akupun
telah menurunkan al-Qur’an agar
menjadi pegangan kedua bagi
umatmu.
Mengapa al-Qur’an
dinomorduakan oleh Allah swt.?
Jawabannya adalah karena
seorang penunjuk lebih
diutamakan dari pada sebuah
buku petunjuk. Allah swt.
berfirman:
" ﻗﺪ ﺟﺎﺀﻛﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻧﻮﺭ ﻭﻛﺘﺎﺏ ﻣﺒﻴﻦ "
Telah datang kepadamu: (1)
seorang Rasul, dan (2) al-Qur’an.
Maka Rasul itu lebih penting dari
pada al-Qur’an, sebab al-Qur’an
(buku petunjuk) tidak akan
difahami dengan benar tanpa
Rasul (seorang penunjuk).
Allah swt. juga berfirman:
" ﻓﺎﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﺑﻪ ﻭﻋﺰﺭﻭﻩ ﻭﻧﺼﺮﻭﻩ
ﻭﺍﺗﺒﻌﻮﺍ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻧﺰﻝ ﻣﻌﻪ ﺃﻭﻟﺌﻚ
ﻫﻢ ﺍﻟﻤﻔﻠﺤﻮﻥ "
Orang-orang yang beruntung
adalah apabila mereka: (1)
beriman kepada Nabi
Muhammad, (2) memuliakannya
(3) membelanya, kemudian (4)
mengikuti kitab suci yang
dibawanya. Maka haruslah kita
mencari seorang penunjuk,
kemudian mencintainya,
menghormatinya, membelanya,
mengagung-agungkannya dan
mentaatinya, setelah itu barulah
kita mengikuti buku petunjuk
yang ia bawa.
Dari itulah Allah swt.
mendahulukan Assab’ul-matsani
sebelum al-Qur’an. Bukan karena
al-Qur’an itu tidak penting,
melainkan karena tanpa seorang
penerang dan penunjuk maka al-
Qur’an tak dapat difahami
dengan benar dan tak dapat
diamalkan dengan baik.
Lalu… siapakah Assab’ul-matsani
itu? siapa saja kelompok-
kelompok itu?
Maulana Syekh Mukhtar ra.
menyebutkan bahwasanya tujuh
kelompok (Assab’ul-matsani)
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Empat pemimpin para
mala’ikat Kurubiyyin / Alin /
Haffin hawlal-arsy.
2. Empat pemimpin para
mala’ikat Falakiyyin : Jibril, Mika’il,
Israfil dan Izra’il Alaihimussalam.
3. Empat pemimpin para nabi
dan rasul yang disebut dengan
Ulul-azmi : Nabi Nuh, Nabi
Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa
Alaihimussalam.
4. Empat Pemimpin para sahabat
Rasul yang disebut dengan
Khulafa’ rasyidin : Saidina Abu
Bakr, Saidina Umar bin
Khaththab, Saidina Utsman bin
Affan dan Saidina Ali bin Abi
Thalib Radliallahu anhum ajma’in.
5. Empat pemimpin para penulis
wahyu (al-Qur’an) yang disebut
dengan al-Abadilah / Abadilatul-
Qur’an : Saidina Abdullah bin
Umar, Saidina Abdullah bin
Azzubair, Saidina Abdullah bin
Mas’ud dan Sadina Abdullah bin
Abbas Radliallahu anhum ajma’in.
6. Empat pemimpin para imam
syari’at (mazhab fiqh) yang
disebut dengan al-A’immah al-
Arba’ah / A’immatul-mazahibil-
arba’ah : Imam Abu Hanifah,
Imam Malik bin Anas, Imam
Muhammad bin Idris Asysyafi’i
dan Imam Ahmad bin Hanbal
Radliallahu anhum ajma’in.
7. Empat pemimpin para imam
tarekat (tasawuf), pemimpin
para auliya’ullah yang disebut
dengan al-Aqthab al-Arba’ah
(empat wali kutub) /
A’immatuththariqah wal-
haqiqah : Syekh Ahmad Arrifa’i,
Syekh Abdul-Qadir al-Jailani,
Syekh Ahmad al-Badawi dan
Syekh Ibrahim Addusuqi
Radliallahu anhum ajma’in.
Tujuh kelompok di atas-lah
Assab’ul-matsani itu, yang
memimpin semua matsani yang
lain, yang semuanya berjumlah
28 orang sebanyak huruf-huruf
dalam bahasa arab.
Ketujuh kelompok itu dipimpin
oleh tiga penguasa tertinggi
yaitu: Imam al-Hasan, Imam al-
Husain dan Imam al-Mahdi
Radliallahu anhum.
Allah swt. berfirman: “Ha Mim,
Ain Sin Qaf”. Ha Mim telah
diulang dalam al-Qur’an
sebanyak tujuh kali yang mana
hal tersebut mengisyaratkan
kepada Assab’ul-matsani di atas,
sedangkan Ain Sin Qaf hanya
disebut satu kali saja dalam al-
Qur’an, yang mana ketiga huruf
itu mengisyaratkan kepada tiga
pemimpin Assab’ul-matsani
(Imam al-Hasan, Imam al-Husain
dan Imam al-Mahdi Radiallahu
anhum ajma’in).
Sementara pemimpin tertinggi
(Ra’is Akbar) yang mengepalai
dan mengasuh mereka semua
adalah: Rasulullah wa Habibullah
Sayyiduna wa Maulana
Muhamamd Shallallahu alaihi wa
sallam.
Dalam sebuah hadits Rasul
menyebutkan bahwa Assab’ul-
matsani itu adalah surat Fatihah.
Itu benar, namun yang dimaksud
oleh hadits tersebut adalah
bahwasanya Assab’ul-matsani
(tujuh kelompok) itu telah
diisyaratkan oleh salah satu ayat
dalam surat Fatihah, tepatnya
pada firman-Nya :
" ﺍﻫﺪﻧﺎ ﺍﻟﺼﺮﺍﻁ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ ﺻﺮﺍﻁ
ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﻧﻌﻤﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ "
Ya Allah, tunjukilah kami jalan
yang lurus, yaitu jalan orang-
orang yang Engkau karuniai
nikmat. Mereka itulah Assba’ul-
matsani, sebagaimana firman
Allah :
" ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﻧﻌﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺒﻴﻴﻦ
ﻭﺍﻟﺼﺪﻳﻘﻴﻦ ﻭﺍﻟﺸﻬﺪﺍﺀ ﻭﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ
ﻭﺣﺴﻦ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺭﻓﻴﻘﺎ "
Orang-orang yang dikaruniai
nikmat oleh Allah adalah: Para
nabi, para shiddiqin, para
syuhada’ dan orang-orang
shalih, mereka itulah sebaik-baik
teman. Mereka itulah Assab’ul-
matsani.
Di antara makna lain dari kata
Matsani adalah : bentuk jama’
dari Matsniyyah yang artinya:
besi yang dibengkokkan. Itu
mengisyaratkan bahwa Assab’ul-
matsani adalah orang-orang atau
kelompok-kelompok yang telah
sampai kepada Allah swt. lalu
dikembalikan oleh-Nya ke bumi
untuk membimbing umat
kepada-Nya.
Kata Matsani juga berasal kata
dari Tsana’ yang artinya pujian,
tentunya tujuh kelompok di atas
telah mendapat pujian suci dari
Tuhan mereka, Allah Subhanahu
wata’ala.
Di antara tujuh kelompok di atas,
nampaknya kelompok terakhir-
lah yang cukup asing bagi umat.
Para mala’ikat kurubyyin,
mala’ikat falakiyyin, nabi ulul-
azmi, khulafa’ rasyidin, empat
abadilah dan imam mazhab
empat… sudah cukup populer.
Sedangkan empat wali kutub
tertinggi yang mengepalai
semua auliya’ Allah di muka bumi
ini dan mengimami tarekat dan
hakekat sampai muncul Imam al-
Mahdi, tidak begitu banyak
diketahui atau dikenal orang.
Mungkin saja karena salah satu
ciri khas para wali adalah:
tersembunyi. Namun walau
demikian mereka cukup
masyhur di kalangan orang-
orang yang telah mendapatkan
petunjuk Allah, yakni mereka
para pecinta tasawuf dan
pengikut tarekat. Mereka adalah
pecinta Rasul dan Ahlul-bait.
Oleh karena itu, dalam hal ini
penulis ingin mengutip
perkataan Syekh Abul-Huda
Ashshayyadi ra. dalam kitabnya
Qiladatul-Jawahir yang berbunyi
sebagai berikut :
ﻗﺪ ﺍﺷﺘﻬﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﻭﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﺑﻴﻦ
ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺷﺄﻥ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﺍﻷﻗﻄﺎﺏ
ﺍﻟﻤﻌﻈﻤﻴﻦ، ﺃﻋﻨﻲ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﻭﻣﻔﺰﻋﻨﺎ
ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺃﺣﻤﺪ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﺍﻟﺤﺴﻴﻨﻲ ﺍﻟﺮﻓﺎﻋﻲ ،
ﻭﺳﻴﺪﻧﺎ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ
ﺍﻟﺠﻴﻼﻧﻲ ﺍﻟﺤﺴﻨﻲ، ﻭﺳﻴﺪﻧﺎ ﺍﻟﺴﻴﺪ
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺣﻤﺪ ﺍﻟﺒﺪﻭﻱ ﺍﻟﺤﺴﻴﻨﻲ، ﻭﺳﻴﺪﻧﺎ
ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺍﻟﺪﺳﻮﻗﻲ
ﺍﻟﺤﺴﻴﻨﻲ . ﻓﻬﺆﻻﺀ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﺑﻼ ﺭﻳﺐ
ﺧﻼﺻﺔ ﺑﻘﻴﺔ ﺍﻟﺴﻠﻒ، ﻭﺃﺋﻤﺔ ﺟﻤﻴﻊ
ﺍﻟﺨﻠﻒ، ﻭﺃﻋﻼﻡ ﺍﻷﻭﻟﻴﺎﺀ، ﻭﺃﻭﻟﻴﺎﺀ
ﺍﻟﺼﻠﺤﺎﺀ، ﻭﺃﺷﻴﺎﺥ ﺍﻟﺨﺮﻗﺔ ﻭﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺔ،
ﻭﺃﻗﻄﺎﺏ ﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﻭﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ . ﺛﺒﺘﺖ
ﻟﺪﻯ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻏﻮﺛﻴﺘﻬﻢ ﻭﻭﻻﻳﺘﻬﻢ ،
ﻭﻭﺟﺒﺖ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻮﺣﺪﻳﻦ ﺣﺮﻣﺘﻬﻢ
ﻭﺭﻋﺎﻳﺘﻬﻢ، ﻭﻫﻢ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ
ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺴﺐ ﻭﺍﻟﻤﺮﺗﺒﺔ، ﺇﻻ
ﺃﻥ ﺍﻷﻗﻮﺍﻝ ﺗﻨﻮﻋﺖ ﻓﻴﻬﻢ ﻭﻓﻲ
ﻣﺸﺎﺭﺑﻬﻢ ﻭﺃﺣﻮﺍﻟﻬﻢ ﻭﻣﺬﺍﻫﺒﻬﻢ، ﻭﻗﺪ
ﻭﻓﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻜﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﺗﺒﺎﻋﻪ
ﻣﻦ ﺟﻤﻊ ﺁﺛﺎﺭﻩ ﻭﺫﻛﺮ ﺃﺧﻼﻗﻪ ﻭﺃﻃﻮﺍﺭﻩ
Beliau juga telah membuat
sebuah nazam (sya’ir) tentang
empat wali kutub, bunyinya :
ﻭﺍﻷﻭﻟﻴﺎ ﺍﺫﻛﺮﻫﻢ ﺑﺨﻴﺮ ﺃﻧﻬﻢ # ﺗﺒﻌﻮﺍ
ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺑﺼﺤﺒﺔ ﺍﻵﺩﺍﺏِ
ﺧﺪﻣﻮﺍ ﺷﺮﻳﻌﺘﻪ ﻭﻣﺎ ﺍﺗﺒﻌﻮﺍ ﺍﻟﻬﻮﻯ #
ﻣﺘﻤﺴﻜﻴﻦ ﺑﺄﺷﺮﻑ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏِ
ﺻﺤﺖ ﻭﻻﻳﺘﻬﻢ ﺑﺸﺎﻫﺪ ﺣﺎﻟﻬﻢ # ﻓﻌﻠﻮﺍ
ﻭﺻﺎﺭﻭﺍ ﻭﺟﻬﺔ ﺍﻟﻄﻼﺏِ
ﻟﻬﻢ ﺍﻟﻜﺮﺍﻣﺎﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻇﻬﺮﺕ ﺑﻨﺎ #
ﻛﺎﻟﺸﻤﺲ ﻣﺎ ﺣﺠﺒﺖ ﺑﺒﺮﺩ ﺳﺤﺎﺏِ
ﺷﻬﺪﺕ ﺑﻬﺎ ﻣﺬ ﺷﻮﻫﺪﺕ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻼ #
ﻭﻫﻲ ﺍﺧﺘﺼﺎﺹ ﺍﻟﻮﺍﻫﺐ ﺍﻟﺴﻼﺏِ
ﻇﻬﺮﻭﺍ ﺑﺒﺮﻫﺎﻥ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺗﺴﻠﺴﻼ #
ﺣﺘﻰ ﻟﻌﻬﺪ ﺍﻷﺭﺑﻊ ﺍﻷﻗﻄﺎﺏِ
ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺮﻓﺎﻋﻲ ﺛﻢ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ﺍﻟـ #
ﻲﻠﺒﺠـ ﻭﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻭﺍﻟﻌﻄﺎﺏِ
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﻓﺎﻋﻴﻮﻥ ﺃﺣﻤﺪ ﺷﻴﺨﻨﺎ # ﺳﻠﻚ
ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﺑﺪﻕ ﺃﻧﺠﺢ ﺑﺎﺏِ
ﻭﺭﺃﻯ ﺍﻟﺨﻀﻮﻉ ﻃﺮﻳﻘﺔ ﻭﺣﻘﻴﻘﺔ #
ﺗﻘﻀﻲ ﺑﺘﺮﻙ ﺍﻟﺰﻫﻮﺭ ﻭﺍﻹﻋﺠﺎﺏِ
ﻭﺳﺮﻯ ﻋﻠﻰ ﺳﻨﻦ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻣﻼﺯﻣﺎ #
ﺃﺣﻮﺍﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻠﺐ ﻭﺍﻹﻳﺠﺎﺏِ
ﻓﻠﺬﺍﻙ ﻗﺪﻣﻨﺎﻩ ﺗﻘﺪﻳﻤﺎ ﺑﻪ # ﻗﺎﻡ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ
ﻟﻨﺎ ﺑﻼ ﺇﺳﻬﺎﺏِ
ﻭﺍﻟﻘﺎﺩﺭﻳﺔ ﺛﻢ ﻓﺮﻗﺔ ﺃﺣﻤﺪ ﺁﻝ # ﺑﺪﻭﻱ
ﻛﻞ ﻗﺎﻝ ﺫﺍﻙ ﺟﻮﺍﺑِﻲ
ﻭﻛﺬﺍﻙ ﺃﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺪﺳﻮﻗﻲ ﺛﻢ ﻣﻦ # ﻳﻨﻤﻰ
ﻟﻐﻴﺮ ﻃﺮﻳﻘﺔ ﻭﺭﺣﺎﺏِ
ﺟﺰﻣﻮﺍ ﺑﺼﺪﻕ ﺍﻷﺗﺒﺎﻉ ﻟﺸﻴﺨﻬﻢ #
ﻓﺮﺍﻭﻩ ﺃﻋﻼ ﺍﻷﻭﻟﻴﺎ ﺍﻷﻧﺠﺎﺏِ
ﻓﺈﺫﺍ ﺗﻮﺿﺤﺖ ﺍﻟﺤﻘﺎﺋﻖ ﻟﻠﺬﻱ # ﻳﺪﺭﻱ
ﺑﻐﻴﺮ ﻣﺴﺎﺋﻞ ﻭﺟﻮﺍﺏِ
ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻗﻮﻝ ﻭﻓﻌﻞ ﻭﺍﺭﺩ # ﻋﻦ
ﺷﻴﺦ ﺇﺭﺷﺎﺩ ﺭﻓﻴﻊ ﺟﻨﺎﺏِ
ﺯﻧﻪ ﺑﻤﻴﺰﺍﻥ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻭﺍﻋﺘﻤﺪ # ﻓﻲ
ﺍﻷﻣﺮ ﻧﺺ ﺍﻟﻤﺼﻄﻔﻰ ﺍﻷﻭﺍﺏِ
ﻭﺍﻋﻤﻞ ﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﻈﻦ ﺑﺎﻟﺘﺄﻭﻳﻞ ﻓﻲ # ﻣﺎ
ﺩﻕ ﻣﻦ ﺷﻄﺢ ﻟﺴﺪ ﺍﻟﺒﺎﺏِ
ﻭﺇﺫﺍ ﻧﺄﻯ ﺍﻟﺘﺄﻭﻳﻞ ﻓﺎﻧﻜﺮ ﻧﺴﺒﺔ ﺍﻟـ #
ﻝﻮﻘﻨﻤـ ﻭﺍﺣﻔﻆ ﺣﺮﻣﺔ ﺍﻷﺣﺒﺎﺏِ
ﻭﺍﺳﻠﻚ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﻬﺎﺷﻤﻲ ﻣﺤﻤﺪ #
ﻓﺴﻮﺍﻩ ﻣﺮﺩﻭﺩ ﺑﻜﻞ ﻛﺘﺎﺏِ
ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻟﻤﻊ ﺍﻟﻀﺤﻰ #
ﻭﺍﻵﻝ ﻭﺍﻷﺯﻭﺍﺝ ﻭﺍﻷﺻﺤﺎﺏِ
Masing-masing dari empat wali
kutub itu mendirikan sebuah
tarekat ra’isi (induk) yang
memimpin semua tarekat sufi
yang lain, Syekh Ahmad Arrifa’i
ra. mendirikan Tarekat Rifa’iah,
Syekh Abdul-Qadir al-Jailani ra.
mendirikan Tarekat Qadiriah,
Syekh Ahmad al-Badawi ra.
mendirikan Tarekat Ahmadiah,
dan Syekh Ibrahim Addusuqi ra.
mendirikan Tarekat Burhamiah.
Empat tarekat sufi tersebut lahir
dari dua tarekat ibu-bapak yakni
Tarekat Naqsyabandiah dan
Tarekat Khalwatiah. Kedua
tarekat ibu-bapak itu bersumber
dari Saidina Abu Bakr ra. dan
Saidina Ali ra. yang kemudian
digabung oleh Imam al-Junaid ra.
lalu bercabang lagi menjadi
empat tarekat induk yang
dipimpin oleh empat wali kutub.
Pada zaman sekarang ini semua
tarekat sufi yang ada mesti
melalui salah satu dari empat
wali kutub atau semuanya dalam
silsilah terekat masing-masing,
kalau tidak, maka tarekat
tersebut masih diragukan
keabsahannya.
Untuk mengenal lebih jauh
empat wali kutub masyhur di
atas maka pembaca boleh
menelaah kitab-kitab di bawah
ini :
1. Qiladatul-Jawahir fi Dzikril-
Gautsirrifa'i wa Atba'ihil-Akabir
oleh Syekh Abul-Huda
Ashshayyadi ra.
2. Al-Ayatuzzahirah fi Manaqibil-
Auliya' wal-Aqthabil-Arba'ah oleh
Syekh Mahmud al-Ghirbawi.
3. Farhatul-Ahbab fi Akhbaril-
Arba'atil-Aqthab oleh Syekh
Muhammad bin Hasan al-Khalidi
ra.
4. dan lain-lain.
Berbicara so’al tugas para wali
kutub tertinggi itu, kita dapat
melihat peran-peran para imam
mazhab yang empat dalam
membimbing umat dalam hal
syari’at. Oleh karena islam terdiri
dari tiga martabat; islam, iman
dan ihsan, maka para imam
mazhab bertugas untuk
memperbaharui dan
mempermudah urusan syari’at
umat (islam) yang kemudian
para wali kutub bertugas untuk
memperbaharui dan
mempermudah perjalanan
spiritual / tarekat umat (iman),
yang akhirnya dengan
kemantapan dua martabat itu
hamba dengan mudah mencapai
hakekat (ihsan). Syari’at dan
tarekat tidaklah berbeda atau
saling bertentangan, melainkan
ia merupakan tangga-tangga
yang harus dilalui oleh setiap
hamba secara bertahap demi
meraih derajat yang mulia di sisi
Allah dan demi sebuah
kesempurnaan dalam
pengabdian kepada-Nya
(kamalul-iman). Keislaman
seseorang tentu menjadi tidak
sempurna bila dijalani tanpa dua
asas tersebut. Bermazhab untuk
kesempurnaan zahir dan
bertarekat untuk kesempurnaan
batin.
Sebagaimana seorang hamba
layaknya bermazhab
(bermazhabkan salah satu dari
mazhab fiqh yang empat), maka
di sisi lain ia juga mesti
bertarekat, dengan mengikuti /
menganut salah satu tarekat dari
empat tarekat sufi di atas. Atau
mengikuti tarekat lain yang
menjadi cabang dari salah satu
tarekat induk tersebut.
Bila keluar dari mazhab yang
empat dalam bersyari’at, dan
keluar dari tarekat induk yang
empat dalam bertarekat, maka
tidak akan diterima oleh-Nya.
Pintu ijtihad mutlak sudah
tertutup, dan izin untuk
mendirikan tarekat (induk)
sudah berakhir.
Apakah Rasul pernah
bermazhab? Apakah Rasul
pernah bertarekat? Tentu tidak,
sebab beliau merupakan sumber
dan asal semua mazhab dan
tarekat yang ada. Tidaklah
mungkin seorang Rasul
menganut mazhab muridnya,
tidaklah mungkin beliau
mengikuti tarekat pewarisnya.
Justru para imam dan wali
kutub-lah yang mengikuti beliau
dan melalui tuntunan dan restu
beliaulah mereka membuat
mazhab dan tarekat agar diikuti
oleh umat sesudahnya.
Dari itu penulis menasehati
mereka yang mengatakan; Tidak
ada mazhab dalam islam.
Ketahuilah bahwa empat mazhab
dan empat tarekat itu telah
direstui dan diutus oleh Allah dan
Rasul-Nya sejak dahulu kala demi
kemudahan umat dalam
menjalankan syari’at-Nya. Tanpa
mereka, semuanya tidak akan
pernah stabil. Ingin membuat
mazhab sendiri atau tarekat
sendiri, ingin menjalankan
syari’at islam tanpa melalui
mereka, ingin bersuluk menuju
Allah tenpa melalui jalan mereka,
ingin kembali langsung kepada
Qur’an dan Sunnah tanpa melalui
hasil ijtihad mereka, maka
dijamin tidak akan menghasilkan
buah yang memuaskan.
Bukankah kita sendiri yang
selalu berdo’a;
“Ihdinashshirathal-mustaqim,
shirathalladzina an’amta alaihim”
Ya Allah tunjukilah kami jalan
yang lurus, yaitu jalan mereka
yang Engkau karuniai nikmat
(para nabi, para rasul, para
sahabat, para imam mazhab dan
para wali kutub)?
Sebagaimana Rasul telah
mengutus Saidina Mu’az bin Jabal
ra. ke Yaman sebagai makan
(tempat) untuk menjadi
penunjuk jalan / membawa
hidayah, maka beliau-pun
mengutus seorang hadi
(penunjuk jalan) pada setiap
zaman (waktu) sesuadah beliau
wafat? agar umat beliau dapat
menemukan hidayah-Nya…
kapanpun, dan dimanapun.
Allah berfirman:
" ﻣﻦ ﻳﻬﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﺍﻟﻤﻬﺘﺪ ﻭﻣﻦ ﻳﻀﻠﻞ
ﻓﻠﻦ ﺗﺠﺪ ﻟﻪ ﻭﻟﻴﺎ ﻣﺮﺷﺪﺍ "
Barang siapa yang diberi
petunjuk oleh Allah, maka dialah
yang mendapat petunjuk, dan
barang siapa yang disesatkan-
Nya, maka kamu hai Muhammad
tak akan mampu
mempertemukannya dengan
seorang wali mursyid (seorang
penunjuk).
Tanpa seorang wali mursyid
maka tenggelamlah hamba
dalam lautan kesesatan. Qur’an
dan Sunnah tidak akan pernah
cukup tanpa seorang wali
mursyid yang akan menuntun
dan membimbing. Melalui restu
dan petunjuk Allah maka Rasul-
pun segera mempertemukan kita
dengan wali mursyid yang
menjadi pewarisnya, semoga
Allah memberi hidayah kepada
kita… amin.
Dengan niat yang suci, hati yang
bersih dari segala sifat sombong
dan angkuh, serta cinta yang
mendalam kepada Rasul dan
para auliya’ maka perjalanan
menuju wali mursyid tidaklah
jauh, sehingga hidayah Allah
dapat kita nikmati dengan penuh
ria.
Setelah empat wali kutub itu
mendirikan tarekat induk
masing-masing dan menanam
bibit-bibit hidayah dan
mahabbah dalam hati para
pengikut setia, maka ajal-pun tak
lupa menjemput mereka ke Rafiq
A’la, yang kemudian muncullah
para penerus-penerus sejati
yang akan terus membimbing
umat ke jalan-Nya, jalan penuh
reda dan cinta. Para penerus
sejati itulah para imam mujaddid
setiap zaman, mereka adalah
Auliya’ Mursyidun dan Ulama’
yang menjadi pewaris-pewaris
Rasul, yang amat takut kepada
Allah dan tahu rahasia-rahasia
asma’ Allah.
Akhir kata… Disamping
mengikuti tuntunan Qur’an dan
Sunnah, semoga kita tidak lupa
pula mengikuti dan berpegang
teguh kepada Assab’ul-matsani
(beserta para penerus) yang
telah diutus oleh-Nya. Semoga
kita tetap berlindung di bawah
naungan mereka, agar selamat
dari dunia sampai akhir masa…
amin.
Mengikuti mereka adalah
merupakan tuntutan Allah dalam
Qur’an-Nya kepada kita, dan juga
merupakan seruan Rasul dalam
haditsnya “Udldlu alaiha
binnawajiz”. Mereka adalah
utusan-utusan-Nya, mereka
adalah kekasih-kekasih-Nya,
mereka adalah prantara-prantara
kita menuju-Nya, mereka adalah
pewaris-pewaris Rasul-Nya, dan
mereka adalah para pembaharu
dan imam masa.
Inilah suguhan ilmu para Auliya’-
Nya…. yang diraih langsung dari-
Nya… Subhanahu wa t’ala.
Percaya atau tidak, diterima atau
tidak, Allah telah berfirman :
" ﻭﻗﻞ ﺍﻟﺤﻖ ﻣﻦ ﺭﺑﻜﻢ ﻓﻤﻦ ﺷﺎﺀ
ﻓﻠﻴﺆﻣﻦ ﻭﻣﻦ ﺷﺎﺀ ﻓﻠﻴﻜﻔﺮ "
Katakanlah yang benar, yang
telah kamu terima dari Tuhanmu.
Selanjutnya…………………………………
terserah mereka!

                                     EMPAT WALI QUTUB                             


·         Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
Beliau pernah berkata “Kakiku
ada diatas kepala seluruh wali.”
Menurut Abdul Rahman Jami
dalam kitabnya yang berjudul
Nafahat Al-Uns, bahwa
beberapa wali terkemuka
diberbagai abad sungguh-
sungguh meletakkan kepala
mereka dibawah kaki Syaikh
Abdul Qadir al-Jilani.
Syaikh Ahmad al-Rifa’i
Sewaktu beliau pergi Haji, ketika
berziarah ke Maqam Nabi
Muhammad Saw, maka nampak
tangan dari dalam kubur Nabi
bersalaman dengan beliau dan
beliau pun terus mencium
tangan Nabi SAW yang mulia
itu. Kejadian itu dapat
disaksikan oleh orang ramai
yang juga berziarah ke Maqam
Nabi Saw tersebut. Salah
seorang muridnya berkata :
“Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah
Quthub”. Jawabnya; “Sucikan
olehmu syak mu daripada
Quthubiyah”. Kata murid: “Tuan
Guru adalah Ghaus!”. Jawabnya:
“Sucikan syakmu daripada
Ghausiyah”.
Al-Imam Sya’roni mengatakan
bahwa yang demikian itu
adalah dalil bahwa Syaikh
Ahmad al-Rifa’i telah melampaui
“Maqamat” dan “Athwar”
karena Qutub dan Ghauts itu
adalah Maqam yang maklum
(diketahui umum).
Sebelum wafat beliau telah
menceritakan kapan waktunya
akan meninggal dan sifat-sifat
hal ihwalnya beliau. Beliau akan
menjalani sakit yang sangat
parah untuk menangung
bilahinya para makhluk.
Sabdanya, “Aku telah di janji
oleh Allah, agar nyawaku tidak
melewati semua dagingku
(daging harus musnah terlebih
dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad
Al-Rifa’i sakit yang
mengakibatkan kewafatannya,
beliau berkata, “Sisa umurku
akan kugunakan untuk
menanggung bilahi agungnya
para makhluk. Kemudian beliau
menggosok-ngosokkan wajah
dan uban rambut beliau dengan
debu sambil menangis dan
beristighfar . Yang dideritai
oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i
ialah sakit “Muntah Berak”.
Setiap hari tak terhitung
banyaknya kotoran yang keluar
dari dalam perutnya. Sakit itu
dialaminya selama sebulan.
Hingga ada yang tanya, “Kok,
bisa sampai begitu banyaknya
yang keluar, dari mana ya
kanjeng syaikh. Padahal sudah
dua puluh hari tuan tidak
makan dan minum. Beliau
menjawab, “Karena ini semua
dagingku telah habis, tinggal
otakku, dan pada hari ini nanti
juga akan keluar dan besok aku
akan menghadap Sang Maha
Kuasa. Setelah itu ketika
wafatnya, keluarlah benda
yang putih kira-kira dua tiga
kali terus berhenti dan tidak
ada lagi yang keluar dari
perutnya. Demikian mulia dan
besarnya pengorbanan Aulia
Allah ini sehingga sanggup
menderita sakit menanggung
bala yang sepatutnya tersebar
ke atas manusia lain. Wafatlah
Wali Allah yang berbudi pekerti
yang halus lagi mulia ini pada
hari Kamis waktu duhur 12
Jumadil Awal tahun 570 Hijrah.
Riwayat yang lain mengatakan
tahun 578 Hijrah.
Syaikh Ahmad Badawi
Setiap hari, dari pagi hingga
sore, beliau menatap matahari,
sehingga kornea matanya
merah membara. Apa yang
dilihatnya bisa terbakar,
khawatir terjadinya hal itu, saat
berjalan ia lebih sering menatap
langit, bagaikan orang yang
sombong. Sejak masa kanak
kanak, ia suka berkhalwat dan
riyadhoh, pernah empat puluh
hari lebih perutnya tak terisi
makanan dan minuman. Ia lebih
memilih diam dan berbicara
dengan bahasa isyarat, bila
ingin berkomunikasi dengan
seseorang. Ia tak sedetikpun
lepas dari kalimat toyyibah,
berdzikir dan bersholawat.
Pada usia dini beliau telah hafal
al-Qur’an, untuk memperdalam
ilmu agama ia berguru kepada
syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan
syaikh Ahmad Rifai. Suatu hari,
ketika beliau telah sampai
ketingkatannya, Syaikh Abdul
Qadir al-Jailani, menawarkan
kepadanya: ”Manakah yang kau
inginkan ya Ahmad Badawi,
kunci Masyriq atau Maghrib,
akan kuberikan untukmu”, hal
yang sama juga diucapkan oleh
gurunya Syaikh Ahmad Rifai,
dengan lembut, dan karna
menjaga tatakrama murid
kepada gurunya, ia menjawab;
”Aku tak mengambil kunci
kecuali dari al-Fattah (Allah )”.
Peninggalan syaikh Ahmad
Badawi yang sangat utama,
yaitu bacaan shalawat
badawiyah sughro dan
shalawat badawiyah kubro.
Syaikh Abu Hasan asy-Syazili
Keramat itu tidak diberikan
kepada orang yang mencarinya
dan menuruti keinginan
nafsunya dan tidak pula
diberikan kepada orang yang
badannya digunakan untuk
mencari keramat. Yang diberi
keramat hanya orang yang
tidak merasa diri dan amalnya,
akan tetapi dia selalu
tersibukkan dengan pekerjaan-
pekerjaan yang disenangi Allah
dan merasa mendapat
anugerah (fadhal) dari Allah
semata, tidak menaruh harapan
dari kebiasaan diri dan
amalnya.
Di antara keramatnya para
Shiddiqin ialah :
1. Selalu taat dan ingat pada
Allah swt. secara istiqamah
(kontineu).
2. Zuhud (meninggalkan hal-hal
yang bersifat duniawi).
3. Bisa menjalankan perkara
yang luar bisa, seperti melipat
bumi, berjalan di atas air dan
sebagainya.
Diantara keramatnya Wali
Qutub ialah :
1. Mampu memberi bantuan
berupa rahmat dan
pemeliharaan yang khusus dari
Allah swt.
2. Mampu menggantikan Wali
Qutub yang lain.
3. Mampu membantu malaikat
memikul Arsy.
4. Hatinya terbuka dari haqiqat
dzatnya Allah swt. dengan
disertai sifat-sifat-Nya.
Beliau pernah dimintai
penjelasan tentang siapa saja
yang menjadi gurunya.
Kemudian beliau menjawab,
“Guruku adalah Syaikh Abdus
Salam ibnu Masyisy, akan tetapi
sekarang aku sudah menyelami
dan minum sepuluh lautan ilmu.
Lima dari bumi yaitu dari
Rasululah saw, Abu Bakar r.a,
Umar bin Khattab r.a, Usman bin
‘Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib
r.a, dan lima dari langit yaitu
dari malaikat Jibril, Mika’il,
Isrofil, Izro’il dan ruh yang
agung. Beliau pernah berkata,
“Aku diberi tahu catatan
muridku dan muridnya
muridku, semua sampai hari
kiamat, yang lebarnya sejauh
mata memandang, semua itu
mereka bebas dari neraka.
Jikalau lisanku tak terkendalikan
oleh syariat, aku pasti bisa
memberi tahu tentang kejadian
apa saja yang akan terjadi
besok sampai hari kiamat”.
Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi
berkata, “Aku setiap malam
banyak membaca Radiyallahu
‘an Asy-Syekh Abul Hasan dan
dengan ini aku berwasilah
meminta kepada Allah swt apa
yang menjadi hajatku, maka
terkabulkanlah apa saja
permintaanku”. Lalu aku
bermimpi bertemu dengan Nabi
Muhammad saw. dan aku
bertanya, “Ya Rasulallah, kalau
seusai shalat lalu berwasilah
membaca Radiya Allahu ‘An
Asy-Syaikh Abu Hasan dan aku
meminta apa saja kepada Allah
swt, apa yang menjadi
kebutuhanku lalu dikabulkan,
seperti hal tersebut apakah
diperbolehkan atau tidak?”. Lalu
Nabi saw menjawab, “Abu
Hasan itu anakku lahir batin,
anak itu bagian yang tak
terpisahkan dari orang tuanya,
maka barang siapa bertawassul
kepada Abu Hasan, maka berarti
dia sama saja bertawassul
kepadaku”.
Peninggalan syaikh Abu Hasan
asy-Syazili yang sangat utama,
yaitu Hizib Nashr dan Hizib
Bahar. Orang yang
mengamalkan Hizib Bahar
dengan istiqomah, akan
mendapat perlindungan dari
segala bala. Bahkan, bila ada
orang yang bermaksud jahat
mau menyatroni rumahnya, ia
akan melihat lautan air yang
sangat luas. Si penyatron akan
melakukan gerak renang
layaknya orang yang akan
menyelamatkan diri dari daya
telan samudera. Bila di waktu
malam, ia akan terus melakukan
gerak renang sampai pagi tiba
dan pemilik rumah
menegurnya. Hizib Bahar ditulis
syaikh Abu Hasan asy-Syazili di
Laut Merah (Laut Qulzum). Di
laut yang membelah Asia dan
Afrika itu syaikh Abu Hasan
asy-Syazili pernah berlayar
menumpang perahu. Di tengah
laut tidak angin bertiup,
sehingga perahu tidak bisa
berlayar selama beberapa hari.
Dan, beberapa saat kemudian
Syaikh al-Syadzili melihat
Rasulullah. Beliau datang
membawa kabar gembira. Lalu,
menuntun syaikh Abu Hasan
asy-Syazili melafazkan doa-doa.
Usai syaikh Abu Hasan asy-
Syazili membaca doa, angin
bertiup dan kapal kembali
berlayar
Post a Comment