Friday, June 8, 2012

makrifat

Makrifatullah sebagai pengenalan tertinggi kawulo/ hamba pada gusti telah dialami oleh para wali penyebar agama Islam di Nusantara. Mereka adalah suri tauladan pencapaian pendakian spiritual bagi kita, pencari jalan Ilahi.
Apa dan bagaimana makrifat dari para wali dan bagaimana wujud Tuhan yang sebenarnya?

Makrifat adalah sebuah situasi mental dan kondisi kejiwaan yang dialami oleh siapapun yang menginginkan adanya perjumpaan dengan Tuhan Semesta Alam.

Salah satu momen makrifat yang paling fenomenal dalam sejarah para nabi adalah apa yang dialami Nabi Musa As saat ekstase/ fana/jatuh tersungkur di bukit Sinai saat “menatap” wajah-Nya setelah gunung yang ada di depannya hancur karena tidak sanggup ditempati pancaran cahaya-NyaMakrifat bisa diraih dengan perjuangan dan laku yang berat.

Dalam khasanah tasawuf, kita akan diajari bagaimana laku yang berat tersebut harus dijalankan untuk menyingkirkan dan menerobos hijab menuju langit.
Hijab adalah tirai selubung penutup batin kita sehingga kita tidak mampu menggapai wujud-Nya.
Hijab di dalam perbendaharaan kaum sufi bisa dikategorikan menjadi sepuluh besar.
Hijab ini berasal dari empat unsur, yaitu unsur jiwa, dunia, hawa nafsu, dan setan:
Hijab ta’thil, yaitu meniadakan asma’ dan sifat Allah.
Hijab berupa kemusyrikan, yaitu manembah kepada selain Allah.
Hijab bid’ah qauliyah yang tidak ada pijakannya dalam agama.
Hijab bid’ah ‘amaliah atau perbuatan yang menyimpang dari kebenaran iman dan ikhsan
Hijab batiniyah: takabur, ujub, riya, hasad, bangga diri, sombong dan iri dengki dan lain-lain.
Hijab lahiriyah: Perbuatan Ibadah yang tidak diniatkan untuk berjumpa dengan-Nya.
Hijab dosa kecil. Melakukan perbuatan dosa-dosa kecil namun banyak.
Hijab mubah. Melakukan perbuatan mubah namun tidak dianggap sebagai sebuah dosa.
Hijab lalai dari misi penciptaan dan iradat Allah.
Hijab penempuh jalan spiritual yang bersusah-payah, tetapi namun tidak sampai tujuan. “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-bena terhijab dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka”(Al-Muthaffifin: 15-16)

Setelah semua hijab terbuka dan seseorang pejalan spiritual sudah sampai ke langit ketujuh di dalam diri sejatinya, maka seseorang akan kebingungan dan berada di alam “suwung”/ ora ono opo-opo. Semua pendamping kini telah meninggalkannya termasuk diri, malaikat dan para rasul. Dia kemudian dibimbing oleh Tuhan sendiri untuk berjumpa dengan Dzat-Nya.Apa yang terjadi sesudah kita bermakrifatullah? Tidak ada kata yang mampu menjelaskan situasi dan kondisi fana tersebut. Namun, kita bisa mendapatkan penjelasan dari para wali saat mengalami fana tersebut. Bagaimana wujud Allah SWT?

"Sunan Kalijaga: “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.

”Syekh Majagung: “Allah itu bukan disana atau disitu, tetapi ini.

”Syekh Maghribi: “Allah itu meliputi segala sesuatu.

”Syekh Bentong: “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.

”Sunan Bonang: , “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya.

”Sunan Kudus: “Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidak bersekutu dengan sesama.

”Sunan Giri: “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas, dekatnya tanpa rabaan.

”Syekh Siti Jenar: “Allah itu adalah keadaanku. Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah

”Sunan Gunung Jati: “Allah itu adalah yang berwujud haq”

Dimana kekuatan manusia berhenti, disitulah pertolongan Allah mulai berperan.
Dialah yang mengajari kita,yang menguatkan kita, yang menjadi segalanya bagi kita, dan Dia sendirilah yang menuntun kita kepada Nya. Manusia yang percaya pada Sang Pencipta akan menghargai manusia dan semua ciptaan Nya.

Penjabaran yang diungkapkan Syekh Siti Jenar ini gamblang dan terbuka , efek dari manunggalnya kawula dan gusti , dan pencapaiannya , sehingga ungkapan aku ini haq allah, lahir batin allah secara harafiah meski kita belum merasakan kemanunggalan dengan gusti kita tetap manunggal , semua mahkluk sudah manunggal sadar atau tidak , memang terlihat banyak tapi satu kesatuan, dalam pencapaian batin dimana saat mencapai kekosongan, disana tiada apapun, tapi ada “aku” dan “hampa”, aku sejati ini bisa dikatakan yang “nanggep” sedangkan sifat dan perbuatan adalah ibarat “dalang” dan “wayang” kodrat iradatnya tetap dari satu sumber “yang nanggepin” apapun itu sehingga bagaimanapun secara sadar atau tidak ikhlas atau tidak, dalam pengakuan aku ( dlm tingkatan ego pribadi, identitas membumi ) ” ya aku ini allah ta ala kodrat iradat lahir batin, sampai kapanpun kemaren atau besok ya aku ini allah yang haq , itulah insan kamil berdiri secara mandiri menopang dirinya sendiri.
Post a Comment