Friday, June 22, 2012

Kupas Tuntas Surah Al-fateha

Mengkaji Alfateha


Kalimah Bismillaahirrohmaanirrohiim.
P
rinsip pokok pemikiran yang harus kita tanamkan pada qolbu dan jiwa kita adalah bahwa Allah menurunkan Alqur’an sebagai penyempurnaan dari kitab-kitab suci yang ada sebelumnya, hal ini berarti semua kitab suci yang sifatnya samawi termuat didalam Alqur’anul karim dan kita juga harus percaya pada semua kitab sebelumnya. Sedangkan Surat Al-Fateha, selain sebagai surat pembuka juga merupakan intisari dari Alqur’an dan intisari dari Al-Fateha adalah Basmallah, kok bisa?
Dalam lafas Basmallah tersebut ada hal-hal prinsip yang harus kita pahami, yaitu Allah adalah “Laista kamistlihi Syai’un” (tidak ada satupun yang mirip ataupun menyamai-NYA), hal ini berarti keharusan yang berlaku bagi kita untuk pentauhidan dalam 4 hal:
1.      Tauhidz Dzat (keesaan zat).
2.      Tauhidus Sifat (keesaan sifat).
3.      Tauhidul Asma’ (keesaan nama).
4.      Tauhidul Af’al (keesaan perbuatan).
Keempat hal tersebut akan mampu kita pahami bila kita sudah musyahadah lidz-dzat.
Kalau kita kaji lebih mendalam intisari dari Basmallah adalah Allah, dalam lafas Allah terkandung makna zat, sifat, asma’ dan af’al Allah, (sumber dari semua sumber/ sebab dari semua sebab).
Dalam lafas Basmallah bertumpu atau diawali dari huruf ب (Ba), huruf Ba bertumpu pada titik Ba, titik Ba mengisyaratkan Alif yang mengisyaratkan Bikana makana, Biyakunu mayakunu, Fawajudul ‘awalimibi (Dengan AKU ada apa saja semua yang telah ada, dengan AKU akan ada apa saja yang akan ada, maka adanya apa saja semua yang ada di alam ini adalah dengan-KU), artinya semua yang ada di dalam alam semesta ini baik yang ghoib maupun yang zohir ada karena diciptakan oleh-NYA.
Setelah huruf Ba diikuti dengan huruf س (Sin), ini mengisyaratkan adanya kalam qodim yang berbunyi bila ingin mengenalku lewatlah jalur Sin, ada apa dengan huruf Sin?!. Kalau kita telaah lebih mendalam dari bentuk huruf sin yang terdiri dari 3 gerigi ini mengisyarakan jalan Syari’at, Tareqat, dan Hakekat yang harus kita lalui agar kita benar-benar mengerti dan memahami tentang Allah atau makrifatullah.
Dari huruf sin yang mengisyaratkan syari’at, tareqat, dan hakekat tadi, akan timbul pertanyaan lagi lah makrifatnya mana? Jika ingin makrifat dengan benar dan selamat ya ikuti huruf  م (Mim), karena huruf mim ini mengisyaratkan makrifat, kok bisa?, pada hakekatnya Mim ini juga mengisyaratkan Muhammad Rosulullah. Jadi kalau ingin selamat dan benar dalam mengkaji hakekat Allah ya ikuti ajaran Rosullulah SAW (agama Islam)  secara benar dan kafah (lurus) khususnya dalam menanamkan aqidah sebagai sumber keimanan kita agar menjadi manusia yang sempurna (insan kamil), yaitu golongan orang-orang yang senantiasa sujud kepada Allah. Coba kita perhatikan dengan seksama bahwa orang yang sedang sujud itu melambangkan Muhammad karena saat orang sedang sujud kepalanya melambangkan huruf م (mim), badan dan tangan melambangkan huruf ح (Ha), bagian pinggul melambangkan huruf م (mim) dan kaki melambangkan huruf د (Dal), sedangkan orang yang sedang sholat itu melambangkan Ahmad karena sa’at kita tegak sebelum takbiratul ihrom melambangkan huruf ا (Alif), sa’at kita ruku’ melambangkan huruf ح (Ha), sa’at kita sujud melambangkan huruf م (mim), dan sa’at kita duduk tahiyad melambangkan huruf د (Dal).
Insya Allah kalau kita istiqomah dalam mendalami agama islam kita akan mengenal Allah, karena sesudah huruf م (mim) diikuti dengan lafas Allah (ingat keharusan pentauhidan dalam 4 hal) yang maha rohman dan maha rohim, rohman dan rohim ini mengisyaratkan bahwa dalam menjalani habluminannas kita harus mengedepankan sifat penuh kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah, sehingga dengan demikian akan terwujud bahwa Islam sebenarnya rahmatan lil ‘alamin.
Lafas Allah terdiri dari huruf ا (Alif), ل (Lam awal),  ل(Lam akhir) dan ح (Ha), terdiri dari 4 huruf, Muhammad terdiri dari huruf م (mim), huruf ح (Ha), huruf م (mim) dan huruf د (Dal) terdiri dari 4 huruf, nama asli Rosulullah Ahmad juga 4 huruf, ا (Alif), ح (Ha), م (mim), د (Dal). Susunan lafas yang terdiri dari 4 huruf ini mengisyaratkan semua yang serba 4, ingat bahwa kita diciptakan dari 4 unsur (tanah, air, api dan udara), 4 hakekat Allah (Dzat, Sifat, Asma’ dan Af’al), 4 sifat Allah (Jalal, Jamal, Qohar dan Kamal), empat sifat Rosulullah (Sidiq, Amanah, tablik dan fatonah), 4 malaikat mukarrobin (Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il), 4 sahabat Rosul yang termasuk kulafaur rosyidin (Abubakar, Umar, Usman dan Ali), 4 bagian diri manusia (Ruh Suci, Jiwa, Hati dan Jasad), 4 bagian tubuh manusia (Rasa, Akal, Daya dan Nafsu), 4 macam makhluk ciptaan Allah (Malaekat, Jin, Syaiton dan Manusia), bener juga ya.
Dari uraian diatas maka benar apa yang difirmankan Allah dan diteruskan oleh Rosulnya, bahwa siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya, caranya bagaimana? Ya ikuti saja Aku (Muhammad Rosulullah) dengan cara mendalami agama Islam dalam artian jangan terpaku hanya pada yang tersurat saja (Alquranul karim), tetapi juga harus mampu menangkap dan menguraikan apa yang tersirat, lebih-lebih harus mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (hablumminannas dan hablumminallah) sehingga dengan demikian Insyaa Allah kita akan selamat dunia dan akherat, amin. Sempurnakan dulu hablumminannas baru sempurnakan hablumminallah. Janganlah kita mengejar kesempurnaan hablumminallah dengan mengesampingkan hablumminannas.
Kata-kata Aku di atas, bisa bermakna Muhammad Rosulullah (yang tersurat) bisa juga bermakna diri kita masing-masing, dalam hal ini qolbu (yang tersirat). Kalau kita senantiasa mendengarkan suara Bahjatul qolbi (relung hati yang terdalam) sebagai kompas nafigasi kehidupan kita sehari-hari insyaa Allah kita akan selamat fiddunya wal akherat. Dengan terus menerus kita mengasah QOLBU, INSYAA Allah kita akan mencapai ma’rifat dan musyahadah (penyaksian) terhadap Allah. karena Musyahadah terhadap Allah perlu sinar kebenaran (Nur ma’rifat) yang tembus kejiwa, perasaan dan hati. Untuk mencapai Musyahadah dapat ditempuh dengan 3 cara / alat, yaitu :
1.      Bashiroh (pandangan batin);
2.      ‘Ainul bashiroh (pandangan mata batin);
3.      Syi’a-ul Bashiroh (nyala pandangan batin).
Tentu sajah untuk sampai kemaqom(posisi/tingkatan) tersebut kita perlu berusaha keras, penuh kesadaran dan istiqomah, karena dalam penerapannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, banyak hal-hal yang menghijab dan menghambat ma’rifat dan musyahadah.
Hal-hal yang dapat menghijab yaitu :
1.      Keingkaran;
2.      Kebodohan / ketidak mengertian (jahil);
3.      Prasangka buruk (su’udzon);
4.      Terlalu sibuk dengan urusan duniawi, mengabaikan urusan ukhrowi.
Faktor penghambat tercapainya ma’rifat dan musyahadah, disebabkan karena sifat-sifat al.:
1.      Kasl (malas);
2.      Futur (bimbang bin ragu alias lemah pendirian);
3.      Malal (pembosan);
4.      Syirik khofi :
a.         Ria (suka pamer);
b.         ‘Ujub (merasa paling hebat);
c.         Sum’ah (membangga-banggakan diri biar dipuji);
d.         Hijb / Hajb (tertutup hati karena merasa ilmunya sudah lebih dari cukup).
Tentu sajah semua hal tersebut harus kita atasi, caranya dengan RIYADLOH (latihan) secara istiqomah dan kita tanamkan dalam diri dan jiwa kita rasa Khauf (takut terhadap murka dan adzab Allah) serta Raja’ (selalu menggantungkan harapan terhadap rahmat Allah).
Dalam hal musyahadah kepada Allah, pada dasarnya dapat digolongkan menjadi 2 (dua) cara musyahadah, yaitu :
1.      Musyahadah lidz-Dzat (Dzat).
Dalam musyahad lidz-Dzat ini kita harus menanamkan sifat dan sikap pentauhidan adanya Allah, ingat bahwa Allah Laista kamistlihi syai’un (tidak ada satupun yang menyamainya atau yang mirip dengan-NYA), dalam hal ini pentauhidan di dalam hal:
a.      Tauhidz Dzat (keesaan zat).
b.      Tauhidus Sifat (keesaan sifat).
c.       Tauhidul Asma’ (keesaan nama).
d.      Tauhidul Af’al (keesaan perbuatan).



2.      Musyahadatun Nur (Nur).
Musyahadatun Nur ini berkaitan erat dengan 4 (empat) pentauhidan di atas, sebagai salah satu contoh dalam hal ini diambilkan yang berkaitan dengan Tauhidul Af’al, caranya yaitu:
a. Selalu memandang / syuhud (pandangan batin) terhadap diri sendiri. “Allah yang menciptakan kita, dan Allah juga yang menciptakan apa yang kita lakukan”, ( lihat QS: Ash-Shoffaat : 96 ).
b.      Selalu memandang sesuatu di luar diri kita (mubasyarah).
c.       Selalu memandang manusia lain dan serba-serbinya.
Tentu saja semua itu harus diiringi dengan :
1.        Al-Juu’h (tahan lapar);
2.        Ash-Shumtu (diam);
3.        Al-Khalwat (berkhalwat);
4.        As-Sahr (Terjaga, sering sholat malam).
Insyaa Allah dengan begitu kita akan mampu mengendalikan hawa nafsu kita, karena nafsu yang tidak terkendali akan mendorong kita untuk cenderung berbuat kejahatan yang sangat merugikan, melanggar batas-batas agama, yang suatu sa’at akan bertindak bodoh dan tanpa disadari akan memasuki wilayah kafir zindik, yang pada akhirnya akan menimbulkan murka Allah SWT.
Untuk menjadi manusia Insan Kamil (sempurna lahir batin), manusia yang arif dan kuat aqidahnya (iman), harus selalu berpegang teguh (istiqomah) pada jalan Allah dan senantiasa menyandarkan diri kepada Allah. Karena pada dasarnya semua keta’atan, kebaktian, ketaqwaan, dan kesolehan yang ada pada kita semata-mata karena Anugerah Allah SWT, bukan karena hasil usaha diri kita sendiri, sedangkan semua kesalahan dan kelalaian semata-mata karena Qodho dan Qodar (taqdir) Allah yang pasti berlaku bagi semua hamba-NYA dengan tanpa kecuali dan pembedaan.
Kunci menuju semua itu yang terbaik adalah segala sesuatu yang terjadi pada kita dilandasi atas dasar karena/ semata-mata kehendak Allah, karena dengan begitu Allah-lah yang bertanggung jawab untuk membantu dan mengurus serta mencukupi semua kebutuhan  kita, sebaliknya kalau kita sendiri yang menentukan pilihan maka Allah lepas tangan dan menyerahkan sepenuhnya semua resiko kepada kita sendiri. Itulah inti Basmalah, artinya semuanya atas nama Allah, Allah yang mana?! Tentu saja Allah yang Maha Rohman dan Maha Rohim. Allah yang maha menciptakan dengan penuh sifat Rohman dan Rohim, semua diciptakan bukan karena kepentingan Allah, melainkan karena kepentingan makhluk-NYA yang untuk menunjukkan sifat Rohman dan Rohim-NYA maka diciptakanlah alam semesta beserta isinya ini, baik yang zohir maupun yang ghoib.
Alangkah enak, indah dan amannya kalau kita bisa bertindak atas nama Allah, karena semua yang kita kerjakan akan menjadi tanggung jawab sepenuhnya yang mempunyai nama, bandingkan kalau kita mengatas namakan presiden saja semua urusan pasti beres, semua pejabat dibawahnya tidak ada yang berani menghalangi, apalagi kalau atas nama Allah?!, akan tetapi sudah pantaskah kita bersikap seperti itu?! Kapankah kita bisa seperti itu?!, kapankah kita berhak menggunakan atas nama itu?!, tentu saja lewat proses !, caranya?! Lihat dan pelajari serta renungkan pada QS. Al-Isro’:80.


Tafsir Alhamdulillahir Rabbil ‘aalamiin

Al’aalamiin (Alam Semesta)
Sehebat apapun ilmu pengetahuan yang telah dicapai manusia saat ini, namun masih sedikit sekali dibandingkan dengan besar dan luasnya alam semesta raya.

Firman Allah : ”Dan tidaklah diberikan pengetahuan kepada kamu kecuali sedikit.” (al Isra: 85).
”Katakanlah (hai Muhammad), bahwa sesungguhnya pengetahuan (yang sempurna) hanya pada Allah, sedang aku ini hanya pemberi peringatan yang nyata.” (al Mulk:26)


Begitu sedikit pengetahuan manusia tentang alam semesta ini, lebih sedikit lagi pengetahuan manusia tentang akherat. Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepada salah seorang sahabat:”Bila engkau masukkan sebelah tanganmu ke dalam laut, lalu engkau angkatlah tangan itu kembali, maka air yang melekat pada tangan itulah pengetahuan dunia, dan air laut yang tertinggal di samudera ialah pengetahuan tentang akherat”.

Bagaimana indah dan luasnya alam semesta alam raya ini, terlebih keindahan alam di malam yang terang dan cerah. Dijelaskan dalam surat Al Quran mengenai hal ini, seperti: Al Mulk:1-5, al Waqi’ah:75-76, al Mu’min:57 dan masih banyak lagi.

Kekaguman kita terhadap kehebatan dan kebesaran alam semesta, dan kemudian akan lebih kagum lagi terhadap kehebatan dan kebesaran Allah yang menciptakannya. Seperti yang disampaikan dalam surat al Kahfi: 109: ”Sekiranya laut dijadikan tinta untuk menuliskan kalimah-kalimah Allah, sungguh akan keringlah lautan sebelum habis kalimah-kalimah Allah, sekalipun ditambah sebanyak itu lagi.”

Rabbil’Aalamiin
Firman Allah: ”Sesungguhnya di dalam pergiliran malam dan siang, dan kapal-kapal yang berlayar di atas samudera membawa apa-apa yang berguna bagi manusia dan apa-apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, sehingga dengan air itu menjadi hiduplah bumi yang mulanya mati, lalu hidup berkeliaran di atasnya segala macam binatang, berhembusnya angin dan awan antara langit dan bumi, semua itu adalah menjadi ayat-ayat atau tanda-tanda bagi orang yang berakal (berfikir) .” (Al Baqarah:164).
Jadi seluruh kejadian dibumi ini, disamping diambil manfaatnya untuk hidup, dapat pula dijadikan bukti dan tanda tentang wujud kekuasaan dan kemurahan Allah, untuk pendorong agar kita selamanya hidup di dalam mengingat Allah, mensyukuri nikmat Allah dan mentaati segala perintah Allah.

Alhamdulillah
Ucapan atau kalimah yang menunjukkan rasa syukur terimakasih, kasih sayang, cinta, hormat, khidmat, lega dan bangga terhadap Allah. . Dari segala macam bentuk susunan kalimah yang berisi pujaan dan pujian yang dihadapkan manusia kepada Allah, Allah memilih satu yang paling Allah senangi, yaitu Alhamdulillahi Rabbil ’aalamiin.

Sabda Rasulullah S.A.W: ” Zikir paling utama ialah kalimah laa Ilaaha Illallaah, dan doa paling utama ialah kalimah Alhamdulillaahi”. Kalimah hamdalah berarti berdoa. Syaratnya ialah agar hati setiap orang yang menyebutnya harus ingat dan yakin bahwa Allah akan mengabulkan dan mendengarkannya.

Diriwayatkan oleh Imam al Qurthuby di dalam tafsiran dan di dalam kitab Nawadirul Ushul, dari Anas r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: ”Sekiranya dunia dan seluruh harta kekayaan yang berada di atasnya diserahkan ke tangan seorang dari umatku, lalu orang itu berkata: ”Alhamdulillah”,  sungguh ucapan ”Alhamdulillah” itu lebih berharga dari seluruh harta kekayaan itu.”

Untuk itu maka tidaklah berlebihan apabila semua pujian, semua ibadah, semua amalan, semua rasa syukur (berterima kasih) yang kita lakukan kita tujukan hanya kepada Allah, Rob semesta Alam, atas segala nikmat yang dilimpahkan-NYA kepada kita. Apalah jadinya kalau hari itu siang terus menerus atau malam terus menerus? Dan apalah jadinya seandainya oksigen yang kita hirup dalam setiap tarikan nafas ini tidak tersedia bebas di alam semesta? Bukankah betapa mahalnya oksigen yang di berikan pada pasien dirumah sakit-rumah sakit itu? Dan apalah jadinya seandainya sinar matahari itu juga tidak kita dapatkan secara Cuma-Cuma? Kenapa kita masih juga tidak mau mensyukuri berjuta-juta nikmat bahkan mungkin tidak terhitung lagi nikmat yang kita dapat dari Allah,SWT.

Marilah kita menjadi manusia yang pandai mensyukuri nikmat, yaitu setidak-tidaknya dengan cara mempergunakan nikmat yang diberikan Allah untuk selalu berbuat kebajikan. Tangan ini digunakan untuk mencari rizki yang halal, kaki selalu digunakan untuk melangkah kearah kebaikan dan ridho Allah, Akal kita gunakan untuk menuntut ilmu yang bermanfaat bagi sesama makhluk dan diri ini kita gunakan untuk beribadah kepada Allah, berbakti kepada orang tua, masyarakat, bangsa dan negara.

Post a Comment