Friday, June 8, 2012

KISAH KEROHANIAN SYEIKH ABU YAZID AL BUSTAMI

KISAH 1 : MASA SEBELUM KELAHIRANNYA
Datuk Abu Yazid al Bustami adalah penganut agama Zoraster (majusi). Ayahnya adalah seorang di antara orang-orang terkemuka di daerah Bustham.
Kehidupan Abu Yazid yang luar biasa bermula semenjak dalam kandungan ibunya lagi.
Setiap kali aku menyuap makanan yang ku ragukan halal haramnya. Ibunya sering berkata kepada Abu yazid dalam kandungan nya , ”engkau yang berada di dalam perutku memberontak dan tidak mahu berhenti memberontak, selagi makanan yang aku makan tidak dimuntahkan kembali”.
KISAH 2: BERBAKTI KEPADA IBUNYA
Setelah tiba waktunya, si ibu menghantar Abu Yazid ke Masjid. Abu Yazid mempelajari al Quran. Pada suatu hari gurunya menjelaskan erti sepotong ayat dari surah Al Lukman yang berbunyi:
” Beterimakasihlah kepada Ku dan kepada kedua ibu bapa kamu”.
Ayat ini sangat mengentarkan hati Abu Yazid. Abu Yazid meletakkan batu tulisannya dan berkata kepada gurunya: ”Izinkan saya pulang , ada yang perlu hamba katakan kepada ibuku”
Si guru memberi izin. Lalu Abu Yazid pulang ke rumahnya. Ibunya menyambutnya dengan kata-kata:
”Thaifur, mengapa engkau pulang?. Apakah engkau mendapat hadiah atau ada sesuatu kejadian yang istimewa?”
”Tidak”, jawab Abu Yazid: ”Ketika pengajian ku sampai pada ayat di mana Allah memerintahkan agar aku berbakti kepada Nya dan kepada ibu. Tetapi aku tidak dapat mengurus dua buah rumah dalam waktu yang serentak ibu Ayat ini sangat menyusahkan hatiku. Mintalah daku ini kepada Allah sehingga aku menjadi milik mu seorang atau serahkanlah aku kepada Allah semata –mata sehingga aku dapat hidup untuk Dia semata-mata”.
”Anakku”. Jawab ibunya: ”Aku serahkan engkau kepada Allah dan ku bebaskan engkau dari semua kewajipan mu terhadap aku. Pergilah engkau dan jadilah engkau seorang hamba Allah”.
Di Hari kemudian , Abu Yzzid berkata:
”Kewajipan yang pada mula ku kira sebagai kewajipan paling mudah di antara yang lain-lainya, ternyata merupakan kewajipan yang paling utama. Iaitu kewajipan untuk berbakti kepada ibu ku.. Di dalam berbakti kepada ibuku itulah ku perolehi segala sesuatu yang ku cari, yakni segala sesuatu yang hanya boleh difahami melalui tindakan displin diri dan pengabdian kepada Allah”.
Antara peristiwa adalah sebagai berikut:
Pada suatu malam ibu meminta air kepada ku. Maka aku pun pergi mengambilnya, ternyata di dalam tempayan kami tidak ada air. Ku lihat dalam kendi, tetapi kendi itu pun kosong jua. Oleh kerana itu pergilah aku ke sungai lalu mengisi kendi tersebut dengan air. Ketika aku pulang, , ternyata ibuku tertidur”.
”Malam itu udara terasa sejuk. Kendi itu tetap dalam rangkulan ku. Ketika ibu ku terjaga, ia meminum air yang ku bawa itu kemudian memberkati diriku. Kemudian terlihatlah oleh ku betapa kendi itu telah membuat tanganku kaku:
”Mengapa engkau tetap memegang kendi itu”, ibu bertanya.
”Aku takut ibu terjaga sedang aku sendiri terlena”, Jawab ku.
Kemudian ibu berkata kepada ku: ”Biarkan sahaja pintu itu setengah terbuka”.
Sepanjang malam aku berjaga-jaga agar pintu itu tetap dalam keadaan setengah terbuka dan agar aku tidak melalaikan pesanan ibuku. Hingga akhirnya fajar melewati pintu, begitulah yang sering kulakukakan berkali-kali”.
Setelah si ibu memyerahkan anaknya kepada Allah, Abu Yazid meninggalkan Bustham, merantau dari satu negeri ke satu negeri selama 3o puluh tahun, dan melaluikan disiplin diri dengan terus berpuasa di siang hari dan betariqat sepanjang malam. Ia belajar di bawah bimbingan 113 guru kerohanian dan telah memeperolehi manafaat dari setiap pelajaran yang mereka berikan.
KISAH 3: KEHEBATAN LELAKI SEJATI
“Tuan, engkau boleh berjalan di atas air!”, murid-muridnya berkata dengan penuh kekaguman kepada Abu Yazid
“Itu bukan apa-apa. Sepotong kayu juga boleh,” Beliau menjawab.
“Tapi engkau juga boleh terbang di angkasa.”
“Demikian juga burung-burung itu,” tunjuk Abu yazid ke langit.
“Engkau juga mampu pergi ke Ka’bah dalam semalam.”
“Setiap pengkelana yang kuat pun akan mampu pergi dari India ke Demavand dalam waktu satu malam,” jawab Abu Yazid
“Kalau begitu, apa kehebatan seorang lelaki sejati?” murid-muridnya ingin tahu.
“Lelaki sejati,” jawab Abu Yazid: “adalah mereka yang mampu melekatkan hatinya tidak kepada sesuatu pun selain Allah”.
KISAH 4: ABU YAZID PERGI HAJI
Seorang tokoh sufi besar, Bayazid Al-Busthami suatu saat pergi naik haji ke Mekkah. Pada haji kali pertama, ia menangis. “Aku belum berhaji,” isaknya, “karena yang aku lihat cuma batu-batuan Ka’bah saja.”
Ia pun pergi haji pada peluang yang kedua berikutnya. Sepulang dari Mekkah, Bayazid kembali menangis, “Aku masih belum berhaji,” ucapnya masih di sela tangisan, “yang aku lihat hanya rumah Allah dan pemiliknya.”
Pada haji yang ketiga, Bayazid merasa ia telah menyempurnakan hajinya. “Karena kali ini,” ucap Bayazid, “aku tak melihat apa-apa kecuali Allah subhanahu wa ta’ala….”
KISAH 5: TAKUT MENGOTORKAN MASJID
Setiap kali sampai di depan masjid, Abu Yazid Al Bustami berdiri sebentar, kemudian menangis.
“Mengapa engkau menangis, hai Abu Yazid,?” Tanya seseorang suatu ketika.
Aku merasa diriku seperti seorang wanita yang sedang haid sehingga aku malu memasuki masjid karena takut mengotori,” Jawab Abu Yazid Al Bustami.
KISAH 6: JANGAN SOMBONG
Suatu ketika ketika Abu Yazid Al Bustami sedang duduk, di benaknya terlintas pemikiran bahwa dirinya adalah seorang besar, seorang wali pada zamannya. Tak lama kemudian dia sadar bahwa dirinya telah melakukan dosa besar. Dia segera bangkit dan pergi ke Khurosan. Sesampainya di sana dia menginap di sebuah tempat. Dia bersumpah bahwa dia tidak akan meninggalkan Khurosan sebelum Allah mengirimkan seseorang untuk mengingatkan dirinya yang alpa.
Tiga hari tiga malam Abu Yazid Al Bustami tinggal di tempat itu. Pada hari keempat dia melihat seorang dia melihat seseorang bermata satu menunggangi unta dan mendekatinya. Setelah orang tersebut mendekat, Abu Yazid Al Bustami melihat tanda-tanda ketaqwaannya. Abu Yazid melambaikan tangan kepada unta tersebut agar berhenti.
Setelah unta tersebut berhenti, orang tersebut berkata kepada Abu Yazid, “Kamu membawaku ke sini untuk membuka pintu yang terkunci dan menenggelamkan warga Bustam bersama Abu Yazid, benarkah begitu?
Abu Yazid terperanjat mendengar kata-kata lelaki itu. Ia lalu bertanya, “Dari mana asalmu?”
“Tak perlu kau tahu darimana aku. Kukatakan kepadamu bahwa sejak engkau mengucapkan sumpah di tanah Khurosan ini, aku telah menghadiri tiga ribu perkumpulan. Hati-hatilah wahai Abu Yazid. Jagalah hatimu. Tak ada yang berhak sombong di muka bumi ini kecuali Sang Pencipta jagad raya ini, Allah.”
Setelah berkata begitu, orang bermata satu itu membangunkan untanya untuk kemudian segera pergi.
KISAH 7: JALAN TERBAIK DALAM KEROHANIAN
Kepada Abu Yazid pernah ditanyakan, ” Apakah yang terbaik bagi seseorang menusia di atas jalan kerohaniannya,”
”kebahagiaan yang merupakan bakat semenjak lahir”, jawab Abu Yazid.
”Jika kebahagiaan seperti itu tidak ada?’
”Tubuh badan yang sehat dan kuat”.
”Jika tidak memiliki tubuh badan yang sihat dan kuat?
”Pendengaran yang tajam”
”Jika tidak memiliki pendengaran yang tajam?”
”hati yang mengetahui”
’Jika tidak memiliki hati yang mengetahui?”
”mata yang melihat”
Jika tidak memiliki mata yang melihat”
”Kematian yang segera”
KISAH 8: LUPA NAMA
Hampir setiap hari Abu Yazid Al Bustami begitu asyik dengan Tuhan. Keasyikan itu membuat dia sering lupa ketika memanggil nama seorang muridnya yang telah belajar padanya selama 30 tahun.
“Anakku siapakah namamu?” Tanya Abu Yazid kepada murid tersebut.
“Engkau suka mengolok-olokku, Guru,” kata sang murid. “Sudah tiga puluh tahun aku belajar kepadamu tetapi hampir setiap hari engkau menanyakan namaku.”
“Bukan aku mengolok-olokmu, Anakku,” Kata Abu Yazid Al Bustami. “Tetapi nama-Nya telah memasuki hatiku dan mengeluarkan semua nama lain sehingga aku selalu lupa setiap kali mengingat nama baru.”
KISAH 9: ABU YAZID DENGAN SI GURU BESAR
Abu Yazid mendengar bahawa di suautu tempat tertentu terdapat seorabg Guru besar dalam bidang ilmu. Dari jauh ia datang untuk menemuinya. Ketika sudah dekat, Abu Yazid meyaksikan betapa guru besar yang termashur itu meludah ke arah Kota Makkah, kerana itu segera ia memutar langkahnya.
“Jika ia memang telah memperoleh semua kemajuan itu dari jalan Allah”,
Abu yazid berkata mengenai guru tadi, “Niscaya ia tidak akan melanggar hukum seperti yang telah dilakukannaya tadi”.
KISAH 10: TAK PERNAH MELUDAH SEPANJANAG HAYAT
Diriwayatkan bahawa rumah Abu Yazid hanya kira-kira 40 langkah dari sebuah masjid, tetapi ia tidak pernah meludah ke arah jalan dan meghormati masjid tersebut.
KISAH 11: PERJALANAN ABU YAZID KE KAABAH MAKKAH
Perjakanan Abu yazid menuju kaabah memakan waktu 12 tahun penuh. Hal ini , kerana setiap kali bersua dengan sesoarang pemberi khutbah, yang memberikan pengajaran di dalam perjalannanya itu, Abu Yazid segrea mebentangkan sejadahnya dan melakukan solat sunat 2 rakaat.
Mengenai hai ini Abu Yazid berkata: ” kaabah bukanlah seperti serambi istana raja, tetapi suatu tempat yang dapat dikunjungi orang setiap saat”.
Akhirnya sampailah ia ke kaabah tetapi ia tak pergi ke Madinah pada tahun itu juga.
”Tidaklah wajar kunjungan ku ke Madinah hanya sebagai pelengkap sehaja”, Abu Yazid menjelaskan , ”Aku akan mengenakan pakaian Haji yang berbeza bila mengunjungi Madinah ”.
Tahun berikutnya sekali lagi ia menunaikan ibadah haji. Ia mengenakan pakaian yang berbeza untuk setiap tahap perjalanannya sejak mulai menempuh padang pasir. Di sebuah Pekan dalam perjalanan tersebut, suatu rombongan besar telah menjadi anak muridnya dan ketika ia meninggalkan tanah suci, banyak orang yang mengikutinya.
”Siapakah orang-orang ini?”, ia bertanya sambil melihat ke belakang. “Mereka ingin berjalan bersamamu”, tedengar sebuah jawapan.
“Ya Allah”, Abu Yazid memohon, “janganlah Engkau tutup penglihatan hamba-hamba Mu kerana ku”.
Untuk menghilangkan kecintaaan murid tadi kepadanya dan agar diri nya tidak sampai menjadi penghalang bagi mereka , maka setelah selasai malakukan solat Subuh,
Abu Yazid berseru kepada mereka: “sesungguhnya Aku adalah Tuhan mu, Tiada Tuhan selain Aku dan kerana itu sembahlah aku”.
“Abu Yazid sudah gila!”, seru mereka kemudian meninggalkannya.
KISAH 12: ABU YAZID DENGAN TENGKORAK SI SUFI
Di tengah perjalanannya ia menemui sebuah tengkorak manusia yang bertuliskah: Tuli, bisu, buta.... mereka tidak memahami.
Sambil menangis Abu Yazid memungut tengkorak itu lalu menciumnya. ”sesunggubnaya ini adalah tengkorak sorang sufi”, keluar dari mulutnya secara spontan, ”Yang menjadi lebur di dalam Allah... ia tidak lagi mempunyai telinga untuk mendengar suara abadi, tidak lagi mempunyai mata untuk menmandang keindahan abadi, tidak lagi mempunyai lidah untuk memuji kebesaran Allah, dan tidak lagi mempunyai akal walaupun untuk merenungi sepercikan ilmu Allah yang sejati. Tulisan ini adalah mengenai dirinya”.
KISAH 13: ABU YAZID DENGAN PENUNGGANG UNTA BERMATA SATU
Sustu ketika Abu Yazid melakukan perjalanannya seperti biasa, Ia membwa seekor unta sebagai tungangan dan pemikul barang bekalananya.
”Binatang yang malang, betapa berat bebanan yang engkau pikul, sungguh kejam!”, seorang pemuda berseru.
Setelah mendengar seruan dari pemuda itu berulangkali, akhirnya Abu Yazid pun menjawab, ”Wahai anak muda, sebenarnya bukan unta ini yang memikul bebanannya”.
Kemudian si pemuda meneliti apakah bebanan benar-benar berada di atas punggung unta tersebut, oh barulah ia percaya setelah melihat bebansn itu melampung satu jengkal di atas punggung unta dan binatang itu sedikit pun tidak memikul bebanan tersebut.
”Maha besar Allah, benar-benar menakjubkan!”, seru si pemuda tadi.
:Jika ku sembunyikan kenyataaan-kenyataan yang sebenarnya mengenai diriku, engkau akan melontarkan celaan kepada ku”, kata Abu yazid kepada pemuda terrsebut, ”tetapi jika kujelaskan kenyataan-kenyataaa itu kepada mu, engkau tidak dapat memahaminya, bagaimana seharusnya sikap ku terhadap mu?!”.
KISAH 14: PANNGILAN PULANG ABU YAZID KE BUSTAM
Setelah Abu Yazid mengunjungi Kota Madinah, datang sebuah perintah yang menyuruhnya segera pulang untuk melawat ibunya, Ditemani sekumpulan orang, ia pun berangkat pulang menuju Bustham, tempat tinggal ibunya.
Beriata kedatangan Abu Yazid teresebar dengan cepat di seluruh kota Bustham dan penduduk kota datag untuk menemuinya. Keadaan ini dah pasti Abu Yazid akan sibuk melayani mereka semua dan membuat ia terhalang untuk meyegerakan perintah Allah. Oleh itu, ketika penduduk Kota telah hampir sampai, dari celah lengan bajunya ia mengeluarkan sepotong roti, walhal ketika itu dalam bulan ramadhan, tetapi dengan tenang Abu Yazid memakan roti tersebut. Begitu penduduk Bustham menyakasikan perbuatanya, mereka lalu berpaling darinya.
“Tidakakah kalian sasksikan”. Kata Abu Yazid kepada sahabat-sahabatnya, “ betapa aku mematuhi sebuah perintah dari hukum yang suci, tapi semuanya orang berpaling dari ku”.
Dengan penuh kesabaran Abu Yazid mrnunggu hingga malam tiba. Tengah malam ia mamasuki kota Bustham. Ketika sampai di depan rumah ibunya, untuk berapa lama ia berdiri mendengan ibunya yang sedang bersusci lalu solat.
”Ya Allah, peliharalah dia yang terbuang”, terdengar doa ibunya, ”cenderungkalah hati para syekh kepada dirinya dan berikanalah petunhuk kepadanya untuk melakukan hal-hal yang baik”.
Mendengar doa ibunya itu Abu Yazid menanagis. Kemudian ia mengetuk pintu ”Siapakah itu?, tanya ibunya dari dalam.
”Anakmu yang terbuang”, sahut Abu yazid.
Dengan menangis si ibu membuka pintu,. Ternayata penglihatan ibunya sudah kabur.
”Thaifur”, si ibu berkata kepada anaknya.” tahukah engkau mengaapa mata ku manjadi kabur seperti ini?. Kerana kau ibu telah sedemikian banyak menitiskan air mata semenjak berpisah dengan mu. Dan belakang tubuhku telah bongkok kerana beban duka yang ku tanggungkan itu”

KISAH 15: KISAH DUA PUCUK SURAT YAHYA MUAZ KEPADA ABU YAZID
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi pernah menulis surat kepada Abu Yazid demikian: ”Apakah pendapat tuan mengenai seseorang yang telah meminum air lalu mabuk dan kekal mabuk selamanya”
Abu Yazid menjawab: ”Aku tidak tahu”, ”Yang aku ketahui hanyalah bahawa di sini ada seseorang yang sehari semalam telah meneguk isi lautan yang luas yang tiada bertepi , pun begitu masih merasa kehausan dan dahaga”
Yahya Ar Razi mengirim sepucut surat lagi:
“Ada sebuah rahsia yang hendak kukatakan kepada mu tetapi tempat pertemuan kita adalah di dalam syurga. Di sana di bawah naungan pohon akan ku katakan rahsia itu kepada mu”. Bersamaan dengan surat itu, Yahya mengirimkan sepotong roti dengan pesan: ” Syeikh harus memakan roti ini kerana aku telah membuatnya dari air zam-zam”
Lalu Abu yazib menjawab: ” mengenai tempat pertemuan yang engkau katakan, Dengan hanya mengingatNya, pada saat itu juga aku dapat menikmati syurga, tetapi roti yang engkau kirimkan itu tidak dapat ku nikmatinya, kerana aku tidak tahu sama ada kandungan tepungnya itu dibuat benar-benar diperolehi secara halal. Saya syak wasangka terhadap kebersihannya, Engkau memang mengatakan air apa yang telah engkau gunakan, tetapi engkau tidak mengatakan benih gandum apa yang telah engkau taburkan”

Kisah 16: TIDAK MAHU MENERIMA APA-APA DARI MAKHLUK
Apabila Abu Yazid telah tua, datanglah seoarang hamba Allah mengirim kepadanya sebuah kerusi kusyen untuk tempat duduk. Beliau enggan menerimanya dan berkata:” Orang yang ada disisinya kerusi kurniaan dan rahmat Allah, tidak perlu kepada kerusi empuk yang rendah mutunya, dan juga saya tidak mahu meneriama apa-apa dari makhluk”

KISAH 17: ISTANA KOSONG
Pada suatu malam ketika aku masih kecil , aku keluar dari kota Bustam. Kedaan bersinar terang dan bumi tertidur tenang
Tiba-tiba aku lihat suautu kehadiran. Di sisinya ada 18,000 dunia tampaknya sebagai sebuah debu belaka. Hatiku bergetar kuat, lalu hanyut dilanda gelombang rasa yang dasyat,
Aku berseru;” Ya Allah, senyap istana yang demikian besarnya tapi sedemikian kosong. Hasil karya yang seniman agung tapi begitu sepi?.
Lalu terdengarlah oleh suatu jawapan dari langit: ”Istana ini kosong bukan kerana tak seorang pun mamasukinya tetapi kami tidak meperkenannya sesiapa untuk memasukinya. Tak seorang manusia yang tak mencucui muka pun yang boleh menghuni istana ini”.
Maka aku lalu betekad untuk mendoakan semua manusia. Kemudian terfikir oleh ku bahawa yangberhak untuk menjadi perantara ialah Muhammad saw.
Oleh itu, aku hanya memperhati tingkah laku ku sendiri. Kemudian terdengar pula, suatu suara yang meneyeru;” Kerana engkau berjaga-jaga untuk selalu berkelakuan baik dan sopan,. Maka aku muliakan nama mu sampai hari kebangkitan nanti dan ummat manusia akan meyebut mu sufi”.

KISAH 18: BERMIMPIKAN MALAIKAT
Sautu malam Abu Yazid bermimpi malaikat-malaikat dari langit pertama turun ke bumi, Kepada Abu Yazid mereka berseru:’ Bangkiltlah dan marilah berzikir kepada Alllah”
Abu Yazid menjawab: Aku tidak mempunyai lidah untuk berzikir kepada Nya”
Malaikat dari langit yang kedua turun pula ke bumi. Mereka meyeru kata-kata yang sama kepada Abu Yazid, dan memberikan jawapan yang sama. Begitulah seterusnya sehingga kepada malaikat dari langit ke tujuh. Namun jawapan yang diberikan oleh Abu Yazid yang itu-itu juga.
Maka malaikat-malaikat itu bertanya kepada Abu Yazid:’ Bilakah engkau akan memulai lidah untuk berzikir kepada Allah”
Lalu dijawab oleh Abu Yazid: ” Apabila penduduk neraka telah tetap di neraka dan penduduk syurga tetap di dalam syurga dan pada hari kebankitan telah tiba nanti. Maka Abu Yazid akan megelilingi singhsana Allah sambil berseru: ”Allah, Allah!”
Post a Comment