Wednesday, June 13, 2012

Hubungan Leluhur & Kembalinya Kejayaan Nusantara



HUBUNGAN KEJAYAAN NUSANTARA
DENGAN PARA LELUHUR BANGSA
Prakata
Kematian bukanlah the ending atau “riwayat” yang telah tamat. Kematian merupakan proses manusia lahir kembali ke dimensi lain yang lebih tinggi derajatnya ketimbang hidup di dimensi bumi. Bila perbuatannya baik berarti mendapatkan “kehidupan sejati” yang penuh kemuliaan, sebaliknya akan mengalami “kehidupan baru” yang penuh kesengsaraan. Jasad sebagai kulit pembungkus sudah tak terpakai lagi dalam kehidupan yang sejati. Yang hidup adalah esensinya berupa badan halus esensi cahaya yang menyelimuti sukma. Bagi orang Jawa yang belum kajawan khususnya, hubungan dengan leluhur atau orang-orang yang telah menurunkannya selalu dijaga agar jangan sampai terputus sampai kapanpun. Bahkan masih bisa terjadi interaksi antara leluhur dengan anak turunnya. Interaksi tidak dapat dirasakan kecuali oleh orang-orang yang terbiasa mengolah rahsa sejati. Dalam tradisi Jawa dipahami bahwa di satu sisi leluhur dapat njangkung dan njampangi (membimbing dan mengarahkan) anak turunnya agar memperoleh kemuliaan hidup. Di sisi lain, anak-turunnya melakukan berbagai cara untuk mewujudkan rasa berbakti sebagai wujud balas budinya kepada orang-orang yang telah menyebabkan kelahirannya di muka bumi. Sadar atau tidak warisan para leluhur kita & leluhur nusantara berupa tanah perdikan (kemerdekaan), ilmu, ketentraman, kebahagiaan bahkan harta benda masih bisa kita rasakan hingga kini.
Ada Apa di Balik NUSANTARA
Bangsa Indonesia sungguh berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang ada di muka bumi. Perbedaan paling mencolok adalah jerih payahnya saat membangun dan merintis berdirinya bangsa sebesar nusantara ini. Kita semua paham bila berdirinya bangsa dan negara Indonesia berkat perjuangan heroik para leluhur kita. Dengan mengorbankan harta-benda, waktu, tenaga, pikiran, darah, bahkan pengorbanan nyawa. Demi siapakah ? Bukan demi kepentingan diri mereka sendiri, lebih utama demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak turunnya, para generasi penerus bangsa termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini. Penderitaan para leluhur bangsa bukanlah sembarang keprihatinan hidup. Jika dihitung sejak masa kolonialisme bangsa Baratdi bumi nusantara, para leluhur perintis bangsa melakukan perjuangan kemerdekaan selama kurang-lebih dari 350 tahun lamanya. Belum lagi jika dihitung dari era jatuhannya Kerajaan Majapahit yang begitu menyakitkan hati. Perjuangan bukan saja menguras tenaga dan harta benda, bahkan telah menggilas kesempatan hidup, menyirnakan kebahagiaan, memberangus ketentraman lahir dan batin, hati yang tersakiti, ketertindasan, harga diri yang diinjak dan terhina. Segala perjuangan, penderitaan dan keprihatinan menjadi hal yang tak terpisahkan karena, perjuangan dilakukan dalam suasana yang penuh kekurangan. Kurang sandang pangan, kurang materi, dan kekurangan dana. Itulah puncak penderitaan hidup yang lengkap mencakup multi dimensi. Penderitaan berada pada titik nadzir dalam kondisi sedih, nelangsa, perut lapar, kekurangan senjata, tak cukup beaya namun kaki harus tetap tegap berdiri melakukan perlawanan mengusir imperialism dan kolonialism tanpa kenal lelah dan pantang mengeluh. Jika kita resapi, para leluhur perintis bangsa zaman dahulu telah melakukan beberapa laku prihatin yang teramat berat dan sulit dicari tandingannya sbb ;
1. Tapa Ngrame; ramai dalam berjuang sepi dalam pamrih mengejar kepentingan pribadi.
2. Tapa Brata; menjalani perjuangan dengan penuh kekurangan materiil. Perjuangan melawan kolonialism tidak hanya dilakukan dengan berperang melawan musuh, namun lebih berat melawan nafsu pribadi dan nafsu jasad (biologis dan psikis).
3. Lara Wirang; harga diri dipermalukan, dihina, ditindas, diinjak, tak dihormati, dan nenek moyang bangsa kita pernah diperlakukan sebagai budak di rumahnya sendiri.
4. Lara Lapa; segala macam penderitaan berat pernah dialami para leluhur perintis bangsa.
5. Tapa Mendhem; para leluhur banyak yang telah gugur sebelum  merdeka, tidak menikmati buah yang manis atas segala jerih payahnya. Berjuang secara tulus, dan segala kebaikannya dikubur sendiri dalam-dalam tak pernah diungkit dan dibangkit-bangkit lagi.
6. Tapa Ngeli; para leluhur bangsa dalam melakukan perjuangan kepahlawanannya dilakukan siang malam tak kenal menyerah. Penyerahan diri hanya dilakukan kepada Hyang Mahawisesa (Tuhan Yang Mahakuasa).
Itulah kelebihan leluhur perintis bumi nusantara, suatu jasa baik yang mustahil kita balas. Kita sebagai generasi penerus bangsa telah berhutang jasa (kepotangan budhi) tak terhingga besarnya kepada para perintis nusantara. Tak ada yang dapat kita lakukan, selain tindakan berikut ini :
  1. Memelihara dan melestarikan pusaka atau warisan leluhur paling berharga yakni meliputi tanah perdikan (kemerdekaan), hutan, sungai, sawah-ladang, laut, udara, ajaran, sistem sosial, sistem kepercayaan dan religi, budaya, tradisi, kesenian, kesastraan, keberagaman suku dan budaya sebagaimana dalam ajaran Bhinneka Tunggal Ikka. Kita harus menjaganya jangan sampai terjadi kerusakan dan kehancuran karena salah mengelola, keteledoran dan kecerobohan kita. Apalagi kerusakan dengan unsur kesengajaan demi mengejar kepentingan pribadi.
  2. Melaksanakan semua amanat para leluhur yang terangkum dalam sastra dan kitab-kitab karya tulis pujangga masa lalu. Yang terekam dalam ajaran, kearifan lokal (local wisdom), suri tauladan, nilai budaya, falsafah hidup tersebar dalam berbagai hikayat, cerita rakyat, legenda, hingga sejarah. Nilai kearifan lokal sebagaimana tergelar dalam berbagai sastra adiluhung dalam setiap kebudayaan dan tradisi suku bangsa yang ada di bumi pertiwi. Ajaran dan filsafat hidupnya tidak kalah dengan ajaran-ajaran impor dari bangsa asing. Justru kelebihan kearifan lokal karena sumber nilainya merupakan hasil karya cipta, rasa, dan karsa melalui interaksi dengan karakter alam sekitarnya. Dapat dikatakan kearifan lokal memproyeksikan karakter orisinil suatu masyarakat, sehingga dapat melebur (manjing, ajur, ajer) dengan karakter masyarakatnya pula.
  3. Mencermati dan menghayati semua peringatan (wewaler) yang diwasiatkan para leluhur, menghindari pantangan- pantangan yang tak boleh dilakukan generasi penerus bangsa. Selanjutnya mentaati dan menghayati himbauan-himbauan dan peringatan dari masa lalu akan berbagai kecenderungan dan segala peristiwa yang kemungkinan dapat terjadi di masa yang akan datang (masa kini). Mematuhi dan mencermati secara seksama akan bermanfaat meningkatkan kewaspadaan dan membangun sikap eling.
  4. Tidak melakukan tindakan lacur, menjual pulau, menjual murah tambang dan hasil bumi ke negara lain. Sebaliknya harus menjaga dan melestarikan semua harta pusaka warisan leluhur. Jangan menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan. Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, “menggunting dalam lipatan”.
  5. Merawat dan memelihara situs dan benda-benda bersejarah, tempat yang dipundi-pundi atau pepunden (makam) para leluhur. Kepedulian kita untuk sekedar merawat dan memelihara makam leluhur orang-orang yang telah menurunkan kita dan leluhur perintis bangsa, termasuk dalam mendoakannya agar mendapat tempat kamulyan sejati dan kasampurnan sejati di alam kelanggengan merupakan kebaikan yang akan kembali kepada diri kita sendiri. Tak ada  buruknya kita meluhurkan leluhur bangsa asing dengan dalih apapun; agama, ajaran, budaya, ataupun sebagai ikon perjuangan kemanusiaan. Namun demikian hendaknya leluhur sendiri tetap dinomorsatukan dan jangan sampai dilupakan bagaimanapun juga beliau adalah generasi pendahulu yang membuat kita semua ada saat ini. Belum lagi peran dan jasa beliau-beliau memerdekakan bumi pertiwi menjadikan negeri ini menjadi tempat berkembangnya berbagai agama impor yang saat ini eksis. Dalam falsafah hidup Kejawen ditegaskan untuk selalu ingat akan sangkan paraning dumadi. Mengerti asal muasalnya hingga terjadi di saat ini. Dengan kata lain ; kacang hendaknya tidak melupakan kulitnya.
  6. Hilangkan sikap picik atau dangkal pikir (cethek akal) yang hanya mementingkan kelompok, gender atau jenis kelamin, golongan, suku, budaya, ajaran dan agama sendiri dengan sikap primordial, etnosentris dan rasis. Kita harus mencontoh sikap kesatria para pejuang dan pahlawan bumi pertiwi masa lalu. Kemerdekaan bukanlah milik satu kelompok, suku, ras, bahkan agama sekalipun. Perjuangan dilakukan oleh semua suku dan agama, kaum laki-laki dan perempuan, menjadikan kemerdekaan sebagai anugrah milik bersama seluruh warga negara Indonesia.
Generasi Durhaka
Kesadaran kita bahwa bangsa ini dulunya adalah bangsa yang besar dalam arti kejayaannya, kemakmurannya, kesuburan alamnya, kekayaan dan keberagaman akan seni dan budayanya, ketinggian akan filsafat kehidupannya, menumbuhkan sikap bangga kita hidup di negeri ini. Namun bila mencermati dengan seksama apa yang di lakukan para generasi penerus bangsa saat ini terutama yang sedang memegang tampuk kekuasaan kadang membuat perasaan kita terpuruk bahkan sampai merasa tidak lagi mencintai negara Indonesia berikut produk-produknya. Di sisi lain beberapa kelompok masyarakat seolah-olah menginginkan perubahan mendasar (asas) kenegaraan dengan memandaang pesimis dasar negara, falsafah dan pandangan hidup bangsa yang telah ada dan diretas melalui proses yang teramat berat dan berabad-abad lamanya. Golongan mayoritas terkesan kurang menghargai golongan minoritas. Keadilan dilihat dari kacamata subyektif, menurut penafsiran pribadi, sesuai kepentingan kelompok dan golongannya sendiri. Kepentingan yang kuat meniadakan kepentingan yang lemah. Kepentingan pribadi atau kelompok diklaim atas nama kepentingan rakyat. Untuk mencari menangnya sendiri orang sudah berani lancang mengklaim tindakannya atas dasar dalil agama (kehendak Tuhan). Ayat dan simbol-simbol agama dimanipulasi untuk mendongkrak dukungan politik. Watak inilah yang mendominasi potret generasi yang durhaka pada para leluhur perintis bangsa di samping pula menghianati amanat penderitaan rakyat. Celakanya banyak pecundang negeri justru mendapat dukungan mayoritas. Nah, siapa yang sudah keblinger, apakah pemimpinnya, ataukah rakyatnya, atau mungkin pemikiran saya pribadi ini yang tak paham realitas obyektif. Kenyataan betapa sulit menilai suatu ralitas obyektif, apalagi di negeri ini banyak sekali terjadi manipulasi data-data sejarah dan gemar mempoles kosmetik sebagai pemanis kulit sebagai penutup kebusukan.
“Dosa” Anak Kepada Ibu (Pertiwi)
Leluhur bumi nusantara bagaikan seorang ibu yang telah berjasa terlampau besar kepada anak-anaknya. Sekalipun dikalkulasi secara materi tetap terasa kita tak akan mampu melunasi “hutang” budi-baik orang tua kita dengan cara apapun. Orang tua kita telah mengandung, melahirkan, merawat, membesarkan kita hari demi hari hingga dewasa. Sedangkan kita tak pernah bisa melakukan hal yang sama kepada orang tua kita. Demikian halnya dengan para leluhur perintis bangsa. Bahkan kita tak pernah bisa melakukan sebagaimana para leluhur lakukan untuk kita. Apalagi beliau-beliau telah lebih dulu pergi meninggalkan kita menghadap Hyang Widhi (Tuhan YME). Diakui atau tidak, banyak sekali kita berhutang jasa kepada beliau-beliau para leluhur perintis bangsa. Sebagai konsekuensinya atas tindakan pengingkaran dan penghianatan kepada leluhur, sama halnya perilaku durhaka kepada ibu (pertiwi) kita sendiri yang dijamin akan mendatangkan malapetaka atau bebendu dahsyat. Itulah pentingnya kita tetap nguri-uri atau memelihara dan melestarikan hubungan yang baik kepada leluhur yang telah menurunkan kita khususnya, dan leluhur perintis bangsa pada umumnya. Penghianatan generasi penerus terhadap leluhur bangsa, sama halnya kita menabur perbuatan durhaka yang akan berakibat menuai malapetaka untuk diri kita sendiri.
Sudah menjadi kodrat alam (baca; kodrat ilahi) sikap generasi penerus bangsa yang telah mendurhakai para leluhur perintis bumi pertiwi dapat mendatangkan azab, malapetaka besar yang menimpa seantero negeri. Sikap yang “melacurkan” bangsa, menjual aset negara secara ilegal, merusak lingkungan alam, lingkungan hidup, hutan, sungai, pantai. Tidak sedikit para penanggungjawab negeri melakukan penyalahgunaan wewenangnya dengan cara “ing ngarsa mumpung kuasa, ing madya agawe rekasa, tut wuri nyilakani”. Tatkala berkuasa menggunakan aji mumpung,  sebagai kelas menengah selalu menyulitkan orang, jika menjadi rakyat gemar mencelakai. Seharusnya ing ngarsa asung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.  Walaupun tidak semua orang melakukan perbuatan durhaka namun implikasinya dirasakan oleh semua orang. Sekilas tampak tidak adil, namun ada satu peringatan penting yang perlu diketahui bahwa, hanya orang-orang  yang selalu eling dan waspada yang akan selamat dari malapetaka negeri ini.
Rumus Yang Tergelar
Saya tergerak untuk membuat tulisan ini setelah beberapa kali mendapatkan pertanyaan sbb; apakah kembalinya kejayaan nusantara tergantung dengan peran leluhur ? jawabnya, TIDAK ! melainkan tergantung pada diri kita sendiri sebagai generasi penerus bangsa. Meskipun demikian bukan berarti menganulir peran leluhur terhadap nasib bangsa saat ini. Peran leluhur tetap besar hanya saja tidak secara langsung. Keprihatinan luar biasa leluhur nusantara di masa lampau dalam membangun bumi nusantara, telah menghasilkan sebuah “rumus” besar yang boleh dikatakan sebagai hukum atau kodrat alam. Setelah keprihatinan dan perjuangan usai secara tuntas, “rumus” baru segera tergelar sedemikian rupa. Rumus berlaku bagi seluruh generasi penerus bangsa yang hidup sebagai warga negara Indonesia dan siapapun yang mengais rejeki di tanah perdikan nusantara. Kendatipun demikian generasi penerus memiliki dua pilihan yakni, apakah akan menjalani roda kehidupan yang sesuai dalam koridor “rumus” besar atau sebaliknya, berada  di luar “rumus” tersebut. Kedua pilihan itu masing-masing memiliki konsekuensi logis. Filsafat hidup Kejawen selalu wanti-wanti ; aja duwe watak kere, “jangan gemar menengadahkan tangan”. Sebisanya jangan sampai berwatak ingin selalu berharap jasa (budi) baik atau pertolongan dan bantuan dari orang lain, sebab yang seperti itu abot sanggane, berat konsekuensi dan tanggungjawab kita di kemudian hari. Bila kita sampai lupa diri apalagi menyia-nyiakan orang yang pernah memberi jasa (budi) baik kepada kita, akan menjadikan sukerta dan sengkala. Artinya membuat kita sendiri celaka akibat ulah kita sendiri. Leluhur melanjutkan wanti-wantinya pada generasi penerus, agar supaya ; tansah eling sangkan paraning dumadi. Mengingat jasa baik orang-orang yang telah menghantarkan kita hingga meraih kesuksesan pada saat ini. Mengingat dari siapa kita dilahirkan, bagaimana jalan kisah, siapa saja yang terlibat mendukung, menjadi perantara, yang memberi nasehat dan saran, hingga kita merasakan kemerdekaan dan ketenangan lahir batin di saat sekarang. Sementara itu, generasi durhaka adalah generasi yang sudah tidak eling sangkan paraning dumadi.
Tugas dan Tanggungjawab Generasi Bangsa
Sebagai generasi penerus bangsa yang telah menanggung banyak sekali hutang jasa dan budi baik para leluhur masa lalu, tak ada pilihan yang lebih tepat selain harus mengikuti rumus-rumus yang telah tergelar. Sebagaimana ditegaskan dalam serat Jangka  Jaya Baya serta berbagai pralampita, kelak negeri ini akan mengalami masa kejayaan kembali yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi, bilamana semua suku bangsa kembali nguri-uri kebudayaan, menghayati nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kearifan lokal (local wisdom), masing-masing suku kembali melestarikan tradisi peninggalan para leluhur nusantara. Khususnya bagi orang Jawa yang sudah hilang kejawaannya (kajawan) dan berlagak sok asing, bersedia kembali menghayati nilai luhur kearifan lokal. Demikian pula suku Melayu, Dayak, Papua, Minang, Makasar, Sunda, Betawi, Madura, Tana Toraja, Dayak dst, kembali menghayati tradisi dan budaya lokal yang kaya akan nilai-nilai luhur. Bagaimanapun kearifan lokal memiliki kunggulan yakni lebih menyatu dan menjiwai (manjing ajur ajer) serta lebih mengenal secara cermat karakter alam dan masyarakat setempat. Desa mawa cara, negara mawa tata. Masing-masing wilayah atau daerah memiliki aturan hidup dengan menyesuaikan situasi dan kondisi alamnya. Tradisi dan budaya  setempat adalah “bahasa” tak tertulis sebagai buah karya karsa, cipta, dan karsa manusia dalam berinteraksi dengan alam semesta. Orang yang hidup di wilayah subur makmur akan memiliki karakter yang lembut, santun, toleran, cinta damai namun agak pemalas. Sebaliknya orang terbiasa hidup di daerah gersang, sangat panas, sulit pangan, akan memiliki karakter watak yang keras, temperamental, terbiasa konflik dan tidak mudah toleran. Indonesia secara keseluruhan dinilai oleh manca sebagai masyarakat yang berkarakter toleran, penyabar, ramah, bersikap terbuka. Namun apa jadinya jika serbuan budaya asing bertubi-tubi menyerbu nusantara dengan penuh keangkuhan (tinggi hati) merasa paling baik dan benar sedunia.  Apalagi budaya yang dikemas dalam moralitas agama, atau sebaliknya moralitas agama yang mengkristal menjadi kebiasaan dan tradisi. Akibat terjadinya imperialisme budaya asing, generasi bangsa ini sering keliru dalam mengenali siapa jati dirinya. Menjadi bangsa yang kehilangan arah, dengan “falsafah hidup” yang tumpang-tindih dan simpang-siur menjadikan doktrin agama berbenturan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang lebih membumi. Ditambah berbagai pelecehan konstitusi oleh pemegang tampuk kekuasaan semakin membuat keadaan carut-marut dan membingungkan. Tidak sekedar mengalami kehancuran ekonomi, lebih dari itu bangsa sedang menuju di ambang kehancuran moral, identitas budaya, dan spiritual. Kini, saatnya generasi penerus bangsa kembali mencari identitas jati dirinya, sebelum malapetaka datang semakin besar. Mulai sekarang juga, mari kita semua berhenti menjadi generasi durhaka kepada “orang tua” (leluhur perintis bangsa). Kembali ke pangkuan ibu pertiwi, niscaya anugrah kemuliaan dan kejayaan bumi nusantara akan segera datang kembali.
TRAH MAJAPAHIT
Dalam pola hubungan kekerabatan atau silsilah di dalam Kraton di Jawa di kenal istilah trah. Menurut arti harfiahnya trah adalah garis keturunan atau diistilahkan tepas darah dalem atau kusuma trahing narendra, yakni orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan atau keluarga besar secara genealogis dalam hubungan tali darah (tedhaking andana warih). Banyak sekali orang merasa bangga menjadi anggota suatu trah tertentu namun kebingungan saat menceritakan runtutan silsilah atau trah leluhur yang mana yang menurunkannya. Seyogyanya kita masih bisa menyebut dari mana asal-usul mata rantai leluhur yang menurunkan agar supaya dapat memberikan pengabdian kepada leluhur secara tepat. Dengan demikian rasa memiliki dan menghormati leluhurnya tidak dilakukan dengan asal-asalan tanpa mengetahui siapa persisnya nenek-moyang yang telah menurunkan kita, dan kepada leluhur yang mana harus menghaturkan sembah bakti. Jika kita terputus mengetahui mata rantai tersebut sama halnya dengan mengakui atau meyakini saja sebagai keturunan Adam, namun alur mata rantainya tidak mungkin diuraikan lagi. Mengetahui tedhaking andana warih membuat kita lebih tepat munjuk sembah pangabekti atau menghaturkan rasa berbakti dan memuliakan leluhur kita sendiri. Jangan sampai seperti generasi durhaka yakni orang-orang kajawan rib-iriban yang tidak memahami hakekat, kekenyangan “makan kulit”, menjunjung setinggi langit leluhur bangsa asing sekalipun harus mengeluarkan beaya puluhan bahkan ratusan juta rupiah tapi tidak mengerti makna sesungguhnya. Sungguh ironis, sementara leluhurnya sendiri terlupakan dan makamnya dibiarkan merana hanya karena takut dituduh musrik atau khurafat. Cerita ironis dan menyedihkan itu seketika raib tatkala sadar telah mendapatkan label sebagai “orang suci” dan saleh hanya karena sudah meluhurkan leluhur bangsa asing. Ya, itulah kebiasaan sebagian masyarakat yang suka menilai simbol-simbolnya saja, bukan memahami esensinya. Apakah seperti itu cara kita berterimakasih kepada leluhur yang menurunkan kita sendiri, dan kepada leluhur perintis bangsa? Rupanya mata hati telah tertutup rapat, tiada lagi menyadari bahwa teramat besar jasa para leluhur bangsa kita. Tanpa beliau-beliau pendahulu kita semua yang telah menumpahkan segala perjuangannya demi kehidupan dan kemuliaan anak turun yang mengisi generasi penerus bangsa rasanya kita tak kan pernah hidup saat ini.
Tolok ukur kejayaan nusantara masa lalu adalah kejayaan kerajaan Pajajaran, Sriwijaya dan Majapahit, terutama yang terakhir.  Trah atau garis keturunan kerajaan Majapahit yang masih eksis hingga sekarang, yakni kerajaan Mataram Panembahan Senopati di Kotagede Yogyakarta, Kerajaan Kasunanan dan Mangkunegaran di kota Solo, generasi Mangkubumen yakni Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta. Semuanya adalah generasi penerus Majapahit terutama raja terakhir Prabu Brawijaya V. Berikut ini silsilah yang saya ambil secara garis besarnya saja ;
Prabu Brawijaya V mempunyai 3 putra di antaranya adalah :
1. Ratu Pembayun (Lajer Putri)
2. Raden Bondhan Kejawan / Lembupeteng Tarub (Lajer Putra)
3. Raden Patah / Jin Bun / Sultan Buntoro Demak I (Lajer Putra; tetapi ibu kandung dari bangsa asing yakni; Putri Cempo dari Kamboja ; beragama Islam)
http://sabdalangit.wordpress.com
Trah Ratu Pembayun menurunkan 2 Putra :
1. Ki Ageng Kebo Kanigoro
2. Ki Ageng Kebo Kenongo/Ki Ageng Pengging
Ki Ageng Kebo Kenongo menurunkan 1 Putra: (Lajer Putri)
1. Mas Karebet / Joko Tingkir / Sultan Hadiwijoyo/ Sultan Pajang I (Lajer Putri)
Sementara itu Raden Patah / Jin Bun / Sultan Buntoro Demak I, menurunkan 2 Putera yakni :
(1) Pangeran Hadipati Pati Unus / Sultan Demak II
(2) Pangeran Hadipati Trenggono / Sultan Demak III
Keduanya penerus Demak – tetapi akhirnya putus alias demak runtuh karena pemimpinnya tidak kuat.
Kerajaan Demak hanya berlangsung selama 3 periode. Entah ada kaitannya atau tidak namun kejadiannya sebagaimana dahulu pernah diisaratkan oleh Prabu Brawijaya V saat menjelang puput yuswa. Prabu Brawijaya V merasa putranda Raden Patah menjadi anak yang berani melawan orang tua sendiri, Sang Prabu Brawijaya V (Kertabhumi), apapun alasannya. Maka Prabu Brawijaya V bersumpah bila pemerintahan Kerajaan Demak hanya akan berlangsung selama 3 dinasti saja (Raden Patah, Adipati Unus, Sultan Trenggono). Setelah itu kekuasaa Kerajaan Demak Bintoro akan redup dengan sendirinya. Hal senada disampaikan pula oleh Nyai Ampel Gading kepada cucunda Raden Patah, setiap anak yang durhaka kepada orang tuanya pasti akan mendapat bebendu dari Hyang Mahawisesa. Dikatakan oleh Nyai Ampel Gading, bahwa Baginda Brawijaya V telah memberikan 3 macam anugrah kepada Raden Patah yakni; 1) daerah kekuasaan yang luas, 2) diberikan Tahta Kerajaan, 3) dan dipersilahkan menyebarkan agama baru yakni agama sang ibundanya (Putri Cempa) dengan leluasa. Namun Raden Patah tetap menginginkan tahta Majapahit, sehingga berani melawan orang tuanya sendiri. Sementara ayahandanya merasa serba salah, bila dilawan ia juga putera sendiri dan pasti kalah, jika tidak dilawan akan menghancurkan Majapahit dan membunuh orang-orang yang tidak mau mengikuti kehendak Raden Patah. Akhirnya Brawijaya V memilih mengirimkan sekitar 3000 pasukan  saja agar tidak mencelakai putranda Raden Patah. Sementara pemberontakan Raden Patah ke Kerajaan Majapahit membawa bala tentara sekitar 30 ribu orang, dihadang pasukan Brawijaya V yang hanya mengirimkan 3000 orang. Akibat jumlah prajurit tidak seimbang maka terjadi banjir darah dan korban berjatuhan di pihak Majapahit. Sejak itulah pustaka-pustaka Jawa dibumihanguskan, sementara itu orang-orang yang membangkang dibunuh dan rumahnya dibakar. Sebaliknya yang memilih mengikuti kehendak Raden Patah dibebaskan dari upeti atau pajak. Senada dengan Syeh Siti Jenar yang enggan mendukung pemberontakan Raden Patah ke Majapahit, adalah Kanjeng Sunan Kalijaga yang sempat memberikan nasehat kepada Raden Patah, agar tidak melakukan pemberontakan karena dengan memohon saja kepada ayahandanya untuk menyerahkan tahta, pasti permintaan Raden Patah akan dikabulkannya. Hingga akhirnya nasehat tak dihiraukan Raden patah, dan terjadilah perang besar yang membawa banyak korban. Hal ini sangat disesali oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, hingga akhirnya memutuskan untuk berpakaian serba berwarna wulung atau hitam sebagai pertanda kesedihan dan penyesalan atas perististiwa tersebut.

Penerus Majapahit

Lain halnya nasib Raden Bondan Kejawan yang dahulu sebelum Sri Narpati Prabu Brawijaya V meninggal ia masih kecil dititipkan kepada putranda Betara Katong, dikatakan jika Betara katong harus menjaga keselamatan Raden Bondan Kejawan karena ialah yang akan menjadi penerus kerajaan Majapahit di kelak kemudian hari. Berikut ini alur silsilah Raden Bondan Kejawan hingga regenerasinya di masa Kerajaan Mataram.
Raden Bondhan Kejawan/Lembu Peteng Tarub-Dewi Nawang Sih (Dewi Nawang Sih adalah seorang putri dari Dewi Nawang Wulan-Jaka Tarub) (Lajer Putra)
menurunkan Putera :
1. Raden Depok / Ki Ageng Getas Pandowo (Lajer Putra)
2. Dewi Nawang Sari (Kelak adl calon ibu Ratu Adil/SP/Herucakra)
Raden Depok / Ki Ageng Getas Pandowo mempunyai 1 Putera:
Bagus Sunggam / Ki Ageng Selo (Lajer Putra)
Bagus Sunggam / Ki Ageng Selo mempunyai 1 Putera bernama:
Ki Ageng Anis (Ngenis) (Lajer Putra)
Ki Ageng Anis (Ngenis) mempunyai 2 Putera :
1. Ki Ageng Pemanahan / Ki Ageng Mataram
2. Ki Ageng Karotangan / Pagergunung I
tp://sabdalangit.wordpress.com
Ki Ageng Pemanahan / Mataram mempunyai 1 Putera:
Raden Danang Sutowijoyo / Panembahan Senopati/ Sultan Mataram I
Panembahan Senopati akhirnya menjadi generasi Mataram Islam (kasultanan) pertama yang meneruskan kekuasaan Majapahit hingga kini. Pada masa itu spiritualitas diwarnai nilai sinkretisme antara filsafat hidup Kejawen, Hindu, Budha dan nilai-nilai Islam hakekat sebagaimana terkandung dalam ajaran Syeh Siti Jenar, terutama mazabnya Ibnu Al Hallaj. Pada saat itu, hubungan kedua jalur spiritual masih terasa begitu romantis saling melengkapi dan belum diwarnai intrik-intrik politik yang membuyarkan sebagaimana terjadi sekarang ini.
Begitulah silsilah lajer putra dari Brawijaya V. Menurut tradisi Jawa wahyu keprabon akan turun kepada anak laki-laki atau lajer putra. Sedangkan Raden patah walaupun lajer putra tetapi dari Putri bangsa asing. Dan Raden Patah dianggap anak durhaka oleh ayahandanya Prabu Brawijaya Kertabhumi dan neneknya Nyai Ampel Gading. Namun demikian, bagi penasehat spiritualnya yakni Ki Sabdapalon dan Nayagenggong yang begitu legendaris kisahnya, pun Prabu Brawijaya walaupun secara terpaksa atau tidak sengaja telah menghianati para pendahulunya pula.
Dari pemaparan kisah di atas ada suatu pelajaran berharga untuk generasi penerus agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Artinya jangan sampai kita berani melawan orang tua, apalgi sampai terjadi pertumpahan darah. Karena dapat tergelincir pada perberbuatan durhaka kepada orang tua kita terutama pada seorang ibu, yakni ibu pertiwi. Dengan kata lain durhaka kepada para leluhur yang telah merintis bangsa dengan susah payah. Karena Tuhan pasti akan memberikan hukuman yang setimpal, dan siapapun tak ada yang bisa luput dari bebendu Tuhan.
Pralampita Leluhur Bangsa
Saya ingin mengambil beberapa bait dari serat Darmagandul yang unik dan menarik untuk dianalisa, sekalipun kontroversial namun paling tidak ada beberapa nasehat dan warning yang mungkin dapat menjadi pepeling bagi kita semua, khususnya bagi yang percaya. Bagi yang tidak mempercayai, hal itu tidak menjadi masalah karena masing-masing memiliki hak untuk menentukan sikap dan mencari jalan hidup secara cermat, tepat dan sesuai dengan pribadi masing-masing.
Paduka yêktos, manawi sampun santun gami selam,
nilar gamabudi, turun paduka tamtu apês,
Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes.
Benjing tamtu dipun prentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.
Paduka pahami, bila sudah memeluk gama selam, meninggalkan gamabudi,
Keturunan Paduka pasti mendapatkan sial, Jawa tinggal seolah-olah jawa,
nilai ke-Jawa-annya telah hilang, gemar nebeng bangsa lain
Besok tentu diperintah oleh orang Jawa yang memahami (Kejawa-an)
Cobi paduka-yêktosi, benjing: sasi murub botên tanggal,
wiji bungkêr botên thukul, dipun tampik dening Dewa,
tinanêma thukul mriyi, namung kangge têdha pêksi,
mriyi punika pantun kados kêtos,
amargi Paduka ingkang lêpat, rêmên nêmbah sela
Cobalah Paduka pahami, besok; sasi murub boten tanggal
Biji-bijian tidak tumbuh, ditolak oleh Tuhan
Walaupun ditanam yang tumbuh berupa padi jelek
Hanya jadi makanan burung
Karena Paduka lah yang bersalah, suka menyembah batu
Paduka-yêktosi, benjing tanah Jawa ewah hawanipun,
wêwah bênter awis jawah, suda asilipun siti,
kathah tiyang rêmên dora,
kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata,
jawah salah mangsa, damêl bingungipun kanca tani.
Paduka pahami, kelak tanah Jawa berubah hawanya,
Berubah menjadi panas dan jarang hujan, berkurang hasil bumi
Banyak orang suka berbuat angkara
Berani berbuat nista dan gemar bertengkar,
Hujan salah musim, membuat bingung para petani
Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda,
amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami.
Benjing yen sampun mrêtobat, sami engêt dhatêng gamabudi malih,
lan sami purun nêdha woh kawruh, Dewa lajêng paring pangapura,
sagêd wangsul kados jaman Budhi jawahipun”.
Mulai hari ini hujan sudah mulai berkurang,
Sebagai hukumannya manusia karena telah berganti agama
Besok bila sudah bertobat, orang-orang baru ingat kepada gamabudi lagi
Dan bersedia makan buahnya ilmu, maka Tuhan akan memberi ampunan
Kesuburan tanah dapat kembali seperti zaman gamabudi 

Memahami Leluhur dan Kemusyrikan

Belajar dari pengalaman pribadi dan sebagaimana terdapat dalam tradisi Jawa, saya pribadi percaya bahwa leluhur masih dapat memberikan bimbingan dan arahan (njangkung dan njampangi) memberikan doa dan restu kepada anak turunnya. Komunikasi dapat berlangsung melalui berbagai media, ambil contoh misalnya melalui mimpi (puspa tajem), melalui keketeg ing angga, suara hati nurani, bisikan gaib, atau dapat berkomunikasi langsung dengan para leluhur. Barangkali di antara pembaca ada yang menganggap hal ini sebagai bualan kosong saja, bahkan menganggap bisikan gaib dipastikan dari suara setan yang akan menggoda iman. Boleh dan sah-sah saja ada pendapat seperti itu. Hanya saja tidak perlu ngotot mempertahankan tingkat pemahaman sendiri. Sebab jika belum pernah menyaksikan sendiri noumena atau eksistensi di alam gaib sebagai being yang ada, kesadaran kita masih dikuasai oleh kesadaran akal-budi, kesadarannya hanyalah dalam batas kesadaran jasad/lahiriah semata. Sebaliknya kesadaran batinnya justru menjadi mampet tak bisa berkembang. Padahal untuk memahami tentang kesejatian hidup diperlukan sarana kesadaran batiniah atau rohani.
Bagi pemahaman saya pribadi, adalah sangat tidak relevan suatu anggapan bahwa interaksi dengan leluhur itu dianggap musyrik. Apalagi dianggap non-sense, bagi saya anggapan itu merupakan kemunduran dalam kesadaran batin sekalipun jika di banding zaman animisme dan dinamisme. Menurut pemahaman saya musyrik adalah persoalan dalam hati dan cara berfikir, bukan dalam manifestasi tindakan. Saya tetap percaya bahwa tanpa adanya kuasa dan kehendak Tuhan apalah artinya leluhur. Leluhur sekedar sebagai perantara. Seperti halnya anda mendapatkan rejeki melalui perantara perusahaan tempat anda bekerja. Jika Anda menuhankan perusahaan tempat anda bekerja sama halnya berfikir musrik. Dan orang dungu sekalipun tak akan pernah menuhankan leluhur karena leluhur itu roh (manusia) yang jasadnya telah lebur kembali menjadi tanah. Hubungan dengan leluhur seperti halnya hubungan dengan orang tua, saudara, tetangga, atau kakek-nenek yang masih hidup yang sering kita mintai tolong. Perbedaannya hanyalah sekedar yang satu masih memiliki jasad kotor, sedangkan leluhur sudah meninggalkan jasad kotornya. Bila kita mohon doa restu pada orang hidup yang masih dibungkus jasad kotor mengapa tak dituduh musrik, sedangkan kepada leluhur dianggap musrik. Padahal untuk menjadi musrik itu pun sangat mudah, anda tinggal berfikir saja jika seorang dokter dengan resep obat yang anda minum adalah mutlak menjadi penyembuh penyakit di luar kuasa Tuhan. Atau anda meminta tolong kepada tetangga untuk mbetulin genting bocor, dan orang itu dapat bekerja sendiri tanpa kuasa Tuhan. Saya fikir konsep musyrik adalah cara berfikir orang-orang yang hidup di zaman jahiliah saja. Atau mungkin manusia purba jutaan tahun lalu. Namun apapun alasannya tuduhan musrik menurut saya, merupakan tindakan penjahiliahan manusia.
Kendatipun demikian, jika tidak ada jalinan komunikasi dengan leluhur, para leluhur tak akan mencampuri urusan duniawi anak turunnya. Oleh sebab itu dalam tradisi Jawa begitu kental upaya-upaya menjalin hubungan dengan para leluhurnya sendiri. Misalnya dilakukan ziarah, nyekar, mendoakan, merawat makam, selamatan, kenduri, melestarikan warisan, dan menghayati segenap ajaran-ajarannya yang mengandung nilai luhur filsafat kehidupan.
==========
Saya tegaskan tulisan ini sekedar pemaparan bertujuan senantiasa membangun sikap eling dan waspada. Bila kita memanfaatkannya untuk kebaikan saya optimis akan berguna menjadikan kehidupan lebih baik dan bijaksana. Bila tak dimanfaatkan paling-paling hanya tidak lengkap ilmunya.

Pesan Dari GERBANG TINATAR TROWULAN

Tujuan utama ke Trowulan terutama untuk mundi dawuh perintah langsung dari Sri Narpati Brawijaya V yang di luar dugaan kami terima beberapa hari sebelum mengambil keputusan bulat untuk menghadiri undangan Mas Panji Trisula (Bustanus Salatin) salah seorang Ketua IPPNU Jatim periode th 2000, dalam acara “Sarasehan Bulan Purnama ; Memperingati Turunnya Wahyu Makutharama” yang diadakan di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto Prop Jawa Timur. Selain itu kami berserta rombongan ingin sekali mewujudkan rasa berbakti kepada para leluhur besar bumiputra perintis dan penopang kejayaan Nusantara di masa lalu, tidak dengan cara enaknya sendiri mulut sekedar komat-kamit saja dari rumah. Sikap berbakti akan lebih berharga jika diwujudkan dalam tindakan nyata dengan cara marak sowan mengunjungi petilasan pepunden untuk tujuan napak tilas serta atur pisungsung sembah bekti kepada para leluhur besar Nusantara. Tidak cukup berhenti di situ, lebih penting adalah mengambil pelajaran berharga yang selanjutnya diimplementasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Jika peduli dan mau, kita sebagai generasi penerus bangsa sudah semestinya melakukan koreksi atas perjalanan sejarah bangsa besar ini di masa lalu pernah lepas kendali hingga kini berkembang kian salah kaprah. Tidak semata sebagai sebuah kesalahan kebijakan masa lalu, tetapi tingginya sikap toleransi  para pendahulu bangsa terutama terhadap anasir sistem kepercayaan (religi) yang berasal dari budaya asing. Toleransi tinggi para pendahulu bangsa berhubungan dengan tingginya pemahaman tentang apa sejatinya religi dan sistem kepercayaan. Toleransi menumbuhkan prasangka baik dan kelonggaran sikap terhadap unsur asing walau banyak perbedaan secara esensial. Namun hal itu justru dimanfaatkan oleh para jahil pembawa anasir asing sebagai suatu kesempatan untuk menjalankan kepentingannya sendiri. Namun dalam perkembangannya, sistem sosial dan politik berkembang secara liar tidak seperti yang diharapkan oleh para leluhur besar perintis Nusantara. Bahkan hingga kini dampak buruknya kian dirasakan oleh generasi sekarang.
Apabila mau jujur dan para sejarawan bersama arkeolog mau meluruskan sejarah tentu akan ditemukan banyak kepalsuan dalam “dongeng-dongeng” yang dikemas seolah bagaikan suatu kejujuran sejarah nasional. Terutama cerita-cerita tentang masuknya para saudagar Belanda, India, maupun saudagar Mesir, dan Turki yang sangat tergiur oleh gemah ripahnya Nusantara. Kisah-kisah masuknya saudagar ke Bumi Nusantara selanjutnya dirombak berupa “dongeng-dongeng” yang mengimajinasikan tokoh sakti mandraguna yang perjalanan hidupnya penuh perjuangan mengatasnamakan tuhan. Sebagai salah satu trik kolonialisme, di dalamnya terdapat intrik-intrik politik dagang dan perebutan kekuasaan yang didukung melalui penciptaan cerita adu kesaktian antara para saudagar yang dicitrakan selalu benar versus penduduk asli pribumi yang dicitrakan sebagai yang selalu salah bahkan musuh tuhan. Ya..semua itu masih dalam kerangka proyek pemenangan politik dagang. Mayoritas anak bangsa mungkin termasuk kita-kita ini para pembaca, mungkin merupakan anak turun dari para pendahulu bangsa yang menjadi korban atas pencitraan tendensius dan subyektif dari para saudagar bersama pendukungnya. Meluruskan sejarah bangsa besar ini menjadi tugas generasi penrus bangsa, agar supaya yang benar tampak benar, yang salah terbongkar kedoknya. Sehingga dapat dijadikan pelajaran berharga bagi generasi berikutnya yang ingin mengerti kesejatian hidup ini apa adanya dan apa sesungguhnya.
Dalam cara pandang sosio-ekonomis, jika Anda ingin memenangkan persaingan marketing, ada dua kiat jitu yang bisa ditempuh, pertama, susupkan barang dagangan ke dalam unsur budaya lokal calon konsumen. Kedua, kuasai, dominasi, dan setir pola pikir calon konsumen agar supaya mengikuti kemauan si marketing. Tentu Anda akan menjadi marketing yang sukses menangguk keuntungan besar.  Apalagi “kolonialisasi” dan dominasi terhadap pola pikir konsumen melalui berbagai doktrin. Selanjutnya, Anda tinggal menyingkirkan pesaing-pesaing bisnis, dengan cara politik adu domba, aktif menciptakan wacana friksi dan gap, serta sibuk menumbuhkan konflik-konflik antara elemen-elemen kekuatan para pesaing. Dalam hal ini kearifan lokal (local wisdom) dan kerajaan-kerajaan yang masih eksis memegang teguh budaya dan tradisi bumipertiwi dapat diperankan sebagai pesaing paling diperhitungkan. Ternyata, politik devide et impera-nya Belanda hanya sekedar meniru politik a la saudagar asing. Tengok saja periode sejarah sebelum masa kedatangan para saudagar, sejarah kerajaan Nusantara abad Sebelum Masehi (kerajaan pertama Kutai Lama) hingga akhir abad 12 masa Majapahit awal, perang atau konflik antara kerajaan sangat jarang terjadi. Namun semenjak abad 14 terjadi peningkatan intensitas konflik. Selain dengan cara tersebut, penjajahan paling efektif bisa ditempuh melalui cara “perkawinan silang” antara penjajah dengan pribumi, di mana peran suami lebih banyak diisi oleh laki-laki penjajah, sedangkan peran istri diisi oleh mayoritas perempuan pribumi. Hal ini bertujuan tentu saja untuk mengamankan kepentingan,aset dan meluaskan otoritas kaum penjajah yang menganut sistem patrilineal. Yang terpenting bukanlah menggugat siapa yang melahirkan diri kita. Tetapi apa yang telah kita perbuat terhadap kepalsuan sejarah? Berani jujurkah generasi penerus bangsa ini? Ataukah kronologi sejarah dan jejak-jejak kaki sejarah bangsa ini akan tetap ditopang oleh pondasi sejarah palsu? Kain pel yang kotor, tak akan bisa membersihkan lantai kotor tuan !
Kata Bung Karno,”Jasmerah ! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (yang jujur obyektif). Di zaman modern dan serba terbuka ini, walau masih ada sebagian orang yang bernafsu untuk memelintir sejarah sesuai kepentingannya, sudah pasti..sejarah akan meluruskan dirinya sendiri. Sesuatu yang dianggap kebenaran mutlak di masa lalu, bisa saja terkoreksi oleh temuan-temuan baru. Sejarah palsu hanya bisa berbohong dalam kurun waktu yang tidak tak terbatas. Tidak selamanya bau bangkai dapat disimpan rapat-rapat. Kini, generasi muda musti menyingkap bau bangkai itu, atau menyiapkan “kain pel” yang benar-benar bersih. Generasi bangsa musti melakukan koreksi signifikan untuk misi utama menyelamatkan Nusantara dari ambang kehancuran total. Kurang apa lagi? Nusantara adalah singgasana, adalah rumah pribadi, surga yang nyata dan bukan imajiner bagi anak-anak negeri, bagi rakyat Indonesia. Dan kita semua, generasi penerus bangsa sebagai tuan rumahnya, tentu saja di rumah pribadi kita Nusantara. Namun saat ini lain kenyataannya, kita menjadi jongos di rumah sendiri, kita dipaksa mengabdi, membabukan diri kepada para “tamu” di rumah kita sendiri. Tamu mbagekake sing duwe omah. Kita tertindas di negeri sendiri, oleh penjajah yang berdaging berdarah sebagai WNI, tetapi berisi jiwa-jiwa yang tak ubahnya onggokan sampah kepentingan, tumpukan kebekuan pola pikir, dan jiwa yang berisi komitmen jahil yang loyal dan berporos kepada para penjajah dari negeri antah-berantah.  Banyak orang lebih suka napak tilas dan berziarah kepada leluhur luar negri nun jauh di sana yang sama sekali tak ada hubungan ras, bangsa, suku, apalagi kerabat sodara. Sekalipun menghabiskan beaya puluhan juta tetap dilakoninya dengan harapan surga, sebaliknya terhadap leluhurnya sendiri tidak berbakti, kuburannya terbengkalai penuh ilalang, kotor tidak pernah diopeni. Lantas di mana sang hatinurani?? Sementara harta warisannya sampai kini masih mereka nikmati, bahkan sebagian telah dijual untuk ngabekti kepada leluhur-leluhur asing nun jauh di luar negeri. Mau diakui ataupun dipungkiri, pasti kualat akan datang menghampiri, kualat yang datang dari sikap perilakunya sendiri. Jadilah wajah Nusantara yang seperti ini. Rupa-rupa musibah dan bencana datang silih berganti, menerpa anak negeri yang lupa diri, lebih suka memuaskan nafsu dan imajinasi. Potret negeri di mana generasi penerusnya durhaka kepada sang ibu pertiwi.
Saat ini, tanggal 17 Juli, sebentar lagi Nusantara akan “bersih-bersih” diri. Goro-goro gung tan kena den pungkiri. Murih tinarbukaning gapura gamabudi. Jaya nusawantara den enteni. Kang kadapuk dadi pambuka, iya satria kang jumedul ing pulo Semar Badranaya, sisih wetan sangkan ira. Mula den eling den êmut, menawa ana Candra-ning Negoro. Iya iku satria kang piningit, datan aran ratu adil, nanging kang jumeneng dadi satria nagari Pambukaning Gapura.
Imperialisme Baru
Bentuk imperialisme yang melebihi model penjajahan terhadap daerah koloni, bilamana yang dijajah adalah kemerdekaan fikir dan pembunuhan atas kesadaran spiritual generasi penerus bangsa. Pola fikir dan kesadaran spiritual, adalah dua pilar yang membentuk karakter bangsa. Dan terbukti saat ini bangsa Indonesia telah kehilangan karakternya. Merupakan kenyataan tak dapat ditutup-tutupi lagi, kini telah lahir generasi di mana kesadaran spiritualnya tergembok rapat di dalam tempurung kebodohan. Malah dengar-dengar akan ada generasi akhir yang akan diberi julukan si makhluk bermata satu yang suka gentayangan untuk memutar balik fakta dengan cara berdagang kata-kata manis berbalut angin syurga. Makhluk bermaga satu bafangkali kiasan yang menggambarkan suatu pemahaman dangkal bahwa kebenaran dan ketuhanan hanya boleh didefinisikan melalui satu cara saja.  Yakni satu persepsi, atau satu cara pandang. Konsekuensinya, apapun persepsi tentang kebenaran, keyakinan, dan tentang tuhan di luar persepsi itu mendapat label sebagai bentuk kesesatan.  POLA PIKIR semacam ini akan menjadi generasi anti-toleran, yakni generasi anti perbedaan pendapat. Tidak mau berbaik sangka dengan berfikiran positif-konstruktif terhadap segala perbedaan. Tentu saja realitas sosial semacam itu bertentangan dengan hukum alam. Dan siapapun, apapun, jika bertentangan dengan hukum alam, alamlah yang akan meleburNYA.
MAKHLUK mata satu, bagaikan hantu gentayangan sana-sini memutarbalikan fakta antara kebenaran dengan ilusi. Antara kebohongan dengan kejujuran. Apabila segala kepalsuan dan kebohongan itu terbongkar oleh temuan-temuan baru, dan oleh evolusi kesadaran manusia-manusia generasi baru, selanjutnya pola pikir masyarakat dunia akan segera berganti dengan paradigma pikir baru yang lebih realistis, membumi dan penuh nilai-nilai humanis. Saat itulah terjadi “kiamat” bukan maksud kehancuran planet bumi bersama jagad semesta, melainkan  kebangkrutan total segala macam “spiritual” lama yang penuh ilusi. Lants kelak hanyalah kejujuran yang akan tersisa. Seyogyanya kita lihat dan kita buktikan bersama-sama saja perkembangannya.
Alam bersifat dinamis dalam perubahannya. Bagi yang mampu beradaptasi dengan kehendak alam, pada gilirannya kekuatan alam akan mendaur ulang menjadi generasi baru yang memiliki kesadaran kosmologis yang selaras, sinergis dan harmonis dengan hukum alam. Mereka akan lahir sebagai manusia sejati yang mengerti diri sejati, dan memahami apa sejatinya hidup ini. Sebaliknya yang menolak koreksi alam dan hukum dinamika zaman, akan semakin sulit menyadari bahwa dirinya telah dirundung sakit jiwa yang berkepanjangan.


7 Legenda Tombak Ibu Ratu Kidul 

 

Menyelusuri sejarah secara detail memang sangatlah sulit untuk kita kaji, disamping perbedaan zaman yang kita alami saat ini jauh tertinggal dengan zaman mereka, namun secara maknawi, tidak semua sejarah musnah begitu saja dan tanpa bisa dibuktikan, karena fakta disini akan mengupasnya. Bercerita tentang tokoh yang satu ini sampai kapanpun terus menjadi prokontra kalayak rame, suatu mithos dan kenyataan sejarah, akan terus mewarnai pemahaman orang-orang yang belum paham sejatinya siapa Ibu Ratu Pantai Selatan, sesungguhnya. Mereka saling membenarkan pendapatnya masing-masing dengan mengatas namakan keluarga atau silsilah garis keturunannya. Wal hasil, dalam pemahaman sesungguhnya mereka masih dalam tarap katanya, inilah kisah selengkapnya yang disarikan dalam kitan kuno. Terboekanja Puelo Djawa / terbukanya pulau Jawa, karangan Habib Syeikh Muhammad Idrus, ditulis pada tahun 1845, yang dinukil dari Nabiyullah Hidir AS. Kisah perempuan yang semasa hidupnya ngahyang / raib, bermula dari Istri Nabiyullah Sulaiman AS, yang bernama Ratu Bilqis, setelah suaminya wafat kehadirat Allah SWT. Beliau ngahyang karena cintanya yang begitu besar terhadap suaminya, namun Allah berkehendak lain, beliau akhirnya ditempatkan menjadi ratu laut selatan dibawah perintah Nabiyullah Hidir AS, yang mengepalai seluruh Abdul Jumud, Ahmar, Abyad, Qorin dan Junu, di wilayah Timur Tengah. Juga Nyimas Ayu Nilam, atau Kencana wungu, atau Dewi Sekar Wangi atau Dewi Nawang Wulan, istri Jaka Tarub, yang kini menjadi ratu pantai selatan, bagian Cilacap. Siti Aisah atau Dewi Pembanyun atau Nyimas Rara Ayu, Pokeshi, keturunan Demak, yang ibunya dinikahi oleh Prabu Siliwangi, beliau pada akhirnya ngahyang dan menjadi Ratu Pantai Selatan, bagian Demak Yogyakarta dan Solo. Dewi Nawang dan Nawang Sari, putri dari Prabu Siliwangi yang menikah dengan Ratu Palaga Inggris, beliau juga ngahyang dan menjadi penguasa pantai selatan, setelah kerajaan ayahandanya raib akibat ditanam Lidi Lanang. Dewi Sekar Sari atau Dewi Andini, salah satu putri Dewi Nawang Wulan, beliau sejak lahir telah menempati salah satu wilayah pantai selatan, yang menguasai Abdul Jumud dan Ahmar, bagian Sukabumi, Garut dan sekitarnya. Dalam hal ini Misteri tidak membedarkan secara detail tentang sejati diri mereka, namun hanya menceritakan perjalanan 7 tombak yang pernah menjadi bagian dari hidup Dewi Nawang Wulan, putri dari Prabu Siliwangi, yang kini telah diwariskan pada manusia bumi. Secara rinci 7 tombak yang dimaksud dalam kisah kali ini punya nama dan gelar sebagai berikut :
  1. Tombak Cakra Langit, bergelar, Tombak Kesyahidan. Motif, lurus dengan kinatah emas murni berbentuk jangkar melingkar, ditengah badan menjulang empat tombak kecil melingkari kepala, dengan kinatah berlian red diamond memutar. Tombak ini diberikan kepada Kanjeng Suanan KaliJaga, untuk melawan kesaktian Prabu Siliwangi, atas perintah Prabu Panatagama Tajuddin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dalam penyebaran agama Islam, dan tombak ini sebagai cindra mata perkawinannya Dewi Nawang Wulan, dengan Sunan KaliJaga. Silsilah tombak Cakra Langit, akhirnya turun temurun diwariskan kepada ahlul Khosois, diantaranya, Quthbul Abdal, Syeikh Malaka Tajuddin, Makassar, Quthbul Muqoiyyad, Syeikh Hasyim bin Asy’ari, Aceh, yang diturunkan kepada muridnya Ahmad Suyuti bin Jamal, Kalimantan, Quthbul Autad Min Zumhur Ulama, Ki Tholkha Kalisapu, Mbah Hamid, KiPanjul dan kini berada ditangan Min ahlillah Qurbatul Wilayah Syareatul Khotam, namun sayang tidak boleh dipublikasikan.
  2. Tombal Punjul Wilayah, bergelar, tombak Antakusuma. Tombak ini diberikan kepada putrinya Andini, sebagai lambang dari tahta istananya yang dikemudian hari diberikan kepada suaminya Dampu Awuk, gunung Sembung. Lalu diturunkan kepada putrandannya yang bernama, Raden Sa’id atau pangeran LungBenda Jaya Negara. Dari Raden Sa’id, akhirnya berpindah tangan karena dicuri oleh segerombolan aliran hitam yang mengatas namakan perguruan “Kijang Kencana” yang dikepalai oleh murid sakti Pangeran Ambusana, Weleri Jawa Tengah. Baru setelah 20 tahun ditangannya, tombal Punjul akhirnya dimiliki seorang pertapa sakti Buyut Ajigung Ajiguna, setelah adu kesaktian. Kisah tombak ini turun temurun dijaga oleh sebagian bangsa Hindu dan pada akhirnya raib dihutan Banyuwangi Jawa Timur, dan baru setelah seorang Waliyullah kamil, Mbah Hafidz, yang berasal dari Timur Tengah, menduduki wilayah tersebut, akhirnya tombak Punjuk Wilayah, tetap terjaga. Kini tombak Punjul, masih dijaga oleh muridnya yang bernama Ki Panjalu Pati Jawa Tengah. Bentuk tombak Punjul Wilayah. Motif lurus, urat air hujan (Majapahit) warna hitam kebiruan, dengan lima ujung mata tombak mengarah kedepan. Tombak ini sudah dirombak dari bentuk aslinya oleh Mbah Hafidz, sebagai suatu pengelabuan dimasa yang akan datang agar tidak disalah gunakan.
  3. Tombak Panatagama, bergelar, Raja Maemun. Pemberian dari Sulthonul Jin Maemun Indramayu. Motif tiga cabang tombak kedepan, urat besi aji meteor legam, hitam bersisik tanpa pamor, dihiasi 7 batu merah delima, 3 zamrud Colombia dan 4 shapire Srilangka serta 11 batu biduri air. Silsilah tombak ini Misteri hanya kedapatan 4 orang dan lainnya tidak diketahui, yaitu, Syeikh Abdullah Al-Fanani Min Rijalullah, Syeikh Qosim Al-Jawi, Syeikh Mudaim, dan Ki Toha Tegal Gubug.
  4. Tombak Cemeti Rosul, bergelar Tombak Alam Jagat Raya. Tombak ini bermula dari pemberian Rosulullah, berupa cemetipanjang (Besi panjang) yang diberikan kepada Nabiyullah Hidir AS, sewaktu dibaiat Maqomul A’dzom, di alamus Sama tingkat enam, yang kemudian diberikan kepada Dewi Nawang Wulan, sewaktu dibaiat Syahadatiyyah oleh Ahli Rijal bangsa Rububiyyah ahlul Barri. Lewat mandat Dewi Nawang Wulan, bahan tadi dibentuk oleh abdi dalem, Empu Jalaga Widesa, berupa tombak mata satu dengan urat bumi yang sangat indah. Baru disaat kota Cirebon diserang oleh pasukan tamtama Lewmunding, Tombak ini diserahkan kepada Syeikh Magelung Sakti, sebagai benteng pertahanan paling kuat kota Pesisir. Lalu tujuh tahun setelah itu, tombak tadi diserahkan kepada Andika Syeikh Muhyi Pamijahan, atas ilafat Syeikh Sanusi goa gunung Mujarrob, yang menyatakan sudah waktunya berpindah tempat. Dari Syeikh Sanusi, Tombak Cemeti Rosul, akhirnya dirubah bentuk menjadi sebatang keris Budho madya kuno dengan urat alami jagat raya yang selalu menitikkan air disela uratnya, cara perubahan keris ini menurut pandangan Syeikh sanusi, sebagai lambang penyatuan antara Islam dan Kejawen yang diajarkan bangsa Waliyullah, pada masa itu. Sarung kerisnya dibuat dari kayu Kaukah, dengan dihiasi 21 batu merah delima, 41 zamrud Colombia, 17 shapire Birna, 70 berlian putih, dan 4 pink shapire srilangka. Pada tahun 1961, keris ini diberikan kepada Habib Muhammad bin Khudhori, Magelang, atas hawatif yang diterimanya untuk mengambil secara langsung didalam goa gunung Mujarrob, Tasikmalaya Jawa Barat. Dan pada tahun 1998, sebelum beliau wafat, keris ini diberikan kepada Habib Syeikh Arba’atul ‘Amadu, atas mandat langsung dari Syeikh Sanusi. Kelebihan dari wujud keris ini tidak bisa di foto dengan kamera digital maupun otomatis lainnya. Kini Keris Cemeti Rosul, sedang dipinjam oleh Ahlullah Quthbul Muthlak Habib Ali bin Ja’far Alawi, Arab Saudi.
  5. Tombak Karara Reksa, bergelar, Tombak Derajat. Motif bergerigi dengan cabang berantai lebih dari sepuluh. Warna putih gading dengan bentuk tumpul, memancarkan cahaya putih kehitaman. Tombak ini hasil riyadho Dewi Nawang Wulan Sendiri, sewaktu masih menjadi murid Ki Ageng Surya Pangeran Kuncung Anggah Buana (Ki Buyut Trusmi) Bahan yang dimilik tombak ini berasal dari kembang pinang yang sudah membatu. Kisah tombak Karara Reksa, selalu muncul sewaktu-waktu disaat menjelang pemilihan president, dan kini tombak tersebut masih terpelihara dialam istana ghoib laut selatan.
  6. Tombak Karara Mulya, bergelar, Tombak Mangku Mulyo. Tombak ini tidak diketahui pembuatnya, hanya saja setelah dipegang Dewi Nawang Wulan, tombak ini dihadiahkan atas perkawinan putrinya yang bernama, Nyimas Anting Retno Wulan, untuk suaminya Pangeran Jaladara, putra Kyai Ageng Bintaro Kejuden. Dari Pangeran Jaladara, diturunkan kepada putranya, Pangeran Seto Bulakamba, dan kemudian diwariskan pada gurunya Ki Alam Jagat Bumi, Banten, lalu turun temurun diberikan kepada Syeikh Asnawi Banten, Syeikh Masduki Lasem, Syeikh Samber Nyawa Purwodadi, Mbah Hafidz Banyuwangi dan yang terakhir kepada Habib Husein bin Umar bin Yahya Pekalongan. Asli dari bentuk tombak Karara Mulya, disetiap ujung sampai pangkal bawah berjeruji sangat tajam seperti mata kail pancing, namun demi menjaga kelestarian dari keberadaan tombak fenomenal ini akhirnyaHabib Husein, merombaknya seperti yang anda lihat saat ini.
  7. Tombak Tulungagung, bergelar Tombak Sapta Jati. Tombak ini diwariskan secara langsung dari tangan Dewi Nawang Wulan, sebagai tanda terima kasihnya, atas keluhuran derajat Habib Husein, yang mau menyelamatkan bumi Pekalongan, dari amukan tsunami hingga tidak sampai terjadi. Kisah ini terjadi pada tahun 1998, bulan Pebruari, tepatnya selasa kliwon. Kini tombak tersebut dirubah sedikit dari bentuk semula yang aslinya seperti segi tiga menjadi tombak lurus dengan pahatan panel bunga. Dan sebagai pengantar terakhir dari Misteri. Kisah ini sudah dapat restu dari beberapa orang terkait kecuali Habib Husein bin Umar, karena beliau kini sudah (Alm).
Semoga dengan pembedaran kisah 7 tombak fenomenal yang barusan Misteri bedarkan, menjadikan kita sadar diri dengan apa yang selama ini banyak kita dengar. Karena apapun benda bertuah kelas wahid, tidak bakal jatuh pada manusia yang masih memegang, katanya, dan aku-aku sebagai pedoman hidup.
Sebab pemahaman tentaang keluasan bangsa gaib bersumber dari pembelajaran Ilmu Islam, Iman, Solah, Ihsan, Syahadatul Kubro, Siddikiyyah dan Qurbah, secara dhaukiyyah (Merasakan langsung)
NAPAK TILAS dan PERISTIWA PENUH ARTI
Motivasi kehadiran rombongan kami dalam rangka ikut serta berkumpul bersama seluruh sedulur dari berbagai kalangan yang hadir di acara sakral Sarasehan Bulan Purnama dengan tema Memperingai Turunnya Wahyu Makutharama, yang dipandegani oleh Mas Panji Trisula (Bustanus Salatin).Terimakasih tak terhingga atas segala sambutan dan kehangatan paseduluran dari sedulur-sedulur yang hadir dalam acara tsb. Sungguh bagai oasis menyejukkan dahaga spiritual di tengah panasnya terpaan the desert storm “badai gurun” yang melanda Nusantara saat ini. Kami berharap apa yang telah dilakukannya menjadi amal kebaikan yang berkausalitas atas berlimpahnya berkah dari para leluhur besar Kerajaan Majapahit. Kebaikan-kebaikan yang dilakukan akan menjadi pagar gaib yang melindungi diri sendiri, menjadikan diri tak bisa dicelakai orang dan selalu menemukan keberuntungan dalam setiap langkahnya.
Hujan Sebagai Pertanda Baik
Pukul 16.30 wib kendaraan terus melaju meninggalkan kota Jombang. Arah kendaraan menuju Kec.Trowulan Kab Mojokerto. Walau musim kemarau sedang berada dalam puncaknya, namun tiba-tiba turun hujan dengan derasnya. Seperti biasa, fenomena hujan deras seringkali mewarnai dalam tiap acara-acara sakral yang berhubungan dengan leluhur besar. Tidak hanya terjadi di Jawa, Sunda, Bali, Sumatera bahkan hingga di Kalimantan. Dalam tradisi Jawa, hujan yang tidak lazim terjadi itu sebagai pertanda diterimanya acara atau ritual yang akan kita laksanakan. Hujan pertanda baik biasanya terjadi beberapa saat sebelum acara dimulai, namun menjelang acara dimulai hujan akan reda kembali. Pukul 17.00 Wib (Jawa: pitulas, alias simbol bermakna “pitulungan lan kawelasan“) karena kami merasakan misteri daya tarik energi yang sangat kuat, akhirnya rombongan kami berempat memutuskan untuk berhenti tepatnya di Depot Arema di Jl Raya Jombang-Mojokerto, yang ternyata berjarak 2,100 meter dari Sitihinggil Trowulan. Sarasehan Bulan Purnama merupakan acara sakral dilaksanakan setiap siklus 210 hari. Sejenak rombongan kami menyeruput secangkir kopi, sementara itu terasa semakin kuat daya tarik energi. Pelacakan sumber energi menemukan datangnya energi itu berasal dari kolam raksasa Tambak Segaran. Kolam raksasa buatan manusia, sebagai situs peninggalan Majapahit yang telah berumur kurang lebih 800-900 tahun.
Pukul 17.30 wib hujan kembali reda. Dengan beberapa pertimbangan, kami memutuskan untuk kulonuwun terlebih dahulu kepada para leluhur yang berada di gerbang Siti Hinggil Trowulan dan kepada Panpel. Pada jam 19.00 wib atau jam 7 malam, dari Sasono Hinggil kami merapat ke Kolam Tambak Segaran yang berjarak hanya sekitar 1,7 km. Di lokasi kolam Tambak Segaran sudah menunggu dulur-dulur wetan ; Ki Camat Kec. Taman (Ki Amig alias Ki Juru Taman), Ki Wongalus (KWA), Mas Kumitir (Alang-alang kumitir). Ditambah rombongan kami berempat, saya bersama istri, Mas Harimurti dari Jogja dan Mas Andreas dari Jakarta, sehingga jumlah rombongan kami ada 7 (pitulungan) orang. Ditambah satu lagi Mas Setyo yang sudah jumeneng caraka mandireng pribadi yang sudah beberapa hari di lokasi. Kami mulai “neng” (meneng/jumeneng; berdiam raga dan konsentrasi untuk membangunkan kesadaran rasa sejati), dengan tujuan untuk meraih “ning” (wening/kebeningan atau ketajaman batin), sambil maneges kepada Jagadnata dan Para Leluhur Majapahit dengan harapan siapa tahu mendapat “nung” (kesinungan) berkah agung.
Gerbang Metafisika
Beberapa menit hanya menyisakan kesunyian memagut yang membawa perasaan keheningan dan kedamaian begitu dalam. Membawa suasana hati yang tenteram. Kita bersihkan hati dari segala macam penghalang, bersihkan dari perasaan iri dan dengki. Kita netralkan dan beningkan pikiran dari segala prasangka buruk dan berbagai ilusi-halusinasi. Beberapa saat setelah kami menghaturkan sesaji menabur bunga sebagai pertanda “kulanuwun” dan salah satu upaya sembah bekti, attunment/penyelarasan, mensinergikan dengan getaran jagad semesta. Tak berapa lama kemudian gayung mulai bersambut. Segera tampak tanda kehadiran para abdidalem (pegawai kerajaan) Majapahit di masa lalu sebagai pertanda adanya sambutan “tuan rumah”. Saat itu belum juga tampak kehadiran leluhur Ratu Gung Binatara. Namun pada saat jarum jam menunjukkan pukul 20.10 wib (2010) kabut putih dan sangat tebal mendadak turun, kami melihat antara dimensi fisik dan metafisik sedang terjadi proses persisihan, seolah saling mendekatkan “jarak” di antaranya. Beberapa detik kemudian, terbukalah gerbang dimensi metafisik. Secara kasat mata, yang tampak sedikit berbeda dengan pemandangan sesungguhnya. Tujuh orang, semua melihat kabut putih begitu tebal, disertai hawa dingin, dan sedikit rintikan gerimis bagai percikan embun yang sangat menyejukkan. Di tengah kabut putih tebal itu, tepat di atas permukaan air tampak jelas muncul lingkaran bundar simetris berdiameter kurang lebih 20 meter. Bentuk dan warnanya sangat jelas karena saat itu bulan purnama sedang kuat memancarkan sinarnya. Di dalam lingkaran itu keadaannya sama sekali bersih dari kabut sehingga tampak lah warna bening kehitaman, tetapi jika dilihat dengan mata batin, segera tampak warna bening transparan membentuk lobang besar. Dalam waktu sekitar 20 menit, lingkaran tersebut berubah konfigurasi dari bentuk lingkaran, kemudian kedua sisi kiri-kanan perlahan berubah memanjang (mulur) membentuk alur panjang melengkung menjadi garis setengah lingkaran yang berdiameter lebih besar. Kedua ujung setengah lingkaran masing-masing menyentuh dinding kolam. Hingga tampak ada garis lengkungan (setengah lingkaran) besar seolah mengurung 7 orang rombongan kami. Bening, kehitaman, perlahan semakin mendekati posisi kami duduk bermeditasi, hingga berjarak sekitar 5 meter tepat di depan kami. Pada saat itu tampaklah titik cahaya putih terang berkilau di dasar air, yang dapat disaksikan sebagian besar anggota rombongan kami. Titik cahaya itu hanya sebesar lampu sein mobil, walaupun berada di dalam air ia memancarkan warna putih berkilau yang cukup terang. Benda misteri itu ternyata wujud Kalpika (cincin pusaka) milik Sri Narpati Brawijaya. Tepat pada pukul 20.40 wib, hanya dalam waktu kurang dari 2 menit, semua fenomena tersebut menjadi pudar dan lenyap dengan cepatnya. Lingkaran besar itu dengan cepatnya sirna kembali bagaikan tirai yang dibentangkan untuk menutup jendela. Pemandangan berganti dengan kabut putih tebal bagai layar terkembang menutupi permukaan air, sakral dan mistis seolah-olah “pagelaran wayang” akan segera dimulai. Saat itu di kejauhan terdengar sayup-sayup suara gending. Semoga suara gending itu merupakan isyarat pembuka mengiringi layar Nusantara yang mulai terkembang.
Misteri kolam mulai tersibak. Secara fisik berupa kolam raksasa dengan ukuran lebar sekitar 80 meter x 300 meter, namun secara metafisik merupakan Keraton Majapahit yang masih “eksis” hingga saat ini. Hanya bedanya, para penghuninya sudah melakukan proses  ”metamorfosis”,  menjalani kehidupan sejati dengan tidak menggunakan jasad lagi. Mereka sekedar pindah dimensi saja. Mereka adalah generasi pendahulu kita yang sudah lahir ke dalam kehidupan sejati setelah sekian lama “sang janin” berada di dalam kandungan ibu pertiwi, di dalam rahim mercapada.
Rombongan kami segera beranjak kembali ke Sasono Hinggil Trowulan, di mana Mas Panji Trisula dan seluruh hadirin telah siap memulai mata acara. Tepat pada pukul 21.00 Wib (210) kami tiba di Pendopo Siti Hinggil. Saya semakin memahami apa yang disampaikan Mas Panji tentang siklus 210 hari. Sejak awal saya dihubungi Mas Panji saya meminta beliau memberi jadwal bicara pada pukul 21.00 wib dengan suatu alasan…entah! Saya hanya mengikuti getaran nurani saja dan kini semuanya sudah tejawab. Kata Mas Panji Trisula, acara sarasehan ini ternyata dilakukan dalam Siklus 210 hari sekali.mirip metamorfosa sel yang akan berkembang biak menjadi banyak kemudian menyebar benih di seluruh penjuru. Kajian Mikrobiologi siklus 210 harian dari Gede Junidwaja. Menurut beliau yang dulu punya bos bule dari USA seorang master biokimia lama tinggal di Bali dan sangat rajin melakukan riset mandiri. Menurut hipotesisnya ini terkait dengan telomere sel. Umur sel rata-rata 210 hari. “Sel di organ kita hari ini, akan berganti 210 hari lagi, jadi sel-sel buruk diubah paling  cepat 210 hari. Kuningan adalah nama wuku ke duabelas dalam tradisi Majapahitan. Jatuh setiap 210 hari sekali, tepat pada hari Raditya (Minggu) Wage. Dalam tradisi masyarakat  Hindu Bali pada wuku ini disebut hari suci Kuningan sebagai penutup serangkaian acara semenjak masuknya wuku Galungan (wuku ke sebelas) yang jatuh pada hari Raditya (Minggu) Pahing yang lalu”.
Namanya saja memperingati, mengenang, atau napak tilas. Angka 21 termasuk angka yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa, selain angka 7, 11, 17, 27. Kami pun akhirnya menemukan jawaban soal angka 21 pada saat menghadiri acara di Situs Kuno Trowulan. Termasuk sejak awal ingin sekali mengenakan kemeja warna merah dalam acara tersebut. Ternyata warna merah merupakan simbol sebagai warna identitas Majapahit, sebagaimana warna hijau sebagai identitas Mataram, dan warna kuning sebagai warna kebesaran Kerajaan Kutai.
Pukul 00.00 wib kami kembali ke kolam Tambak Segaran. Kali ini bersama para peserta acara Sarasehan Bulan Purnama, untuk tujuan atur sesaji tabur bunga, dan rombongan kami masih berharap dapat bertemu dengan para leluhur Majapahit atau pun yang lainnya. Pukul 00.00 wib para peserta mulai patrap semedi, untuk tujuan membawa kesadaran diri kita masing-masing berada dalam getaran theta, paling tidak mendekati getaran nol. Di mana bilangan nol sebagai keadaan tiada batas, bilangan tak terhingga, mau dibagi berapapun hasilnya tetap nol. Dalam kamus Jawa kita istilahkan sebagai keadaan batin Duwe Rasa, Ora Duwe Rasa Duwe (punya rasa, tidak punya rasa punya). Kita matikan kesadaran raga, untuk selanjutnya merubah kesadaran menjadi kesadaran sukma supaya kesadaran kita tidak lagi dicemari oleh ilusi dan halusinasi, termasuk imajinasi yang terlanjur tertanam kuat di dalam otak bawah sadar akibat doktrin sejak masa kanak-kanak. Kita berusaha membebaskan dan memerdekakan kesadaran spiritual kita, dengan cara membiarkan kesadaran ruh yang gantian berkuasa atas kesadaran raga.
Fenomena kembali muncul, suasana yang bening tak berkabut, tiba-tiba muncul kabut tebal dan putih, jelas-jelas bergerak cepat ke arah di mana kami duduk bersemedi di pinggir kolam sebelah timur. Terasa bagai butiran es saat kabut menerpa tubuh dan wajah kami. Serta merta kami mencoba maneges sembari menyerap energinya. Dahsyat sekali! Ada yang aneh, dan dapat disaksikan oleh sebagian rombongan kami, saat kabut itu tampak jelas sekali seperti teriris persis di tengah kolam. Sebelah kiri berkabut tebal sementara sebelah kanan bening tak ada kabut. Tidak ada degradasi kabut, tetapi berupa demarkasi membentuk garis lurus. Di balik itulah, tampak kehadiran Sri Narpati Brawijaya V berucap sesuatu. Tidak berlangsung lama kemudian memudar lagi. Selanjutnya kami pamit undur diri ke kembali ke Jogja.
PERTEMUAN KETIGA
Senin Pahing surya kaping 18 tabuh 10.21 wib warsa 2011. Dada dan nafas tiba-tiba terasa sesak, terjadi desakan energi yang teramat sangat kuat. Hampir saja membuat tubuh terpental. Apa yang terjadi, sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar. Kadya karoban segara madu. Denya sakdremo kawula titah alit, karawuhan tuwin pinaringan dawuh mring Srinarpati Gung Sang Prabu Brawijaya V. Tanpa diduga dikira sebelumnya, hadirlah leluhur agung Srinarpati Prabu Brawijaya V, beliau memanggil nama, menyebut nama, memberi kabar, memberi perintah. Bahwasannya maksud dan tujuan ritual Bulan Purnama diterima oleh para leluhur agung khususnya Majapahit, dan harapan kami terhadap perubahan di Nusantara mendapat pangestu. Mendapat sabda dari pandita ratu yang berarti idu geni, ucapannya akan terjadi. Ya..”kunci” Nusantara akan diberikan kepada seseorang yang mampu jumeneng Candraning-negara. Ing samangke sawuse siniram kanthi  tirtapraja. Sri Narpati berkata dalam bahasa Jawa Kuno, ini bukan pertemuan terakhir kali, melainkan awal, tunggu dawuh dan rawuhingsun untuk selanjutnya.
Mulai saat ini “segitiga ” kekuatan supra telah terbangun utuh. Kutai-Majapahit-Mataram. Yang berarti pula momentum perubahan Nusantara akan segera terjadi. Meskipun saat ini tengah berlangsung skenario besar oleh para leluhur agung Nusantara, akan tetapi tanpa adanya para generasi bangsa yang peduli untuk menjemputnya, skenario itu masih akan menunggu bangkitnya kesadaran prakawula muda bangsa untuk hamemayu hayuning bawana. Kini kesadaran spiritual dan genderang perdamaian semakin gencar ditabuh para kawula muda generasi penerus bangsa. Wolak-waliking jaman perlahan akan kembali ke arasnya semula, “becik ketitik, olo ketara“. Yang sering dituduh sesat, kapir kopar akan tampak sejatinya, yang merasa paling bener akan terbongkar kedoknya.
Kian tampak cemerlang kilauan intan permata
yang selama ini terendam oleh lumpur,
Emas akan kembali tampak sebagai emas,
yang tembaga akan kembali tampak aslinya sebagai tembaga,
besi-besi logam karatan
lebur oleh kekuatan bantala.
Wus katon suryo mencorong soko bang-bang wetan.

Semua itu berada dalam skenario besar kekutan supra
terangkum dalam pola “triangle super power”.
Kekuatan supra telah membimbing dan menyadarkan generasi penerus bangsa.
Kepada yang terpilih dan pinilih untuk menemukan apa sejatinya hidup.
Seiring dengan ledakan medan magnet galaktika,
yang memaksa manusia macam mana,
untuk bermeditasi, mesu budi, dan mesu raga.
Supaya memahami kehidupan yang sejati.
Yang melawan kodrat, akan menderita sakit jiwa,
yang selaras akan merdeka lahir batinnya.
Lahirlah generasi baru Nusantara
Yang mengerti diri sejatinya.
Mampu mengembalikan Nusantara pada sejati-ning nuswantara. Membangun kembali karakter bangsa. Nusantara ya nusantara, bukanlah negara manca. Negeri ini akan kembali menjadi dirinya sendiri, bukan bangsa yang suka mengebiri kesadaran sejati. Bukan lagi menjadi bangsa pengekor, berwatak dan berfikiran kotor, bukan bangsa budak, bukan bangsa imitasi, yang selalu menganggap kerusakan moral sebagai bentuk cobaan, yang dikiranya bukti dirinya disayang ilahi.
       
Segitiga kekuatan supra itu, jika dibuka akan berubah bagaikan senjata trisula. Kini senjata trisula tengah dipersiapkan tangkainya, yakni generasi penerus putra raja Kutai Lama YM Sri Raja Kudungga yang bernama Sri Baduga Purnawarman, yang telah membabar bibit kerajaan-kerajaan di tlatah Pasundan. Pelan namun pasti, kini dulur-dulur sadayana ti tatar Parahyangan mulai menggeliat bangun dari tidur panjangnya, mundi dawuh melaksanakan tugasnya sebagai barudak angon, mengumpulkan ranting-ranting kering yang berserakan seolah tiada harganya. Kelak sang SP-RA akan berhasil membangun “senjata trisula” yang utuh berikut tangkainya. Sebagai lambang persatuan kembali keluarga besar Kutai Lama, dengan ke tiga puteranya yakni Mulawarman (trah raja-raja di Sumatera), Purnawarman (trah raja-raja di tatar Sunda), Aswawarman (trah Majapahit hingga Mataram sebagai generasi penerus Kutai Lama). Setelah Nusantara kembali pada diri sejatinya, bukan mustahil akan menjadi mercusuar dunia dalam bidang spiritual, kebudayaan, kesejahteraan dan kemakmurannya. Negeri yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja, kalis ing rubeda nir ing sambekala. Sebagai anugrah besar atas bangsa ini, atas jerih payah Anda semua generasi penerus bangsa yang tiada hentinya membangun karakter dan menggali jati diri Nusantara, setelah ratusan tahun lenyap dan membawanya terperosok ke dalam lumpur kesengsaraan dan penderitaan.
Sudah Keterlaluan-kah ?
Keterlaluan bila kita tak bangga, Nusantara bukan lah bangsa primitif yang miskin situs budaya, atau sekedar mewarisi alat-alat peperangan dan kekerasan saja. Nusantara merupakan bangsa yang kaya ragam seni-budaya sebagai tolok ukur tingginya peradaban dan kesadaran spiritualnya. Walau kini Nusantara masih terus menukik, terjun bebas ke dasar jurang. Kita tunggu detik-detik suara dentuman setelah ia menyentuh dasar jurang. Barulah daya pantulnya akan membawa Nusantara untuk bangkit secara perlahan namun pasti. Kita semua generasi muda penerus bangsa, adalah sumber daya pantul itu. Tentu saja bagi  generasi yang telah merdeka kesadaran spiritulanya. Generasi yang sudah keluar dari tempurung kebodohan. Makasih mas Panji Trisula (Bustanus Salatin), panjenengan memiliki andil sangat besar dalam terlaksananya acara sakral dan penuh makna di Trowulan Mojokerto Jatim. Panjenengan menjadi salah satu jalma pinilih yang dilibatkan oleh para leluhur besar Nusantara dalam rangka save our country project. Juga seluruh hadirin yang terhormat, Anda semua telah lolos seleksi, berhasil melewati rintangan dan gangguan sehingga tidak gagal mengikuti acara di Trowulan. Termasuk seluruh sedulur dari elemen dan komunitas manapun juga yang mendukung berlangsungnya acara tersebut. Dari IPPNU, SI, SGPC, GPS, Beceka, Majapahit Wilwatikta, Mahavihara Majapahit, Swara Majapahit, Mojokertokab.co, Pemerintah Kab Mojokerto, Dinas Kebudayaan DIY, Jatim, dan terutama utk Indonesia Adil dan Makmur berbasis sosial demokrat kerakyatan, beserta  semua elemen yang lupa kami disebutkan di sini. Semua tak ada yang sia-sia. Kebaikan yang Anda lakukan akan kembali kepada diri sendiri, bahkan menjadi kebaikan lebih besar lagi, bagaikan hukum gema suara. Yang dapat menyelamatkan Nusantara bukanlah generasi jahil, bukan bangsa-bangsa lain dan bukan pula jiwa-jiwa berisi nafsu imperialism, tetapi generasi muda bangsa yang berjiwa Nusantara dan mengerti diri sejati.
Post a Comment