Wednesday, April 10, 2013

posisi syafâ’at pada hari Kiamat

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


beberapa poin penting berikut :

1. Makna syafâ’at:

Makna syafâ’at adalah memberikan bantuan dan pertolongan kepada seseorang yang lemah. Sedangkan syâfi' (pemberi syafâ’at) adalah seseorang yang memberikan pertolongan kepada orang yang memerlukan bantuan sehingga orang itu berada pada tingkat normal dan tidak lagi memerlukan bantuan. [1]



Para pemberi syafâ’at:

A.    Para pemberi syafâ’at menurut Al-Qur'an

Menurut al-Qur'an syafâ’at pada hari Kiamat hanyalah milik Allah Swt. [2] Dan Dialah yang akan memberikan izin syafâ’at kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana ilmu gaib hanya milik Allah Swt dan Dia memberikannya kepada Rasul-Nya, [3] demikian juga halnya dengan syafâ’at. Syafâ’at hanyalah milik Allah Swt dan Dia akan memberikannya kepada Rasulullah Saw dan orang lain yang dikehendakinya.

Syafâ’at terbagi dua bagian: 1. Takwini dan 2. Tasyri'i.

Syafâ’at takwini berlaku untuk semua alam semesta. Seluruh sebab di sisi Allah Swt adalah sebagai syâfi' (pemberi syafâ’at), karena mereka sebagai perantara antara Allah dan musabbab-Nya (yang disebabkan). Adapun syafâ’at tasyri'i dan qânuni (perundang-undangan) terbagi menjadi dua bagian:

1.     Syafâ’at yang memiliki pengaruh di alam dunia ini dan menyebabkan datangnya ampunan Ilahi, atau dapat mendekatkan di sisi-Nya. Syâfi' dan perantara antara Allah dengan hamba-Nya pada bagian ini terdapat beberapa golongan. Pertama: Orang-orang yang bertaubat atas segala dosa-dosanya. [4]
Kedua: Orang-orang yang beriman kepada Rasulullah Saw. [5]  Ketiga: Amal saleh seseorang. [6] Keempat: Al-Qur'an al-Karim. [7] Kelima: Segala sesuatu yang berhubungan dengan amal saleh, seperti masjid, tempat-tempat suci, Ayyamullah (berbagai peringatan keagamaan) dan para nabi. [8] Keenam: Para malaikat. [9] Ketujuh: Kaum mukminin yang memohon ampun kepada Allah Swt, baik untuk pribadinya maupun untuk saudara-saudaranya yang seiman. [10]

2. Para pemberi syafâ’at yang akan memberikan syafâ’at pada hari Kiamat. Dari ayat-ayat Al-Qur'an dapat dipahami bahwa para pemberi syafâ’at –pada hari Kiamat kelak- jumlahnya sangat banyak sekali, di antaranya adalah para nabi Ilahi, [11] ulama', syuhada', malaikat [12] dan kaum mukminin.


B. Para pemberi syafâ’at menurut riwayat:

Terdapat riwayat yang banyak, baik melalui jalur Syiah maupun jalur Sunni yang menjelaskan masalah ini. Sebagai contohnya adalah:

1.     Rasulullah Saw bersabda: "Pada hari Kiamat kelak orang-orang yang beriman akan mendatangi Nabi Adam As dan mereka berkata: "Wahai bapak manusia, bukakanlah pintu surga untuk kami!” Adam As berkata: "Aku tidak layak melakukan hal itu." Mereka mendatangi Nabi Ibrahim As. Beliaupun berkata: "Aku juga tidak layak melakukan hal ini". Nabi Musa As dan Isa As pun memberikan jawaban yang sama. Akhirnya mereka disuruh mendatangiku. Aku pun segera bangkit dan mohon izin kepada Allah Swt. Kemudian kalian kaum muslimin dengan cepat secepat kilat dapat melewati shirath (titian).” [13]

2.     Rasulullah Saw -sehubungan dengan hal ini- bersabda: "Setiap nabi mengajukan permohonan kepada Allah Swt. Tetapi permintaanku aku tangguhkan sampai hari Kiamat, yaitu syafâ’at untuk umatku." [14]

3.     Imam Ja'far al-Shadiq bersabda: "Barangsiapa yang mengingkari tiga perkara, maka dia bukan dari Syiah (golongan) kami: Mi'raj Rasulullah Saw, pertanyaan di dalam kubur dan syafâ’at." [15]

4.     Imam Baqir As bersabda: "Rasulullah Saw memiliki izin untuk memberikan syafâ’at-nya kepada umatnya. Kami juga dapat memberikan syafâ’at kepada kaum Syiah (pengikut) kami. Dan Syiah kami pun dapat memberikan syafâ’at kepada keluarga mereka." [16]


C.Syarat-syarat mendapatkan syafâ’at

Ajaran agama telah menetapkan bahwa orang-orang yang akan mendapatkan syafâ’at itu tidak ditentukan. Artinya hanya disinggung secara mubham (tidak jelas). [17] Sebagaimana pula al-Qur'an tidak menyinggungnya secara jelas tentang orang-orang yang akan memperoleh syafâ’at. Akan tetapi hanya menjelaskan sifat-sifat dan ciri-cirinya saja. Allah Swt berfirman: "Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Kecuali Ash-habu al-Yamin (golongan kanan). Mereka di dalam surga saling menanyakan tentang keadaan para pendurhaka. Apa sebenarnya yang membuat kamu masuk ke dalam neraka saqar? Mereka menjawab: "Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat. Dan kami juga tidak memberikan makan kepada fakir miskin. Bahkan kami selalu berbincang-bincang (tentang perbuatan batil) bersama orang-orang yang biasa membicarakan kebatilan. Dan kami mendustakan hari pembalasan, sampai kematian datang menjemput kami. Maka -ketika itu- tidak berguna lagi bagi mereka syafâ’at (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafâ’at". (Qs. Al-Muddatsir [74]: 38-48)

Ayat ini menjelaskan bahwa ahli neraka lantaran memiliki empat sifat, yakni meningalkan shalat, tidak menginfakkan hartanya di jalan Allah, tenggelam dalam gemerlap dunia dan mendustakan hari pembalasan, mereka dijebloskan ke dalam api neraka Saqar. Empat sifat buruk ini dapat menghancurkan pilar-pilar agama. Sebaliknya mendirikan shalat, berinfak, meninggalkan gemerlap dunia dan meyakini adanya hari pembalasan, akan memperkokoh agama Allah. Karena beragama yang sebenarnya adalah mengikuti dan mengamalkan bimbingan para penunjuk jalan yang maksum dan suci. Dan hal ini tidak mungkin terjadi kecuali dengan menjauhkan dunia dan gemerlapnya yang menggiurkan, dan menuju kepada jalan Ilahi. Apabila kedua sifat ini dapat terealisasi, maka tenggelam dalam pembicaraan batil bersama orang-orang yang suka kebatilan dan mendustakan hari pembalsan, akan dapat dijauhkan. Kelaziman dua sifat tersebut adalah mengingat Allah Swt dan berusaha menutupi kebutuhan masyarakat yang dapat juga dikatakan bahwa yang pertama merupakan efek dari shalat dan yang kedua efek dari infak. Dengan demikian bahwa pilar-pilar agama adalah dua sisi; ilmu pengetahuan dan mengamalkan empat sifat tersebut. Dan empat sifat tersebut juga menuntut adanya pilar-pilar agama lainnya. Karena –misalnya- jika seseorang menganut paham ateis atau mengingkari kenabian, maka ia tidak mungkin akan memiliki empat sifat tersebut. [18]

Kesimpulannya adalah bahwa orang-orang yang layak dan berhak memperoleh syafâ’at adalah yang memiliki syarat-syarat berikut ini:

Pertama: Iman sejati kepada Allah Swt, para nabi Ilahi, hari pembalasan dan semua ajaran yang diturunkan kepada para rasul-Nya. Sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur'an bahwa ketika orang-orang kafir dan musyrik ditanya mengapa kalian dijebloskan ke dalam api neraka saqar? Mereka menjawab: "Kami sama sekali tidak mempunyai syâfi' (para penolong). [19] Dengan demikian bahwa orang-orang kafir itu tidak mempunyai kelayakan untuk memperoleh syafâ’at. Pada surat al-Anbiya' ayat: 28 dapat kita baca bahwa :"Para nabi dan Malaikat tidak memberikan syafâ’at, kecuali kepada orang-orang yang mendapat ridha". Mengenai tafsir ayat ini pernah ditanyakan kepada Imam Ridha As. Beliau As menjawab: "Maksudnya adalah ridha (dan taat) terhadap urusan agama". Karena itu, syafâ’at dikhususkan untuk orang-orang yang pernah berbuat dosa dengan syarat bahwa akidah dan agama mereka mendapat ridha dari Allah Swt. Adapun orang-orang menentang agama, nashibi (orang-orang yang memusuhi keluarga suci Nabi Saw) dan kaum kafir, tidak akan memperoleh syafâ’at.

Kedua: Memiliki keyakinan terhadap hakikat syafâ’at itu sendiri. Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah Swt tidak akan memasukkan orang-orang yang tidak meyakini syafâ’at-ku ke dalam kelompok orang-orang yang memperoleh syafâ’atku". [20]

Ketiga dan Keempat: Melakukan shalat dan menolong fakir miskin. Hal itu sebagaimana telah dijelaskan di dalam surat al-Muddatsir (ayat 40-48) bahwa sebab utama dijebloskannya para pendurhaka ke dalam jurang api neraka saqar adalah karena mereka tidak melakukan shalat dan tidak menolong fakir miskin serta mendustakan hari pembalasan.

Imam Ja'far al-Shadiq As bersabda: "Sesungguhnya orang-orang yang meremehkan shalat tidak akan memperoleh syafâ’at kami ( Ahlulbait)". [21]  Yang jelas bahwa masalah syafâ’at bukan persoalan yang bersifat mutlak. Akan tetapi (untuk memperoleh atau memberikannya) terdapat syarat-syarat tertentu, baik bagi dosa dan maksiat yang dilakukan, bagi orang-orang mempunyai dosa dan kesalahan, maupun bagi orang-orang yang memberikan syafâ’at. Orang-orang yang meyakini dasar-dasar ini, jika mereka ingin memanfaatkan kesempatan emas ini dan ingin dimasukkan ke dalam orang-orang yang memperoleh syafâ’at, maka tidak ada jalan lain kecali harus memenuhi syarat-syarat tersebut dan menjauhkan segala dosa besar seperti berbuat zalim, syirik dan lain-lain yang membuat mereka terhalangi dari memperoleh syafâ’at. Atau mereka harus bersikap sedemikian rupa sehingga mendapat pertolongan (syafâ’at) dari orang-orang yang diizinkan untuk memberikan syafâ’at.[IQuest]


Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat:

1.     Indeks: Konsep Syafâ’at dalam Islam, Pertanyaan 350 (situs: 350).

2.     Indeks: Usaha dan Peran Amal Kebajikan pada Akhirat Manusia, Pertanyaan 280 (situs: 2484).

3.     Indeks: Jalan-jalan untuk Mensucikan diri dari Dosa, Pertanyaan 798 (situs: 860).

4.     Indeks:  Penafian Untung-Rugi dari Nabi dan Tuntutan Syafaat darinya, Pertanyaan 84 (situs: 2378).

5.     Indeks: Syafaat dan Ridha Ilahi, Pertanyaan 124.



[1] .Tafsir al-Mizan, jilid 1 hal. 157.
[2] . “ Kepunyaan-Nya apa yang ada yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. ”   (Qs. Al-Baqarah [2]: 255), “ Katakanlah, “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”   (Qs. Al-Zumar [39]: 44).
[3] . “K ecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka Dia menetapkan para penjaga (malaikat) di hadapan dan di belakangnya .” (Qs. Jin [72]: 27).
[4] . “ Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). ” (Qs. Al-Zumar [39]: 54)
[5] .” Hai orang-orang yang beriman,bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada rasul-Nya, niscaya Allah memberikan dua bagian rahmat-Nya kepadamu .” (Qs. Al-Hadid: 28)
[6] . “ Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. ” (Qs. Al-Maidah [5]: 9).
[7] . “ Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. ” (Qs. Al-Maidah [5]:16)
[8] . “ Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Nisa [5]: 64)
[9] . “Para malaikat yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.” (Qs. Al-Mukmin [40]: 7)
[10] . “ (Orang-orang yang beriman berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau siksa kami jika kami lupa atau bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tak sanggup memikulnya. Anugerahkanlah maaf kepada kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau-lah penolong kami. Maka, tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”   ( Qs. Al-Baqarah [2] : 286 )
[11] . “Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapan dan di belakang mereka (malaikat), dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (Qs. Al-Anbiya' [21]: 28)
[12] . “ Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafaat; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak dan mereka meyakini(nya). ” (Qs. Al-Zukhruf [43]: 86).
[13] . Bihâr al-Anwâr, jilid 8, hal.35.
[14] . Syaikh Mufid, al-Ikhtishâsh, hal. 37.
[15] . Bihâr al-Anwâr, jil. 6, hal. 223.
[16] . Ibid, hal. 48.
[17] . Tafsir al-Mizan jil. 1, hal. 159.
[18] .  Ibid, jil. 1, hal. 259.
[19] . (Qs. Al-Syu'ara [42]: 100)
[20] . Bihâr al-Anwâr jilid 8 hal. 34.
[21] . Wasâil al-Syiah, jilid 4 hal. 25.
 
Post a Comment