Wednesday, April 24, 2013

Kenapa Iblis (setan) diciptakan dari api?

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


Allah Swt, Maha Bijaksana atas segala sesuatu dan segala perbuatan-Nya didasarkan pada hikmah yang sempurna. Oleh karena itu, seluruh eksistensi pun diciptakan-Nya berdasarkan kebijakan dan hikmah Ilahi yang sempurna, dengan memberikan bentuk dan kondisi terbaik yang sesuai dan layak bagi hakikat mereka.[1] Penciptaan setan dari api pun berdasarkan pada hikmah dan kebijakan Ilahi ini. Setan merupakan salah satu jenis jin, tercipta dari api dan memiliki material yang lembut dan halus.
Dalam sebuah klasifikasi global materi atau jism terbagi menjadi dua:
Jism atau materi yang rendah seperti materi dari eksistensi semacam hewan dan manusia yang tercipta dari tanah, dan materi yang halus seperti eksistensi dari kelompok jin yang tercipta dari api. Kedua bentuk materi ini memiliki volume dan ukuran, akan tetapi pada masing-masingnya terdapat perbedaan yang hakiki. Salah satu dari perbedaan tersebut adalah setan tidak bisa dilihat oleh manusia, bahkan dengan kelembutan yang dimilikinya, terdapat kemungkinan mereka bisa melakukan penjelmaan yang berubah-ubah dalam berbagai bentuk dan bisa ke tempat mana pun yang mereka kehendaki. Namun kebalikan dari itu, manusia terlihat oleh setan dan tidak memiliki kemungkinan untuk melakukan perubahan dalam diri dan tempat yang ditinggalinya dalam waktu cepat, melainkan dengan gerakan yang bertahap.
Hikmah yang tersembunyi dari penciptaan setan ini bisa disebutkan dalam poin-poin berikut:
Pertama: Ujian dan cobaan bagi setan, setan diciptakan dari api sedangkan manusia dari lempung. Setan yang menganggap bahwa api lebih tinggi dari lempung memandang dirinya lebih tinggi dari manusia dan dengan alasan ini pula lah sehingga dia tidak mentaati perintah Allah Swt untuk bersujud kepada Nabi Adam As. Oleh karena itu, hikmah yang paling utama dari penciptaan setan dari api ini adalah untuk menguji setan itu sendiri, apakah dia akan merasa bangga dengan lahiriahnya yang tercipta dari api, ataukah akan senantiasa taat dengan perintah-perintah-Nya? Tetapi yang terlihat adalah bahwa alasan yang dikemukakan oleh setan atas ketidakbersediaannya untuk bersujud kepada Nabi Adam As dan menolak perintah-Nya adalah karena, "Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api, sedang Engkau menciptakannya dari tanah." (Qs. Al-A'raf [7]: 12)
Kedua: Ujian dan cobaan bagi umat manusia, setan adalah musuh utama manusia, sebuah makhluk yang senantiasa menimbulkan perasaan was-was dan ragu dalam diri manusia, menjerumuskan manusia dalam keyakinan-keyakinan yang salah dan senantiasa mengajak manusia untuk melakukan amal dan perbuatan yang fasik dan melalaikan. Setan adalah sumber dari segala waswas, makar, kelicikan, dan tipu muslihat, sedemikian sehingga kebatilan yang tidak memiliki hakikat sedikitpun, akan mereka tampakkan sebagai sebuah kebenaran. Metodologi yang mereka terapkan adalah kelicikan dan tipudaya. Mereka akan menyesatkan manusia dari batinnya dengan cara-cara yang tidak disaksikan oleh manusia.
Karena materialnya yang sangat lembut, setan bisa memasuki batin manusia. Tentu saja hal ini terjadi dengan kehendak manusia itu sendiri, yaitu manusia itu sendirilah yang memberikan peluang kepada setan untuk memasuki relung-relung kalbunya dan jika tidak karena hal itu, dan manusia tidak menghendaki kehadirannya, maka sama sekali tidak akan ada jalan bagi mereka untuk memasuki batin manusia.
Meskipun manusia tidak melihat setan dan ia tersembunyi dari pandangan lahiriah manusia, akan tetapi manusia harus waspada dan senantiasa menjauhkankan diri dari musuh yang nyata seperti ini, sebagaimana yang tersirat dalam salah satu firman-Nya, "Hai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihatmu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (Qs. Al-A'raf [7]: 27).
Dan inilah ujian dan cobaan bagi manusia bagaimana dia diperhadapkan dengan musuh semacam ini. []


[1]. Meskipun kita tidak bisa memahami hikmah dari keberadaan mereka. Dan karena keterbatasan ilmu kita jugalah sehingga kita tidak mampu mengetahui hikmah dari begitu banyak persoalan-persoalan yang ada.
Enhanced by Zemanta
Post a Comment