Wednesday, April 24, 2013

Mengapa kita harus menerima Islam?

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Redaksi kata “i-s-lâ-m” derivatnya dari bab if’âl dan berasal dari kata dasar sa-lâ-m yang bermakna sehat, afiat, bersih dari segala aib, cela dan cacat. Ketika kata dasar sa-lâ-m ini dibawa ke dalam bab if’âl maka ia memiliki makna-makna seperti, inqiyâd (patuh), ithâ’at (taat), imtitsâl (menunaikan) perintah dan (menjauhi) larangan tanpa adanya protes.
Agama Islam merupakan agama paling inklusif dan komprehensif di antara agama-agama Ilahi. Agama ini diturunkan oleh Allah Swt sebagai petunjuk kepada manusia supaya manusia mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan abadi.
Apa yang membuat mengapa kita harus menerima Islam disebabkan oleh beberapa dalil sebagaimana berikut ini:
Pertama: Keharusan mengikuti dan memilih agama hak
Disebutkan bahwa senantiasa hanya terdapat satu agama hak pada setiap masa dan setiap orang harus mengenal agama hak tersebut dengan baik kemudian mengikutinya
Dari sudut pandang al-Qur’an agama yang valid adalah agama Islam dan setiap manusia harus memilih agama tersebut. Al-Qur’an menyatakan, “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imran [3]:85)
Ustad Muthahhari, sembari menegaskan masalah ini, menulis demikian, “...bahwa senantiasa hanya terdapat satu agama hak pada setiap masa dan setiap orang harus mengenal agama hak tersebut dengan baik kemudian mengikutinya. Pemikiran  yang berkembang belakangan ini di kalangan cendikiawan yang menyatakan, seluruh agama samawi dari sudut pandang standar adalah sama (sejajar kebenarannya) pada setiap masa merupakan pemikiran yang tidak benar. Namun ketika dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan dan perdebatan di antara para nabi Allah maka perkataan ini merupakan perkataan benar.  Hanya saja perkataan ini tidak bermakna bahwa pada setiap masa terdapat beberapa agama hak dan tentu saja manusia boleh menerima dan memilih agama apa pun pada setiap masa. Sebaliknya, makna yang benar dari pernyataan ini adalah bahwa manusia harus menerima seluruh nabi dan mengetahui bahwa para nabi sebelumnya (sâbiq) adalah pemberi berita gembira bagi para nabi setelahnya (lâhiq) khususnya nabi pamungkas dan paling utama serta nabi-nabi setelahnya adalah pembenar bagi nabi-nabi sebelumnya.
Oleh itu, keniscayaan iman kepada seluruh nabi adalah bahwa pada setiap masa kita harus menerima dan memilh syariat nabi pada masa tersebut. Dan tentu saja pada masa akhir, kita harus melaksanakan instruksi-instruksi terakhir dari sisi Allah Swt yang diturunkan melalui nabi pamungkas dan demikianlah keniscayaan islam yaitu pasrah kepada Allah Swt dan menerima risalah-risalah para rasulnya.
Benar bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, “la ikraha fiddin” Namun hal ini tidak bermakna bahwa terdapat beberapa dan sejumlah agama Allah Swt pada setiap masa dan kita memiliki hak untuk memilih salah satu darinya. Tidak demikian. Pada setiap masa (hanya) terdapat satu agama hak, titik.
Setiap masa terdapat seorang nabi pemilik syariat datang dari sisi Allah Swt dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memanfaatkan petunjuk-petunjuk dan panduan-panduan darinya. Mereka harus mempelajari aturan-aturan dan hukum-hukumnya baik pada ibadah atau selain ibadah dari nabi tersebut hingga tiba gilirannya Nabi Muhammad Saw sebagai nabi pamungkas Ilahi.
Pada masa ini apabila seseorang ingin menemukan jalan menuju Allah Swt maka ia harus mencari bimbingan terkait dengan instruksi-instruksi agamanya. Al-Qur’an menyatakan, “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imran [3]:85)
Sekiranya orang-orang berkata bahwa yang dimaksud dengan Islam tidaklah terkhusus pada agama kita, melainkan tunduk pasrah kepada Allah Swt maka jawabannya adalah bahwa tentu saja  makna islâm adalah taslim (tunduk) dan agama Islam adalah agama yang tunduk (taslim) namun hakikat taslim memiliki bentuk pada setiap masa dan pada masa ini bentuknya adalah agama mulia yang dibawa oleh Nabi Pamungkas Muhammad Saw.  Tentu saja kata islam dapat diselarasan dengan agama yang dibawa oleh Kanjeng Rasulullah Saw, titik.
Dengan kata lain, keniscayaan tunduk (taslim) di hadapan Allah Swt adalah menerima segala instruksi-Nya dan jelas bahwa manusia harus mengamalkan instruksi terakhir dan instruksi terakhir Allah Swt adalah apa yang dibawa oleh rasul pamungkas-Nya.”
Kedua: Tidak Mencukupinya Agama-agama di Dunia selain Islam
Dalil-dalil Ketidakcukupan Agama-agama Lain Yang Terdapat di dunia hari ini:
Sebelum mengetengahkan dalil tentang ketidakbenaran agama-agama lain di dunia kami merasa perlu menyebutkan dua poin sebagai berikut:
Poin pertama, yang kami maksud bukanlah bahwa seluruh yang terdapat pada agama-agama yang ada itu adalah batil dan tidak secuil pun kebenaran yang dapat dijumpai pada agama-agama tersebut. Tidak demikian. Yang kami maksud adalah bahwa seluruh agama yang ada di dunia dewasa ini memiliki persoalan-persoalan yang tidak dapat diterima dan agama seperti ini tidak dapat menjadi penjelas wajah sempurna hakikat.
Poin kedua, dalam kajian ringkas ini kita akan menyinggung sebagian ketidakbenaran dua agama penting di dunia hari ini yaitu agama Kristen dan Yahudi. Nilai dan konsideran agama-agama lainnya yang nota-bene berada setingkat di bawah dari dua agama ini dari sisi penerimaan dan konsiderannya juga akan menjadi jelas.
Dalil-dalil yang menetapkan bahwa agama Kristen tidak dapat menampilkan wajah sempurna hakikat adalah sebagai berikut:
  1. Riwayat Injil bukanlah riwayat mutawatir dan tidak memiliki sandaran  definitif
Nabi Isa As berasal dari Bani Israel dan bahasa ibunya adalah bahasa Ibrani. Ia mengklaim dirinya sebagai nabi di Baitul Muqaddas dan masyarakatnya adalah masyarakat Yahudi yang berbahasa Ibrani dan tidak beriman kepadanya. Kecuali beberapa gelintir yang kita tidak tahu tentangnya.
Adapun sebagian warga Baitul Muqaddas yang mampu berbahasa Yunani dan tersebar di kota-kota Asia Minor menyeru masyarakat untuk memeluk agama yang dibawa oleh Nabi Isa As. Mereka menulis banyak kitab dalam bahasa Yunani. Dalam kitab tersebut terdapat beberapa hal yang ditujukan kepada masyarakat Yunani dan Romawi:
Isa berkata demikian dan berbuat demikian. Mereka yang melihat Nabi Isa dan menjadi saksi atas segala ucapan dan perbuatannya serta memahami bahasanya adalah mereka yang menetap di Palestina. Mereka adalah orang-orang yang tidak menerima kenabian Nabi Isa dan memandang bahwa kisah-kisah yang ditulis dalam bahasa Yunani tersebut adalah rekaan. Adapun mereka yang menerima kitab (Injil) dan kisah-kisah di dalamnya adalah orang-orang yang jauh yang tidak melihat kota Baitul Muqaddas. Mereka tidak melihat Nabi Isa juga tidak mendengar sabda-sabdanya. Apabila kisah-kisah yang ditulis dalam Injil, sekiranya itu adalah dusta, tiada yang menghalangi penulisnya untuk menuliskan pelbagai dusta di dalamnya, dan pendengar juga tidak dapat mendustainya (lantaran ketidaktahuan mereka).
Misalnya dalam Injil Matius, tatkala Nabi Isa lahir, datang beberapa orang Majusi dari Timur dan bertanya bahwa dimana gerangan pangeran Yahudi yang baru lahir itu? Orang Majusi tersebut mengatakan bahwa kami melihat bintangnya di belahan Timur. Mereka tidak menunjukkannya, tiba-tiba mereka menyaksikan bintang bergerak di langit hingga di atas kediaman Nabi Isa As dan berhenti di atas rumah tersebut. Akhirnya orang-orang Majusi itu tahu bahwa Nabi Isa di rumah itu. Kisah seperti ini tentu saja kisah buatan yang ditulis dalam Injil dan sama sekali tidak mengandung kebenaran, lantaran tidak ditulis dalam bahasa Ibrani bagi orang-orang yang tinggal di Baitul Muqaddas, melainkan ditulis oleh orang-orang asing. Dan tentu saja orang-orang asing dapat menulis apa pun yang mereka hendaki.
Kita meyakini bahwa tiada seorang astronom pun yang berpandangan bahwa apabila ada seorang lahir maka akan terlihat sebuah bintang yang bergerak di atasnya. Hal ini tidak saja tidak diyakini oleh orang Majusi saja tapi juga selain Majusi.
Kita mengatakan bahwa orang-orang terdahulu Kristen berbeda pendapat terkait masalah terbunuhnya Nabi Isa As. Pada sebagian Injil disebutkan bahwa Nabi Isa tidak terbunuh, lantaran apabila ada seseorang terbunuh di sebuah kota maka seluruh warga kota akan mengetahuinya. Khususnya apabila ia disalib. Namun lantaran penulis Injil ditulis untuk orang asing,  ditulis dengan bahasa asing dan orang-orang asing ini tidak berada di Baitul Muqaddas sehingga mereka dapat mengetahui hakikat terbunuhnya atau tidak terbunuhnya Nabi Isa.
Para penulis Injil dengan kebebasan sepenuhnya menulis apa yang menurut mereka pantas dan dalam hal ini mereka tidak takut sama siapa pun. Tiga ratus tahun setelah wafatnya Isa, sebuah pertemuan diadakan dan para pendeta bermusyawarah tentang bagaimana segala perbedaan dalam hal ini diselesaikan. Mereka berpendapat bahwa di antara beberapa Injil yang ada dipilih empat Injil dan memandang hal-hal yang terkandung di dalamnya sebagai benar dan selebihnya, yang tidak terbilang, dipandang salah dan terbunuhnya Nabi Isa dipandang tertolak dalam injil-injil yang lain dan tidak resmi.
  1. Banyaknya kontradiksi dan distorsi dalam Alkitab pada agama Kristen dewasa ini
Untuk telaah lebih jauh kami persilahkan Anda untuk merujuk pada kitab "Rah-e Sa'adat" karya Allamah Sya'rani dan "Izhar al-Haq," karya Fadhil Hindi, serta "Qur'an wa Kitab-haye Asamani Digar," karya Syahid Hasyimi Nejad.
Ketiga: Tidak harmoninya ajaran-ajaran Kristen dengan dasar-dasar logika dan rasionalitas
Misalnya iman Kristian terhadap tuhan anak yang memanifestasi dalam bentuk manusia, mengambil seluruh dosa anak manusia dan menebus seluruh dosa dengan menahan derita salib. Dalam Injil Yohanes disebutkan bahwa: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah menganuriakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia."[5]
Terkait dengan agama Yahudi juga berhadapan dengan masalah yang sama. Lantaran, pertama, Taurat memiliki tiga naskah:
  1. Naskah pertama adalah naskah Ibrani yang diterima oleh penganut Yahudi dan pendeta-pendeta Protestan.
  2. Naskah Samiri yang diterima oleh penganut Samiri (suku lainnya dari Bani Israel).
  3. Naskah Yunani yang diterima oleh pendeta-pendeta Kristen non-Protestan.
Naskah Taurat yang diterima oleh penganut Samiri terdiri dari lima kitab Musa,  kitab Yosua dan Hakim-hakim, kitab lainnya dari Perjanjian Lama tidak diterima.[6]
Durasi waktu dan jarak antara penciptaan Adam hingga topan Nabi Nuh pada naskah pertama adalah 1656 tahun lamanya. Dan pada naskah kedua 1307 sementara pada naskah ketiga 1362 tahun. Karena itu dari tiga naskah ini tidak dapat dipandang benar seluruhnya, melainkan salah satunya yang harus diterima dan tidak diketahui naskah yang mana.[7]
Kedua, dalam Taurat juga terdapat hal-hal yang tidak dapat diterima oleh akal sehat manusia. Misalnya dalam Taurat, Tuhan diperkenalkan dalam bentuk manusia yang berjalan, berkidung, pendusta dan penipu. Karena Tuhan berkata kepada Adam bahwa apabila ia memakan pohon kebaikan dan keburukan maka ia akan mati. Akan tetapi Adam dan Hawa memakan buah pohon tersebut dan tidak hanya mati melainkan keduanya juga mengenal kebaikan dan keburukan.[8] Atau kisah bergulatnya Tuhan dengan Nabi Ya'qub sebagaimana yang disebutkan dalam Taurat.[9]
Keempat: Dalil-dalil kebenaran dan keunggulan Islam
  1. Hidup dan abadinya mukjizat agama Islam; lantaran mukjizat utama agama ini adalah "Al-Qur'an" yang berbentuk kitab, logika dan pengetahuan – berbeda dengan mukjizat nabi-nabi sebelumnya yang berbentuk empirik  dan dapat dilihat – atas alasan ini mukjizat agama Islam senantiasa hidup dan bersandar pada dirinya sendiri serta tidak bergantung kepada hadirnya dan hidupnya Nabi Saw. Atas dasar inilah mukjizat agama Islam senantiasa abadi dan lestari. Di samping itu, al-Qur'an dengan melontarkan tantangan kepada seluruh manusia menyampaikan pesan kehidupan dan keabadiannya: "Dan jika kamu (tetap) meragukan Al-Qur'an yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah (paling tidak) satu surah saja yang semisal dengan Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah (untuk melakukan hal itu), jika kamu orang-orang yang benar. " (Qs. Al-Baqarah [2]:23)
  2. Tidak terdistorsinya al-Qur'an: Artinya tiada perubahan dan pergantian yang terjadi di dalam al-Qur'an.
Karena di samping janji Ilahi bahwa Dia yang akan menjaga al-Qur'an, "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Qs. Al-Hijr [15]:9), pribadi Rasulullah Saw memiliki perhatian khusus untuk memelihara secara seksama al-Qur'an. Pertama: Rasulullah Saw memerintahkan kepada sebagian orang yang dikenal sebagai penulis wahyu untuk menulis ayat-ayat dan surah-surah al-Qur'an. Kedua, memotivasi banyak sahabat untuk menghafal al-Qur'an. Karena itu, banyak orang yang dikenal sebagai penghafal al-Qur'an pada masa Rasulullah Saw. Ketiga, memotivasi orang-orang untuk membaca al-Qur'an: Artinya apa yang harus dibaca secara tepat khususnya lafaz dan tajwidnya, bukan sekedar menelaah dan memahaminya saja.[10] Faktor-faktor ini telah menjadi sebab sehingga al-Qur'an terjaga dari penyimpangan dan distorsi.
  1. Jalan ketiga untuk menetapkan kebenaran Islam adalah perhatian terhadap masalah kepamungkasan (khatamiyat) Nabi Saw. Lantaran nash (ayat dan riwayat) dalam Islam menegaskan bahwa Muhammad Saw merupakan nabi terakhir dan tiada lagi nabi yang akan diutus kepada manusia selepasnya.
Pada seluruh masyarakat manusia aturan praktis terakhir seorang manager dan komandan yang akan menjadi standar dan teraju. Aturan ini bersifat mesti dan harus dikerjakan. Dengan adanya aturan praktis terkini (yang datang belakangan) maka aturan-aturan praktis sebelumnya secara otomatis akan berakhir masa pakainya.
Pada teks-teks agama-agama sebelumnya tidak disebutkan bahwa nabi-nabi mereka merupakan nabi terakhir, melainkan memberikan berita gembira kepada para pengikutnya tentang kemunculan nabi Islam;[11] artinya teks-teks tersebut menjelaskan ihwal temporalnya ajaran mereka.
  1. Poin keempat yang harus menjadi fokus perhatian adalah masalah universalitas dan inklusivisme Islam dimana Islam memiliki ajaran-ajaran pada seluruh dimensi beragam kehidupan, mental, sosial dan personal, material dan spiritual kehidupan manusia. Untuk mengenal lebih baik inklusivisme dan keunggulan ajaran-ajaran agama Islam maka perbandingan dan komparasi harus dilakukan antara kandungan teks agama Islam dan kandungan teks agama-agama lainnya. Dengan demikian, keunggulan dan inklusivisme ajaran-ajaran Islam pada masalah-masalah keyakinan, tauhid dan sifat Allah Swt, etika personal dan sosial, hukum, perekonomian, politik dan pemerintahan akan menjadi jelas.
  2. Poin kelima, di antara agama yang ada di dunia sekarang, satu-satunya agama yang memiliki sejarah hidup dan standar adalah agama Islam dimana para sejarawan bahkan sejarah Islam merekam dengan baik dan rinci hal-hal yang terkait dengan masa kecil Nabi Saw. Sementara agama-agama lainnya tidak memiliki bukti sejarah yang standar. Atas dasar ini, sebagian pemikir Barat meragukan bahkan sosok pribadi Nabi Isa As sedemikian sehingga apabila al-Qur'an kaum Muslimin tidak menyebutkan nama Nabi Isa dan nabi-nabi lainnya, maka boleh jadi agama Kristen dan Yahudi tidak akan dikenal luas dan resmi oleh manusia dewasa ini.[12]
 

[1]. Al-Nukat wa al-‘Uyun (Tafsir Mawardi), jil. 1, hal. 379-380.  
[2]. Majmu’e Âtsâr, jil. 1, hal. 277.  
[3]. Abul Hasan Sya'rani, Râh-e Sa'âdat, hal. 187-188, 197-221.
[4]. Ibid.
[5].  Injil Yohanes 3:16-17
[6]. Râh-e Sa'adat, 206-207.
[7]. Taurat, Kejadian, bab 2 dan 3.
[8]. Ibid.
[9]. Râh-e Sa'âdat, hal. 22, 24, 25, 215.
[10]. Shahih BUkhari, jil. 4, hal. 250.
[11]. Râh-e Sa'âdat, hal. 226-241; Injil Yohanes 21:14.
[12]. Majmu'e Atsar, jil. 16, hal. 44.

Enhanced by Zemanta
Post a Comment