Friday, April 12, 2013

Menjalin hubungan dengan Tuhan tanpa perantara

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Tawassul secara leksikal bermakna mendekat kepada sesuatu melalui sebuah perantara (wasilah) dan media praktis.[1] Wasilah adalah perantara yang dengannya manusia dapat mengantarkan dirinya sampai pada sesuatu yang diinginkan.[2]
Ber-tawassul (berperantara) kepada para wali Allah dan para imam maksum As yang merupakan para manusia sempurna, merupakan sebuah perkara yang pasti sebagaimana hal ini disebutkan pada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis. Al-Qur’an dalam hal ini menyatakan, “Dan kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika ketika mereka menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Nisa [4]:64)[3] Pada ayat lainnya, Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Qs. Al-Maidah [5]:35)[4]
Pada riwayat-riwayat lainnya yang dinukil dari para imam maksum disebutkan bahwa mereka memperkenalkan dirinya sebagai wasilah (media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt).[5]
Dengan demikian, peran tawassul di dunia ini sebagaimana peran syafâ’at pada hari Kiamat nanti yang tidak dapat diingkari. Dengan media tawassul manusia dapat mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan memohon segala hajat material dan maknawi kepada-Nya.
Allah Swt berfirman, “Wabtaghu ilaihi al-wasilah.” Artinya bahwa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan kita diperintahkan untuk mencari media dan perantara. Pada sebagian doa yang diriwayatkan dari para imam maksum, sifat-sifat Tuhan atau dzat-Nya diperkenalkan sebagai media dan wasilah untuk sampai kepada Allah Swt. Seperti doa hari Mubahalah yang menandaskan, “Tuhanku! Aku bermohon kepada-Mu dengan segala keagungan-Mu (jalâliyah). Tuhanku! Aku bermohon kepada-Mu dengan segala keindahan jamal-Mu (jamâliyah)….”[6]
Dari sisi lain, di dalam Al-Qur’an disebutkan: Dan Tuhan-mu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. Ghafir [40]:60)1 dan Dia lebih dekat kepada manusia dari urat nadinya sendiri. “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya.” (Qs. Qaf [50]:16) Dan Dia mengetahui segala sisi yang terkandung dalam hati kita, “Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami nampakkan.” (Qs. Ibrahim [14]:38)
Pada munajat Muthi’în (orang-orang yang taat) dari munajat Khamsa ‘Asyar disebutkan: “Tuhanku! Kami tidak memiliki wasilah di hadapan-Mu kecuali dengan perantara-Mu.”[7]
Para imam sendiri melakukan hal ini dalam doa dan munajat mereka; artinya mereka bercengkerama tanpa perantara dengan Tuhan dan dengan memerintahkan untuk berdoa seperti ini mereka mengajarkan kepada kita cara-cara berdoa. Imam Husain As pada hari Arafah berdoa sedemikian dimana beliau secara langsung menjadikan Tuhan sebagai obyek wicaranya.[8] Siapa saja yang membaca doa ini, maka ia akan mendapatkan imej dan perasaan bahwa ia secara langsung bercengkerama dengan Tuhan.
Dari apa yang dijelaskan dapat disimpulkan bahwa tawassul kepada Tuhan, dapat dilakukan melalui dua jalan. Ber-tawassul kepada para imam maksum As tidak berseberangan dengan berdoa secara langsung (tanpa perantara) kepada Tuhan. Manusia dapat menggunakan dua cara ini untuk dapat sampai pada tujuannya (terkabulkannya doa).
Tawassul kepada para imam, tidak bermakna bahwa manusia sekali-kali tidak dapat bercengkerama dengan Tuhan dan tidak menjadikan-Nya sebagai obyek wicara secara langsung. Melainkan bertutur kata dengan Tuhan dapat dilakukan tanpa perantara pada setiap masa dan setiap tempat.[9]
Namun harus diperhatikan dan dipahami bahwa menggunakan metode ini pada beberapa tingkatan tertentu lebih mudah dan dapat menyampaikan manusia kepada tujuannya dengan cepat.[10]
Apakah seorang hamba dengan melihat seluruh amal dan perbuatannya di hadapan Tuhan tidak merasa malu sehingga ia tidak memberikan izin kepada dirinya untuk memohon langsung kepada Tuhan? Sehingga karena adanya perasaan malu untuk menjelaskan segala hajat dan keperluannya, maka ia berperantara kepada orang-orang (para wali Allah) yang memiliki nilai dan kedekatan kepada Tuhan. Melalui metode ini ia dapat mengemukakan seluruh hajat dan keperluannya. Dengan mengetahui jalan seperti ini, tidakkah ia akan memilih sebaik-baik jalan untuk dapat berhubungan intim dengan Tuhan?
Atas dasar inilah pada doa tawassul, setelah menyebut nama-nama para imam maksum As dan ber-tawassul kepada mereka, kita menyampaikan hajat-hajat duniawi dan ukhrawi kita. Dan menjadikan pribadi-pribadi suci ini sebagai perantara dan media untuk taqarrub kepada Tuhan dan memenuhi segala hajat kita.


[1]. Jauhari, Shihâh al-Lugha, klausul, wa-sa-la 
[2]. Terjemahan Persia tafsir, Al-Mizân, jil. 5, hal. 535.
[3]. “Wa ma arsalna min rasulin illa liyutha’ biidzniLlah walau annahum idz zhalamu anfusahum jaauka fastaghfaruLlah wastaghfara lahum al-rasul lawajuduLlah tawwaban rahima.”
[4]. “Ya ayyuhalladzina amanuttaqulLah wabtaghu ilaihi al-wasilah wa jahidu fi sabilihi la’allakum tuflihun.”  
[5].  Terjemahan Persia tafsir Al-Mizân, jil. 5, hal. 545.
[6]. Mafâtih al-Jinân, doa pada hari Mubâhalah, hal. 467.  
[7]. Mafâtih al-Jinân, doa Khamsata ‘Asyar, hal. 205.  
[8]. Mafâtih al-Jinân, doa Imam Husain As pada hari Arafah.  
[9]. Doa-doa yang dinukil dari para imam As menunjukkan kepada kita jalan terbaik untuk bercakap-cakap dengan Tuhan dan berdoa kepada Tuhan. Tapi hal ini tidak bermakna bahwa inilah satu-satunya jalan manusia dapat bercengkerama dengan Tuhan.
[10]. Hal ini karena Ahlulbait memiliki nilai di hadapan Tuhan dan merupakan para kekasih Allah. Ber-tawassul kepada para imam bermakna ungkapan cinta kepada mereka. Dalam ziarah Asyura disebutkan, “Aku mendekat kepada Allah Swt dengan perantara kecintaan kepadamu” Suatu hal yang wajar jika manusia memiliki kecintaan kepada seseorang yang menjadi kekasih Tuhan ia memilih melalui jalan kecintaan ini ia mendekat kepada Tuhan. Di samping itu, menjadikan orang-orang suci ini sebagai perantara  peluang terkabulkannya doa semakin lebar.
[11]. Mafâtih al-Jinân, Doa tawassul yang lain, hal. 184.
Post a Comment