Wednesday, April 10, 2013

Hubungan antara kehendak Ilahi dan keinginan manusia

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


Keinginan manusia berada pada lintasan vertikal kehendak Ilahi. Dengan demikian keinginan manusia bergantung kepada kehendak Tuhan dan tidak dapat mandiri dan tak-membutuhkan Tuhan. Sebagaimana terdapat banyak ayat yang menandaskan hal ini. Misalnya, "Dan kamu tidak dapat berhendak kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam. (Qs. Al-Takwir [81]:29) "Dan kamu tidak mampu untuk berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah." (Qs. Al-Insan [76]:30)
Tentu saja perkara ini, sekali-kali tidak bertentangan dengan kebebasan dan pilihan manusia serta tanggung jawab yang diembannya di hadapan pelbagai pikiran, niat dan seluruh perbuatannya. Karena manusialah yang berperan sebagai pelaku langsung niat, pilihan dan perbuatannya, dengan memanfaatkan kekuatan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Oleh karena itu, dalam banyak ayat lainnya, disebutkan bahwa perbuatan-perbuatan para pelaku naturalnya adalah manusia. Perbuatan-perbuatan tersebut disandarkan kepada manusia dan memandangnya sebagai yang bertanggung jawab atas perbuatan tersebut. Sebagai hasilnya, ayat tersebut menentukan taklif baginya dan memberikan janji dan ancaman kepadanya. Misalnya dalam salah satu ayat disebutkan, " Dan bahwa seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (Qs. Al-Najm [53]:29) Atau pada ayat lainnnya, "Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hamba-(Nya)." (Qs. Al-Fusshilat [41]:46)
Dan sekiranya manusia mandiri secara mutlak, maka hal ini bertolak belakang dengan tauhid perbuatan dan kebutuhan seluruh maujud kepada Tuhan. Dan apabila manusia terpaksa dan segalanya disandarkan kepada Tuhan dan manusia dalam hal ini tidak melakukan apa pun, maka hal ini berseberangan dengan perintah, larangan, janji, ancaman, keadilan dan hikmah Ilahi. Oleh karena itu, ayat-ayat al-Qur'an harus dikumpulkan dan sebagian dijadikan sebagai penafsir ayat lainnya sehingga kita tidak terpeselet dalam kubangan determinisme atau freewill mutlak.
Untuk menjelaskan masalah ini, kiranya kita perlu memperhatikan dua poin berikut ini:
A.      Klasifikasi berkumpulnya pelbagai sebab atas akibat tunggal
Berkumpulnya pelbagai sebab atas satu akibat dapat diasumsikan dalam beberapa sisi. Dalam ditemukannya satu fenomena boleh jadi hanya memiliki satu sebab; seperti Allah Swt menciptakan fenomena secara langsung tanpa pengaruh dan keikutsertaan atau kebutuhan kepada mumkin (baca makhluk), atau ketergantungan pelbagai fantasi manusia kepada nafs-nya. Demikian juga boleh jadi munculnya fenomena, terdapat beberapa sebab yang beragam. Asumsi ini dapat digambarkan sebagai berikut:
1.       Sebab-sebab dalam bentuk "keikutsertaan" termasuk di dalamnya, dimana dalam terminologinya, satu per satu dari sebab itu disebut sebagai "sebab tak lengkap" (illat naqidh) dan secara keseluruhan dari sebab tersebut disebut sebagai sebab lengkap (illat tam). Misalnya pengaruh air, cahaya, panas, biji, tanah dan petani dan sebagainya dalam tumbuhnya sebuah tanaman. Dalam asumsi ini bersatunya sebab-sebab tersebut bukan saja tidak mungkin tapi keseluruhan sebab-sebab itu dan keikutsertaannya merupakan syarat yang harus ada bagi kemunculan akibatnya.
2.       Dalam bentuk alternatif dan bertukar-tempatnya memiliki peran dan pengaruh. Misalnya berpengaruhnya mesin pesawat dalam gerakan berkesinambungannya hingga sampai kepada tujuan, sedemikian sehingga dengan habisnya kekuatan satu mesin dan matinya mesin tersebut, mesin lainnya menggantikan tempatnya bekerja dan dengan transformasi energinya, berproses gerakan tanpa henti pesawat hingga mencapai tujuan.
Dalam asumsi ini juga kerja sama dan bergabungnya seluruh sebab, bukan saja tidak dapat dihindari, yang diperlukan untuk bertahannya sebab, namun dalam asumsi ini, tidak ada satu pun ketergantungan tertentu antara sebab-sebab yang ada. (berbeda dengan asumsi ketiga).
3.       Sebab-sebab, dalam memberikan pengaruh masing-masing bergantung satu dengan yang lain, namun dalam keberadaan dan kemunculannya tidak berurutan satu dengan yang lain. Misalnya pengaruh kehendak, niat, gerakan tangan dan sebagainya dalam munculnya sebuah tulisan atau kepatuhan para serdadu kepada komandannya yang memiliki pengaruh.
Dalam asumsi ini, keikusertaan sebab-sebab antara satu dengan yang lain dan ketergantungan pengaruhnya atas yang lain, terjadi tanpa dapat dihindari.
4.       Pengaruh dua himpunan sebab-sebab, yang dalam terminologinya disebut sebagai berkumpulnya "dua sebab lengkap" atas akibat tunggal dari satu sisi dan dimensi. Misalnya seluruh tulisan khusus atas satu bagian tertentu kertas yang dilakukan oleh dua penulis, ditulis pada saat yang sama, atau satu tanaman tertentu yang tumbuh pada saat yang sama dari kumpulan sebab-sebab (tanah, petani, biji, air dan sebagainya).
Dalam asumsi ini, "tamânu''" akan muncul dan jelas hal ini merupakan suatu yang mustahil. Karena perbuatan masing-masing sebab itu, tidak menjadi penghalang perbuatan lainnya. Oleh karena itu, sebab lain apakah ia sama sekali tidak berpengaruh, maka berbeda dengan asumsi asli yaitu bersatunya dua sebab mandiri, atau keduanya penggangu perbuatan lainnya, dan sama sekali tidak terdapat perbuatan dan tidak akan timbul sebuah fenomena sehingga bersatu dengan munculnya sebuah perbuatan. Dengan demikian, karena asumsi ini, merupakan asumsi-asumsi yang mustahil secara esensial, maka asumsi seperti sekali-kali tidak memiliki instanta luaran (mishdâq).
5.       Pengaruh beberapa kumpulan sebab secara vertikal atas satu sebab, sedemikian sehingga dalam munculnya dan asli wujud juga masing-masing berlaku dan bergantung atas satu dengan yang lain. Misalnya pengaruh kakek-kakek dan nenek-nenek, ibu dan ayah bagi kelahiran seorang anak.
Dengan memperhatikan poin-poin di atas, harus ditentukan bahwa berkumpulnya sebab-sebab ('ilal) dan kepelakuan (fa'iliyyah) dan kehendak Ilahi dengan sebab, pelaku seluruh maujud, di antaranya sebab-akibat, kepelakuan dan kehendak manusia, termasuk dalam bagian yang mana? Apabila berkumpulnya sebab-sebab ini diasumsikan sesuai dengan poin pertama, kedua dan ketiga, dan dimaknai kemandirian eksitensial manusia dan maujud-maujud lainnya dari Tuhan, tentu hal ini berseberangan dengan tauhid perbuatan dan dengan telaah lebih jeluk hal ini tidak dapat diterima. Asumsi keempat juga tidak dapat diterima. Karena hal-hal yang disebutkan tidak memiliki instanta luaran (mishdaq) dan tergolong sebagai mustahil secara esensial (muhâl dzatiyyah). Dan mereka yang memandang mustahil berkumpulnya keinginan manusia dan kehendak Tuhan pada satu perkara, memandangnya dari bagian ini. Sementara manusia dengan memutus kebergantungannya kepada Tuhan sekali-kali tidak akan mewujud sehingga memiliki kepelakuan lengkap (failiyyah tam) dan menjadi sebab sempurna (illah tam) yang mensejajarkannya dengan Tuhan sehingga dari sisi ini bersatunya kedua kehendak (manusia dan Tuhan) atas akibat tunggal adalah suatu hal yang mustahil!
Sebagai kesimpulannya, satu-satunya asumsi yang tersisa yaitu kehendak manusia berada secara vertikal kehendak Tuhan. Dan kepelakuannya berada dalam lintasan kepelakuan Tuhan secara vertikal.[1] Untuk menjelaskan masalah ini bahwa berkumpulnya dua kehendak ini terjadi secara vertikal sama sekali tidak berseberangan dengan kebebasan dan kehendak manusia, maka kita harus memperhatikan bagian-bagian kehendak Ilahi.


B.      Sisi-sisi ungkapan dan penyebutan kehendak Ilahi[2] (Pelajaran 11)
Kehendak Ilahi secara umum dapat ditinjau dengan dua ungkapan. Kehendak esensial (iradah dzati) dan kehendak perbuatan (iradah fi'iliyah). Kehendak perbuatan terbagi menjadi dua, kehendak takwini dan kehendak tasyri'i.
1.      Kehendak esensial (iradah dzatiyah):
Kehendak esensial merupakan kehendak yang tanpa memandang makhluk dan hubungan Tuhan dengannya disandarkan kepada Tuhan dan sifat dzat-Nya. Keniscayaan kemandirian, tidak tertaklukannya Tuhan di hadapan yang lain, dan tiadanya kebutuhan dzat Ilahi kepada makhluk-makhluk yang lain.
Dalam tinjauan ini, manusia dan hubungannya dengan Tuhan tidak termasuk sehingga berkumpulnya atau bersatunya kehendak Tuhan dan manusia dapat digambarkan.
2.      Kehendak fi'liyah
a.    Kehendak fi'liyah Takwiniyah:
Kehendak Ilahiah mengkristal pada masalah qadha dan qadhar aini-Nya,[3] yang berkmakna seluruh mekanisme yang berlaku di alam semesta terkait bagaimana kemunculan dan operasionalnya, hingga pada akhirnya terlaksanakan secara definitif, dan mengejewantah pada penciptaan seluruh makhluk dengan pelbagai corak pada tingkatan yang beragam.
Pada semesta keberadaan, kehendak Ilahi berkuasa atas seluruh maujud termasuk manusia. Dan tiada satu pun maujud yang memiliki kehendak dan kebebasan untuk menolak kekuasaan ini. Sebagaimana Allah Swt berfirman: "Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datang (dan berbentuklah) kamu dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang (dan berbentuk) dengan suka hati.” (Qs. Fusshilat [41]:11) Dan juga firman-Nya, "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba." (Qs. Maryam [19]:29)
Berdasarkan pada kehendak fi'liyah takwini Ilahiah manusia adalah maujud yang dicipta dengan kebebasan dan kehendak. Manusia dalam hal ini tidak dapat menafikan kebebasan dan kehendak yang dibenamkan pada dirinya. Suka tidak suka ia harus berkehendak dan bebas, ia harus memilih jalannya sendiri dan dengan pilihannya itu ia merenda harinya dan melukis nasibnya. Sebagaimana manusia tidak bebas memilih kedua orang tuanya atau bagaimana postur tubuhnya.




B.      Kehendak fi'liyah tasyri'iyyah Ilahi:
Kehendak ini adalah penetapan hukum oleh Tuhan bagi manusia yang bebas dan berkehendak. Sejatinya tasyri' dan penetapan hukum bagi manusia tiada satu pun makhluk yang bersekutu dengan Tuhan. Dan tiada yang membantu-Nya untuk mengganti dan mengubahnya hingga disampaikan kepada manusia.
Oleh karena itu, para malaikat, nabi dan washi (baca: imam) bertugas untuk menyampaikan kehendak tersebut kepada manusia. Kehendak tasyri'iyya Ilahi ini dipersembahkan kepada manusia tanpa ada kekurangan dan kelebihan. Dan pada kerangka yang diberikan Tuhan kepada para nabi dan imam, mereka menafsirkan dan menerangkannya kepada manusia. Namun pada tataran operasional kehendak ini, manusia dapat memilih untuk mentaatinya atau menentangnya. Dengan demikian, manusia dapat menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Ilahi dan ridha dengan kehendak takwini dan tasyri'i Ilahi, sehingga dengan memilih mentaati kehendak Ilahiah ini, manusia dapat mengukir kebahagiaan pamungkas dan layak untuk meraup kesejahteraan dan kehidupan ukhrawi yang menyenangkan. Sehingga sedemikian kehendak mereka dipenuhi dengan cepat oleh Allah Swt. "Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar." (Qs. Syura [42]:22)[4]
Dan lantaran mereka lebih memilih keridhaan Tuhan atas keridhaanya sendiri, Allah Swt pun ridha kepada mereka sehingga sedemikian Dia memberikan segala yang dikehendaki di surga dan hari Kiamat sehingga mereka juga ridha kepada diri dan perbuatan serta Tuhan mereka. Sebagaimana dalam firman Allah Swt, "Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya." (Qs. Al-Bayyinah [98]:8)[5]
Dengan demikian manusia dengan pilihan dan kebebasannya sendiri dapat memilih untuk sejalan dengan kehendak Tuhan dan ridha kepada keridhaan takwini dan tasyri'i Ilahi. Tidak berkehendak dan menuntut selain dari yang dikehendaki dan diterima Tuhan baginya.[6]
Oleh karena itu, kehendak takwini dan tasyri'i Ilahi sejalan dengan kehendak manusia. Kehendak manusia ini dan kekuasaannya sesuai dengan kehendak takwini Ilahi yang dianugerahkan kepadanya. Keberadaan dan kehendaknya berada dalam lintasan vertikal keberadaan Allah Swt. Dan bersatunya dua kehendak ini sama sekali tidak bermasalah dan bukan merupakan suatu hal yang mustahil. Karena berkumpulnya dua kehendak ini bukan berkumpulnya dua sebab lengkap (illat tam) atas satu akibat dan juga bukan menafikan kebebasan manusia, melainkan karena Tuhan memberikan izin berkehendak dan pilihan manusia memilih jalannya sendiri yang juga sejalan dan selaras dengan kehendak Ilahi.
Apabila manusia bermaksiat dan menyelisih kehendak tasyri'i Ilahi serta melakukan perbuatan yang mengundang murka Tuhan, kembali dengan pilihan dan kebebasannya ia mengambil jalan ini sehingga akibat buruk yang akan menantinya. Namun penentangan manusia ini tetap tidak keluar dari kehendak takwini Ilahi. Karena Allah Swt dengan kehendak takwini-Nya menciptakan manusia sebagai makhluk yang bebas dan mampu membangkang dari kehendak tasyri'i Ilahi yang diberikan kepadanya.
Berangkat dari sini, pelanggaran manusia ini tidak bermakna dominasi kehendak manusia atas kehendak Ilahi atau terkalahkannya kehendak Ilahi. Lantaran kapan saja Allah menghendaki, Dia dapat mencabut kemampuan dan kehendak ini dari manusia pendosa dan atas alasan ini Allah Swt berfirman: "Apakah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan mengalahkan (kekuatan) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu." (Qs. Al-Ankabut [29]:4)[7]

Kesimpulan yang dapat dipetik ihwal kehendak takwini dan tasyri'i ini adalah bahwa manusia tidak memiliki kehendak dari dirinya sendiri sehingga masalah bersatunya dua kehendak dapat mengemuka. Dalam pelaksanaan kehendak tasyri'i, kehendak manusia, secara takwini, berada secara vertikal pada lintasan kehendak Ilahi. Apabila ia menuruti kehendak Ilahi, dengan pilihannya sendiri, maka kehendaknya akan selaras dengan kehendak Ilahi dan ridha kepada kehendak takwini Ilahi. Dan dengan pilihan baik ini, pada akhirnya manusia akan meraup kebahagiaan hakiki.  Namun apabila manusia memilih untuk bermaksiat yaitu tidak menjadikan kehendak Ilahi menjadi kehendaknya, maka akibat yang akan ia peroleh tidak lain kecuali kerugian dan malapetaka serta tidak akan secuil pun menciderai Tuhan dan penciptaan. Karena Allah Swt sesuai dengan kehendak takwini-Nya, memberikan kemampuan (kebebasan) untuk berkehendak membangkang  atau bermaksiat kepada kehendak tasyri'i Ilahi. Akan tetapi manusia dengan pilihan buruknya, tidak mengindahkan peringatan-peringatan dan menjadikan dirinya sebagai sasaran kemurkaan Tuhan, kendati ia berpikir dengan congkak bahwa maksiat ini mengalahkan kehendak Ilahi dan lebih dominan atas kekuasaan-Nya namun sejatinya tidaklah demikian. Karena manusia sekali-kali (bahkan ketika bermaksiat) tidak dapat keluar dari wilayah kekuasaan, pemerintahan, kehendak Tuhan dan tidak membutuhkan Tuhan!
Di sini Allah Swt berfirman, "Di mana saja kamu berada, kematian akan mengejarkamu, kendati pun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka (kaum munafikin) memperoleh kebaikan (dan kemenangan), mereka mengatakan, “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa suatu bencana (dan kekalahan), mereka mengatakan, “Hal ini berasal dari dirimu (Muhammad).” Katakanlah, “Semuanya (berasal) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang (munafik) itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? Setiap nikmat yang kamu peroleh, maka hal itu berasal dari Allah, dan setiap bencana yang menimpamu, maka semua itu berasal dari (kesalahan) dirimu sendiri." (Qs. Al-Nisa [4]:78-79)
Tentu saja kita akui bahwa gambaran permasalahan hubungan kebebasan manusia dan kehendak Ilahi dan sistem semesta keberadaan yang bersifat tetap  merupakan gambaran permasalahan yang cukup pelik. Oleh karena itu, mereka yang membelakangi wahyu dan maktab Ahlulbait As, maka mereka terjerumus dalam kubangan tafrith (ekstrem) yang memandang bahwa segalanya diserahkan kepada manusia sebagaimana Mu'tazilah sehingga mereka disebut sebagai mufawwidha (delegasi total Tuhan kepada manusia) Atau terpuruk dalam lumpur ifrath yang meyakini bahwa manusia tidak melakukan sesuatu apa pun dan terpaksa tanpa kehendak dan hak untuk memilih sebagaimana Asya'irah. Namun yang sebenarnya dan merupakan jalan lurus adalah amr bain al-amrain (perkara di antara dua perkara, in between). Tidak jabr (Asya'irah) juga tidak tafwidh (Mu'tazilah), melainkan kehendak takwini Ilahi dan kehendak fi'liyah (perbuatan) manusia yang bersatu secara vertikal. Apabila manusia mentaati kehendak tasyri'i Ilahi maka kehendak itu disejalankan dengan kehendaknya. Dan apabila manusia bermaksiat, kehendak dan perbuatannya itu menjadi sasaran kemurkaan Tuhan. Namun hal ini tidak bermakna bahwa ia keluar dari pemerintahan dan kekuasaan Ilahi atau menangnya kehendaknya atas kehendak Ilahi, melainkan hanya bermakna keluarnya manusia dari rahmat Ilahi yang merupakan hasil dari pilihan bururuk dan kebebasan serta kehendaknya.

Untuk telaah lebih jauh:
Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Âmuzesh Aqâ'id (Iman Semesta)
Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Ma'arif Qur'an jil. 1-3, Muassasah-ye Dar Rah-e Haq, cap-e duwwum, 1367, hal. 33-147, 195-212, 293-374


[1]. Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Amuzesy-e Aqaid, pelajaran 19. Anda dapat merujuk terjemahan buku ini dalam bahasa Indonesia, Iman Semesta terbitan Al-Huda Jakarta.
[2]. Ibid, pelajaran 11  
[3] . Ibid.
[4]. Atau pada surah lainnya, "Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan di sisi Kami ada tambahan (rezeki lain yang belum pernah terpikirkan oleh siapa pun)." (Qs. Qaf [50]:35) "(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuki, di bawahnya mengalir sungai-sungai, di dalam surga itu mereka memperoleh segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa." (Qs. Al-Nahl [16]:31) "Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik." (Qs. Al-Zumar [39]:34) "Di dalam surga itu mereka mendapatkan apa yang mereka kehendaki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji pasti yang telah diberikan oleh Tuhanmu." (Qs. Al-Furqan [25]:16)
[5]. Atau pada surah lainnya, "Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida terhadap-Nya." (Qs. Al-Mujadalah [58]:22), "Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (Qs. Al-Taubah [9]:100), "Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (Qs. Al-Maidah [5]:119)
[6]. "Dan kamu tidak dapat berhendak kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam." (Qs. Al-Takwir [81]:29), "Dan kamu tidak mampu untuk berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah." (Qs. Al-Insan [76]:30)
[7]. Atau pada ayat, "Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri (dari kekuasaan Ilahi)." (Qs. Zumar [58]:51)
Enhanced by Zemanta
Post a Comment