Thursday, April 4, 2013

Burhan (tanda) Ilahi yang menjaga Nabi Yusuf dari perbuatan dosa

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Burhânpada dasarnya derivasinya adalah “burha” yang bermakna memutih.[1] Segala jenis dalil kokoh dan kuat yang menyebabkan terang dan mendatangkan keyakinan disebut sebagai burhân. Atas dasar itu, al-Qur’an pada ayat lain menyebut mukjizat[2] dan bukti kebenaran[3] (hujjah qath’i) sebagai burhân.
Adapun burhân yang disaksikan oleh Nabi Yusuf dari sisi Tuhan meski tidak begitu jelas pada firman Allah Swt terkait dengan apakah burhân itu namun ia merupakan salah satu media yang mendatangkan keyakinan. Para penafsir menyodorkan beberapa kemungkinan terkait dengan hakikat dan bagaimana proses terjadinya sebagaimana berikut:
1.     Burhân yang disebutkan tidak bersumber dari sejenis pengetahuan yang diketahui secara umum oleh manusia; artinya bukan merupakan pengetahuan terhadap kebaikan (husn) dan keburukan (qubh), kemaslahatan dan kejelekan pelbagai perbuatan, melainkan bersumber dari burhân yang ditunjukkan Tuhan kepada para hambanya yang tulus. Burhân tersebut adalah sejenis ilmu yang tersingkap dan keyakinan yang disaksikan dan dilihat, dimana jiwa manusia dengan melihatnya, sedemikian patuh dan taat sehingga ia tidak lagi memiliki kecendrungan untuk berbuat maksiat dan dosa.[4]
2.     Burhân Ilahi adalah derajat kenabian dan kemaksuman dari dosa yang dimiliki oleh Nabi Yusuf As. Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang dinukil dari Imam Shadiq As yang bersabda, “Burhân Ilahi adalah keindahan kenabian dan cahaya ilmu serta hikmah yang dianugerahkan Tuhan ke dalam dirinya, sebagaimana Allah Swt berfirman, “Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Yusuf [12]:22)[5]
3.     Burhân ini adalah sejenis pertolongan dan bantuan Ilahi yang datang kepadanya pada saat-saat kritis seperti ini lantaran amalan-amalan baik yang telah dikerjakannya.[6]
4.     Dari sebuah riwayat dapat disimpulkan[7] bahwa di tempat itu terdapat sebuah berhala yang merupakan sembahan suami Zulaikha. Tiba-tiba mata wanita itu jatuh kepada berhala, seolah-olah merasa bahwa berhala tersebut melihat kepadanya dan menyaksikan pengkhianatan Zulaikha. Zulaikah bertindak dan melemparkan selembar kain ke atas patung berhala. Menyaksikan pemandangan ini, hati Yusuf berdegup kencang dan berkata (kepada Zulaikha), “Engkau merasa malu kepada sebuah patung tanpa akal dan pikiran. Tanpa rasa dan tidak mampu mengidentifikasi. Bagaimana mungkin saya tidak merasa malu kepada Tuhanku yang mengetahui segala sesuatu dan memiliki kabar terhadap segala yang tersembunyi?”
Perasaan ini memberikan kekuatan dan energi baru kepada Yusuf dan menolongnya dalam melancarkan perlawanan sengit yang berkecamuk dalam dirinya antara insting dan akalnya sehingga dapat memukul mundur gelombang insting yang memberontak.[8]
5.     Burhân yang disebutkan adalah hujjah dan sebuah dalil yang ditentukan Tuhan bagi pezina dan informasi tentang azab serta hukuman yang setimpal dan layak bagi pelaku zina.[9]

Namun perlu disebutkan bahwa sebagian penafsir juga menukil beberapa riwayat tanpa bukti (sanad) yang menyatakan bahwa Yusuf memutuskan untuk berbuat dosa (memenuhi permintaan Zulaikha) yang tiba-tiba dalam sebuah kondisi mukasyâfah ia menyaksikan Jibril atau Yakub yang menggigit jarinya sehingga membuat Yusuf menyurutkan niatnya.
Riwayat-riwayat semacam ini tidak memiliki sanad standar dan tergolong sebagai riwayat-riwayat israiliyyat. Riwayat-riwayat ini adalah rekaan pikiran manusia yang kerdil pemikirannya yang sama sekali tidak mengenal derajat dan kedudukan para nabi[10] atau buah pikiran manusia yang memiliki permusuhan dan penentangan yang tidak pernah ingin mengetahui derajat dan kedudukan para nabi.


[1]. Tafsir Nemune, Nashir Makarim Syirazi, jil. 9, hal. 373, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1374 S.  
[2]. “Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan. Kedua hal itu adalah dua mukjizat dari Tuhan-mu (yang akan kamu bawa untuk menghadapi) Fira‘un dan pembesar-pembesarnya.” (Qs. Al-Qashash [28]:32)
[3]. “Katakanlah, “Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.”(Qs. Al-Naml [27]:64) 
[4]. Al-Mizân fi Tafsir al-Qur’ân, Muhammad Husain Thabathabai, terjemahan Sayid Muhammad Baqir Musawi Hamadani, jil. 11, hal. 174, Daftar-e Intisyarat-e Islami Jame’e Mudarrisin Hauzah ‘Ilmiyah Qum, 1374 S.  
[5]. Kasyf al-Asrâr wa ‘Iddat al-Abrâr, Rasyid al-Din Maibadi , jil. 5, hal. 58, Intisyarat Amir Kabir, Cetakan Kelima, Teheran, 1371 S.
[6]. Tafsir Nemune, Nashir Makarim Syirazi, jil. 9, hal. 373.  
[7]. ‘Uyûn Akhbâr al-Ridhâ, Syaikh Shaduq, jil. 2, hal. 45, Intisyarat-e Jahan, 1378 S.
 [8]. Tafsir Nemune, Nashir Makarim Syirazi, jil. 9, hal. 373.   
[9]. Majma’ al-Bayân fi Tafsir al-Qur’ân, Fadhl bin Hasan Thabarsi, jil. 12, hal. 197, Intisyarat-e Farahani, Teheran, 1360 S.  
[10]. Tafsir Nemune, Nashir Makarim Syirazi, jil. 9, hal. 374.
Enhanced by Zemanta
Post a Comment