Thursday, February 28, 2013

GAMBARAN MAKRIFAT

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Berbagai pilihan AMAL ADALAH KARENA BERBAGAI-BAGAI AHWAL (HAL-HAL)
Ini dalam membicarakan tentang makrifat tentang gambaran makrifat tetapi tidak dikatakan makrifat dan tidak diuraikan secara terus terang sebaliknya dikatakan sebagai ahwal. Ahwal adalah jamak untuk kata hal. Hikmat ini membawa arti hal membentuk keadaan amal. Amal adalah perbuatan atau perilaku lahiriah dan hal adalah suasana atau perilaku hati. Amal terkait dengan "lahiriah" manakala hal terkait dengan "batiniah." Karena hati menguasai sekalian anggota maka kelakuan hati yaitu hal menentukan bentuk amal yaitu perbuatan lahiriah.
Dalam pandangan tasawuf, hal diartikan sebagai pengalaman rohani dalam proses mencapai hakikat dan makrifat. Hal merupakan zauk atau rasa yang berkaitan dengan hakikat ketuhanan yang melahirkan makrifatullah (pengenalan tentang Allah). Karena itu, tanpa hal tidak ada hakikat dan tidak diperoleh makrifat. Ahli ilmu membangun makrifat melalui dalil ilmiah tetapi ahli tasauf bermakrifat melalui pengalaman lansung tentang hakikat.
Sebelum memperoleh pengalaman hakikat, ahli spiritual terlebih dahulu memperoleh kasyaf yaitu terbuka kegaiban kepadanya. Ada orang mencari kasyaf yang dapat melihat makhluk gaib seperti jin. Dalam proses mencapai hakikat ketuhanan kasyaf yang demikian tidak penting. Kasyaf yang penting adalah yang dapat mengenali tipu daya setan yang bersembunyi dalam berbagai bentuk dan suasana dunia ini. Kasyaf yang mengakui sesuatu, walau apa rupa yang dihadapi, penting bagi pengembara kerohanian. Rasulullah saw sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibril as dalam rupanya yang asli dua kali saja, meskipun pada setiap kali Jibril as menemui Rasulullah saw dengan rupa yang berbeda, Rasulullah saw tetap mengenalinya sebagai Jibril as Kasyaf yang seperti inilah yang diperlukan agar seseorang itu tidak tertipu dengan tipu daya setan yang menjelma dalam berbagai rupa yang hebat dan menawan sekalipun, seperti rupa seorang yang tampak alim dan wara '.
AL-ALIM.
Bila seseorang ahli kerohanian memperoleh kasyaf maka dia telah bersedia untuk menerima kedatangan hal atau zauk yaitu pengalaman kerohanian tentang hakikat ketuhanan. Hal tidak mungkin diperoleh dengan beramal dan menuntut ilmu. Sebelum ini pernah dinyatakan bahwa tidak ada jalan untuk masuk ke dalam gerbang makrifat. Seseorang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu untuk sampai hampir dengan pintu gerbangnya. Ketika sampai di situ seseorang hanya menanti karunia Allah, semata-mata karunia Allah yang membawa ma'rifat kepada hamba-hamba-Nya. Karunia Allah yang mengandung makrifat itu dinamakan hal. Allah memancarkan Nur-Nya ke dalam hati hamba-Nya dan akibat dari pancaran itu hati akan mendapat sesuatu pengalaman atau terbentuk satu suasana di dalam hati. Misalnya, pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal bahwa Allah Maha Perkasa. Apa yang terbentuk di dalam hati itu tidak dapat digambarkan tetapi efeknya dapat dilihat pada tubuhnya yang menggigil sampai dia jatuh pingsan. Pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal atau zauk atau merasakan keperkasaan Allah dan pengalaman ini dinamakan hakikat, yaitu hati mengalami hakikat keperkasaan Allah Pengalaman hati tersebut membuatnya berpengetahuan tentang maksud Allah Maha Perkasa. Jadi, pengalaman yang diperoleh dari zauk hakikat melahirkan pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan itu disebut makrifat. Orang yang terkait dikatakan bermakrifat terhadap keperkasaan Allah Jadi untuk mencapai makrifat seseorang itu haruslah mengalami hakikat. Inilah jenis makrifat yang tertinggi. Makrifat tanpa pengalaman hati adalah makrifat secara ilmu. Makrifat secara ilmu bisa didapat dengan belajar, sementara secara zauk tersedia tanpa belajar (laduni). Ahli tasawuf tidak berhenti sejauh makrifat secara ilmu malah mereka mempersiapkan hati mereka agar sesuai menerima kedatangan ma'rifat secara zauk.
Ada orang yang memperoleh hal sekali saja dan dikuasai oleh hal dalam tempuh tertentu dan ada juga yang berkelanjutan di dalam hal. Hal yang berkelanjutan atau berkelanjutan dinamakan wisal yaitu penyerapan hal menerus, permanen atau baqa. Orang yang mencapai wisal akan terus hidup dengan cara hal yang terkait. Hal-hal (ahwal) dan wisal bisa dibagi lima jenis:
1: Abid:
Abid adalah orang yang dikuasai oleh hal atau zauk yang membuat dia merasakan secara bersangatan bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki daya dan upaya untuk melakukan sesuatu. Kekuatan, kemampuan, bakat-bakat dan apa saja yang ada dengannya adalah daya dan upaya yang dari Allah Semuanya itu adalah karunia-Nya semata. Allah sebagai Pemilik yang sebenarnya, ketika Dia memberi, maka Dia berhak mengambil kembali setiap waktu yang dikehendaki. Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah sehingga jika dia melepaskan cadangan itu dia akan jatuh, tidak berdaya, tidak bisa bergerak, karena dia benar-benar melihat dirinya kehilangan apa yang datangnya dari Allah swt Hal atau suasana yang menguasai hati abid itu akan melahirkan amal atau kelakuan sangat kuat beribadah, tidak memperdulikan dunia dan isinya, tidak mengambil bagian dalam urusan orang lain, sangat takut berjauhan dari Allah dan gemar sendirian. Dia merasakan apa saja yang selain Allah akan menjauhkan dirinya dari Allah
2: Asyikin:
Asyikin adalah orang yang mendapat asyik dengan sifat Keindahan Allah Rupa, bentuk, warna dan ukuran tidak menjadi soal kepadanya karena apa saja yang dilihatnya menjadi cermin yang dia melihat Keindahan serta Keelokan Allah di dalamnya. Amal atau perilaku asyikin adalah gemar merenung alam maya dan memuji Keindahan Allah pada apa yang disaksikannya. Dia bisa duduk menikmati keindahan alam beberapa jam tanpa merasa jemu. Kilauan ombak dan titikan hujan memukau pandangan hatinya. Semua yang terlihat adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah Orang yang menjadi asyikin tidak memperdulikan lagi adab dan aturan masyarakat. Kesadarannya bukan lagi pada alam ini. Dia memiliki alamnya sendiri yang di dalamnya hanyalah Keindahan Allah
3: Muttakhaliq:
Muttakhaliq adalah orang yang mencapai yang Haq dan berubah sifatnya. Hatinya dikuasai oleh suasana qurbi Faraidh atau qurbi nawafil. Dalam qurbi Faraidh, muttakhaliq merasakan dirinya adalah alat dan Allah menjadi Pengguna alat. Dia melihat perbuatan atau kelakuan dirinya terjadi tanpa dia merancang dan campur tangan, bahkan dia tidak mampu mengubah apa yang mau terjadi pada kelakuan dan perbuatannya. Dia menjadi orang yang berpisah dari dirinya sendiri. Dia melihat dirinya melakukan sesuatu perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, yang dia tidak berdaya mengendalikan atau mempengaruhinya. Hal qurbi Faraidh adalah dia melihat bahwa Allah melakukan apa yang Dia kehendaki. Perbuatan dia sendiri adalah gerakan Allah, dan diamnya ini adalah gerakan Allah Orang ini tidak memiliki kehendak sendiri, tidak ada ikhtiar dan tadbir. Apa yang mengenai dirinya, seperti kata dan perbuatan, terjadi secara spontan. Perilaku atau amal qurbi Faraidh adalah bercampur-campur antara logika dengan tidak logis, menurut adat dengan merombak adat, perilaku alim dengan jahil. Dalam banyak hal penjelasan yang bisa diberikannya adalah, "Tidak tahu! Allah s.w.t berbuat apa yang Dia kehendaki ".
Dalam suasana qurbi nawafil, pula muttakhaliq melihat dengan mata hatinya sifat-sifat Allah yang menguasai bakat dan kemampuan pada sekalian anggotanya dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat-sifat tersebut, yaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri. Hal qurbi nawafil adalah berbuat dengan izin Allah karena Allah mengaruniakan kepadanya kemampuan untuk berbuat sesuatu. Contoh qurbi nawafil adalah perilaku Nabi Isa as yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan izin Allah, juga perilaku beliau as menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya. Nabi Isa as melihat sifat-sifat Allah yang diizinkan menjadi bakat dan kemampuan beliau as, sebab itu beliau as tidak ragu-ragu untuk menggunakan bakat tersebut menjadikan burung dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah SWT
4: muwahhid:
Muwahhid fana dalam zat, zatnya lenyap dan Zat Mutlak yang menguasainya. Hal bagi muwahhid adalah dirinya tidak ada, yang ada hanya Allah Orang ini telah putus hubungannya dengan kesadaran basyariah dan sekalian maujud. Perilaku atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa karena dia telah terlepas dari sifat-sifat kemanusiaan dan kemakhlukan. Misalkan dia bernama Ahmad, dan jika ditanya kepadanya di mana Ahmad, maka dia akan menjawab Ahmad tidak ada, yang ada hanyalah Allah! Dia benar-benar telah lenyap dari ke'Ahmad-an 'dan benar-benar dikuasai oleh ke'Allah-an'. Ketika dia dikuasai oleh hal dia terlepas dari beban hukum. Dia mungkin meneriakkan, "Akulah Allah! Maha Suci Aku! Sembahlah Aku! "Dia telah fana dari 'aku' dirinya dan dikuasai oleh keberadaan 'Aku Hakiki'. Akan tetapi sikap dan perilakunya dia tetap dalam ridha Allah Bila dia tidak dikuasai oleh hal, kesadarannya kembali dan dia menjadi anggota syariat yang taat. Perlu diketahui bahwa hal tidak bisa dibuat-buat dan orang yang dikuasai oleh hal tidak bisa menahannya. Ahli hal karam dalam perbuatan Allah s.w.t. Kapan dia meneriakkan, "Akulah Allah!" Bukan berarti dia mengaku telah menjadi Tuhan, tetapi dirinya telah fana, apa yang terucap melalui lidahnya sebenarnya adalah dari Allah Allah yang mengatakan Dia adalah Tuhan dengan menggunakan lidah muwahhid yang sedang fana itu.
Berbeda pula kaum Mulhid. Si Mulhid tidak dikuasai oleh hal, tidak ada zauk, tetapi berkelakuan dan berbicara seperti orang yang di dalam zauk. Orang ini dikuasai oleh ilmu tentang hakikat bukan mengalami hakikat secara zauk. Si Mulhid membuang syariat serta beriman berdasarkan ilmu semata. Dia puas berbicara tentang iman dan tauhid tanpa beramal menurut tuntutan syariat. Orang ini berbicara sebagai Tuhan sedangkan dia di dalam kesadaran kemanusiaan, masih gelojoh dengan keinginan hawa nafsu. Orang-orang sufi sepakat mengatakan bahwa barangsiapa yang mengatakan, "Ana al-Haq!" Sedangkan dia masih sadar tentang dirinya maka orang tersebut adalah sesat dan kufur!
5: Mutahaqqiq:
Mutahaqqiq adalah orang yang setelah fana dalam zat turun kembali ke kesadaran sifat, seperti yang terjadi kepada nabi-nabi dan wali-wali demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Allah di atas muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib diurus. Dalam kesadaran zat seseorang tidak keluar dari khalwatnya dengan Allah dan tidak peduli tentang keruntuhan rumah tangga dan kehancuran dunia seluruhnya. Sebab itu orang yang demikian tidak bisa dijadikan pemimpin. Dia harus turun ke kesadaran sifat barulah dia bisa memimpin orang lain. Orang yang telah mengalami kefanaan dalam zat kemudian disadarkan dalam sifat adalah benar-benar pemimpin yang ditunjuk oleh Allah menjadi Khalifah-Nya untuk memakmurkan makhluk Allah dan memimpin umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah Orang inilah yang menjadi anggota makrifat yang sejati, ahli hakikat yang sejati, anggota tarekat yang sejati dan ahli syariat yang sejati, berkumpul padanya dalam satu kesatuan yang menjadikannya Insan Rabbani. Insan Rabbani tingkat tertinggi adalah para nabi-nabi dan Allah karuniakan kepada mereka maksum, sementara yang tidak menjadi nabi ditunjuk sebagai wali-Nya yang diberi perlindungan dan pemeliharaan.
Ahwal (hal-hal) yang menguasai hati nurani berbeda, dengan itu akan mencetuskan kelakuan amal yang berbeda. Ahwal harus dipahami dengan sebenarnya oleh orang yang memasuki pelatihan tarekat spiritual, supaya dia mengetahui, dalam amal yang bagaimanakah dia mendapat kedamaian dan mencapai maksud dan tujuan, apakah dengan shalat, zikir atau puasa. Dia harus berpegang sungguh-sungguh kepada amal yang dicetuskan oleh hal tadi, agar dia cepat dan selamat sampai ke puncak. 




1: Penjelasan, memori, tarik dan keinginan terhadap benda-benda alam seperti harta, wanita, pangkat dan lain-lain.
2: Kehendak atau syahwat yang mengarahkan perhatian kepada apa yang diinginkan.
3: Kelalaian yang menutup ingatan terhadap Allah
4: Dosa yang tidak dicuci dengan taubat masih mengotori hati.
Diri manusia tersusun dari anasir
i.tanah,
ii.air,
iii.api dan
iv.angin.
Ia juga diresapi oleh unsur-unsur alam seperti mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, setan dan malaikat. Setiap anasir dan unsur itu menarik hati kepada diri masing-masing. Tarik menarik itu akan menimbulkan kekacauan di dalam hati. Kekacauan itu pula menyebabkan hati menjadi keruh. Hati yang keruh tidak dapat menerima sinar nur yang melahirkan iman dan tauhid. Mengobati kekacauan hati adalah penting untuk membukakannya untuk menerima informasi dari alam malakut. Hati yang kacau itu bisa distabilkan dengan cara menundukkan semua anasir dan unsur tadi kepada syariat. Syariat menjadi tali yang dapat mengikat musuh-musuh yang mencoba menawan hati. Penting bagi seorang murid yang menjalani jalan spiritual menjadikan syariat sebagai payung yang mengharmoniskan perjalanan anasir-anasir dan daya-daya yang menyerap ke dalam diri agar cermin hatinya bebas dari gambar-gambar virtual. Bila cermin hati sudah bebas dari gambar-gambar dan atraksi tersebut, hati dapat menghadap ke Hadrat Ilahi.
Selain atraksi benda-benda alam, hati bisa juga tunduk kepada syahwat. Syahwat bukan saja rangsangan nafsu yang rendah. Semua bentuk kehendak diri sendiri yang berlawanan dengan kehendak Allah adalah syahwat. Kerja syahwat adalah mengajak manusia supaya lari dari hukum dan aturan Allah serta membangkang takdir Ilahi. Syahwat membuat manusia tidak reda dengan keputusan Allah Seseorang yang mau menuju Allah harus melepaskan dirinya dari belenggu syahwat dan keinginan diri sendiri, lalu masuk ke dalam benteng Aslim yaitu berserah diri kepada Allah dan reda dengan takdir-Nya.
Hal berikutnya yang yang dikatakan sebagai ilmu hikmatialah junubbatin tidak suci dan dilarang melakukan ibadah atau memasuki masjid. Orang yang berjunub batin pula tertegah dari memasuki Hadrat Ilahi. Orang yang di dalam junub batin yaitu default hati, posisinya seperti orang yang berjunub lahir, di mana amal ibadatnya tidak diterima. Allah mengancam untuk menjatuhkan orang yang shalat dengan default (dalam kondisi berjunub batin) ke dalam neraka wil. Begitu hebat sekali ancaman Allah kepada orang yang menghadap-Nya dengan hati yang lalai.
Mengapa begitu hebat sekali ancaman Allah kepada orang yang lalai? Bayangkan hati itu berupa dan berbentuk seperti rupa dan bentuk kita lahir. Hati yang khusyuk adalah umpama orang yang menghadap Allah dengan mukanya, duduk dengan tertib, berbicara dengan sopan santun dan tidak berani mengangkat kepala di hadapan Kaisar Yang Maha Agung. Hati yang lalai pula adalah umpama orang yang menghadap dengan belakangnya, duduk secara biadab, bertutur kata tidak tentu ujung pangkal dan perilakunya sangat tidak sopan. Perbuatan demikian adalah satu penghinaan terhadap martabat ketuhanan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Jika raja didunia murka dengan perbuatan demikian maka Raja kepada sekalian raja-raja lebih berhak melemparkan kemurkaan-Nya kepada hamba yang biadab itu dan layaklah jika si hamba yang demikian dicampakkan ke dalam neraka wil. Hanya hamba yang khusyuk, yang tahu bersopan santun di hadapan Tuhannya dan mengagungkan Tuhannya yang layak masuk ke Hadrat-Nya, sementara hamba yang lalai, tidak tahu bersopan santun tidak layak mendekati-Nya.
Yang ke empat adalah dosa-dosa yang belum ditebus dengan taubat. Ia mencegah seseorang dari memahami rahasia-rahasia yang halus-halus. Pintu ke Perbendaharaan Allah yang tersembunyi adalah taubat! Orang yang telah menyuci-bersihkan hatinya hanya mampu berdiri di luar pintu Rahasia Allah selagi dia belum bertaubat, samalah seperti orang yang mati syahid yang belum menjelaskan hutangnya terpaksa menunggu di luar surga. Jika dia mau masuk ke dalam Perbendaharaan Allah yang tersembunyi yang mengandung rahasia yang halus-halus wajib bertobat. Taubat itu sendiri merupakan rahasia yang halus. Orang yang tidak memahami rahasia taubat tidak akan mengerti mengapa Rasulullah yang tidak pernah melakukan dosa masih juga memohon ampunan sedangkan sekalipun beliau berdosa semuanya diampuni Allah Apakah Rasulullah saw tidak yakin bahwa Allah mengampuni semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan beliau (jika ada)?
Maksud taubat adalah kembali, yaitu kembali kepada Allah Orang yang melakukan dosa tercampak jauh dari Allah Meskipun orang ini sudah berhenti melakukan dosa malah dia sudah melakukan amal ibadat dengan banyaknya namun, tanpa taubat dia tetap tinggal berjauhan dari Allah Dia telah masuk ke dalam golongan hamba yang melakukan amal salih tetapi yang berjauhan bukan berdekatan dengan Allah Taubat yang lebih halus adalah pengayatan kalimat:
"Laa Hau la wala quwata illa billah."
Tiada daya dan upaya melainkan anugerah Allah
"Inna Lillillahi wa-inna ilai-irajiun"
Kami datang dari Allah dan kepada Allah kami kembali.
Segala sesuatu datangnya dari Allah, baik kehendak maupun perbuatan kita. Sumber yang mendatangkan segala sesuatu adalah Uluhiyah (Tuhan) dan yang menerimanya adalah ubudiyah (hamba). Apa saja yang dari Uluhiyah adalah sempurna dan apa saja yang terbit dari ubudiyah adalah tidak sempurna. Uluhiyah memberikan kesempurnaan tetapi ubudiyah tidak dapat melaksanakan kesempurnaan itu. Jadi, ubudiyah berkewajiban mengembalikan kesempurnaan itu kepada Uluhiyah dengan memohon ampunan dan bertobat sebagai menampung cacat. Segala urusan dikembalikan kepada Allah s.w.t. Semakin tinggi makrifat seseorang hamba semakin kuat ubudiyahnya dan semakin sering dia memohon ampunan dari Allah, mengembalikan setiap urusan kepada Allah, sumber datangnya segala urusan.
Bila hamba mengembalikan urusannya kepada Allah maka Allah sendiri yang akan mengajarkan Ilmu-Nya yang halus-halus agar kehendak hamba itu sesuai dengan Iradat Allah, kuasa hamba sesuai dengan Kudrat Allah, hidup hamba sesuai dengan Hayat Allah dan pengetahuan hamba sesuai dengan Ilmu Allah, dengan itu jadilah hamba mendengar karena Sama 'Allah, melihat karena Basar Allah dan berkata-kata karena Kalam Allah Setelah semuanya berkumpul pada seorang hamba maka jadilah hamba itu Insan Sirullah (Rahasia Allah).
MAHA SUCI ALLAH YANG MENUTUPI RAHASIA KEISTIMEWAAN (PARA WALI) DENGAN diperlihatkan SIFAT KEMANUSIAAN BIASA bagi masyarakat dan TERNYATA KEBESARAN KETUHANAN ALLAH SWT DALAM memperlihatkan sifat kehambaan (PADA WALI-NYA). Orang yang jahil dan lemah imannya mudah terlintas sangkaan saat menghadapi kejadian yang luar biasa yang terzahir dari seseorang manusia. Nabi Ia as dilahirkan secara luar biasa, dan padanya terzahir mukjizat yang luar biasa, menyebabkan sekelompok manusia menganggap beliau as sebagai anak Tuhan. Uzair yang ditidurkan oleh Allah selama seratus tahun dan dijagakan di kalangan generasi yang sudah melupakan Taurat, lalu Uzair membacakan isi Taurat dengan lancar. Penonton pun menganggap Uzair sebagai luar biasa, lalu mengangkatnya sebagai anak Tuhan. Orang sering mengagungkan manusia yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Terkadang cara pengagungan itu sangat keterlaluan sehingga orang yang diagungkan itu didudukkan pada taraf yang melebihi standar manusia. Selain dianggap sebagai anak Tuhan, ada juga yang dianggap sebagai penjelmaan Tuhan. Timbul juga penabalan sebagai Imam Mahadi yang dijanjikan Tuhan. Efek pemujaan sesama manusia banyak terdapat di lembaran sejarah. Pemujaan yang demikian dianggap Allah sebagai menyembah makhluk. Hal ini terjadi karena salah menafsirkan kejadian luar biasa yang terzahir pada orang tersebut, meskipun mereka tidak meminta diagungkan. Hal luar biasa yang terjadi pada nabi-nabi disebut mukjizat dan yang terjadi pada wali-wali dinamakan keramat. Mukjizat menjadi bagian dari bukti atau argumen kepada publik tentang kebenaran kenabian. Fungsi utama mukjizat adalah memperkuat keyakinan publik kepada seseorang nabi itu. Sesuai dengan fungsinya mukjizat terjadi secara terbuka dan diketahui publik. Keramat pula merupakan karunia khusus kepada para wali. Tujuan utamanya adalah untuk menambahkan keyakinan wali itu sendiri. Tidak dimaksudkan untuk membuktikan posisi wali itu kepada orang banyak. Kekeramatan banyak terjadi pada zaman akhir ini, jarang terjadi pada zaman Rasulullah saw dan para sahabat, sedangkan para sahabat beliau adalah aulia Allah yang agung. Sebagian dari mereka telah dinyatakan sebagai anggota surga ketika mereka masih hidup lagi. Mereka sudah memiliki iman yang sangat teguh, tidak perlu ke kekeramatan untuk menguatkannya. Jaminan surga yang diberikan oleh Rasulullah saw tidak membuat mereka mengurangi layanan bakti mereka kepada Allah Umat ​​yang terakhir ini tidak memiliki hati sebagaimana umat pada zaman Rasulullah saw Umat ​​zaman akhir ini membutuhkan kekeramatan sebagai penawar yang menguatkan hati mereka. Karena kekeramatan itu lebih berguna untuk diri sendiri, maka ia lebih banyak terjadi secara tersembunyi, hanya sejumlah kecil yang menyaksikannya atau kadang-kadang tidak ada yang melihatnya. Sifat kewalian ditampakkan kepada wali Allah itu sendiri sedangkan pada orang ditampakkan sifat manusia biasa, sehingga masyarakat tidak mengetahui posisinya yang sebenarnya. Dengan demikian seseorang wali Allah itu diberi layanan sebagai manusia biasa. Dia harus hidup dan mengelola kehidupan seperti orang. Perilakunya yang memakai kemanusiaan biasa menjadi contoh kepada masyarakat, bagaimana mau menjalani kehidupan di dunia dengan mentaati Allah Rasulullah menjalani kehidupan sebagai manusia biasa di mana beliau terpaksa mengikat perut dengan kain untuk menahan lapar, padahal dengan hanya berdoa kepada Allah beliau bisa menjadi kenyang tanpa makan. Para nabi dan para wali adalah manusia yang menjadi model untuk diikuti oleh orang banyak. Jika mereka hidup secara khusus seperti bergerak secepat kilat dan kenyang tanpa makan, sudah tentu tidak ada manusia yang dapat mengikuti mereka. Jadi ketika Allah memakaikan sifat kehambaan seperti orang kepada para nabi dan para wali-Nya itu adalah untuk kebaikan manusia umum. Orang bisa mengikuti contoh yang mudah dan tidak timbul pemujaan sesama manusia yang bisa membawa kepada syirik....

Enhanced by Zemanta
Post a Comment