Wednesday, February 6, 2013

Mencari Ma'ul Hayat (Air Kehidupan)

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


Dalam surat  Al Anfal, surat ke 8 ayat 24 tersebut di tulisan sebelumnya  ada kalimat yang berbunyi :

     “YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUU” (artinya : Wahai orang-orang yang beriman)
*  Ayat ini adalah ditujukan kepada orang-orang yang beriman (AAMANUU).
Kemudian lanjutan ayat tersebut diatas ada kalimat yang berbunyi :
     “ISTAJIIBUU LILLAAHI WALIRROSUULI” ( artinya : Hendaklah kamu semua menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh)
* Ayat ini adalah berisi perintah, agar supaya orang-orang yang beriman (AAMANUU) itu menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh.
Kemudian lanjutan ayat tersebut diatas ada kalimat yang berbunyi :
     “IDZAA DA’AAKUM LIMAA YUHYIIKUM” (artinya : Ketika kamu diseru untuk sesuatu yang menghidupkan kamu).
* Ayat ini adalah berisi tujuan perintah menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh yaitu diseru untuk sesuatu yang menghidupkan kamu.

Melihat dari kalimat demi kalimat dalam surat Al Anfal/s.8/ayat 24 tersebut di atas, lalu timbul beberapa pengertian.
1. SOAL :
Mengapa orang-orang AAMANUU (beriman) itu masih diperintah menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh?…
     JAWAB :
Adanya orang-orang AAMANUU diperintah menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh, karena AAMANUU (orang-orang yang beriman) itu adalah  hidup, bukan mati.
2. SOAL :
Tapi mengapa orang-orang AAMANUU yang hidup ini  masih diperintah untuk menghidupkan dirinya, buktinya adalah ayat yang berbunyi LIMAA YUHYIIKUM (artinya untuk sesuatu yang menghidupkan kamu) ?…
     JAWAB:
Kalau begitu  berarti orang-orang yang beriman (AAMANUU) itu masih mati (belum hidup).
3. SOAL :
Dan mengapa orang-orang AAMANUU itu dikatakan masih mati, padahal jelas beda dengan orang kafir ?..
     JAWAB :
Karena orang AAMANUU itu belum minum MA-UL HAYAT, apalagi orang kafir.
4. SOAL :
Kalau memang orang-orang AAMANUU itu masih mati (belum hidup), lalu yang dimaksud ini hidup yang bagaimana?…..
  • Kalau yang dikatakan hidup itu perkembangan, itu adalah hidupnya tumbuh-tumbuhan, sedangkan kita bukan tumbuh-tumbuhan.
  • Kalau yang dikatakan hidup itu keluar masuknya nafas (pergantian zat), itu adalah sama dengan hidupnya hayawan dan ini tidak ada bedanya, hidupnya kucing juga keluar masuk nafas .
    Dan kalau hidupnya orang mu’min itu dikatakan keluar masuknya nafas, itu berarti  sama dengan hayawan..?
  • Kalau  yang dikatakan hidup itu hubungannya roh dengan jasmani, apa bedanya dengan hidupnya orang kafir..? Padahal dalam ayat ini orang AAMANUU itu masih mati kalau belum minum Ma’ul hayat, apalagi orang kafir.
5. SOAL     : Apakah tidak ingin hidup langgeng ..?
     JAWAB : Ya ingin !
6.  SOAL     : Kalau memang ingin, kenapa tidak mencari..?
     JAWAB : Ya mencari !
7.  SOAL     : Kalau memang  mencari,  mengapa tidak tahu tempatnya?….
     JAWAB : Sudah tahu !
8.  SOAL     : Kalau memang sudah tahu tempatnya, mengapa tidak bisa mengambil?…
     JAWAB : Ini semuanya disebabkan karena belum minum MA- UL HAYAT.
Jadi kesimpulannya adalah, kalau kita sebagai orang-orang yang beriman tidak mencari dan minum MA-UL HAYAT, maka kita masih mati (belum hidup).
Kalau dalam tafsir,  ayat 24/s.8/surat Al Anfal ini bermakna dhohir, yaitu dihubungkan dengan peperangan zaman kanjeng Nabi.
Kalau memang ayat ini dihubungkan dengan peperangan zaman kanjeng Nabi,  berarti ayat ini sekarang sudah tidak berlaku dan hanya berlaku pada zaman kanjeng Nabi saja, sebab sekarang sudah tidak ada peperangan seperti zaman kanjeng Nabi dan adanya hanya di Makkah saja. Kalau begitu, tidak di sini. Padahal Alqur’an itu untuk seluruh manusia.
Akan kami perjelas keterang di tulisan berikutnya… ini masih seputar HIDUP, belum masuk tema utama. Tapi sabar saja, nanti buru-buru malah gak paham.

HUKUM MENCARI MA-UL HAYAT
Di dalam Alqur-an diterangkan bahwa hukumnya mencari Ma-ul Hayat adalah WAJIB.
Adapun ayat  yang mewajibkan kita mencari MA-UL HAYAT adalah sebagaimana tersebut dalam surat Al anfal/S.8/ayat24 yang berbunyi :

YAA AYYUHAL LADZIINA AAMANUS TAJIIBUU LILLAAHI WALIR ROSUULI IDZAA DA-’AAKUM LIMAA YUHYIIKUM.

Artinya:”Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua menyambut ajakan Alloh dan ajakan Rosululloh  ketika kamu diseru untuk sesuatu yang menghidupkan kamu.” (Al Anfal/s.8/ ayat 24)
Menurut ayat tersebut diatas, kita sebagai orang mu’min wajib mencari MA-UL HAYAT. Dan kewajiban ini adalah pokok, bukan sunnah.
Kalau sekian lamanya banyak orang mu’min yang belum mencari MA-UL HAYAT, itu namanya belum melaksanakan kewajiban yang pokok. Jangankan mencari, beritanya saja belum mendengar, malahan yang didengar berkali-kali hanya hukum (ini halal – itu haram, ini makruh – itu mubah, ini riba dan lain-lain).


ALASAN WAJIB MENCARI MA-UL HAYAT
1.  Dikarenakan perasaannya, fikirannya, kesadarannya masih mati.
Dalam surat  Al Anfal/s.8/ayat 24 tersebut di atas  ada kalimat yang berbunyi “ YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUU” (artinya Wahai orang-orang yang beriman).
Mengenai hal ini, tidak terbilang banyaknya orang yang bisa membaca Al qur-an, dan juga tidak terbilang banyaknya orang yang tahu dan mengerti maknanya Alqur-an yang dibaca, seperti contoh:

  • Bahwa  “YAA- AYYUHAL LADZII NA AAMANUU”  itu artinya “Wahai orang -orang yang beriman”.
  • Bahwa   “YAA – AYYUHANNAASU” itu artinya : “ Wahai manusia “
Apakah kita merasa bahwa tatkala membaca “YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUU “ itu kita ini orang yang beriman …?
Apakah kita merasa bahwa tatkala kita membaca “YAA -AYYUHANNAASU” itu Alloh bercakap-cakap dengan kita?
Padahal semua orang tahu bahwa itu adalah DAWUHNYA  ALLOH dan yang didawuhi itu adalah  MANUSIA. Manusia kapan?… Kalau manusia sekarang, kan berarti Alloh bercakap-cakap dengan kita…?
Dan manusia juga sering mengatakan ini dawuhnya Alloh, akan tetapi tidak merasa bahwa kita yang didawuhi, kalau didawuhi berarti kita bercakap-cakap dengan Alloh  dan Alloh bercakap-cakap dengan kita.
Akan tetapi kalau kita membaca Al qur-an dan bilang kalau kita bercakap-cakap dengan Alloh, maka gegerlah masyarakat. Sedangkan Al Qur-an itu mengandung 114 surat. Dan pokok surat itu jelas, yaitu :
 BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM ( Dengan nama Alloh yang Maha pengasih dan penyayang)
Dan pokok persoalannya surat juga sudah jelas, yaitu ada surat Ar ro’du, ada surat Al Baqoroh dan lain – lain. Dan yang disurati juga jelas yaitu manusia.
Akan tetapi kalau  ditanya : Surat Fatihah itu suratnya siapa…?  jawabnya suratnya Gusti Alloh. Kalau suratnya Gusti Alloh, lalu siapakah yang disurati itu, manusia ataukah hayawan (kambing, sapi)…? jawabnya adalah : manusia. Tapi kalau kita bicara bahwa “Aku disurati Gusti Alloh” maka gegerlah masyarakat.
Anehnya, kalau kita disurati pak lurah saja, dimulyakan suratnya. Apalagi yang mengirim surat  itu atasannya, sampai dibuat jimat. Tapi kalau disurati Gusti Alloh itu dibiarkan saja hanya ditumpuk dan ditaruh begitu saja. Kalau butuh baru diambil sampai kondisinya berdebu dan ditepuk-tepuk sampai keluar debunya akhirnya  tambah menjadikan batuk.
Dan bila waktu membaca suratnya Gusti Alloh itu tidak merasakan apa-apa,  seperti contoh membaca surat  Al Anfal/s.8/ayat 24  yang berbunyi:
“ YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUU”
(artinya Wahai orang-orang yang beriman), tidak merasa bercakap-cakap dengan yang menyurati, ini tandanya  adalah perasaannya, fikirannya, kesadarannya masih mati.
Apakah sebabnya masih mati ?…. ini sebabnya adalah  belum minum MA-UL HAYAT ( Air Hidup ).
Mengapa belum minum MA-UL HAYAT?…  karena belum tahu tempatnya. (Tahu tempatnya tapi tidak bisa mengambilnya, padahal wajib ).
Jadi alasan kita diperintah mencari Maul Hayat adalah karena perasaan kita, fikiran kita, kesadaran kita masih mati, buktinya adalah kita tidak merasa disurati, tidak merasa diajak bercakap-cakap dengan Alloh, dan lain-lain, ketika kita membaca Alqur-an.
  • Sudahkah kita berfikir ke arah situ…?
  • Sudahkah kita merasakan diwaktu membaca…?
  • Sudahkah kita sadar…?
Inilah alasan kesatu, kenapa kita diperintah mencari MA-UL HAYAT.
Untuk hal ini akan kami ulas lagi di tulisan selanjutnya… Tentang TINGKATAN-TINGKATAN HIDUP.

Enhanced by Zemanta
Post a Comment