Sunday, February 10, 2013

MAQOM SEORANG HAMBA DI DUNIA

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


MAQOM SEORANG HAMBA DI DUNIA


ِارَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ اِقَامَةِ اللهِ اِيَّكَ فِى الأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفِيَّةِ , وَاِرَادَتُكَ الاَسْبَابَ مَعَ اِقَامَةِ اللهِ اِيَّكَ فِى التَّجْرِيْدِ اِنْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ العَلِيَّةِ

 “Kehendakmu untuk menggapai maqom tajrid padahal kehendak Allah SWT mendudukkanmu di maqom asbab adalah merupakan kehendak syahwat yang halus. Dan kehendakmu untuk menduduki maqom asbab padahal Allah SWT mendudukkanmu di maqom tajrid, berarti engkau telah turun dari tingkat derajat yang tinggi”.
Maqom hidup manusia di dunia yang pertama adalah tajrid dan yang kedua adalah asbab. Yang dimaksud maqom tajrid adalah kondisi hidup atau kedudukan manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia, di mana dengan maqom itu sumber rizkinya dimudahkan oleh Allah SWT. Sumber rizki tersebut didatangkan dengan tanpa harus dicari dan diikhtiari. Meskipun datangnya melalui sebab-sebab, namun sebab-sebab sumber rizki itupun merupakan hal yang didatangkan dengan mudah.
Sebagaimana contoh kehidupan para Ulama suci lagi mulia, yang setiap hari aktifitas hidupnya hanya mengurus santri, jama’ah dan masyarakatnya, sehingga tidak kebagian waktu untuk memikirkan sumber rizki secara lahir. Namun ternyata kebutuhan hidupnya mendapatkan kecukupan. Bahkan terkadang melebihi kecukupan hidup orang-orang yang setiap hari sibuk mencari nafkah. Dengan maqom tajrid itu, seorang hamba Allah yang ‘arifin hanya membaca sebab-sebab yang datang, kemudian menindaklanjutinya dengan amal (ikhtiar).
Adapun maqom asbab, dimana rizki seseorang tidak didatangkan kecuali melalui sebab-sebab yang diusahakan dan diikhtiari sendiri. Mereka tidak mendapatkan sumber kehidupan kecuali dari jalan ikhtiar yang dilakukan. Oleh karenanya mereka harus berikhtiar dan berusaha. Mencari dan menciptakan peluang supaya terbuka baginya sebab-sebab untuk mendapatkan kecukupan hidup. Setelah sebab-sebab itu terbangun baru ditindaklanjuti dangan amal dan usaha. Seperti itulah keadaan yang dialami kebanyakan manusia pada umumnya.
Oleh karena itu, sejak awal hidupnya seseorang yang menduduki maqom asbab itu harus mampu menciptakan sebab-sebab itu. Sejak mencari ilmu pengetahuan di bangku sekolah, melamar pekerjaan dan menciptakan sumber-sumber penghasilan. Setelah itu mereka harus menindaklanjuti lagi dengan usaha sampai mendapatkan apa-apa yang diharapkan.
Apabila kedua maqom hidup tersebut dikaitkan “usaha dan tawakkal”, sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT dalam sebuah firman-Nya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (ber’azam), maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali Imran; 159). Maka orang yang melaksanakan maqom tajrid adalah orang yang bertawakkal terlebih dahulu baru berusaha, sedangkan maqom asbab harus ber-azam terlebih dahulu untuk menciptakan sebab-sebab baru setelah itu bertawakkal.

Jangan Ingin Pindah Dari Satu Maqom Ke Maqom Yang Lain
Asy-Syekh Ibnu Ath-Tho’illah RA berkata: “Kehendakmu untuk menggapai maqom tajrid padahal kehendak Allah mendudukkanmu di maqom asbab adalah merupakan kehendak syahwat yang halus. Dan kehendakmu untuk menduduki maqom asbab padahal kehendak Allah mendudukkanmu di maqom tajrid, berarti engkau telah turun dari tingkat derajat yang tinggi”.
Maqom tajrid, sungguhpun merupakan maqom mulia, sebagai karunia besar yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya, namun demikian, selama pemiliknya masih hidup di dunia, baik dari yang berkaitan dengan urusan ukhrawi maupun duniawi, keadaan orang tersebut akan mengalami pasang surut sebagaimana sifat kehidupan dunia pada umumnya. Ketika tajridnya sedang naik, maka berarti rizki orang tajrid itupun akan ikut naik. Rizki itu didatangkan seperti air laut yang sedang pasang. Sumbernya memancar terus-menerus seakan tidak bisa putus lagi. Namun ketika tajridnya sedang turun, mereka terkadang mengalami kekeringan yang amat sangat. Seperti musim kemarau panjang yang seakan tidak dapat hujan lagi. Keadaan seperti ini bagi seorang tajrid merupakan bentuk ujian yang sangat berat.
Betapa tidak, ketika seorang tajrid harus menghadapi desakan kebutuhan realita yang tidak terelakkan. Harus memenuhi tuntutan hidup sebagai seorang kepala rumah tangga misalnya. Menghadapi kesulitan hidup yang dialami anak-anak dan istri yang terkadang bahkan dihadapkan pada masalah yang berat. Anaknya sedang sakit keras misalnya, padahal sedikitpun dia tidak dapat berusaha untuk membawa anaknya itu ke rumah sakit karena saat itu sedang tidak tersedia sarana dan dana. Dalam keadaan seperti itu, konsekwensi seorang tajrid tetap tidak boleh mengusahakan sebab yang dapat melepaskan dirinya dari kesulitan tersebut namun tetap harus menunggu, meski dihadapkan dengan kematian anaknya misalnya.
Seandainya dia masih menduduki maqom asbab seperti dahulu, barangkali dia masih dapat berusaha, walau hanya untuk mendapatkan pinjaman dari tetangga misalnya. Akan tetapi di maqom tajrid tidaklah demikian. Ketika sebab yang pertama tidak berada di tangan, datangnya sebab itu tidak boleh diharapkan dari makhluk. Apabila hal tersebut dilakukam berarti akan menurunkannya pada derajat maqom asbab.
Seorang maqom tajrid hanya dapat menunggu kepastian yang akan terjadi. Apapun kejadiannya, yang demikian itu lebih baik baginya daripada harus menyandarkan harapan mendapat pertolongan dari makhluk. Untuk itu, dalam keadaan yang bagaimanapun seorang tajrid harus mampu memilih mana yang boleh diusahakan dan mana yang tidak.
Jika dikarenakan menghadapi ujian seperti itu lantas mereka ingin kembali turun ke maqom asbab, berarti mereka telah turun dari cita-cita yang tinggi. Apabila seorang tajrid mampu menjalani ujian itu dengan sempurna. Mereka mampu melewatinya dengan hati yang selamat dan tawakkal. Setelah melewati titik kulminasi yang sudah ditetapkan, Allah akan merubah kesusahan tersebut menjadi kegembiraan yang besar.
Enhanced by Zemanta
Post a Comment