Sunday, October 28, 2012

HAKIKAT YANG TERSEMBUNYI

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

SYAIKH AL-MUNAJJID, HAKIKAT YANG TERSEMBUNYI

 Sesungguhnya Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid adalah termasuk para ulama ‘amilin (yang mengamalkan ilmunya), yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan kecintaan kepadanya di hati kaum muslimin, di timur dan barat dunia ini. Kitab-kitabnya banyak menyebar di antara para penuntut ilmu. Berbagai kajian dan rekamannya telah sampai ke penjuru dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membukakan hati manusia untuknya pada setiap tempat. Itulah –kira-kira- yang menjadikan iri dan hasad sebagian penuntut ilmu kepadanya. Kami di majalah Qiblati, telah menerbitkan sebagian makalah Syaikh al-Munajjid, kemudian kami menghentikannya setelah sebagian penuntut ilmu merasa gelisah terhadap hal ini tanpa alasan kebenaran yang nyata, atau hanya sekedar ikut-ikutan atau kefanatikan mereka terhadap guru-guru mereka yang telah diliputi oleh kecurigaan, dan buruk sangka terhadap Syaikh al-Munajjid, atau juga mungkin karena hasad dan kedengkian terhadap Syaikh al-Munajjid, wallahu a’lam. Karena itulah kami menghentikan penerbitan makalah-makalah beliau demi persaudaraan dan pendekatan hati, juga karena ingin menjauh dari sebab-sebab fitnah. Akan tetapi, tatkala kibarul ulama (ulama-ulama besar) tidak membid’ahkan beliau, tidak juga menghajr beliau, maka kami, di majalah Qiblati memutuskan untuk kembali menyebarkan makalah-makalah Syaikh al-Munajjid, agar kami tidak menzhalimi Syaikh, dan tidak terhalang dari ilmu beliau, sebagaimana ilmu para masyayikh yang lain. Tidaklah kami melakukan yang demikian kecuali sebagai bentuk obyektifitas kami terhadap kebenaran dan nasihat kami kepada saudara-saudara kami; hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Yunus bin ‘Abdul A’la meriwayatkan, ‘Aku mendengar Ibnu Wahab berkata, ‘Aku mendengar Malik bin Anas Rahimahullah berkata, “Tidak ada di zaman kita ini sesuatu yang lebih sedikit daripada sikap inshaf (obyektif, adil).”
Abu Umar Ibn Abdil Barr berkata, “Termasuk keberkahan ilmu dan adabnya adalah sikap obyektif terhadapnya. Barangsiapa tidak obyektif, maka dia tidak akan paham, dan tidak bisa memahamkan.” (Jami’u Bayanil Ilm Wa Fadhlihi, Pasal Obyektif dalam Ilmu)
Biografi Syaikh:
Syaikh al-Munajjid dilahirkan pada tahun 1380 H.
Beliau menamatkan belajar di tingkat ibtidaiyyah (SD), mutawashshithah (SMP), dan tsanawiyah (SMA) di Riyadh.
Kemudian pindah ke kota Zhahran di Saudi, dan menyelesaikan S1 di Fak. Teknik Minyak dan Penambangan.
Guru-guru beliau:
Beliau menghadiri majelis-majelis Syaikh bin Baz Rahimahullah, Syaikh ibn ‘Utsaimin Rahimahullah, dan Syaikh Ibn Jibrin Rahimahullah. Dan orang yang paling banyak beliau ambil manfaatnya melebihi ketiga masyayikh di atas –dengan membaca di hadapan mereka– adalah Syaikh Dr. ‘Abdurrahman ibn Nashir al-Barrak (Syaikh al-Barrak lahir di al-Bukairiyyah- alQassim, 1352 H, yang mengambil ilmu dari Syaikh Ibn Baz Rahimahullah  lebih dari 50 tahun, dari tahun 1369 hingga wafatnya syaikh tahun 1420 H. Setelah wafatnya syaikh Ibn Baz, beliau diminta menjadi anggota Lajnah Ifta (komisi Fatwa) namun beliau menolak karena ingin mengabdikan diri di Masjidnya).
Kemudian beliau mendapatkan tashhih bacaan al-Qur`an dari Syaikh Sa’id Alu ‘Abdillah.
Di antara para masyayikh yang beliau banyak ambil manfaat dan bermulazamah dengannya adalah Syaikh Shalih al-Fauzan, Syaikh ‘Abdullah al-Ghunaiman, dan Syaikh Muhammad as-Syinqithiy.
Kisah Beliau dengan Syaikh bin Baz Rahimahullah:
Syaikh bin Baz Rahimahullah memilih syaikh untuk menjadi imam, khatib dan mufti dalam sebuah kisah indah yang Syaikh al-Munajjid meriwayatkan rincian kisah tersebut dalam sebuah rekaman kajian dengan tema La tazaalu Kalimaatuhu Fi Udzunayya (Kata-kata beliau masih terngiang-ngiang di kedua telingaku)
Syaikh berkata: “Aku mempunyai seorang Syaikh, yang aku belajar di sisi beliau. Pada suatu hari, aku ingin berangkat untuk belajar di Perguruan tinggi, lalu aku berkata kepada beliau, ‘Berikanlah wasiat kepadaku!”
Beliau menjawab, “Aku wasiatkan kamu terhadap Kitabullah, bacaannya, perenungannya, penafsirannya, dan penghafalannya.”
Kemudian Syaikh melanjutkan kisahnya, dengan berkata, “Sesungguhnya aku mendapati bahwa menyibukkan diri dengan Kitabullah lebih wajib dari apa yang ada. Dan sesungguhnya manusia itu kadang meyesali beberapa macam dari bidang ilmu, kecuali menyibukkan diri dengan tafsir Kitabullah, syarah hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , ilmu bahasa Arab, dan ushul fiqh. Aku tidak menemukan sesuatu yang lebih lezat, lebih membuatku berhasyrat, dan lebih baik dari semua itu, maka aku pun tidak butuh sesuatu pun setelahnya.”
Setelah Syaikh al-Munajjid mengambil ilmu syar’i dari tangan para masyayikh yang telah disebutkan terdahulu, beliau mengkhususkan diri dalam bidang teknologi minyak dan pertambangan.
Setelah beliau selesai dari perkuliahannya, beliau berkata, “Saat aku lulus, dulu aku merencanakan bahwa langkah selanjutnya adalah bisa diterima bekerja pada suatu perusahaan dari berbagai perusahaan yang sesuai dengan keahlian yang telah aku pelajari. Akan tetapi terjadi suatu perkara aneh yang memalingkanku dari semua itu, dan mengembalikanku ke medan dakwah dan ilmu syar’i untuk kedua kalinya. Dan orang yang memalingkanku dari hal itu adalah guruku, yang aku belajar di sisi beliau selama lima belas tahun, beliau adalah Syaikh bin Baz Rahimahullah.
Selepas lulus sarjana, aku langsung mendatangi beliau. Dan aku sudah terbiasa hadir di sisi beliau pada libur perkuliahan dan mengambil ilmu dari beliau.
Pada saat aku datang kepada beliau, langsung selepas lulus, beliau berkata kepadaku, “Di mana engkau belajar?”
Kukatakan, “Universitas ini, dan ini.”
Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu pergi ke sana?” (Seakan-akan beliau masih terheran-heran dengan pilihanku)
Kukatakan, “Ini adalah taqdir Allah, aku diterima di Universitas ini, dan Universitas pertama yang menerima aku adalah Universitas tersebut.”
Kemudian Syaikh berkata, “Wahai Fulan!” Beliau memanggil juru tulis yang ada di sisi beliau, kemudian beliau berkata, “Tulis!”
Aku pun berkata dalam diriku, “Apa yang ingin ditulis oleh Syaikh?!”
Beliau Rahimahullah berkata, “Tulis:

Dari ‘Abdul ‘Aziz bin Baz,
Kepada mudir (direktur) Kantor Riset ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Penerangan di Wilayah Timur, Fulan al-Fulaniy:
Syaikh Muhammad al-Munajjid akan bekerja sama bersama kalian dalam pemberian kuliah, dan kajian di wilayah (kalian).”
Aku berkata (berkilah), “Aku belum pernah menyampaikan satu kajian pun sepanjang hidupku, walau sesaat.”
Ternyata Syaikh bin Baz tidak menghiraukan alasanku, kemudian menyuruh juru tulis untuk menulis surat kedua, “Tulis:

Dari Abdul Aziz bin Baz,
Kepada mudir Kantor Waqaf dan Masjid –Cabang kementerian di wilayah timur- agar mengutus Syaikh al-Munajjid ke masjid yang sesuai untuk menjadi imam dan berkhutbah.”
Syaikh al-Munajjid tersenyum, memberikan komentar dan keheranan, “Khutbah…?! Bagaimana…?! Khutbah apa…?! Tadinya aku mau pergi ke perusahaan… kok malah akan ada kajian dan khutbah…?!”
Syaikh bin Baz Rahimahullah pun tidak menghiraukan komentarku, kemudian memerintahkan juru tulis untuk menulis surat ketiga, “Tulis:

Kepada mudir Universitas, agar Syaikh al-Munajjid mengajarkan ilmu syar’i di dalamnya.
Maka kukatakan, “Ini sangat sulit, karena aku tidak mengemban ijazah syari’ah! Bagaimana ini?!”
Maka berkatalah syaikh bin Baz Rahimahullah:, “Ambillah surat-surat ini, kemudian mintalah pertolongan kepada Allah, dan wajib atas kamu untuk ikhlash!” Kemudian beliau meninggalkan aku, dan pergi dengan mobil, dan membiarkanku di jalan bersama dengan rekomendasi-rekomendasi tersebut.
Aku pun terheran-heran, “Kajian-kajian… khutbah-khutbah… bagaimana hal itu akan terjadi? Dan di mana?!”
Kemudian aku pun mengambil rekomendasi-rekomendasi tersebut dan kukatakan, “Sudahlah… selagi Syaikh yang menyuruhku, maka ini mengharuskanku untuk taat.”
Maka pergilah aku ke Mudir Pusat Dakwah pada waktu itu, lalu aku serahkan kepadanya rekomendasi tersebut. Kemudian dia memerintah seseorang untuk membacakan rekomendasi tersebut kepadanya –dia adalah seorang buta-. Ternyata di dalamnya ‘penyampaian muhadharah dan kajian-kajian di masjid-masjid… di wilayah timur.
Lantas mudir itu bertanya, “Di mana Anda belajar?”
Kujawab, “Di Universitas ini.”
Dia berkata, “Lalu bagaimana Syaikh Ibn Baz menulis ini?!”
Lalu kukatakan kepadanya, “Aku membawa rekomendasi ini kepada Anda, sementara aku sendiri juga merasa terheran-heran seperti Anda.”
Lalu dia duduk berfikir, kemudian berbalik seraya bertanya, “Anda tidak punya ijazah syari’ah?” Kujawab, “Tidak punya.”
Karena Syaikh bin Baz adalah Ketua Umum Kantor Riset ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Penerangan maka ucapannya harus dilaksanakan, dia adalah mudirnya. Lalu dia berkata, “Di mana Anda ingin menyampaikan muhadharah (ceramah) Anda?!”
Kujawab, “Demi Allah, aku tidak tahu.”
Dia pun berkata, “Aku akan menjadikanmu untuk meyampaikan muhadharah dan kajian-kajian di madrasah-madrasah dan kantor-kantor pemerintah.”
Kemudian dia berkata kepada sekretarisnya: “Berikan kepadaku jadwal madrasah dan perkantoran, kemudian letakkan nama (Syaikh al-Munajjid) pada jadwal muhadarah dan kajian-kajian tersebut.”
Aku pun mengambil rekomendasi, dan jadwal kajian, lalu keluar. Aku pun berpikir, “Apa ini..?!”
Lalu aku pergi ke Mudir Wakaf dan Masjid, kemudian kuberikan kepadanya rekomendasi Syaikh. Dia membuka rekomendasi tersebut, kemudian memerintahkan untuk menunjukku di salah satu masjid, dan aku terus di sana hingga hari ini.
Agar aku terbiasa (terlatih) berkhutbah, aku pergi ke masjid lain di pasar untuk berkhutbah di tengah-tengah mereka. Mayoritas mereka adalah orang-orang ‘ajam (non Arab), masjidnya paling banyak tiangnya, dan mimbarnya tertutup. Lalu aku pun menutup diriku dengan tembok sebelah yang ada di sisi kanan dan kiri mimbar. Dulu aku mengangkat kertas di tengah khutbah untuk menutupi wajahku dengannya.
Kemudian, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan taufik untukku dengan karunia Allah kemudian berkat do’a Syaikh bin Baz dan perhatian beliau kepadaku. Demikianlah aku beralih dari bidang kuliahku secara total.
Setiap kali aku bertanya kepada diriku sendiri, “Siapakah penyebabnya, dan bagaimana bisa terjadi?” Maka aku pun menghadapkan do’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan rahmat-Nya kepada Syaikh bin Baz, serta mengangkat derajat dan kedudukan beliau serta mengampuni beliau, dan menjadikan beliau di atas banyak makhluk-Nya pada hari kiamat.”
Inilah dia Syaikh Muhammad al-Munajjid, dan inilah kehidupan beliau yang penuh dengan ilmu. Sesungguhnya aku yakin, bahwa banyak di antara manusia tidak mengetahui rincian indah yang itu merupakan rekomendasi terbesar yang diraih oleh seorang penuntut ilmu dari gurunya ini.
Kami mengingatkan bahwa Syaikh al-Munajjid –mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaganya- mendapatkan banyak pujian dari anggota Haiah Kibaril Ulama pada kajian-kajian mereka dan jawaban-jawaban mereka. Karena itu aku menantang siapa saja yang bisa mendatangkan catatan miring atas beliau –apalagi tahdziran- dari anggota Haiat Kibaril Ulama manapun, atau dari Lajnah Daimah, atau juga para imam Masjidil Haram.
Bahkan, sesungguhnya Syaikh Shalih Fauzan Rahimahullah telah memuji kitab Syaikh al-Munajjid yang baru, beliau berkata dalam pujiannya, ‘Aku telah membaca sebuah kitab bernilai dan penuh faidah milik Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid, sebuah kitab yang setiap penuntut ilmu membutuhkannya; yaitu kitab Bid’atu I’adati Fahmin Nashsh[1] (Bid’ah Menafsir ulang (rethinking) teks)[2]. Maka saya mendapatinya -walhamdulillah- sebagai sebuah kitab penuh faidah lagi bermanfaat; dimana kita membutuhkannya pada waktu ini yang orang-orang ruwaibidhah (orang kerdil tanpa ilmu sok punya ilmu); dan murid-murid Barat serta orang-orang kebatinan banyak berbicara tentang hukum-hukum syariat demi menghancurkan bangunan-bangunannya, dan menggantinya dengan pendapat-pendapat orang-orang sesat. Maka segala puji bagi Allah yang pada setiap waktu telah menjadikan seorang penolong bagi kebenaran, serta menjadikan pembantah dan pemberantas kebatilan. Sesungguhnya kitab ini, dengan sebenarnya, telah menutup satu celah besar yang dibuat oleh para penyamun itu yang berusaha untuk mencabik-cabik penjagaan syariat, dan berusaha untuk memarjinalkan para pelindung  dan para pengemban Syariat…. Maka mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas Syaikh Muhammad dengan sebaik-baik balasan atas apa yang telah dia tulis, dia jelaskan, dia tunjukkan dan dia komentari. Hingga dia jelaskan aib mereka, dan mengoyak topeng-topeng mereka. Mudah-mudahan Allah menjadikannya sebagai bagian dari para penolong agama-Nya, serta penjaga syari’at-Nya, serta menambahnya dengan ilmu dan amal. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kepada keluarga dan para sahabat beliau.’
Mengambil ilmu dari seorang insinyur minyak dan tambang?
Sungguh mengherankan saat kita mendengar orang yang lancang, buruk adabnya terhadap seorang alim Syaikh Muhammad al-Munajjid, kemudian dia berkata dengan segenap kedengkian dan hasad: “Apakah kita akan mengambil agama kita dari seorang Insinyur?!” Thalabul ilmi kerdil lagi miskin ini tidak mengetahui bahwa dia tidak sampai pada tingkatan murid Syaikh yang paling rendah sekalipun! Dia tidak mengetahui biografi syaikh yang penuh dengan ilmu dan dakwah! Dia tidak mengetahui bahwa Insinyur hanyalah gelar ilmiah tambahan. Dia adalah satu profesi yang dengannya manusia mencari kehidupan sebagaimana para Nabi, para sahabat, dan ulama Salaf.
Nabi Nuh ‘Alaihi Sallam adalah tukang kayu, Nabi Idris ‘Alaihi Sallam adalah penjahit, Nabi Ibrahim ‘Alaihi Sallam adalah pedagang pakaian, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dulu adalah seorang penggembala, Abu Bakar, Utsman, dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf Radhiallahu ‘Anhu adalah para saudagar (pedagang), ‘Amr bin al-’Ash adalah seorang jagal hewan, az-Zubair bin al-’Awwam seorang penjahit. Banyak di antara para ulama salaf yang mencari nafkah dengan profesi-profesi dunia yang bermacam-macam. Di antara mereka –bukan untuk membatasi– adalah:
Al-Ajuri: nisbat kepada pekerjaan pembuatan bata dan penjualannya. Yang terkenal dengan profesi ini adalah Abu Bakar al-Ajuri.
Al-Iskafi: nisbat kepada orang yang membuat sandal dan memperbaikinya (tukang sepatu dan sandal). Yang terkenal dengan profesi ini adalah Ahmad al-Iskafi.
Al-Baqillani: nisbat kepada penjual (bakul) kacang. Yang terkenal dengan profesi ini adalah Abu Bakar al-Baqillani.
Al-Bazzaz; nisbat kepada penjualan pakaian. Yang terkenal dengan profesi ini adalah Abu Bakar al-Bazzaz.
At-Tauhidiy: nisbat kepada penjualan tauhid (satu jenis korma), Yang terkenal dengan profesi ini adalah Abu Hayyan at-Tahidiy.
Al-Jauziy; nisbat kepada kelapa dan penjualannya, lalu terkenal dengan profesi ini, Abu Ishaq al-Jauziy.
Di antara para ulama kontemporer, beliau adalah Syaikh Shalih Alus Syaikh, dulu beliau belajar di Fakultas Teknik selama 4 tahun, demikian pula Syaikh Musthafa al-’Adawiy dulu beliau adalah seorang Insinyur, juga Syaikh al-Faqih Muhammad Yasri Ibrahim, doktor bidang Teknik Kimia. Dan banyak lagi selain mereka yang berprofesi sebagai dokter dan profesi-profesi lain. Kita juga tidak melupakan bahwa Syaikh al-Albani Rahimahullah dulunya adalah tukang jam. Mereka semua dan selain mereka mengambil petunjuk dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ

“… Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah…” (QS. Al-Jumu’ah: 10) maka dulu mereka merupakan sebab kemakmuran dunia.
Hingga orang-orang kafir dan musyrik yang sombong tidak memandang rendah pengikut para Nabi yang mereka mengambil agama mereka dari (orang yang dulunya) para penggembala kambing, atau penjahit, atau tukang kayu!!! Maka mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepada kondisi orang-orang yang tidak obyektif.
Pembelaan Syaikh al-Munajjid terhadap syaikh al-Albani Rahimahullah:
Beliau menjawab di website beliau atas seorang penanya yang bertanya tentang keadaan Syaikh al-Albani Rahimahullah, maka beliau pun memujinya, menyebut rekomendasi ahlul ilmi kepadanya, memberikan nasihat untuk membaca kitab-kitabnya, dan mendengarkan kaset-kasetnya. Lalu beliau menutup dengan ucapannya: “Aku memohon kepada Allah, agar merahmati syaikh kami, al-Albani, serta menempatkan beliau pada Firdaus yang tertinggi. Jawaban tersebut ada pada link: http://www.islam-qa.com/ar/ref/110667.
Sejak kecil, Syaikh al-Munajjid telah banyak mengambil manfaat dari kitab-kitab Syaikh al-Albani Rahimahullah. Beliau juga menghubungi Syaikh al-Albani melalui telpon setiap kali beliau membutuhkannya. Di dalam Silsilah Asyrithatul Huda Wan Nur, kaset (10/206) Syaikh al-Munajjid bertanya kepada Syaikh al-Albani Rahimahullah, dengan banyak pertanyaan. Pada saat al-Munajjid bertanya, ‘Apakah Anda mengizinkan saya untuk menyampaikan pertanyaan terakhir? Syaikh al-Albani menjawab, ‘Sayang kalau ini adalah pertanyaan terakhir.’ Maksudnya, ‘Aku ingin agar engkau memanjangkan perbincangan dan bertanya sekehendakmu.’ Pada akhir pembicaraan via telpon itu, al-Munajjid memperkenalkan dirinya dan bahwa beliau –yaitu Syaikh al-Albani- mengenal ayah istrinya. Setelah al-Albani mengenal ayah istri al-Munajjid (mertua syaikh al-Munajjid), maka syaikh al-Albani pun mendoakannya agar diberi rahmat oleh Allah. Demikianlah adab Syaikh al-albani dan ketawadhuannya Rahimahullah. Inilah link pembicaraan itu:
http://www.ansarallah.com/play_audio.php?audio=162.
Aktifitas dakwah beliau:
Sulit bagi kami untuk merinci aktifitas dakwa beliau, hanya saja kami ringkas yang terpenting sebagai berikut:

  • memiliki lebih dari 15 karya tulis
  • memiliki kajian di televisi lebih dari 5600 jam siaran selama 23 tahun
  • memiliki silsilah kajian di siaran radio al-Qur`an al-Karim
  • penasihat umum sekumpulan website islami, yang terdiri dari 8 web.
  • Imam dan khatib Masjid Jami’ Umar bin Abdil Aziz
Memiliki kajian-kajian ilmiah tentang:

  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Syarah Shahih al-Bukhari
  • Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
  • Syarah Sunan at-Turmudzi
  • Syarah Kitabut Tauhid Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab
  • Syarah Umdatul Ahkam fil Fiqh, al-Hafizh ‘Abdul Ghaniy al-Maqdisiy
  • Syarah Kitab Minhajus Salikin fil Fiqh, Syaikh as-Sa’diy
Inilah Syaikh Muhammad al-Munajjid, dan inilah kenyataan beliau yang tersembunyi. Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menetapkan bagiku dan bagi saudara-saudaraku di Majalah Qiblati segala kebaikan, karena pembelaan kami kepada semua ulama para pewaris Nabi. (AR)*


[2] Yang dimaksud oleh Syaikh adalah pikiran dan upaya bid’ah kaum Liberal, sebagaimana yang yang digembar-gemborkan oleh “intelektual” Liberal dari pelbagai penjuru dunia: Muhammad Abed Al-Jabiri (proyek Kritik Nalar Arab), Muhammed Arkoun (Kritik Nalar Islam), Farid Essack (Hermeneutika Pembebasan), Hasan Hanafi (Kiri Islam), Nasr Hamid Abu Zayd, (Peradaban teks) dan seterusnya. Yang akhirnya berbondong-bondong aktifis JIL Indonesia mengekor di belakang mereka.
Enhanced by Zemanta

Ubun-ubun

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Rahasia Ubun-ubun Animated Pictures Myspace Comments

 Mukjizat ayat :
نَاصِـيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ ٍ
Syekh Abdul Majid az-Zindany, berkata, “Dahulu aku membaca firman Allah,

كَلاَّلَئِن لَمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ، نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ
“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya (yaitu) ubun-ubun yang dusta lagi salah. (QS al-‘Alaq:15-16)”
An-Nashiyah adalah ubun-ubun. Aku bertanya-tanya pada diri sendiri, dan berkata, “Ya Allah, jelaskan untuku artinya ini!
Mengapa Engkau katakan Nasiyah Kadzibah (Ubun-ubun yang mendustakan lagi salah)?”
Aku berpikir tentang hal itu selama lebih dari sepuluh tahun. Dalam kebingunganku ini, aku merujuk pada kitab-kitab tafsir dan mendapatkan jawaban, bahwa salah seorang ahli tafsir berkata, “Maksudnya bukan berarti ubun-ubun yang dusta, akan tetapi itu adalah makna majaz (kiasan) bukan makna yang sebenarnya. Arti ‘ubun-ubun yang berdusta lagi bersalah’, adalah orang yang memilikinya. Demikianlah mereka mengatakannya, jadi bukan ubun-ubun yang berdusta.
Pada akhirnya Allah memudahkanku untuk mencari tahu tentang rahasia ubun-ubun ini. Salah seorang ahli ilmu dari Kanada dan orang-orang terkenal dalam ilmu otak, anatomi dan janin telah memaparkan rahasia ubun-ubun ini. Kami mengetahuinya dalam sebuah konggres para dokter dunia yang dilaksanakan di Cairo.
Di konggres tersebut hadir para dokter bersama istrinya. Salah seorang istri dokter, tatkala mendengar kata, Nashiyathin Kadzibah (ubun-ubun yang dusta) ini bertanya, ”huruf ha’ (ta’ marbuthah dalam Kadzibah, yang berarti menunjukkan sifat dari Nashiyah kemana perginya?”
(Dijawab) para ahli tafsir berkata, “Makna Nashiyathin Kadzibatin Khathi’ah, adalah Ubun-ubun orang yang berdusta lagi bersalah, bukan ubun-ubunnya yang dusta, atau dengan menghilangkan huruf ha’ nya).” Dia kembali bertanya, “Lha terus kemana perginya huruf ha’ ?”
Aku berkata pada diri sendiri, “Inilah huruf ha’ yang membuat aku bingung selama 10 tahun. Allah yang Maha Tinggi telah berfirman kepada kami, “Nashiyah Kadzibah Khati-ah. Akhirnya kami merujuk kepada pemaparan seorang ilmuwan Kanada, yang dikemukakan semenjak 50 tahun lalu, dia menjelaskan bahwa otak itu terletak di bawah kening yang langsung berhubungan dengan ubun-ubun itulah bagian terpenting dari kedustaan dan kesalahan. Dari situlah tempat yang keluar kedustaan dan kesalahan. Mata akan melihat dengannya, dan telinga akan mendengar darinya. Demikian pula, dari tempat itu yang dapat mengeluarkan keputusan.
Jika bagian itu dipotong, maka pemiliknya tidak akan mempunyai keinginan sendiri, dia tidak dapat memilih untuk duduk, berdiri dan berjalan. Dia tidak mampu mengendalikan dirinya, seperti seseorang yang dicabut matanya, maka dia tak akan bisa melihat. Kemudian sang ilmuwan melanjutkan, bahwa bagian ini adalah penanggung jawab dari sumber segala keputusan…
Dengan demikian, siapakah yang mengambil keputusan? Kita mengetahui dia adalah jiwa, dialah pemilik keputusan, jiwalah yang melihat, akan tetapi mata adalah yang mengindera. Jiwa mendengar akan tetapi telinga yang mengindera, demikian juga otak adalah mengindera. Akan tetapi pada akhirnya tempat itulah penghasil keputusan. Itulah Nashiyathin Kadzibathin Khati’atin. Oleh karenanya Allah berfirman, yang artinya, “…..sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya,” yang bermakna, “Akan Kami ambil dan Kami runtuhkan.”
Maha Suci Allah, apa yang ada di dalam kitab-Nya.
Huruf ha’, manusia akhirnya mengetahui rahasianya setelah ilmu pengetahuan maju setapak demi setapak. Kemudian mereka menemukan bahwa bagian kecil dari Nashiyah (ubun-ubun) ini berada juga dalam setiap binatang yang berbentuk kecil lagi lemah. Karena memang binatang tempat pengendalian dan gerakan badannya juga bersumber dari tempat ini. Oleh karena ini Allah mengisyaratkan dengan firman-Nya,

مَّامِن دَابَّةٍ إِلاَّهُوَ ءَاخِذٌ بِنَاصِيَتِهَآ
“Tidak ada sutu pun binatang yang melata melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya.” (QS Huud:56)
Tempat pengendalian terdapat di ubun-ubun, siapakah yang mengetahui semua ini? Kapan para ilmuwan mengetahuinya? Adalah ketika mereka mengoperasi binatang-binatang…
Al-Quran telah menyebutkan fakta fenomena ini bersamaan datangnya ilmu Allah yang memberitahukan segala sesuatu dari ilmu pengetahuan. Dalam hadits yang mulia pun juga disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، اِبْنُ عَبْدِك،َ اِبْنُ أمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ
“Ya Allah sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, putra hamba-Mu laki-laki dan putra hamba-Mu perempuan, ubun-ubunku ada di tangan-Mu.”
Ubun-ubun adalah tempat kendali, dan dengan membaca hikmah dari syariat Allah, ubun-ubun ini bersujud dan taat merendahkan diri kepada Allah. Mungkin sekali disana juga ada kaitan antara ubun-ubun yang sujud khusyuk dengan akhlaq tingkah laku yang istiqamah di jalan-Nya.

إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat mencegah dari yang keji dan yang mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut ayat 45)
(Diambil dari Kitab Wa Ghadan ‘Ashrul Iman)

Enhanced by Zemanta

Saturday, October 27, 2012

TAWASSUL

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


BERTAWASUL DENGAN NABI MUHAMMAD

 

Bermunajad atau berdoa kepada Allah bisa dengan atau tidak dengan perantara, Akan tetapi sesungguhnya, ketika kita berdoa selalu ada beberapa perantara yang dilibatkan, yaitu; mencakup keadaan pribadi orang,tingkat kepatuhan,amal perbuatan , ketulusan dan keikhlasan seseorang .Jadi menurut Syeikh Muhammad Hisyam Kabbani berdoa atau bermunajad kepada Allah dengan melalui perantara tidak Syirik.Disebutkan dalam eksiklopedia of islamic doctrine voume 4,Nabi Muhammad saw menjelaskan kepada para sahabat dan semua umat,Beliau berkata kepada Abu Bakr al Shidiq : “Pertolongan tidak diperoleh karena aku.Pertolongan diperoleh (hanya) karena Allah”.Beliau tidak mengatakan kepada Abu Bakr : “Haram meminta pertolongan kepadaku, karena hal itu sama saja menyekutukan kepada Allah” (al suyuthi, jami’ al hadits 496,no2694) Maksud Nabi saw adalah ia bukanlah sumber pertolongan,melainkan hanya pemberi syafaat paling utama untuk mendapatkan pertolongan Allah.
Makna hadist itu didukung ayat qur’an :”…… engkau tidaklah melempar ketika melempar,tetapi Allahl lah yang melempar……”.(QS al Anfal[8] :17), dan “Bahwa orang yang berjanji setia kepadamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah………..”.(al Fath[48]:10).Bahkan nabi bersabda :Aku tidak membuatmu bosan,tetapi Allah lah yang membuatmu bosan ‘(bukhari Muslim).Jadi hadis : “….pertolongan tidak diperoleh karena aku berarti bahwa meskipun akulah yang diminnta pertolongan pada hakikatnya bukan aku yang diminntai pertolongan,melainkan Allahh
Ibnu katsir ra,menyebutkan bahwa syi’ar (slogan) umat islam pada peristiwa perang Yamamah adalah :” Ya Muhamadah ( Wahai nabi Muhammad,tolonglah)”.Ia berkata :Khalid bin walid membawa (bendera) dan menyerang sampai melewati musuh untuk mencari Musailamah (al Kadzdzab,Sang pembohong).Setelah berhasil membunuhnya,dia kembali dan berhenti di dekat Shiffin seraya berkata: “Saya adalah putra Walid bin ‘Ud serta putra ‘Amir dan Zaid “.Kemudian dia berseru dengan slogan ummat islam.Slogan mereka ketika itu adalah :Ya Muhammadah ( wahai Muhammad,tolonglah ) (Al Bidayah wa Al Nihayah VI :324)
 Diriwiyatkan dari Haitsam bin khunus dia berkata :”Kami pernah berada dekat Abdullah bin Umar r.a.Kaki terasa bergetar (panas dingin) seseorang berkata kepadanya:”Coba sebutkan orang yang kau cintai.Dia berkata :Ya Muhammadah;(Wahai Muhammad,tolonglah).Tiba tiba dia sembuh seperti terlepas dari suatu ikatan.
Ada juga riwayat dari Mujahid r.a:”seorang yang kakinya tampak panas dingin berada dihadapan ibnu abbas r.a beliau berkata padanya: ” Coba anda sebutkan orang yang paling anda cintai,orang itu menjawab : ” Muhammad saw”.Maka hilanglah penyakitnya itu; Riwayat ini disebutkan oleh syeikh Ibnu Tamiyah dalam kitab AL KALIM AL THAYYIB pada pasal ke 47 hal 165,Itulah contoh tawasul dalam bentuk panggilan, demikian ditulis oleh DR.Muhhammad Al maliki al Hasani
Dalam enciclopedia of islamic doctrine Syeikh Muhammad Hisyam kabbani menulis ;diriwayatkan bahwa seorang buta datang kepada nabi Muhammad saw dan berkata:”Mohonkan kepada Allah agar DIA menolongku”.Beliau menjawab :”Jika kau kehendaki,aku akan menunda ini, dan jika lebih baik bagimu,aku akan berdoa kepada Allah Yang Maha suci”.Orang buta itu berkata:”Berdoalah kepadanNYA nabi Muhammad berkata kepada orang buta itu:”IDZAB FA TAWADHDHA’ WA SHALLI RA’ATAIN TSUMMA QUL ( Pergilah berwudlu,dan shalatlah dua rakaat lalu katakan ): Ya Allah, aku memohon kepada MU ( as’aluka) dan menghadap kepadaMU (atawajjahu ilayka) melalui NabiMU (bi nabiyyika Muhammad),nabi pembawa rahmat;Hai Muhammad ( ya Muhammad),aku menghadap kepadamu kepada Tuhanku menyampaikan kebutuhanku ini ( inni attawajjahhu bika ila rabbi fi hajati hadzihi – versi lain menyebutkan :(inni astsfi’u bika ala rabbi fi raddi bashari – akumeminta kepada Tuhanku dengan syafatmu untuk mengembalikan penglihatanku, Ya Allah..izinkan ia memberi syafaat untuku : Allahumma…Syaffi’hu fiyya. (diriwyatkan: Ahmad (4:138no 17246-17247;Tirmidzi;Hasan sahih garib,Da’awat,bab119;Ibn Majjah:kitab Iqamah al shalat wal sunnah,bab tentang shalat al Hajat no 1385,dengan tegas dinyatakan sahih oleh lima belas ulama hadis termasuk ibn Hajar,al Dzahabi,al Syaukani,dan Ibn Tamiyah).’
Selanjutnya syeikh menjelaskan :Perintah hadis ini berlaku umum untuk semua umat islam,tidak dibatasi untuk ,orang,tempat, atau waktu tertentu.ia berlaku bagi semua generasi hingga akhir yaman kecuali ada dalil lain dari nabi
Nabi tidak hadir secara fisik ketika doa itu dibacakan, karena beliau berkata kepada orang buta itu ” pergilah dan berwudlu……tanpa menambahkan :”lalu kembali kepadaku “seorang yang tidak hadir dihadapan anda. berarti ia tidak ada,sama saja apakah ia masih hidup atau siudah neninnggal dunia.
Abu said al khudri r.a meriwayatkan bahwa rosulullah saw bersabda:”Barang siapa meningalkan rumahnya untuk shalat dan berkata:”Ya Allah aku memohon kepadaMU,dengan kebenaran orang yang meminta kepadaMU dan aku memohon kedaMU dengan kebenaran orang yang berada di jalanMU yang tengah ku tempuh tanpa sikap ceroboh,sombong apalagi besar kepala dan tanpa mengharapkan pujian.Aku melangkah untuk menjauhi diri dari murkaMU dan untuk mencari ridlamu.Karena itu aku memohon perlindunganMU dari api neraka dan agar engkau mengampuni dosaa dosaku,sebab tak ada yang mengampuni dosa dosa selain KAU”. Niscaya Allah akan menerimaya dan tujuh puluh ribu malaikat akan memohon ampunan NYA
Dari anas ibn malik bahwa nabi saw berkata:”Ya Allah,berikan ampunanMU kepada ibuku,fatimah binti asad luaskan tempat yang akan dimasukinya(kuburnya) dengan kebenaran nabiMU dan kebenaran nabi nabi yang dtang sebelunku.
Hadis diatas menurut syeikh Muhammad Hisyam kabbani,menunjukankan bukti bahwa tidak ada perbedaan orang yang hidup maupun orang yang sudah meninggal dalam konteks tawasul,dan inilah contoh tawasul melalui para nabi.Sedang hadist abu said kurdhi:”Ya Allah aku meminta kepadaMU dengan kebenaran orang orang yang meminta kepadaMU,merupakan tawasul melalui kaum muslim secara umum.baik yang hidup maupun yang sudah meninggal.

BERTAWASUL DENGAN PARA WALI 

 

Syeikh Ja’far Subhani menulis dalam Wahabiyyah fii al Mizan : bahwa kaum Muslimin pada masa nabi dan masa sesudahnya,senantiyasa bertawasul dengan Auliya dan dengan maqam serta kedudukan mereka disisi Tuhan.Beliau mencontohkan beberapa hadits dan riwayat :
  • Ibn Atsir Izzudin Ali bin Muhammad, wafat tahun 630 dalam bukunya “USUD AL GHABAH FI MA’RIFA ASH SHABAH” menulis: Umar bin Khatab meminta hujan dikala paceklik memuncak,maka Allah memberi mereka hujan sehingga suburlah bumi.Umar menghadap kepada orang banyak dan berkata:”Demi Allah. Abbas adalah perantara kita kepada Allah dan ia mempunyai kedudukan di sisiNYA.
    Hasan bin Tsabit kemudian berkata:

    Di kala paceklik sudah merata disemua tempat,sang imam memohan hujan

    Maka segarlah orang orang dengan cahaya Abbas,paman nabi serta sejawat ayah beliauYang telah mewarisi maqam dan keudukan darinya Allah menghidupkan bumi

    Maka hijaulah bumi setelah keputussaan.
Dan ketika air hujan merata diseluruh tempat,orang orang bertabaruk(meminta berkah) dengan mengusap badan Abbas, seraya berkata: ” Selamat bagimu,wahai pemberi minum Haramain
Dengan memperhatikan riwayat diatas,sebagian darinya juga terdapat dalam Shahih Bukhari,kita dapat memahami bahwa salah satu dari sunstansi Tawasul adalah menjadikan orang orang yang terhormat yang memiliki kedudukan disisi Allah sebagai perantara,agar dapat membuat orang yang berdoa dan orang yang bertawasul itu dekat dengan Allah.
Allah menegaskan dalam frimanYA untuk senantiasa menemani para wali:”Hai orang orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang orang yang benar (QS al taubah [9]:119).Dan DIA menganjurkan kepada kita untuk mengikuti kepada orang orang yang kembali kepada NYA dengan tobat (QS Luqman [31]:15).Nabi saw besabda kea pada al farasi,tentang meminta minta,:”Jika kau memang harus meminta minta,mintalah kepada orang yang baik”( IN kunta la budda sa’ila fas’al al shalihin ).Dengan demikian mendatangi orang saleh untuk bertawasul hukumnya sunah dalam islam.
Selajutnya syeikh Muhammad Hisyam kabbani menjelaskan;sebagian orang mengira bahwa doa seorang wali hanya akan dikabulakn saat ia masih hidup dan ia tidak akan dapat menolongmu jika sudah mati.Mereka beranggapan bahwa orang suci,syeikh atau wali adalah sumber pertolongan,padahal,hanya Allah yang menjadi sumber keberkahan,bukan manusia.Karena itu meyakini bahwa Allah hanya akan memberi saat wali masih hidup dan tidak memberi jika ia sudah meninggal sama saja dengan mengatakan bahwa sumber tertinggi adalah manusia,bukan Allah.Sebenarnya hanya Allah yang memberi pertolongan baik ketika wali itu masih hidup ataupun sudah wafat.

Telah menjadi bagian keyakinan umat islam bahwa abdal,atau para wali pengganti disebut karena nabi bersabda:”Tak seorangpun dari mereka mati kecuali Allah menggantinya dengan yang lain”.Syeikh Muhammad Hisyam Kabbani mengutip tulisan Ibn Taimiyah dalam kitabnya: AQIDAH WASITIYYAH.:
  • Penganut islam sejati adalah kaum sunni.diantara mereka terdapat para wali yang benar (shidiqqin),syuhada dan orang saleh.Diantara mereka orang yang dapat petunjuk dan cahaya,yang integritasnya kuat dan kebaikanya nyata.Para pengganti (abdal) dan pemimpin agama terdapat ditengah tengah mereka dan kaum muslimin berada di bawah bimbingan mereka.inilah kelompok yang beruntung yang mengenai mereka nabi saw bersabda:”Ada satu kelompok dalam umatku yang kukuh dalam kebenaran.Mereka tak akan dimudlaratkan oleh orang orang yang menentang maupun yang mengabaikan mereka sejak kini hingga hari kiamat”.*)Ibn Taimiyyah,’Aqidah Wasithiyyah,(edisi salfiyah ),h 36.
Imam syaukani berkata dalam makalah al Durr al Nadid fi Ikhlash Kalimah al tawhid :

  • Taka ada ruginya bertawasul melalui nabi, wali atau ulama……….. Sesorang yang datang ke kuburan sebagi peziarah (za’ira ) dan meminta kepada Allah semata dengan berwasilah kepada orang yang yang berada dalam kuburitu, adalah laksana orang yang mengatakan :”YA Allah aku memohon Engkau menyembuhkanku dari ini itu, dan aku berwasilah kepadamu dengan apa yang dimiliki hambaMU yang saleh ini,seperti ibadah kepadaMU,berjuang karenaMU,dan belajar serta mengakjardengan niat yang tulus karenaMU”. Jadi tak diragukan lagi tawasul seperti itu diperbolehkan
Syeikh Ja’far Subhani menambahkan firman Allah untuk penjelasan mengenai tawasul dengan parawali yaitu surat al Maidah ayat 35 :

  • “Wahai orang orang yang beriman,bertkwalah kepada Allah,dan carilah wasilah ( jalan ) yang mendekatkan diri keapadaNYA,dan berjihatlah pada jalanYA supaya kamu mendapat keberuntungan “.(QS al Maidah :35)
Ayat tersebut secara umum mengatakan agar orang mencari perantara,namun tidak dijelaskan perantara macam apa.Kita yakin, bahwa melaksanakan tugas tugas agama merupakan suatu perantara untuk mencapai keberuntungan.Akan tetapi hal itu sebenarnya tidak terbatas pada yang disebut diatas saja.Dengan memperhatikan sejarah dan riwayat riwayat,dapat dikatakan bahwa Tawasul juga merupakan salah satu perantara.Hal ini nampak jelas melalui riwayat permintaan hujan Khalifah kedua dengan pernatara ‘Abbas paman nabi:
  • Ya Allah,kami memohon hujan dariMU dengan pernataraan paman nabiMU dan akmi menjadikan kebaikan kebaikan sebagai syafi’.Ketika itu turunlah rahmat Allah di semua tempat.
  • Berhubung dengan itu ‘Abbas bin ‘Utbah bin Abi lahab berkata:”Dengan berkat pamanku.Allah telah menurunkan hujan bagi tanah Hijaz dan penghuninya,yatiu dikala senja,ketika ‘Umar bertawasul dengan kebaikan kebaikannya”.
  • Hasan bin Tsabit juga mengatakan :menurunkan hujannya dengan cahaya ‘Abbas,
Dari serangkaian riwayat dan hadis dapat dipahami bahwa para sahabat nabi memohon Syafaat dari beliau ,bahkan setelah wafat nabi ,simak peristiwa berikut :
  • Ibn ‘Abbas berkata :”Ketika Amirul mukmini, Ali bin Ahalib,selesai dari memandikan dan mengkafani Rosulullah ia membuka wajah beliau dan berkata:’Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu,sungguh engkau harum,baik ketika hidup maupun setelah wafatmu….. Ingatlah kami disisi Tuhanmu.(Nahjl al Balaghah ,kuthbah ke 230 )
  • Pada waktu rosul meninggal dunia,Abu bakar membuka wajah beliau dan berkata :’Ayah dan ibuku kujadikan tebusanmu, engkau harum pada masa hidup dan setelah wafatmu,ingatlah kami disisi Tuhanmu (kasyf al irtiyab,hlm 265,nukilan dari Khulashah al kalam )
    Riwayat riwayat tersebut menerangkan memohon syafaat adalah boleh,baik pada masa hidup si pemberi syafaat atau setelah meninggal


Enhanced by Zemanta

PANGKAT MULIA DISISI ALLAH

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

PANGKAT MULIA DISISI ALLAH


Berjalan menuju Allah adalah sebuah perjalanan diri Menuju tempat yang dekat dengan ALLAH,yaitu didalam diri yang sucibersih dari segala kotoran ,hati yan bersih ibarat cermin yang bisa menangkap bayang sosok wujud sebuah benda sehingga sosok wujud itu nampak dengan jelas, wujud itu tak akan jelas tanpa cahaya , sinar yang menerangi wujud atau yang menyinari cerminya dan kemudian memantul ke wujud sehingga wujud itu tersinari dan terlihat dalam cermin itu.
Cahaya adalah sinar hidayah Allah yng dapat ditangkap dengan jelas dalam cermin hati yang tersucikan.bila sosok hidyah itu dapat kita tangkap dengan jelas dan bermukim dihati maka selamatlah diri kita karena akan membuahkan sifat takwa yang akan beranak dan pianak menjadi sifat sifat yang mulia, sifat ikhlas, istiqomah, dan qanaah, maqam syukur akan terlahir dalam diri kita.Sehingga diri ini berteduh dan berlabuh dalam keheninggan genggaman illahi.
Secara sederhana dapat kita katakan bahwa perjalanan menuju Allah adalah berpindah dari sosok yang kurang sempurna menjadi pribadi yang senpurna dalam kesalehan,mengikuti ucapan perbuatan dan sifat batin Rosulullah.Target utamanya adalah hati yang sehat,yaitu hati yang menyambut segala perintah Allah dengan nyaman dan ikhlas dengan totalitas ketundukan dan keridlaan. Sehingga menuntun jasad untuk berjalan menuju pengamalan perintah Allah dengan kekuatan semangat dan kesungguhan.
Dalam pandangan syeikh Sa’id Hawa r.m membicarakan perjalanan menuju Allah bukanlah perkara mudah.Ada beberap faktor yang penyebabnya antara lain;
Pertama : sangat sulit membatasi dan memetapkan permasalahan ini
Kedua: karena dalam menyoroti permasalahn ini manusia terpecah menjadi beberapa golongan,setiap golongan memiliki kecenderungan yang berbeda.Mereka memandang seluruh persoalan dengan kacamata masing masing.
Seorang yang sedang berjalan menuju Allah sering mengalami kondisi ruhiyah yang menghayutkan perasaannya.Merasakan kemahaesaan Tuhan hanyut merasakan nama Allah yang menjadi tempat meminta dan berteduh dari segala kebutuhan kita.Ini adalah kondisi dimana orang merasakan segala sesuatu menjadi lenyap tidak berbekas.namun,perasaan itu harus dibarengi keyakinan bahwa Allah adalah pencipta semua alam dan bukan makhluk atau alam itu sendiri.Tasawuf adalah penghayatan aqidah, bukan keyakinan yang berseberangan dengan nash dan paham yang shahih.
Allah telah menurunkan syariat yang membuat batasan batasan dan nash nash alqur’an sebagai pedoman dari seluruh permasalahan umat membedakan mana yang benar dan bathil.Inilah yang menjadi hakim dan rambu dijalan selama perjalanan menuju Allah,siapapun yang melanggar dan menentang dinyatakan sesat
Jika kita merasa diri ini kotor maka sudah saatnya memberikan dorongan kepada hati untuk bergerak dan berjalan menuju hati yang tersucikan dengan melewati jalan yang ditunjukan Allah yaitu jalan lurus;jalan orang orang yang dirahmatiNYA, Dan bukan jalanya orang orang yang dimurkai
Target utama dalam menempuh jalan Illahi adalah hati yang suci ,kesempurnaan diri dan meraih maqam kesempurnaan.Ada dua maqam ( jenjang spiritual ) yang disebutkan dalam Al qur’an yaitu maqam rabbaniyyah dan maqam shidiqiyah.
Dalam pandangan Syeikh Sa’id Hawa “shidiq” menurut beberapa nash memiliki dua makna,pertama: sangat membenarkan (mempercayai) kedua ; sangat benar.Firman Allah :
وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاء عِندَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ
وَنُورُهُمْ وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mereka itu adalah As shidiqun (pencinta kebenaran) dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka. Mereka berhak mendapat pahala dan cahaya. Tetapi orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni-penghuni neraka.”(al hadid 57:19)
Hal yang menjadikan mereka ashidiqun adalah tasdiq(pembenaran ) atas keimanan mereka.oleh karena mereka benar dan selalu berupaya mencari yang benar,ia menjadi “shidiqun
Rabbaniyyah adalah shidiqiyyah plus; shidiqiyyah didasarkan pada ma’rifah ( mengenal ) Allah dan ibadah kepadanya.dan rabbaniyah adalah siddiqiyyah yang disertai dengan ilmu,mengajar,nasehat, berhukum dengan apa yang diturunkan Allah,amar ma’ruf nahi mungkar
Dalam kedua maqam itu ada kedalaman iman, akhlak dan perangai yang akan menjadikan pemilik kedua maqam tersebut memperoleh kedudukan yang tinggi disisi Allah.Mereka adalah as sabiqun ( para senior dan pelopor dalam kebaikan) dan al muqorrobun ( orang yang didekatkan Allah);Firman
وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ -١٠- أُوْلَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ -١١
Dan as sabiqun ( orang orang terdahulu)itu adalah as sabiqun.Mereka itu adalah al muqarrabun ( orang orang yang dihampirkan Allah )
( al waqi’ah 56: 10 – 11 )
Selanjutnya dalam surat yang sama di ayat 88 – 91 Allah berfirman :
فَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ -٨٨- فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ -٨٩- وَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ
أَصْحَابِ الْيَمِينِ -٩٠- فَسَلَامٌ لَّكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ -٩١-
“Maka adapun jika ia dari golongan al muqarobin,maka baginya kelapangan,istirahat dan surga kenikmatan.Dan adapun jika ia dari ashabul yamin ( golongan kanan ),maka keselamatan bagimu dari golongan ashabul yamin ” (al waqi’ah 56: 88- 91 )
Jalan untuk sampai kepada Allah berkaitan dengan maqam,maqam dalam hati.As shidiqiyah merupakan perbuatan dan hal ikhwal yang berkenaan dengan hati.Syeikh al Qosyairi r m. telah membicarakan kedudukan as shidiqun yang berkaitan dengan perbuatan dan berkenaan dengan hati yaitu maqam,;toubat,mujahadah,khalawat,uzlah,zuhud,diam ,lapar dan lainnya,merupakan maqam yang harus dilalui sebagai stasiun dalam perjalanan menuju Allah.
Asssdiiqun dan Rabbaniyun adalah pangkat mulia yang dijanjikan Allah yaitu hamba hamba Allah yang layak dekat dengan Tuhanya dan menjadi wallinya.surga kautstar yang penuh telaga madu susu dan khamar serta air tawar yang meneduhkan perasan hambanya, sunyi dari hal yang mengeruhkan perasaannya.
Pangkat itu hak yang bisa diraih setiap muslim yang sungnguh sungguh diberikan oleh Allah swt..Semestinya kita ingin itu semua ??????
Enhanced by Zemanta

Wednesday, October 24, 2012

Jawaban atas penentang golongan sufi atau golongan makrifatullah

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

mereka mengganggap ilmu ini tidak ada di zaman Rasullullah,,
dan banyak juga masyarakat yang tidak menerima golongan sufi,,
tetapi mereka lupa, awal bergama itu adalah mengenal Allah,,
bagi ana, hanya dengan jalan makrifatullah sahaja seseorang itu
dapat sebenar-benar mengenalNya,,

dan bagi mereka yang telah sampai jagalah etika (adab),,
bicaralah perkara ini pada khalayak yang sesuai,, dan jagalah
lidah supaya tidak latah,, seperti menyatakan sesuatu perkara yang
tidak sesuai pada tempatnya.

Pada makan keesaan,, segala-galanya ada baik,, tiada dualiti,,
tetapi ingat,, ente masih lagi tinggal di dunia ini, sesebuah negara itu,
ada undang-undangnya,, yang mana itu juga terjadi kerana dengan iziNya.

kerana ente juga terikat dengan hukum-hukum lahir,,
baik di balas baik dan jahat di balas jahat (masuk penjara).

Banyak ahli sufi yang telah mati kerana dihukum bunuh,, mereka dianggap zindik dan sebagainya,,
tetapi terdapat banyak juga bukti,,mereka ini adalah kekasih-kekasih allah (makrifatullah).
contohnya,, seorang sufi yang mati dihukum bunuh,, darahnya mengalir dan menuliskan kalimat allah.
oleh itu hati-hatilah,
Enhanced by Zemanta