Tuesday, February 5, 2013

Kisah 4 Nabi Yang Masih Hidup Sampai Sekarang

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


Kisah Empat Nabi Yang Masih Hidup Sampai Sekarang

1. Kisah Nabi Isa Alaihissalam
Al-Qur’an menerangkan dalam surat AnNisaa’:157 bahwa Nabi Isa AS tidaklah dibunuh maupun disalib oleh orang-orang Kafir. Adapun yang mereka salib adalah orang yang bentuk dan rupanya diserupakan oleh Allah SWT seperti Nabi Isa AS (sebagian ulama berpendapat orang yang diserupakan adalah muridnya yang berkhianat yang bernama Yudas Iskariot) dan karena ucapan mereka:
“Sesungguhnya kami telah membunuh AlMasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(An Nisaa’ : 157)

sky.jpg
Nabi Isa AS diselamatkan oleh Allah SWT dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah SWT yang tahu tentang hal ini. AlQur’an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini. ”Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ :158)

2. Kisah Nabi Khidir Alaihissalam
Pada saat Raja Iskandar Dzul Qarnain pada tahun 322 S. M. berjalan di atas bumi menuju ke tepi bumi, Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rofa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang, Raja Iskandar Dzul Qarnain berkata kepada malaikat Rofa’il: “Wahai malaikat Rofa’il ceritakan kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit ”,
malaikat Rofa’il berkata, “Ibadah para mailaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya ”.
Kemudian raja berkata, “Alangkah senangnya seandainya aku hidup bertahun-tahun dalam beribadah kepada Allah ”.
Lalu malaikat Rofa’il berkata, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air bumi, namanya ‘Ainul Hayat’ yang berarti, sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan ”.
Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa’il, “Apakah kau tahu tempat “Ainun Hayat itu?”.
mailaikat Rofa’il menjawab, “Bahwa sesungguhnya Ainun Hayat itu berada di bumi yang gelap ”.

Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa’il tentang Ainul hayat, maka raja segera mengumpulkan ‘Alim Ulama’ pada zaman itu, dan raja bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu, tetapi mereka menjawab, “Kita tidak tahu khabarnya, namun seoarng yang alim di antara mereka menjawab, “ Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam AS, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di bumi yang gelap ”.
“Di manakah tempat bumi gelap itu?” tanya raja.
Seorang yang alim menjawab, “Di tempat keluarnya matahari”.

royo_bestof_023.jpg
Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya. “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap ?”.
Para sahabat menjawab, “Kuda betina yang perawan”.
Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu raja memilih-milih di antara tentaranya, sebanyak 6000 orang dipilih yang cendikiawan dan yang ahli mencambuk.

Di antara mereka adalah Nabi Khidir AS, bahkan beliau menjabat sebagai Perdana Menteri. Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir AS berjalan di depan pasukannya dan mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat.
Kemudian mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam. Kemudian seorang yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya, berkata ia kepada raja. ”Wahai Raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini karena tempat yang gelap ini berbahaya. ”
Lalu Raja berkata: ” Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak.”
Kemudian ketika Raja hendak masuk, maka meraka semua membiarkannya. Kemudian Raja berkata kepada pasukannya: ”Diamlah, tunggulah kalian ditempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu, maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian”.
Kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: ” Apabila kita melewati tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita ?”.
“Tidak bisa kelihatan”,jawab malaikat Rofa’il,” akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka kawan- kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian.”

Kemudian Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi oleh Nabi Khidlir AS.
Di saat mereka berjalan, maka Allah SWT memberi wahyu keapda Nabi Khidlir AS, ”Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu ”.
Setelah Nabi Khidlir menerima wahyu tersebut, kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: “ Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian. ”

Kemudian beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang, maka didapatilah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidlir AS turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “Ainul Hayat” (sumber air kehidupan) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air kehidupan tersebut, maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis daripada madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut, kemudian beliau keluar dari tempat Ainul Hayat itu terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain, sedangkan raja tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nabi
Khidlir AS, tentang melihat Ainul Hayat dan mandi.

(Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah), dia berkata, bahwa Nabi Khidlir AS adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Dan raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat, maka terlihat oleh Raja, bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki kuda, kemudian Raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: “Gemercik ini adalah suara benda apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga. ”
Kemudian di antara pasukan ada yang membawanya namun sedikit, setelah mereka keluar dari tempat yang gelap itu, ternyata bahwa benda tersebut adalah yakut yang berwarna merah dan jambrut yang berwarna hijau, maka menyesallah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, demikianlah pula pasukan yang tidak mengambilnya, bahkan lebih menyesal. Diriwayatkan oleh Ats-tsa’Labi dari: Iman Ali Rodliayllohu ‘ anhu.

1. Cerita ini dikutib dari kitab “ Baidai’iz karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 – 168. Penerbit: Usaha Keluarga s Semarang.
2. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri.
Penerbit Darul Fikri Bairut Halaman 257 – 258.


3. Kisah Nabi Idris Alaihissalam
Lalu keduanya menerusakan perjalanan sampai empat hari lamanya dan selama itu pula Nabi Idris AS menemukan keanehan yang ada pada Malaikat itu dan Nabi Idris AS bertanya: ”Hai tuan, kamu ini sebenarnya siapa?”,
Malaikat itu menjawab: ”Saya adalah malaikat pencabut nyawa”.
Nabi Idris AS bertanya:” Apakah kamu akan mencabut nyawa manusia?”,
Malaikat menjawab:”Ya”,
Nabi Idris AS bertanya: ”Apakah kamu juga mencabut nyawa selama dalam perjalanan bersama saya?”,
Malaikat menjawab: ”Ya, saya telah mencabut beberapa nyawa manusia dan sesungguhnya nyawa manusia itu adalah bagaikan hidangan makanan, sebagai mana kamu menghadapi sesuap makanan saja”.
Nabi Idris AS berkata: ”Dan apakah kamu datang ini untuk mencabut nyawa saya atau sekedar berkunjung?”,
Malaikat menjawab: ”Saya datang hanya untuk berkunjung”,
Nabi Idris AS berkata: ”kalau begitu saya punya hajat kepadamu”,
Malaikat menjawab: ”Hajat apa, hai Nabi Idris?”
Nabi Idris AS berkata: ”Saya ingin agar kamu mencabut nyawa saya, lalu memohonlah kepada Allah untuk menghidupkan saya sehingga saya bisa beribadah kepada Allah sesudah merasakan sakitnya mati”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa mencabut nyawa seseorang tanpa seijin Allah”.
Lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Cabutlah nyawa Idris!”.

Kemudian malaikat itu mencabut nyawa Nabi Idris AS dan matilah Nabi Idris AS lalu Malaikat menangis sambil merendahkan diri untuk memohon kepada Allah SWT agar menghidupkan Nabi Idris AS kembali, kemudian Allah menghidupkan Nabi Idris AS, lalu malaikat bertanya: ”Hai Nabi Idris bagaimana rasanya mati itu?”.
Nabi Idris AS berkata:”Sungguh rasanya mati itu bagaikan binatang yang dikuliti dalam keadaan masih hidup, sedang rasa mati itu melebihi 100X lipat rasa sakit binatang yang dikuliti dalam keadaan masih hidup”.
Malaikat menjawab:”Hai Nabi Idris, padahal saya mencabut nyawamu itu dengan cara hati-hati dan sangat halus dan ini belum pernah saya lakukan kepada siapapun”.
Nabi Idris AS berkata: ”Saya mempunyai hajat yang lain kepadamu, yaitu ingin melihat neraka jahannam, agar saat melihat itu saya lebih banyak beribadah kepada Allah”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa masuk neraka jahannam tanpa ada izin dari Allah”, lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Pergilah kamu bersama Nabi Idris ke neraka jahannam”.

Kemudian malaikat bersama Nabi Idris AS pergi ke neraka jahannam, maka Nabi Idris AS dapat melihat segala yang dipersiapkan untuk menyiksa di neraka jahannam, lalu keduanya kembali dari neraka jahannam. Nabi Idris AS berkata: ”Saya punya hajat lagi kepada kamu, agar kamu mengajakku pergi ke syurga,dan setelah itu saya akan menjadi hamba yang lebih taat dalam beragama”.
Malaikat berkata: ”Saya tidak bisa masuk syurga tanpa ada ijin dari Allah”.
Lalu Allah AS berfirman: ”Hai Malaikat pergilah kamu bersama Idris ke syurga”.

Dan keduanya pergi ke syurga dan berhanti di depan pintu syurga, maka Nabi Idris AS dapat melihat segala kenikmatan yang ada dalam syurga, melihat kerajaan yang banyak, melihat anugerah yang banyak dan melihat pepohonan dan buah-buahan yang beraneka macam ragamnya.
Nabi Idris berkata: ”Wahai Malaikat, saya telah merasakan mati, telah melihat segala macam siksaan dalam neraka, lalu mohonlah kepada Allah, agar ia memberi izin saya masuk ke syurga, sehingga saya dapat minum air syurga dan sakit saya menjadi hilang serta terhindar dari neraka jahannam”.
Lalu Allah Berfirman kepada malaikat: ”Masuklah kamu ke syurga bersama Idris”,
kemudian keduanya masuk syurga dan Nabi Idris AS meletakan sandalnya di bawah salah satu pohon di syurga, dan setelah keluar dari syurga.Nabi Idris berkata kepada Malaikat: ”Sungguh sandal saya tertinggal di syurga, maka kembalikan saya ke syurga”,
dan setelah Nabi Idris AS tiba di syurga, Nabi Idris AS tidak mau di ajak keluar, ia ingin tetap tinggal dalam syurga, hingga Malaikat berteriak:”Hai Nabi Idris, keluarlah”,
dan Nabi Idris AS tetap tidak mau keluar, dan berkata: ” Karena Allah telah berfirman”: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”(Q.Surat Ali’imran ayat 185), Sedang saya telah merasakan mati. Dan Allah Berfirman: “Dan tidak seorangpun darimu, melainkan mendatangi neraka itu….” (Q.Surat Maryam ayat 71). Dan sungguh saya telah memasuki neraka jahannam, dan Allah juga berfirman: “…….. dan sekali-kali mereka tidak akan di keluarkan dari padanya (syurga)”. (Q.Surat AL Hijr ayat 48)”.
Malaikat berkata: ”Lantas siapa yang akan mengeluarkan mu?”.
Lalu Allah berfirman kapada Malaikat: ”Tinggalkanlah Nabi Idris di syurga, sungguh Aku telah menetapkannya, bahwa ia termasuk ahli syurga”,
kemudian Malaikat itu meninggalkan Nabi Idris AS di syurga dan tetaplah Nabi Idris AS berada dalam syurga untuk selama-lamanya.


4. Kisah Nabi Ilyas Alaihissalam
Ihwal Nabi Ilyas kurang banyak diungkap, namun diyakini bahwa beliau masih hidup di dunia bersama Nabi Khidir,
Nabi Ilyas AS adalah keturunan Nabi Harun yang Ke empat, ia di utus Allah kepada kaum Bani Israel yang suka menyembah berhala, yang di sebut “Berhala Ba’al.”
Sebuah riwayat menyebutkan, Nabi Ilyas Al-Nasyabi, yang mendapat panggilan Ibnu Yasin, di yakini masih hidup di Bumi. bersama Nabi Khidir. Sedangkan Nabi Isa dan Nabi Idris juga masih hidup di langit.
Ilyas dan Khidir saling berkumpul pada saat bulan Ramadhan di Baitulmakdis. Keduanya mengerjakan ibadah haji di Padang Arafah dan minum air Zamzam.
Dalam suatu perjalanan bersama Rasul SAW, di suatu lembah, Anas bin Malik mendengar seseorang berkata, “Ya Allah, jadikanlah aku salah satu dari umat Muhammad yang di cintai, diberi ampunan, dan diterima tobatnya.” Selanjutnya Anas berkisah…:
Kudekati lembah itu, dan ternyata ada seseorang di sana. “Siapa kamu?” dia bertanya. “Anas bin Malik, aku pelayan Rasul,” jawabku.
“Dimana beliau?” ia bertanya lagi. “Ada di sini, beliau mendengar ucapanmu,” jawabku.
“Temuilah beliau, dan sampaikan salamku, katakan padanya, “Saudaramu, Ilyas, menyampaikan salam,” katanya.
Maka kuberitahukan hal itu kepada beliau, kemudian Rasulullah SAW menemui, memeluk dan mengucapkan salam kepadanya. Setelah itu keduanya duduk dan berbincang-bincang.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak makan dalam setahun kecuali hanya satu hari. Di hari ini adalah hari berbukaku, aku akan makan bersamamu.”
Maka turunlah meja makan dari langit yang di atasnya terdapat roti, ikan laut dan daun seledri. Lalu mereka berdua makan dan juga memberiku makan, lalu kami salat ashar. Setelah Ilyas meninggalkan Rasulullah dan aku melihat lintasan perjalanannya di awan menuju langit.
Sebuah riwayat menyebutkan, hal itu terjadi dalam perang tabuk, ketika Rasulullah mengutus Anas bin Malik dan Hudzaifah bin Al-Yaman menemuinya. Keduanya mengatakan, “ternyata ia seorang yang berbadan dua atau tiga hasta lebih tinggi dari kami.”
Ketika Rasul berkumpul dengan Ilyas, keduanya makan makanan dari surga. Ilyas berkata, “setiap 40 hari saya baru makan.” Sedangkan di Meja makan Itu terdapat Roti, Anggur, pisang, Kurma, dan sayur-sayuran selain bawang.
Rasulullah bertanya perihal Khidir, maka ia menjawab, “Sesungguhnya engkau akan bertemu dengannya sebelumku, maka sampaikan salamku untuknya.”
Pengalaman Tsabit, salah seorang sahabat, menyebutkan, ketika ia sedang salat sunah di pinggir kota Kufah bersama Mush’ab bin Zubair, tiba-tiba dari belakang terdengar suara, “jika kamu membaca Ghafirudz Dzanbi (yang menghapuskan dosa), ucapkanlah, “Wahai Dzat yang menghapuskan dosa, ampunilah aku atas dosa-dosaku.”
Jika kamu membaca Qarbilut Taubati (yang menerima Taubat), ucapkan, “Wahai Dzat yang menerima taubat, terimalah tobatku.”
Jika kamu membaca Syadiul Iqabi (yang keras hukuman-Nya), “Wahai Dzat yang keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.”
Dan jika kamu membaca Dzat Tuuli (yang mempunyai karunia), ucapkan, “Wahai Dzat yang karunia, keruniakanlah kepadaku rahmat dalam waktu yang lama.”
Ketika itu ia membaca surat Al-Mukmin ayat 1-3, yang artinya, “Ha Mim, turunnya kitab (Al-Qur’an) ini dari Allah, yang Maha Perkasa, yang Maha Mengetahui. Yang menghapuskan dosa, yang menerima Tobat, amat keras hukuman-Nya, dan besar kekuasaan-Nya. Tiada Tuhan selain Dia, kepada-Nya lah tujuan kembali,”
Setelah itu aku menoleh dan ternyata tidak menemukan seorang pun di belakangku. Lalu aku keluar dan bertanya kepada orang-orang. “Apakah orang yang melintas di depan kalian menaiki seekor keledai yang besar?”
Mereka menjawab, “Tidak ada orang yang melintas di sini,” dan mereka tidak mengetahui melainkan Ilyas.
Ilyas adalah Nabi yang ke 17. Ia di utus untuk menyadarkan penduduk Ba’albak atau Punicia yang menyembah berhala Ba’al. Negaranya terletak di bagian pantai Arab Utara, tapi ada yang menyebut sebelah barat Damaskus sekarang. Bangsa Punicia adalah bangsa pelaut. Di wilayah Libanon ditemukan bangunan altar penyembahan Ba’al yang disebut Heliopolis.
Nama Ilyas disebut dua kali dalam surat Al-An’am ayat 85, bersama dengan Nabi Zakaria, Yahya, dan Isa , sebagai orang-orang yag saleh, dan Surah As-Saffat ayat 123, sebagai orang yang di utus oleh Allah.
Surah As-Saffat ayat 123-130 mengungkapkan tugas dakwah Nabi Ilyas dalam menyeru kaumnya bertauhid, menyembah hanya kepada Allah.
“Apakah kamu tidak takut pada siksaan Allah? Kenapa kamu menyembah berhala Ba’al dan mengabaikan Allah?” seruan itu dijawab, “Kami sudah sejak lama menyembah Ba’al, sejak nenek moyang kami, oleh karena itu kami tidak bisa meningglkan begitu saja.”
Karena penolakan itu, Allah menurunkan azab, kecuali orang-orang yang menerima seruan Ilyas, berupa musim kering selama tiga tahun berturut-turut, sehingga mereka kelaparan, karena tanaman dan ternak mereka rusak. Akhirnya mereka menerima ajakan Ilyas, tetapi setelah kehidupan kembali normal, mereka mengulang menyembah berhala.
Nabi Ilyas selalu dikejar dan dicari-cari oleh kaumnya untuk dibunuhnya. Oleh karena itu Nabi Ilyas lari menghindar untuk menyelamatkan diri, bersembunyi di rumah-rumah yang sepi dan kosong.
Berkat kekuasaan Allah, setiap rumah yang dimasuki Nabi Ilyas, maka disana sudah tersedia makanan.
Akhirnya orang-orang mengetahui, setiap mereka memperoleh makanan dalam sebuah rumah, mereka mengatakan, “Pasti rumah ini sudah di masuki oleh Ilyas.”
Melihat kenyataan itu, Ilyas memohon kepada Allah agar tugasnya di akhiri, dan beliau pun wafat. Tugasnya diteruskan oleh Nabi Ilyasa’ keponakannya sendiri. Tapi ada riwayat yang menyebutkan, Ilyasa’ adalah anak seorang perempuan Bani Israel tempat Ilyas menyembunyikan diri dari kejaran umatnya yang tetap durhaka. Dia mempunyai seorang anak laki-laki, bernama Ilyasa’, yang penyakitan. Setelah disembuhkan Ilyas, Ilyasa’ menjadi pengiring setia Ilyas.
Nama Ilyasa’ disebut dua kali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam surah Shad ayat 48 dan Surah Al-An’am ayat 86. Ia termasuk dalam daftar Nabi Bani Israel.

Ketika sedang beristirahat datanglah Malaikat kepada Nabi Ilyas AS, Malaikat itu datang untuk menjemput ruhnya. Mendengar berita itu, Nabi Ilyas AS menjadi sedih dan menangis.
“ Mengapa engkau bersedih?” tanya Malaikat maut.
“ Tidak tahulah.” Jawab Nabi Ilyas AS.
“Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi maut ?” tanya Malaikat.
“Tidak. Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali karena aku menyesal tidak boleh lagi berzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus berzikir memuji Allah, ” jawab Nabi Ilyas AS.

Saat itu Allah SWT lantas menurunkan wahyu kepada Malaikat agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas AS berzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas AS ingin terus hidup semata-mata karena ingin berzikir kepada Allah SWT. Maka berzikirlah Nabi Ilyas AS sepanjang hidupnya.
surga.jpg
“ Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berzikir kepada-Ku sampai akhir nanti. ” Firman Allah SWT.
Enhanced by Zemanta

Kontroversial kenaikan Nabi Isa A.S dalam perspektif Islam

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

 Kontroversial kenaikan Isa dalam perspektif Islam

Ditinjau dari runtutan sejarah, ide turunnya Nabi Isa al-Masih menjelang akhir zaman pada awalnya berpangkal pada ide yang ada dalam teologi Kristiani. Hal ini logis sekali karena memang gagasan tersebut jauh lebih dahulu eksis ketimbang penafsiran yang ada didalam ajaran Islam yang baru ada 600 tahun hadir setelahnya.
Adapun penafsiran bahwa Yesus naik kelangit dan akan turun kembali dari langit dalam teologi Kristiani bersumber pada sejumlah ayat dari Alkitab di Perjanjian Baru. Misalnya Kisah para Rasul pasal 1 ayat 9 sampai dengan 11:
Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupnya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap kelangit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea (yaitu wilayah dimana Yesus paling sering berada dan melayani), mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat dia naik ke surga”.
Jadi seperti halnya Yesus yang terangkat naik ke langit, maka nanti akan turun dari langit pula. Demikian pemahaman yang ada dalam teologi Kristiani. Kenaikan Yesus tersebut, terjadi setelah beliau diceritakan selamat dari peristiwa penyaliban yang dikenakan pada dirinya dan kembali ketengah komunitas para murid serta keluarga besar lainnya di Yerusalem.
Injil Lukas mencatat bahwa setelah pertemuan terakhirnya dengan para murid, Yesus atau Nabi Isa mengajak mereka semuanya keluar dari kota Yerusalem sampai didekat perbatasan kampung Bethani.
Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangannya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. (Injil Lukas [24] :50-51)
Adapun mengenai isu terangkatnya Nabi Isa kelangit dalam perspektif Islam, selalu dikaitkan dengan ayat pada surah An-Nisaa [4] ayat 157-158 dan surah Ali Imran [3] :55 yang dianggap membenarkan konsep tersebut yang sebenarnya hanya sebuah adopsi dari kepercayaan kaum Kristiani :
Dan perkataan mereka: “Bahwa kami telah membunuh Al-Masih Isa putera Maryam, Rasul Allah”, padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak juga menyalibnya, tetapi diserupakan untuk  mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisaa [4] :157-158)
Ketika Allah berkata: “Hai ‘Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu serta akan membersihkan kamu dari mereka yang kafir…” (QS Ali Imran [3] :55)
Jika kita ingin jujur terhadap nash al-Qur’an diatas maka sebenarnya ayat-ayat tersebut malah sama sekali tidak ada keharusan untuk memaknai pengangkatan Nabi Isa secara fisik keatas langit sebagaimana yang terdapat dalam nash-nash di Alkitab. Kata asli untuk istilah “penyerupaan” dalam konteks surah An-Nisaa [4] :157 adalah “Syubibha lahum”.
Istilah ini ditafsirkan oleh sebagian orang dilakukan oleh Allah terhadap diri Nabi Isa al-Masih dengan proses substitusi atau pergantian wajah antara Nabi Isa dengan seseorang. Tetapi sebagian lagi memberi penafsiran dilakukan oleh Allah dengan membuat Nabi Isa al-Masih seolah berhasil dibunuh padahal beliau hanya dipingsankan oleh Allah yang akhirnya berhasil selamat. Jadi penyerupaan ini berlaku terhadap keterbunuhan diatas kayu salib.
Pihak pertama lalu menghubungkan penyerupaan dalam tafsirnya itu kepada pengangkatan yang diceritakan pada ayat selanjutnya [158] ditambah dukungan pada surah Ali Imran ayat 55. Istilah pengangkatan itu berasal dari kata “Rafa’a”.
Sehingga menurut mereka, menjadi bersesuaian maksudnya dengan penyerupaan yang terjadi pada ayat yang membahas penyaliban. Sehingga akhirnya muncullah terjemahan untuk surah An-Nisaa [4] :157 seperti berikut ini :
 “Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa”.
Padahal terjemahan tersebut bila ditinjau dari sisi lahiriah ayatnya sama sekali tidak bercerita mengenai penyerupaan Nabi Isa terhadap orang lain. Begitupula dalam hal ketidakyakinan orang-orang Israel atas orang yang mereka hukum adalah Nabi Isa. Ini merupakan bentuk penafsiran belaka dan bukan penterjemahan dari ayat yang sesungguhnya.
Gagasan naiknya seseorang kelangit antah berantah bila kita tarik lebih jauh lagi merupakan ide yang diambil dari kitab-kitab Perjanjian Lama yang masih sangat perlu untuk dikritisi. Misalnya :
Tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia kelangit dalam angin badai. (2 Raja-raja [2] :11)
Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. (Kejadian [5] :23-24)
Akan halnya penafsiran al-Qur’an surah Ali Imran ayat 55 yang dianggap mendukung pengangkatan Nabi Isa kelangit juga kurang tepat. Istilah pengunaan kata “Raf’a” pada sejumlah ayat al-Qur’an (seperti [7]:174, [12]:76, [24]:36, dan [58]:11) semuanya menunjukan kepada pengertian pengangkatan maqam atau derajat dan bukan secara jasmaniyah. Begitupula dengan maksud dari kata “Mutawaffika”  yang berarti mewafatkan. Dalam konteks surah Ali Imran [3] :55, makna dari “Tawaffa” adalah “Imatah” (mematikan), dan kematian itu telah terjadi sebelum Nabi Isa disebut telah diangkat oleh Allah. Ayat tersebut tidak bisa diputarbalikkan menjadi seperti ini:
Ketika Allah berkata: “Hai ‘Isa ! Sesungguhnya Akulah yang mengangkatmu kepadaKu dan yang mewafatkanmu.
Sebab hal yang demikian menyebabkan seolah-olah menganggap Allah telah salah menempatkan susunan kata didalam firman-Nya yang berimplikasi kepada penistaan atas kemahasempurnaan dan kemahatahuan ilahiah-Nya. Kiranya susunan ayat itu sudah sangat jelas dan tidak perlu ditukar-tukar tempatnya oleh siapapun juga sebab dengan perbuatan-perbuatan semacam ini terpaksa  akan menyebabkan firman-firman  Allah  perlu  dirubah  -sebagaimana halnya orang-orang Yahudi yang  merubah-rubah perkataan-perkataan dari tempatnya dan ini jelas sangat tercela didalam Islam. Ayat tersebut harus tetap diartikan sesuai apa yang sudah diwahyukan :
Ketika Allah berkata: “Hai ‘Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu
Jadi ungkapan “Muttawaffika” harus tetap diartikan bahwa: Aku akan melindungi engkau wahai Isa, dari mati terbunuh  oleh kaum itu dan akan menganugerahi engkau umur panjang yang  sudah  ditetapkan bagi engkau, dan akan membuat engkau  mati secara  biasa (wajar).;  Penggunaan kata “rafi’uka  ilayya” (mengangkat  engkau  kepada-Ku) bisa ditarik persamaan dalam beberapa ayat al-Qur’an lainnya, seperti : “Rumah-rumah  yang diperintahkan Allah supaya  mereka  diangkat (turfa’a)” dalam surah An-Nuur (24) ayat 36 atau “Dan  amal salih yang akan dia angkat (yarfa’ahu) dalam surah Faathir (35) ayat 10 atau  “Allah akan mengangkat (yarfa’i) orang-orang yang beriman dari kamu.” pada surah al-Mujaadilah (58) ayat 11.
Dengan demikian, penggunaan kata rafa’a tidak selalu harus dalam  arti harfiah seperti kita mengangkat batu dari tanah keudara melainkan bisa juga dalam arti metafora yaitu dengan memberikan kedudukan, kehormatan dan martabat yang tinggi disisi Allah. Inilah yang seharusnya menjadi tafsir dan pemahaman ayat ini. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
 Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya para Rasul. (QS. Ali Imran [3] :144)
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? (QS. Al-Anbiya [21] :34)
Rasanya ayat-ayat ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Nabi Isa al-Masih memang tidak diangkat dalam keadaan fisik atau berbadan jasmani. Lebih tepatnya tidak dalam keadaan masih hidup. Hal ini dikukuhkan juga oleh sabda Nabi Isa sendiri didalam al-Qur’an yang isinya sebagai berikut :
Wakuntu ‘alayhim syahiidan maa dumtu fiihim falammaa tawaffaytanii kunta anta (al)rraqiiba ‘alayhim wa-anta ‘alaa kulli syay-in syahiid(un)
Artinya : Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (QS. Al-Ma’idah [5] :117)
Dalam salah satu hadis riwayat Imam Bukhari yang bersumber dari Ibnu Abbas diceritakan, Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, kalian semua akan dikumpulkan dihadapan Allah dengan bertelanjang kaki, tidak berpakaian serta tidak berkhitan. Lalu beliau (mengutip ayat al-Qur’an dan) berkata, “Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, maka begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al-Anbiyaa [21] :104).
Nabi lalu berkata, “Orang pertama yang dibangkitkan dalam keadaan berpakaian pada hari kiamat adalah Ibrahim. Lalu beberapa orang dari sahabatku akan digiring menuju neraka. Aku akan berkata, “Wahai Tuhan, mereka adalah sahabat-sahabatku!”, lalu terdengar jawaban, “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sepeninggalmu”. Aku akan mengatakan seperti hamba yang saleh (yaitu Nabi Isa) berkata : “adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka”. (QS. Al-Ma’idah [5] :117). Lalu akan dikatakan, “Ini adalah orang-orang yang menjadi murtad setelah engkau meninggalkan mereka” (HR. Bukhari dengan nomor hadis 149, Vol. 6 dari kitab shahihnya)
Firman Allah yang berbunyi, “Wa-innahu la’ilmun li(l)ssaa’ati falaa tamtarunna bihaa wa(i)ttabi’uuni haadzaa shiraathun mustaqiim(un) [Dan Sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. inilah jalan yang lurus (QS. Az-Zukhruf [43] :61)] bukan bercerita tentang turunnya Nabi Isa diakhir zaman. Bila kita melihat susunan ayat ini sesudahnya maka akan jelaslah bahwa konteks ayat tersebut bercerita mengenai eksistensi Nabi Isa pada waktu beliau diutus ditengah Bani Israel pada masa lalu.
Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya Aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku. Sesungguhnya Allah dialah Tuhanku dan Tuhan kamu. Maka sembahlah Dia, Ini adalah jalan yang lurus”. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka, lalu Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih. (QS. Az-Zukhruf [43] :63-65)
Kita tahu bahwa sebagian besar Bani Israel, telah mereka menolak kenabian Isa al-Masih. Bermacam-macam fitnah mereka arahkan kepada beliau. Mulai dari anak hasil perzinahan, Rasul gadungan dan sebagainya sehingga akhirnya beliau dikejar-kejar untuk dihukum mati melalui penyaliban yang merupakan hasil konspirasi rabi-rabi jahat Yahudi. Pernyataan Nabi Isa dalam dakwahnya mengenai keesaan Tuhan pada ayat diatas, bisa kita paralelkan dengan sabda yang sama dari beliau pada surah Al-Maaidah [5] :72, “Padahal Al-Masih sendiri berkata:”Hai Bani Israel, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu !”.
Begitupun dengan pernyataan beliau tentang penjelasan sebagian hal yang menimbulkan perselisihan dikalangan umatnya, bisa kita paralelkan juga dengan yang ada dalam surah Ali Imran [3] :50, “Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan ta’atlah kepadaku”.
Kaitan antara kedatangan Nabi Isa yang disebut memberitahukan pengetahuan tentang kiamat adalah tertuju pada peringatannya kepada Bani Israel tentang hakekat hidup didunia ini yang hanya sementara. Adahari esok yang menanti pertanggung jawaban semua kelakuan semasa hidup. Ini misi yang diemban oleh setiap Nabi dan Rasul –termasuk oleh Muhammad Saw. Bisa pula sabda tersebut berkorelasi dengan nubuat Nabi Isa tentang kehadiran Nabi Muhammad selaku nabi akhir zaman seperti yang tertuang dalam surah Ash-Shaaf [61] :6.
Jadi artinya konteks ayat yang menyebutkan bahwa Nabi Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat atau hari akhir adalah memberitakan mengenai eksistensi Rasul yang akan datang sesudah beliau menjelang akhir zaman
Dengan begitu maka tidaklah tepat bila sampai dinyatakan kitab suci al-Qur’an mendukung konsepsi kenaikan Nabi Isa secara fisik kelangit dan akan turun kembali dari kenaikannya itu. Jikapun ada yang mengatakan seperti ini, tentu hal tersebut hanyalah penafsiran sepihak dari sang mufassir. Ide-ide kenaikan Nabi Isa seperti ini, mungkin –sebagaimana klaim dari sebagian ulama—adalah pengaruh yang datang dari orang-orang Kristiani yang pindah kedalam Islam dan melakukan korelasi tafsir antara al-Qur’an dengan kitab mereka sebelumnya (Perjanjian Baru) seperti yang sudah kita bahas dibagian atas.
Tidak dipungkiri bila ada banyak hadis yang bercerita mengenai akan turunnya Nabi Isa al-Masih yang dinisbatkan kepada sabda-sabda dari Nabi Muhammad Saw. Sebagian ulama juga menyebut hadis-hadis itu mencapai tingkat yang mutawatir. Sekali lagi kita sampaikan disini bila detil dari kajian ini sudah pernah kita bahas pada buku Jejak Nabi Palsu, olehnya tidak akan kita ulangi lagi disini kecuali seperlunya saja. Satu hadis yang kita anggap mewakili ide turunnya Nabi Isa adalah :
“Demi Allah yang diriku ada di tangan-Nya, benar-benar putera Maryam akan turun di tengah-tengah kamu sebagai juru damai yang adil, lalu ia menghancurkan salib, dan harta kekayaan melimpah ruah hingga tidak ada seorang pun yang mau menerima (shadaqah atau zakat) dari orang lain, sehingga pada waktu itu sujud satu kali lebih baik daripada dunia dan isinya”.  (HR. Bukhari, Bab Nuzuli Ibni Maryam ‘alaihissalaam 6:490-491; Shahih Muslim, Bab Nuzuli ‘Isa Ibni Maryam ‘alaihissalaam Haakiman 2:189-191).
Pertanyaannya sekarang, kira-kira untuk apa sebenarnya pengutusan Nabi Isa al-Masih ini kedua kali ? Bukankah bersama kita saat ini sudah ada al-Qur’an, bukankah sudah sempurna wahyu didalam Islam, bukankah sudah diutus Nabi Muhammad yang posisinya juga sebagai “penghancur salib” dan “pembunuh babi” ? Tidakkah kehadiran Nabi Muhammad dengan konsepsi monotheisnya telah secara terang-terangan membatalkan konsepsi Trinitas yang dinisbatkan kepada ajaran Nabi Isa oleh pihak gereja ? Tidakkah kitab suci al-Qur’an secara jelas memberikan aturan-aturan tentang hal-hal yang diharamkan dan dihalalkan termasuk mengenai babi ?
Bila Nabi Isa masih hidup dan tinggal dilangit maka dilangit yang manakah Nabi Isa berada ? Apakah disalah satu planet ? Mungkinkah kita bisa menemuinya dengan perangkat teknologi antariksa tertentu disuatu masa ?
Lalu bagaimana proses kenaikannya dari bumi menuju langit itu ? Apakah seperti gambaran tokoh Superman dan Ultraman yang bisa melewati batasan udara dan melalui atmosfir bumi yang gesekannya bahkan bisa menghanguskan batu meteor dan pesawat sekalipun ?

Jika benar Nabi Isa diangkat kelangit seperti gambaran tersebut, apakah ada saksi matanya ? Jika ada bagaimana tanggapan mereka, dan apakah ada bukti penunjangnya ? Injil Barnabas yang disebut-sebut sebagai kesaksian kenaikan Nabi Isa Al-Masih tidak bisa dijadikan hujjah, sebab sudah jelas letak kepalsuannya.
Apabila memang Nabi Isa al-Masih masih hidup disuatu tempat dilangit, apa manfaat positip pengasingannya selama ribuan tahun nun jauh diatassana? Apakah tidak lebih bermanfaat bagi Isa untuk kembali kebumi dan meluruskan ajarannya yang diselewengkan orang pada masa-masa perbudakan Israel oleh Romawi ?
Bagaimanapun juga selama berabad-abad manusia ini saling bertikai dan menumpahkan darahnya salah satunya adalah karena masalah ajaran yang pernah dia bawa selama hidupnya di Palestina sekitar 2000 tahun yang silam, menjadi beban moral tersendiri baginya yang secara tidak langsung telah membuat jutaan darah anak-anak manusia tertumpahkan selama perang salib atau perang antara Katolik dan Protestan dan sebagainya.
Jika ia masih hidup saat ini dan hanya mendiamkan saja semua yang terjadi atas namanya apapun alasannya, maka Nabi Isa adalah orang yang paling bertanggung jawab atas semua kejadian tersebut. Ketika pernah pada satu pertempuran yang menegangkan, Nabi Muhammad berdoa kepada Allah agar diberi kemenangan. Karena jika beliau sampai kalah maka tidak ada lagi orang yang dapat menegakkan kebenaran sesudahnya. Bukankah inipun menjadi indikasi tersendiri bila memang diwaktu pengutusan Nabi Muhammad sudah tidak ada lagi satupun Nabi Allah yang masih hidup ? Tidakkah kita mau memikirkan sekali lagi firman Allah ini:
(Nabi Isa berkata : ) Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (QS. Al-Ma’idah [5] :117)
Kebanyakan dari kita terkadang terlalu berlebihan dalam memandang sosok para Nabi dan Rasul sehingga nyaris menganggap mereka sebagai manusia langit yang sama sekali tidak tersentuh dengan berbagai permasalahan duniawiah, banyak dari kita berpikir bahwa seorang Nabi itu haruslah senantiasa berkhotbah tentang akhlak, berkhotbah tentang ketuhanan, penuh mukjizat, sakti mandraguna, suci tak bernoda dan tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun, tidak mungkin bisa dilukai apalagi dibunuh dan berbagai sifat kedewaan lainnya yang akhirnya secara tidak langsung telah melakukan pengkultusan dan menaikkan status kemanusiawian mereka diatas manusia-manusia lainnya.
Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (QS. Al-Ma’idah [5] :75)
Tanyakanlah: “Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan siapa saja diatas bumi semuanya ?” (QS. Al-Ma’idah  [5] :17)
Dalam sejarah kenabian di al-Qur’an kita banyak melihat berbagai fenomena penderitaan dan perjuangan Rasul-rasul terbaik Tuhan. Bagaimana misalnya Nabi Ibrahim yang disebut sebagai kekasih Allah telah ditangkap dan dibakar oleh umatnya kedalam api yang membara, kita juga membaca bagaimana Nabi Yunus bisa sampai terperangkap kedalam perut ikan atau Yusuf putera Nabi Ya’kub yang terjebak kedalam sumur oleh saudara-saudaranya atau yang paling akhir adalah Nabi Muhammad sendiri yang harus hijrah ke Madinah karena intimidasi kaum kafir Mekkah dan perlakuan mereka yang buruk terhadapnya, dalam sebuah pertempuran dibukit Uhud, wajah beliau terluka dan nyaris terbunuh.
Semuanya menyajikan data-data historis insaniah para Nabi dan Rasul Tuhan yang hidup dan berinteraksi sebagaimana manusia normal lainnya. Lalu kenapa dalam hal Isa al-Masih yang umatnya disebut oleh Qur’an sebagai umat yang terbiasa membunuh para Nabi harus mendapat pengecualian dengan mengharuskannya “terhindar secara luar biasa” dari perlakuan umatnya?
Kesabaran para Nabi dalam menghadapi ujian selalu mendatangkan pertolongan dari Allah, namun tidak pernah Allah menolong dengan cara menggantikan ujian tersebut kepada diri orang lain sehingga bukan sang nabi yang menghadapi ujian namun justru orang lainlah yang mendapatkan ujian tersebut. Pertolongan Allah bekerja dengan cara yang latief (halus) melalui ujian, kesabaran, dan keteguhan dari sang Nabi dan para murid (sahabat)nya.
Injil Lukas pasal 22 ayat 43 didetik-detik menjelang penangkapan bercerita kepada kita : “Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadanya untuk memberi kekuatan kepadanya”.
Bila yang dimaksud dengan memberi kekuatan pada ayat tersebut adalah memberi semangat agar Nabi Isa tabah menerima kehendak Allah yang akan berlaku pada dirinya, maka sekali lagi kita ajukan juga apa yang disampaikan oleh Paulus dalam Kitab Ibrani pasal 5 ayat 7 : “Dalam hidupnya sebagai manusia, ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada-Nya yang sanggup menyelamatkannya dari maut, dan karena kesalehannya, beliau telah didengarkan”. Jadi dari ucapan Paulus diatas kita bisa mengambil asumsi kuat bahwa Isa al-Masih telah ditolong oleh Tuhan dari kematian (maut) yang bisa menimpanya dalam proses yang akan dia hadapi (inilah makna dari kata-kata  “beliau telah didengarkan” yang artinya permintaan untuk selamat dari maut dikabulkan).
Kepada mereka dia menunjukkan dirinya setelah penderitaannya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa dia hidup. (Kisah Para Rasul [1] :3)
Gagasan tentang messianisme seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sudah menjadi bagian dari banyak agama didunia ini. Menyatunya tokoh Yesus Kristus yang dipahami oleh umat Kristiani akan datang menjelang hari kiamat dengan ketokohan Imam al-Mahdi didalam Islam yang juga punya misi serupa seolah merupakan paduan mimpi-mimpi banyak orang yang bercita-cita akan terwujudnya dunia yang damai dan penuh keadilan. Tidak heran bila beberapa ulama Islam mengambil jarak dan bersikap hati-hati terhadap riwayat-riwayat tersebut.
Bagaimanapun, eksistensi Imam Mahdi yang konon berdasar sejumlah nash merupakan trah dari Nabi akhir zaman Muhammad Saw selaku satria piningit yang akan menghilangkan kezaliman serta keangkaramurkaan menjadi berkurang perannya dengan keberadaan Nabi Isa yang disebut-sebut melalui tangannya sang Dajjal justru akan menemui kehancuran.
Ulama-ulama tadi berpikir tentang ketidakkonsistenan cerita serta tujuan kehadiran Imam Mahdi dan Nabi Isa ditengah umat manusia. Sama halnya dengan mengecilkan posisi kenabian Muhammad Saw sebagai Khatamun Nabiyyin terhadap Nabi-nabi bangsaIsrael. Padahal al-Qur’an belum pernah menceritakan perubahan misi Nabi Isa al-Masih dari yang tadinya bersifat lokal kedaerahan (hanya untuk umat Israel) menjadi universal (kepada semua manusia).
Ibnu Khaldun dalam kutipan Muhammad Husain Haekal, mengatakan :
Kita tidak harus percaya akan kebenaran sanad sebuah hadis, juga tidak harus percaya akan kata-kata seorang sahabat terpelajar yang bertentangan dengan al-Qur’an, sekalipun ada orang-orang yang memperkuatnya.
Beberapa pembawa hadis dipercayai karena keadaan lahirnya yang dapat mengelabui, sedang batinnya tidak baik. Kalau sumber­sumber itu dikritik dari segi matn (teks), begitu juga dari segi sanadnya, tentu akan banyaklah sanad-sanad itu akan gugur oleh matn. Orang sudah mengatakan bahwa tanda hadis maudhu’ (buatan) itu, ialah yang bertentangan dengan kenyataan al-Qur’an atau dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan oleh hukum agama (syariat) atau dibuktikan oleh akal atau pancaindra dan ketentuan-ketentuan axioma lainnya. (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penerbit Litera AntarNusa, Cetakan ke-22, Juni 1998, hal. Xcvii)
Haekal juga berkata kalau orang mau berlaku jujur terhadap sejarah, tentu mereka menyesuaikan hadis itu dengan sejarah, baik dalam garis besar, maupun dalam perinciannya, tanpa mengecualikan sumber lain yang tidak cocok dengan yang ada dalam al-Qur’an. Yang tidak sejalan dengan hukum alam itu diteliti dulu dengan saksama, sesudah itu baru diperkuat dengan yang ada pada mereka, disertai pembuktian yang positif, dan mana-mana yang tak dapat dibuktikan seharusnya ditinggalkan. (Lihat : Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penerbit Litera AntarNusa, Cetakan ke-22, Juni 1998, hal. Xcix)
Saya tidak menolak hadis-hadis yang dinisbatkan pada diri Rasulullah, baik yang datang dari kelompok Ahli Sunnah, Syiah maupun yang lainnya. Tetapi saya juga tidak bisa menerima semuanya tanpa boleh melakukan kritik dan penyaringan ulang termasuk dalam hal turun serta naiknya Isa al-Masih kelangit antah berantah ini.
Dalam hal ini ada sebuah riwayat yang dinisbatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu yang sangat saya sepakati isinya :
Sesungguhnya hadis-hadis yang beredar dikalangan orang banyak, ada yang haq dan ada yang batil. Yang benar dan yang bohong. Yang nasikh dan yang mansukh, yang berlaku umum dan khusus. Yang Muhkam dan yang Mutasyabih. Adakalanya ucapan-ucapan Rasulullah SAW itu memiliki arti dua segi, yaitu ucapan yang bersifat khusus dan yang bersifat umum. Maka sebagian orang mendengarnya sedangkan ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW. Lalu sipendengar membawanya dan menyiarkannya tanpa benar-benar memahami apa artinya, apa yang dimaksud dan mengapa ia diucapkan. Dan tidak semua sahabat Rasulullah SAW mampu bertanya dan minta penjelasan dari Beliau. Sampai-sampai seringkali merasa senang bila seorang Badui atau pendatang baru bertanya kepada Beliau, karena merekapun dapat mendengar penjelasan beliau. (Sumber : Buku Mutiara Nahjul Balaghah, dengan pengantar Muhammad Abduh, Penerbit Mizan, Cetakan VII  Mei 1999, Halaman 83 )
Hadis maupun tafsir yang beredar tidak luput dari kisah Israeliyat, apalagi memang terbukti dalam sejarah bila sejumlah sahabat Nabi mencari tahu lebih lanjut dari ayat-ayat cerita didalam al-Qur’an yang berkaitan dengan bangsa Israel bukan sebuah rahasia. Umar ibnu Khatab, Abu Hurairah, Atha’ bin Jasar dan termasuklah Ibnu Abbas sebagai salah satu penafsir Qur’an terkemuka adalah orang-orang yang cukup intens dengan pengetahuan-pengetahuan yang ada didalam Taurat dan Injil.
Banyak hal yang mereka ingin ketahui seperti sifat-sifat Nabi didalam Taurat dan berbagai hal lainnya. Tempat mereka bertanya tentu saja orang-orang Ahli Kitab yang baru masuk Islam seperti diantaranya Wahb ibnu Munabbih, Ka’ab al-Akhbar, Abdullah ibnu Amr bin Ash dan lain sebagainya.
Bukan hal yang tidak mungkin jika informasi hadis yang disampaikan oleh para sahabat yang notabene mantan penganut ahli kitab dimasa lalu lebih banyak bersandar pada sisa-sisa kepercayaan lama mereka. Sehingga banyak kemudian tafsir-tafsir Israiliyat yang belum jelas benar dan salahnya justru merasuk kedalam khasanah tafsir al-Qur’an dan bagi orang awam cenderung diamini sebagai sebuah kebenaran mutlak.
Hadis-hadis yang berbicara tentang turunnya Nabi Isa al-Masih pun secara matan, tidak tertutup kemungkinan untuk dikoreksi kembali. Ada banyak perbedaan redaksi bahkan pada isi cerita mengenainya yang apabila kita coba adakan perbandingan secara silang akan ditemui sejumlah kontradiksi antara satu dengan yang lain. Satu contoh kecil saja kita sampaikan disini menyangkut tempat turunnya beliau. Al-Hafiz Ibn Katsir Dimasyqi atau yang biasa dikenal dengan nama Ibnu Katsir saja menyampaikan kepada kita beberapa riwayat yang saling berbeda.
Ada hadis yang mengatakan Nabi Isa akan turun di Yerusalem, menurut riwayat lain di Yordania, dan menurut riwayat yang lain pula turun dalam tempat perkemahan umat Islam –seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim–. Sedangkan yang populer adalah hadis yang menyebutkan Nabi Isa akan turun di Damaskus bagian timur. Tetapi menurut Ibnu Katsir ada kemungkinan periwayat mengubah matnnya dengan jalan dia meriwayatkan ekspresi tersebut dalam tata cara yang dia pahami .
Yang jelas adalah, tidak mungkin antara kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lain saling berbeda atau berseberangan, tidak mungkin pula pada suatu ketika Nabi Muhammad berkata A mengenai hal tertentu kemudian berkata B tentang hal yang sama diwaktu yang berbeda. Satu diantaranya pasti benar atau semua riwayat tersebut justru tidak ada yang bisa dibenarkan.
Penolakan serupa pernah disampaikan oleh Al-Alusi dalam tafsir Ruhul Ma’ani, kemudian juga oleh Muhammad Abduh, Sayyid Rasyid Ridha, Mustafa Al Maraghi, Mahmoud Saltut, Abdulkarim Amrullah, Buya Hamka, Prof. Dr. KH. Hasbullah Bakry, Ahmad Deedat, Quraish Shihab, Irena Handono, Masyhud SM dan lain sebagainya.
Bahkan Mahmoud Saltut  menulis secara khusus untuk mengingkari hadis tentang turunnya Nabi Isa Al-masih dalam kitab Al-Fatawa: 59-82 yang diterbitkan oleh Darusy Syuruq, cetakan ke-8, tahun 1395 H. Disana beliau mengingkari pendapat bahwa Nabi Isa diangkat dengan badannya, juga mengingkari akan turunnya ke bumi pada akhir zaman, serta menolak hadis-hadis yang berkenaan dengan masalah tersebut seraya mengatakan bahwa hadis-hadisnya adalah hadits ahad dan tidak dapat dijadikan hujjah . Sementara golongan yang pertama kali menolak hadis turunnya Nabi Isa ini dengan tanpa menyebut status hadis-hadis tersebut apakah ahad atau bukan adalah dari golongan Qadaniyyah dizamannya tabi’in (sekitar tahun 80 H). 
Berikut kita coba paralelkan antara sejumlah cerita mengenai kedatangan Nabi Isa al-Masih untuk kedua kali didalam Injil kanonik dengan berita didalam hadis yang disandarkan pada Nabi Muhammad Saw. Sehingga dari perbandingan tersebut secara sepintas kita akan mudah melihat bahwa klaim sejumlah ulama tentang adanya kemungkinan terjadinya intervensi yang datang dari orang-orang Kristiani yang melakukan konversi imannya kedalam Islam terhadap tafsir-tafsir al-Qur’an dimasa lalu, memiliki korelasi dan dapat dibenarkan.
Hadis
Perjanjian Baru
Persamaan

Tiba-tiba turun kepada mereka Isa bin Maryam ……. Ia letakkan dua telapak tangannya di atas sayap-sayap malaikat.
Hadis ini shahih, dikeluarkan oleh Sahih Muslim No 5228 , Ibnu Majah no 4065, Musnad Ahmad No. 16971, Sunan At Tirmidzy No. 2166, Sunan Abu Dawud No. 3764, dengan runutan sanad dari Abu Khutsamah Zuhairi bin harb,  Al walid bin Muslim, Abdur Ibnu Yazid bin Jabir, Yahya bin Jabir Ath Thoiyyi qodiy Hish, Abdurrahman bin Jubair, Jibair bin Nufair Al Hadromi dan An Nawas bin Sam’an Al Kilabiy
Sebab Anak Manusia (yesus) akan datang dalam kemuliaan Bapanya diiringi malaikat-malaikat-Nya Sumber :
Injil Matius pasal 16 ayat 27
Nabi Isa/Yesus akan kembali datang bersama malaikat

Rasulullah saw. bersabda: Demi Zat yang menguasai diriku. Sungguh, telah dekat waktunya Isa bin Maryam turun kepada kalian untuk menjadi hakim yang adil.

 (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Pada waktu itu Ia (yesus) akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. (Sumber : Injil Matius pasal 16 ayat 27)

Dan Ia telah memberikan kuasa kepadanya untuk menghakimi, karena Ia (yesus) adalah anak manusia.  (Sumber : Injil Yohanes pasal 5 ayat 27)
Aku menghakimi sesuai dengan apa yang aku dengar, dan penghakimanku adil, sebab aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku. (Sumber : Injil Yohanes pasal 5 ayat 30)
Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.
(Sumber : I Korintus: 1 ayat 18)
Nabi Isa/Yesus akan menjadi hakim yang adil

Abu Malik, al-Hasan, Abu Hurairah dan Ibnu Abbas menafsirkan surah 4/159 sebagai bentuk kedatangan Nabi Isa menjelang akhir zaman dan semua ahli kitab akan beriman pada Nabi Isa sebelum beliau wafat

Tafsir seperti ini juga disetujui oleh Qatadah bin Du’amah, Imam Bukhari, Imam Muslim dengan riwayat mauquf dan marfu’
Handhalah yang meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah berkata, “Aku tidak tahu apakah ini adalah hadis dari Nabi Saw ataukah sesuatu yang Abu Hurairah katakan” (HR. Ahmad)
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat anak manusia (yesus) datang sebagai Raja dalam kerajaan-Nya. (Sumber : Injil Matius pasal 16 ayat -28) Nabi Isa/Yesus akan datang dan orang yang bersamanya tidak akan mati kecuali beriman padanya
ilustrasi Nabi Isa/Yesus yang turun dari langit disertai para malaikat
Bagaimanapun, klaim bahwa sesudah periode Nabi Isa al-Masih akan datang seorang Parakletos dengan sifat Hagios pneuma (lihat Injil Yohanes pasal 14 ayat 26) menjadi alasan positip bagi timbulnya hadis-hadis seperti ini yang mengisyaratkan kesamaan misi dan ajaran antara Yesus dan Muhammad.
Sehingga eksistensi Muhammad dijadikan sandaran yang cukup kuat untuk membenarkan kedatangan ulang Yesus dengan syariat yang dibawa oleh Muhammad bagi para penafsir al-Qur’an dimasa lalu yang mendapat masukan dari mantan Kristen. Padahal justru keberadaan Yesus dengan syariat Muhammad memberikan gambaran negatip terhadap kesempurnaan Islam yang ada pada ajaran Muhammad itu sendiri.
Sebagai Nabi yang bersifat universal, seolah misi Muhammad dianggap gagal dan harus ditegakkan ulang oleh Nabi sebelumnya yang hanya bersifat lokal. Jika kita mau jujur dengan fakta, kenapa harus Nabi Isa seorang yang dibangkitkan ? kenapa Nabi Musa tidak juga di-ikut sertakan ?
Padahal hak pengembalian umat kejalan Tuhan, adalah haknya setiap Nabi yang ada dimasa lalu dan menjadi tanggung jawab mereka terhadap ajaran yang mereka bawa.
Dalam hal ini Nabi Musa, Ibrahim, Yunus, Daud, Sulaiman atau bila memang Zoroaster dan Sidharta itu nabi maka Zoroaster dan Sidhartapun juga punya hak yang sama dengan Isa al-Masih. Masalahnya yang salah jalan bukan hanya umatnya Nabi Isa al-Masih, tetapi juga umat Hindhu, umat Budha, umat Zoroaster, umat Yahudi Unitarian (beda dengan umat Yahudi yang trinitarian). Lalu kenapa harus Isa ?
Dunia menjadi saksi pembantaian umat Islam di Palestina. Semuanya ulah bangsa Yahudi yang pernah menolak eksistensi kenabian Isa, mereka hanya bersyariat kepada Musa. Apa mereka tidak lebih pantas diluruskan daripada umatnya Isa ? jika patokannya adalah urusan ketuhanan, okelah umat Yahudi kita sebut bertauhid, maka bagaimana dengan umat Budha, Hindu, Zoroaster yang juga menyimpang dari Tauhid? Bukankah inilah yang menjadi tugasnya dari Nabi Muhammad ?
Bila memang Tuhan katakanlah menganggap perlu untuk mempertahankan eksistensi Nabi Isa al-Masih sehingga beliau tetap hidup sampai hari ini. Kenapa Dia tidak membiarkan Isa untuk tetap panjang usia sampai hari ini tanpa harus mengutus Muhammad terlebih dahulu ? Atau kenapa al-Qur’an tidak diberikan saja langsung pada Nabi Isa al-Masih dan membuatnya sekaligus sebagai seorang Nabi yang universal tanpa harus dibatasi kedaerahan dan kesukuan ?
Sebab dengan pemaksaan kehadiran Isa al-Masih untuk kedua kali diakhir zaman, ini sama saja dengan menganggap eksistensi Muhammad tidak berarti apa-apa. Maha Suci Allah dari apa yang sudah kita persangkakan– Sesungguhnya Dia sudah menurunkan wahyu-Nya dengan jelas mengenai perkara ini dan sama sekali tidak membingungkan.
Muhammad merangkum semua misi kelokalan yang pernah ada dimasa lalu dan menjadi satu misi universal, lintas bangsa dan daerah. Beliaulah dengan al-Qur’annya yang bertugas untuk meluruskan kekeliruan manusia dalam mengamalkan ajaran agama mereka yang dinisbatkan pada ajaran para Nabi dan Rasul Tuhan terdahulu.
Muhammad akan mencakup semua kedaerahan yang pernah ada dimasa silam, tidak hanya pada bangsa Israel, tetapi juga pada semua umat yang kepadanya sudah pernah diutus para Nabi dan Rasul.
Oleh karena itu maka ditinjau dari sudut pandang ini, pengutusan Nabi Isa untuk kedua kalinya, secara tidak langsung akan Membatalkan fungsi Khatamun Nabiyyin dari Muhammad, membatasi keuniversalan misi beliau serta menganggap Islam yang diturunkan kepada Muhammad masih belum cukup sempurna dan efektif sehingga masih harus disempurnakan oleh seorang Nabi lainnya.
Hadis-hadis tentang kemunculan Imam Mahdi dan berbagai fenomena akhir zaman terdiri dari puluhan dan bahkan mungkin ratusan buah. Dari jumlah yang banyak tersebut tidak semuanya menyebut eksistensi Nabi Isa al-Masih. Sehingga kepercayaan kita pada kehadiran Imam Mahdi dengan beragam kejadian yang menyertainya bisa saja dilepaskan dari kehadiran Nabi terakhir untuk umat Bani Israel tersebut.

Enhanced by Zemanta

Alasan Nabi Isa di angkat ke Langit

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


Mengapa Isa Al-Masih (menurut Islam) atau Yesus (menurut Kristen) diangkat ke langit? Mengapa Al-Masih tidak mengalami kematian seperti para nabi yang lain? Ada misteri dan rahasia apa dibalik peristiwa pengangkatan ini …?

Setelah berhasil mengumpulkan bukti-bukti, ternyata terkuak, bahwa peristiwa pengangkatan ini menunjukkan sesuatu hal yang benar-benar besar. Nabi Isa diangkat ke langit menunjukkan bahwa Tuhan  mengharuskan agar ia tetap hidup. Seseorang yang naik ke langit menyebabkan dirinya terlepas dari hukum-hukum alam dunia seperti penyakit, ketuaan dan kematian, atau hukum-hukum bersifat fisika lainnya.

Mengapa Tuhan mengharuskan nabi Isa tetap hidup? Tuhan menghendaki nabi Isa tetap hidup sampai di masa depan sampai disuatu masa, yaitu persisnya pada masa akan ada peristiwa  besar yang ditandai dengan munculnya nabi Isa palsu. Sang nabi Isa palsu ini tidak bisa dibunuh oleh manusia biasa kecuali oleh nabi Isa asli. Ia pun tak bisa menunjukkan ciri-ciri kenabiannya. Namun, pada masa itu nabi Isa palsu ini memiliki kemampuan sam persis seperti nabi Isa asli. Ia mampu berjalan diatas air, bisa membuat burung dari tanah, dan bisa menghidupkan mayat. Nabi Isa adalah pembawa berita benar, namun nabi Isa palsu adalah pembawa berita bohong. Nabi Muhammad mencap nabi Isa palsu dengan kata “Pembohong”, seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Ummah Albahili berikut ini :

“Diantara fitnah pembohong (nabi Isa palsu) ia berkata pada orang; apakah jika aku membangkitkan ayah dan ibumu (yang telah mati) engkau akan bersaksi bahwa aku (nabi dan) Tuhanmu?; Ya, jawab orang itu. (Lalu bangkitlah) ayah dan ibumu dan berkata; Wahai anakku ikutilah ia sebab dia adalah (nabi dan) Tuhanmu.”

Nabi Isa palsu ini diriwayatkan akan menebarkan sihir diberbagai penjuru dunia. Karena itu ia merupakan sosok sangat membahayakan bagi ummat manusia. Timbul pertanyaan, dari manakah nabi Isa palsu ini akan muncul? Jika kita ingin mencari orang-orang pandai, saat ini kita akan ke negara Barat, tepatnya Amerika. Negara Amerika adalah transetter atau kiblat peradaban dan ilmu pengetahuan dunia. Maka, dari sanalah nabi Isa palsu akan menunjukkan batang hidungnya.

Amerika yang berjuluk negara Paman Sam menunjukkan indikasi lain terhadap kemungkinan tersebut. Bahkan, dari sebutan Paman Sam ini sebenarnya    mengandung sebuah perkara yang sangat gawat. Mengapa? Karena “Sam” kependekan dari “Samaria”. Dan “Samaria” adalah sahabat iblis. Baca Yohannes VIII ayat 43-50, ayat-ayat tersebut menunjukkan hubungan yang erat antara Samaria dengan iblis (setan). Jika tukang sihir seperti O’Ryan Green Field di masa lampau, dan tukang sihir masa kini David Copperfield bisa melakukan hal-hal hebat seperti terbang tanpa sayap, menembus tembok cina, dan menghilangkan patung Liberty, adalah karena memiliki perjanjian dengan ifrit. Maka kemampuan Sam lebih hebat dari itu sebab dia mempunyai perjanjian dengan raja semua ifrit yaitu iblis sendiri. Dari keterangan-keterangan diatas maka nabi Isa palsu adalah Sam.

Apakah dia (Sam) ini orang Amerika? Bukan. Memang sesuatu yang mengherankan. Coba kita lihat pecahan uang 1 dollar AS. Di sana ada gambar piramid. Timbul pertanyaan, apa hubungan Amerika dengan piramid? Pakar teologi protestan Amerika, Batt Robertson menjelaskan bahwa yang mendesain cap itu adalah Charles Thompson seorang anggota konggres. Pemilik dan pembuatnya yaitu Adam Wisehoubatt. Mereka kaki tangan Sam. Dari mana Sam? Dari negeri yang ada Piramidnya, yaitu Mesir.

Kenapa Sam minggat dari Mesir? Sebab ia diusir. Siapa yang mengusirnya? Baca QS. Thaha (20) ayat 83-98. pada ayat-ayat itu dipaparkan Sam diusir oleh nabi Musa. Nabi Musa berkata; “Pergilah kamu!” (Al-Qur’an).

Dari ayat-ayat surat Thaha di atas dijelaskan sepak terjang Sam di masa lampau. Waktu itu Sam menyesatkan umat nabi Musa. Ia membuat Sapi besar bak dinosaurus. Nampak hidup urat-uratnya dan menakutkan. Sapi itu dianggapnya Tuhan dan Sam mengklaim dirinya sebagai nabi. Umat nabi Musa pun sujud pada sapi raksasa itu, kecuali nabi Harun dan orang-orang shaleh. Ketika nabi Musa turun dari gunung Sam diusir dan sapi itu dibakar dan abunya dibuang ke laut. Kenapa Sam membuat sapi besar, bukan kodok atau hewan lainnya? Jawabnya adalah karena sebelum datang nabi Musa manusia adalah umat penyembah patung sapi.

Setelah pergi dari Mesir, kenapa Sam pergi ke Amerika? Sebab Amerika waktu itu adalah negeri penuh kebebasan tanpa ikatan dan batasan. Yang menurut Sam, negeri yang tepat untuk mewujudkan impiannya untuk menjadi nabi dan tuhan. Apakah ia berhasil? Ya. Ia berhasil dengan gemilang, buktinya pada tanggal 4 April 1950, dalam komperensi pers Presiden Amerika Truman berkata, Mata tuhan tidak lenggah menjaga bangsa ini.” Mata tuhan siapakah itu? Dialah (paman) Sam. Komperensi pers itu diadakan berkaitan dengan sering munculnya piring-piring terbang. Dari perkataan Presiden Truman itu berarti bahwa piring-piring terbang itu milik Paman Sam. Mereka (piring terbang) adalah tentara Paman Sam yang menjaga Amerika.

Apakah Sam masih hidup? Baca ulang QS. Thaha dan Yohannes VIII, juga pernyataan Truman yang ajaib itu. Sam masih hidup dari masa nabi Musa, nabi Isa dan Muhammad, dan sampai hari ini. Dia satu di antara manusia-manusia yang ditangguhkan kematiannya, seperti nabi Khidir dan Zulkarnaen yang masih hidup sebab minum air kehidupan. Nabi Isa dan Imam Mahdi yang diangkat ke langit. Dan iblis yang meminta penangguhan kematiannya sampai kiamat.

Sam jenius tapi jahat. Ia banyak melakukan perampokan. Dari timbunan harta haramnya, ia membangun negara di Segitiga Bermuda. Disana ia mengangkat diri menjadi Tuhan.

Dari kulit kita tahu isi buah itu matang atau belum. Dari Amerika kita tahu sampai dimana power paman Sam. Amerika memiliki angkatan perang tercanggih seantero dunia. Sebut saja seperti pesawat siluman (seatle) yang tidak bisa ditangkap radar. Tembakan pintar (semi konduktor) yang mampu menghancurkan gedung dari jendela atau pintu. Kapal induk (Supercarrier) sangat besar yang dalam perut dan diatas geladaknya mejeng 86 pesawat tempur.

Sam lebih dari itu. Dalam percobaan Pan Americana tahun 1952 mencatat waktu saat piring terbang terlihat dan menghilangnya. Ternyata kecepatannya 18.000 km/ jam atau 5 km dalam 1 detik. Luar biasa! Itu 5 dekade silam. Dan sekarang pasti kecepatannya tak bisa kita bayangkan. Hal itu hanya sebagian yang kita tahu.

Amerika mengenalkan bio teknologi, cloning (pembuatan individu dari satu sel) dan kimera (makhluk jadi-jadian rekaya genetika). Sam lebih dari itu, pengetahuannya tidak kita ketahui. Dia pemilik Amerika. Dia pengatur pengetahuan di Amerika. Karena Amerika kiblat dunia, maka ia mengatur pengetahuan di bumi. Banyak pengetahuan yang disimpan, dan dibumi hanya sisa pengetahuannya saja.

Dia akan muncul, dia mempersiapkan banyak hal untuk kemunculannya. Dia muncul saat terjadi bencana alam yang hebat lalu menghentikan bencana alam tersebut. Karena memang dialah yang membuat bencana alam itu dengan mesin-mesin penemuannya yang mengagumkan.

Peristiwa masa lampau akan terulang. Dulu umat nabi Musa menyembah sapi yang dianggap tuhan dan Sam yang dianggap nabi. Kini umat manusia yang menyembah Sam yang dianggap nabi dan tuhan. Pada waktu itulah turun Imam Mahdi. Akan terjadi perang besar antara tentara nabi Isa palsu dan tentara Imam Mahdi. Inilah perang dunia ke-III.

Siapakah yang mampu membunuhnya? Bukankah tentara-tentaranya memiliki senjata berbasic pengetahuan yang belum terjangkau manusia. Tentara dari bumi tak kan mampu. Maka Tuhan-pun menurunkan Isa Al-Masih dan bersamanya turun tentara malaikat dari langit. Tentara Tuhan akan mengalahkan tentara dari Tuhan palsu dan nabi Isa Al-Masih akan memenggal kepala nabi Isa palsu

Enhanced by Zemanta

Kehidupan nabi Khidir dan Nabi Ilyas

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Kehidupan nabi Khidir dan Nabi Ilyas sesuai diriwayatkan dalam dalam kitab “Al-Asror Rabbaniyyah wal Fuyudhatur Rahmaniyyah” karya Syeikh Ahmad Shawi Al-Maliki halaman 5 diterangkan yang artinya sebagai berikut: Telah berkata guru dari guru-guru kami, Sayyid Mushtofa Al-Bakri: Telah berkata Al-’Ala’i di dalam kitab tafsirnya bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas as hidup kekal sampai hari kiamat. Nabi Khidir as berkeliling di sekitar lautan sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di lautan. Sedangkan, Nabi Ilyas berkeliling di sekitar gunung-gunung sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di gunung-gunung. Inilah kebiasaan mereka di waktu siang hari. Sedangkan di waktu malam hari mereka berkumpul di bukit Ya’juj wa Ma’luj (يأجوج و مأجوج) sambil mereka menjaganya. Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas berjumpa pada tiap-tiap tahun di Mina (Saudi Arabia). Mereka saling mencukur rambutnya secara bergantian. Kemudian mereka berpisah dengan mengucapkan kalimat: بسم الله ما شاء الله لا يسوق الخير الا الله بسم الله ما شاء الله لا يصرف السو ء الا الله بسم الله ما شاء الله ما كان من نعمة فمن الله بسم الله ما شاء الله لا حول و لا قوة الا بالله Maka barangsiapa mengucapkan kalimat-kalimat ini pada waktu pagi dan sore hari, maka ia akan aman dari tenggelam, kebakaran, pencurian, syaitan, sultan, ular, dan kalajengking. Dan telah dikeluarkan oleh Ibnu ‘Asakir bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas itu berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis (Palestina) dan mereka melakukan ibadah haji pada tiap-tiap tahun. Mereka minum air zamzam dengan sekali tegukan, yang mencukupkan mereka seperti minuman dari Kabil. Sebagian ulama menceritakan bahwa sesungguhnya Nabi Khidir itu putera Nabi Adam as yang diciptakan dari tulang iganya. Menurut segelintir kecil ulama lagi beliau putera Halqiya. Ada yang mengatakan putera Kabil bin Adam. Adapula yang mengatakan beliau itu cucunya Nabi Harun as, yaitu putera bibinya Iskandar Dzul Qarnain. Dan Perdana Menterinya benar-benar aneh mengatakan bahwa Nabi Khidir itu dari golongan malaikat. Sedangkan, menurut pendapat ulama yang paling shohih adalah bahwa Khidir itu adalah seorang Nabi. Menurut ulama jumhur beliau itu masih hidup dan beliau tidak akan pernah meninggal terkecuali pada hari kiamat apabila Al-Qur’an telah diangkat dan Dajjal telah membunuhnya. Kemudian, Allah menghidupkannya kembali. Sesungguhnya, beliau itu masa hidupnya panjang sekali. Karena, beliau meminum air kehidupan
Tentang Nabi Khidir Nabi Khidir merupakan Hamba Allah yang sangat khusus, karena beliau adalah salah satu hamba Allah yang ditunda kematiannya dan masih diberi rejeki. Selain itu beliau diutus untuk memberi pelajaran Makrifat kepada Para Wali, para Sufi, maupun kepada orang yang dengan tekun mendekatkan diri kepada Allah. Nabi Khidir as mengajarkan ilmu tentang Makrifat, ada yang menyebutkan Nabi Khidir juga mengajarkan ilmu Laduni. Banyak orang yang ingin bertemu dengan Nabi Khidir , terutama para penganut Tarikat, ataupun mereka yang ingin berguru kepada Nabi Khidir . Kesalahan terbesar mereka adalah karena mereka ingin bertemu, seharusnya jangan punya keinginan untuk bertemu, ikhlaskanlah beliau yang menemui kita Dalam beberapa riwayat, Nabi Khidir memiliki Ciri-ciri fisik yang tidak dimiliki oleh orang lain, yaitu: jempol tangan kanan tidak bertulang, beliau selalu membawa tongkat, perawakan beliau lebih tinggi dari kebanyakan kita. Al-Khiḍr (Arab:الخضر, Khaḍr, Khaḍer, al-Khaḍir) keterangan mengenai beliau terdapat dalam Al Quran Surah Al-Kahfi ayat 65-82. dan beberapa hadist. “Mystical Dimensions of Islam”, oleh penulis Annemarie Schimmel, Khidr dianggap sebagai salah satu nabi dari empat nabi dalam kisah Islam dikenal sebagai ‘Sosok yang tetap Hidup’ atau ‘Abadi’. Tiga lainnya adalah Idris , Ilyas , dan Nabi Isa . Nabi Khidir abadi karena ia dianggap telah meminum air kehidupan. Dalam kisah literatur Islam, satu orang bisa bermacam-macam sebutan nama dan julukan yang telah disandang oleh Khidr. Beberapa orang mengatakan Khidr adalah gelarnya; yang lainnya menganggapnya sebagai nama julukan. dan juga dihubungkan dengan Pengembara abadi. Para cendikiawan telah menganggapnya dan mengkarakterkan sosoknya sebagai orang suci, nabi, pembimbing nabi yang misterius dan lain lain. Al-Khiḍr secara harfiah berarti ‘Seseorang yang Hijau’ melambangkan kesegaran jiwa, warna hijau melambangkan kesegaran akan pengetahuan “berlarut langsung dari sumber kehidupan.” Dalam situs Encyclopædia Britannica, dikatakan bahwa Khidr memiliki sebuah nama, yang paling terkenal adalah Balyā bin Malkān. Menurut Syaikh Imam M. Ma’rifatullah al-Arsy, Segitiga Bermuda merupakan tempat titik terujung di dunia ini. Ditengah kawasan itu terdapat sebuah telaga yang airnya dapat membuat siapa saja yg meminumnya menjadi panjang umur, ditempat itu pula Khidr bertahta sebagai penjaga sumber air kehidupan tersebut. NABI ILYAS AS Nabi Ilyas diutus kepada penduduk Baalbek, sebelah barat Kota Damaskus (Libanon Timur sekarang). Dia mengajak kaumnya beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan penyembahan terhadap patung yang mereka namakan Ba`la. Hal inilah yang mengakibatkan mereka menganiayanya. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Ilyas adalah paman Nabi Ilyasak. namun betapapun gigihnya Nabi Ilyas berdakwah, kaumnya tidak mau mendengarkannya. Maka Allah menghukum mereka dengan azab didunia dan akhirat. Selepas kematian Nabi Sulaiman A.S., kerajaan telah mengalami perpecahan. Pengaruh syaitan telah berleluasa. Manusia yang beragama diejek-ejek. Undang-undang Somaria telah membunuh kebanyakan golongan yang mengetahui dan mengikuti akidah yang sebenar. Pengaruh kejahatan menjadi semakin buruk dan Allah telah menghantar Nabi Ilyas A.S. untuk memulihkan manusia pada zaman pemerintahan Raja Ahab dari Israil. Baginda berusaha berusaha bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan manusia daripada mempercayai banyak tuhan dan melarang mereka menyembah Tyrian Bal. Baginda juga menasihati manusia untuk menyembah Allah dan mengelakkan diri daripada melakukan kejahatan. Apabila usahanya tidak dihiraukan dan tidak membuahkan hasil, baginda tiba-tiba muncul sebeum raja dan tukang tiliknya memberitahu yang arus deras dan kebuluran akan melanda negeri tersebut. Baginda juga memberitahu yang Tyrian Bal tidak mempunyai kuasa untuk menahan bencana tersebut. Para penduduk tidak mengendahkan amarannya dan tidak mengubah kepercayaan mereka. Kenabian Nabi Ilyas akhirnya terbukti benar dan seluruh negeri dilanda banjir besar dan rakyat mengalami kebuluran. Selepas dua tahun, Nabi Ilyas memohon Allah mengurniakan belas kasihan dan keampunan-Nya kepada penduduk yang kebuluran itu. Mereka telah mengakui kekuasaan Allah dan berasa sangat menyesal. Sejurus selepas arus deras berhenti dan Allah telah menarik balik sumpahannya, Allah telah menyuruhnya memanggil al-Yas'a menggantikannya. Baginda melaksanakan perintah Allah dengan penuh ketaatan dan hilang secara misteri. Terdapat satu petikan dalam ayat al-Quran yang bermaksud: " Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik" (Shaad, 28: 48)
Enhanced by Zemanta