Saturday, November 3, 2012

asal muasal diri alam marifat

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Maka Allah lingkup nya di nur Muhammad itu sendirinya didalam perkata'an Kun Fayakun dan Nur Muhammad itu sendiri di dalam lingkup dari pada Nur Dzat. Semesta sekalian alam semsesta ini perbuatan Nur juga, maka barang siapa belum tahu jalan ini jangan membaca ini karena akan menjadikan sesat kepada dirinya dan jika sudah tahu bacalah, karena inilah ilmu yang haq. Syareat tanpa Hakekat hampa dan hakekat tanpa syareat bathil atau sia sia.
Adapaun yang bernama Rahasia itu sir ALLAH JUA.
Adapun kita ini bertubuhkan Muhammad zahir dan bathin, bertubuhkan Roh namanya maka tiada kita kenang kenang lagi hati dan tubuh hanya bertubuh bathin saja namanya artinya Muhammad jua yang jadi tubuh kita ini. Jadi hakekatnya kita ini bertubuh kan Roh Idhafi juga, sebab Muhammad itulah yang bernama Rahasia Sir Allah.
Adapun ujud itu ujud Allah Ta'ala, sekali kali jangan ada ujud yang lain daripada Allah Ta'ala inilah sebenar benarnya diri. Begitu pula kelakuan jangan ada yang lain, karena jika ada menjadi Nafsiah Hamba juga.
Adapun Nafsiah Robbah itu tidak menerima salah satu melainkan suci zahir bathin. Dzat artinya Ujud Allah semata mata, itu yang sebenar benarnya diri kita. Jangan ragu lagi pada kata ini, baik berjalan itu ujud Allah, melihat itu Bashar Allah dan berkata kata itu Kalam Allah dan lain lainnya, jangan ada ujud yang lain jika ada maka batal. Firman Allah
" Ana fi dzhoni Abdi " Aku berada dalam prasangka hamba Ku.
Maka sudah lengkap ujud kita ini, ujud Allah Ta'ala. Ingat lah akan firman Allah tersebut jangan lagi mengatakan batil jika sudah tahu ujud dirinya ujud Allah juga dan tiada lupa dan tiada berserikat dan tiada berhakekat dan bermarifat melainkan kudrat sendirinya.
" Al insaanu sirri wa anaa sirrahu wa sirri sifaati wa sifaatii laghairi " insan itu rahasia Ku dan Akulah rahasianya dan rahasia itu sifat Ku dan sifat Ku itu tiada lain dari pada Aku
Adapun Alif Allah itu yaitu Dzat Allah Ta'ala dan diri Allah Ta'ala dan sebenar benar nya diri yaitu Roh Nabi Muhammad, adapun sifat Allah Ta'ala itu rupa nabi Muhammad dan Af'al Allah Ta'ala itu yaitu kelakuan Nabi Muhammad. Maka inilah Roh Idhafi menjadi rahasia kepada kita didalam jantung tempatnya. Adapun Akbar itu tubuh kita ini jadi bisa berlaku laku dan sebagainya. Adapun rahasia itu sendiri memerintah hati dan hati itu memerintah tubuh berlakunya tubuh itu berbagai kelakuan. Inilah sebenar benarnya diri yang kita kenal siang dan malam, sebab semuanya daripada Muhammad.
Tatkala rahasia itu sehari semalam dalam rahim ibu HU . . HU pujinya
Tatkala rahasia itu tiga hari tiga malam dalam rahim ibu Subhanallahi pujinya artinya suci sendiri nya
Tatkala rahasia itu empat puluh hari empat puluh malam dalam rahim ibu Alhamdulillahi pujinya artinya Dzat Allah pujinya
Tatkala rahasia itu tiga bulan dalam rahim ibu Allahu Akbar pujinya artinya Maha Besar Allah meliputi sekalian alam
Tatkala rahasia itu sembilan bulan dalam rahim ibu La ilaha illa Allah pujinya




Wahai diri yang mulia wahai jiwa yang luhur wahai pribadi yang agung bagaimana mungkin aku merasa cukup dengan amal dan ilmu ku bila aku harus bercermin pada keteladanan mu yang telah memikat segala bentuk hati dan perasa'an. Sementara Engkau telah menjelma dengan sifat sifat ke Tuhanan yang pengasih lagi penyayang. Engkau telah menjadi cahaya mata bagi para perindu dan nama mu menjadi sumber bagi yang mengamal bahkan sifat dan keteladanan mu menjadi syair bagi para pencinta. Kehadiran mu telah dinantikan semenjak awal segala pencipta'an dan nama mu telah terukir dengan agung nya yang disandingkan ditempat yang tak mungkin satupun makhluk dapat menyandingnya.

Wahai keutama'an yang menjadikan seluruh penghuni langit dan bumi bersholawat kepada mu, bagaimana mungkin laut akan cukup menjadi tinta untuk menulis ke utama'an mu itu, bila laut saja dijadikan sebab dari pada keada'an mu

Wahai raja dari segala yang zahir maupun bathin, tiada lah yang ghaib tersingkap seluruhnya karena kaulah  sang pengawas dan digenggaman mu semua yang zahir karena kuasa untuk mu.

Tiadalah dapat bulan dan mentari menandingi cahaya mu bila engkaulah sumber segala cahaya itu.

Pada diri mu lah dapat menemukan kebenaran Tuhan dan pada jiwa mulah tersingkap rahasia ke Tuhanan

Wahai sang kekasih . . . . . .

Enhanced by Zemanta

Rahasia Syukur, Sabar, dan Istighfar

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Dalam mukaddimah kitab Al Waabilush Shayyib, Imam Ibnul Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan. Beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga poros: Syukur, Sabar, dan Istighfar. Seseorang takkan lepas dari salah satu dari tiga keadaan:
1- Ia mendapat curahan nikmat yang tak terhingga dari Allah, dan inilah mengharuskannya untuk bersyukur. Syukur memiliki tiga rukun, yang bila ketiganya diamalkan, berarti seorang hamba dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut, meski kuantitasnya masih jauh dari ‘cukup’. Ketiga rukun tersebut adalah: a- Mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah. b-Mengucapkannya dengan lisan. c-Menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha Allah, karena Dia-lah yang memberikannya.
Inilah rukun-rukun syukur yang mesti dipenuhi
2- Atau, boleh jadi Allah mengujinya dengan berbagai ujian, dan kewajiban hamba saat itu ialah bersabar. Definisi sabar itu sendiri meliputi tiga hal: a-Menahan hati dari perasaan marah, kesal, dan dongkol terhadap ketentuan Allah. b-Menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah. c-Menahan anggota badan dari bermaksiat seperti menampar wajah, menyobek pakaian, (atau membanting pintu, piring) dan perbuatan lain yang menunjukkan sikap ‘tidak terima’ thd keputusan Allah.

Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Katsir berkata, sebagai penduduk Hijaz berkata, Abu Hazim mengatakan,
كل نعمة لا تقرب من الله عز وجل، فهي بلية.

“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.”
Mukhollad bin Al Husain mengatakan,
الشكر ترك المعاصي
“Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.”
Intinya, seseorang dinamakan bersyukur ketika ia memenuhi 3 rukun syukur: [1] mengakui nikmat tersebut secara batin (dalam hati), [2] membicarakan nikmat tersebut secara zhohir (dalam lisan), dan [3] menggunakan nikmat tersebut pada tempat-tempat yang diridhoi Allah (dengan anggota badan).

Perlu kita pahami bahwa Allah menguji hamba-Nya bukan karena Dia ingin membinasakan si hamba, namun untuk mengetes sejauh mana penghambaan kita terhadap-Nya. Kalaulah Allah mewajibkan sejumlah peribadatan (yaitu hal-hal yang menjadikan kita sebagai abdi/budak-nya Allah) saat kita dalam kondisi lapang; maka Allah juga mewajibkan sejumlah peribadatan kala kita dalam kondisi sempit.
Banyak orang yang ringan untuk melakukan peribadatan tipe pertama, karena biasanya hal tersebut selaras dengan keinginannya. Akan tetapi yang lebih penting dan utama adalah peribadatan tipe kedua, yang sering kali tidak selaras dengan keinginan yang bersangkutan.
Ibnul Qayyim lantas mencontohkan bahwa berwudhu di musim panas menggunakan air dingin; mempergauli isteri cantik yang dicintai, memberi nafkah kepada anak-isteri saat banyak duit; adalah ibadah. Demikian pula berwudhu dengan sempurna dengan air dingin di musim dingin dan menafkahi anak-isteri saat kondisi ekonomi terjepit, juga termasuk ibadah; tapi nilainya begitu jauh antara ibadah tipe pertama dengan ibadah tipe kedua. Yang kedua jauh lebih bernilai dibandingkan yang pertama, karena itulah ibadah yang sesungguhnya, yang membuktikan penghambaan seorang hamba kepada Khaliqnya.
Oleh sebab itu, Allah berjanji akan mencukupi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah,
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhan) hamba-Nya?” (QS. Az Zumar: 36).
 
Tingkat kecukupan tersebut tentulah berbanding lurus dengan tingkat penghambaan masing-masing hamba. Makin tinggi ia memperbudak dirinya demi kesenangan Allah yang konsekuensinya harus mengorbankan kesenangan pribadinya, maka makin tinggi pula kadar pencukupan yang Allah berikan kepadanya. Akibatnya, sang hamba akan senantiasa dicukupi oleh Allah dan termasuk dalam golongan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلًا
“(Sesungguhnya, engkau (Iblis) tidak memiliki kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, dan cukuplah Rabb-mu (Hai Muhammad) sebagai wakil (penolong)” (QS. Al Isra’: 65).
Hamba-hamba yang dimaksud dalam ayat ini adalah hamba yang mendapatkan pencukupan dari Allah dalam ayat sebelumnya, yaitu mereka yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah, baik dalam kondisi menyenangkan maupun menyusahkan. Inilah hamba-hamba yang terjaga dari gangguan syaithan, alias syaithan tidak bisa menguasai mereka dan menyeret mereka kepada makarnya, kecuali saat hamba tersebut lengah saja.
Sebab bagaimana pun juga, setiap manusia tidak akan bebas 100% dari gangguan syaithan selama dia adalah manusia. Ia pasti akan termakan bisikan syaithan suatu ketika. Namun bedanya, orang yang benar-benar merealisasikan ‘ubudiyyah (peribadatan) kepada Allah hanya akan terganggu oleh syaithan di saat dirinya lengah saja, yakni saat dirinya tidak bisa menolak gangguan tersebut… saat itulah dia termakan hasutan syaithan dan melakukan pelanggaran.
dengan demikian, ia akan beralih ke kondisi berikutnya:
3- Yaitu begitu ia melakukan dosa, segera lah ia memohon ampun (beristighfar) kepada Allah. Ini merupakan solusi luar biasa saat seorang hamba terjerumus dalam dosa. Bila ia hamba yang bertakwa, ia akan selalu terbayang oleh dosanya, hingga dosa yang dilakukan tadi justeru berdampak positif terhadapnya di kemudian hari. Ibnul Qayyim lantas menukil ucapan Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harawi yang mengatakan bahwa konon para salaf mengatakan: “Seseorang mungkin melakukan suatu dosa, yang karenanya ia masuk Jannah; dan ia mungkin melakukan ketaatan, yang karenanya ia masuk Neraka”. Bagaimana kok begitu? Bila ALlah menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya terjerumus dalam suatu dosa (padahal sebelumnya ia seorang yang shalih dan gemar beramal shalih). Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan matanya, mengusik jiwanya, mengganggu tidurnya dan membuatnya selalu gelisah. Ia takut bahwa semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena dosa tersebut, hingga dengan demikian ia menjadi takluk di hadapan Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan maghfirah-Nya, serta bertaubat kepada-Nya. Nah, akibat dosa yang satu tadi, ia terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang boleh jadi akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk Jannah.
Namun sebaliknya orang yang melakukan suatu amalan besar, ia bisa jadi akan celaka akibat amalnya tersebut. Yakni bila ia merasa kagum dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti itu. Nah, kekaguman ini akan membatalkan amalnya dan menjadikannya ‘lupa diri’. Maka bila Allah tidak mengujinya dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk taubat, niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.
Demikian kurang lebih penuturan beliau dalam mukaddimah kitab tadi, semoga kita terinspirasi dengan tulisan yang bersahaja ini.
Enhanced by Zemanta

Monday, October 29, 2012

kubur

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Makna kubur

Akal ini melambung dalam serpihan-serpihan nalar lalu membingkainya menjadi sebuah makna akan sebuah keadaan “mencekam, gelap dan menakutkan”.

Adalah makna dari sebuah keadaan kubur, yang oleh sebagian orang adalah gerbang cinta menuju kemerdekaan jiwa ketika dia mencapai sebuah kefanaan dalam hakikat Kebenaran.

Dan ada sebagian lagi menganggap kubur sebagai batas kesudahan (tamat) dari segala ambisi dan mimpi-mimpi kehidupan, olehnya wajar jika banyak yang tidak mau bicara tentang kubur, biarlah ia datang dengan caranya sendiri sementara mereka juga mempunyai cara untuk semaksimal mungkin menciptakan jarak dengan kubur walau itu hanyalah sebuah kesia-siaan dalam lakon hidup mereka.

Kita mengenal kubur adalah sebatas proses kematian jasad yang seterusnya dikreasi untuk dikembalikan ke alam asalnya dengan berbagai cara, namun kubur dalam dimensi ini adalah tingkatan terbawah dari sederet tingkatan kubur selanjutnya. dalam pandangan kami kubur meliputi ;

Kubur alam (kubur pada unumnya / kubur syariat),

kubur jasad yakni jasad adalah kubur dari jiwa (kubur tarikat )

kubur jiwa yakni kesadaran bahwasannya jiwa adalah kubur bagi diri yang sebenarnya (ruh).

Kubur Alam 

Kubur alam adalah gerbang bagi jiwa untuk memahami kalau diri bukanlah jasad adanya, sehingga ketika jiwa masih berjasad, jiwa harus belajar agar tidak dominan dalam merespon segala sesuatu yang bersifat materi (sumber asal dasar dari jasad).

Bila jiwa memahami keadaan ini, maka jiwa memasuki gerbang pemahaman yang ebih tinggi., pemahaman jika jasad sesungguhnya merupakan sebuah perangkap jiwa yang harus dilepas seiring dengan segala ikatan yang selama ini terjalin dalam penyatuan jasad dan jiwa.

Alam kubur adalah gerbang pemahaman pada tingkatan ini dan pertanyaan utama pada dimensi kubur alam ini adalah ” Siapa Tuhanmu..? makna dari pertanyaan ini adalah pertanyaan nalar yang berorientasi materi, dimana seringnya manusia menggambarkan sosok Tuhan dalam bentuk fisik atau sebuah obyek sehingga membutuhkan kesadaran logika bahwa Tuhan bukanlah sosok yang tercipta dari kreasi alam pikir manusia dalam sebuah “bentuk” karena Tuhan lebih dari itu dan tiada terbatas (Maha Besar).

Konsekwensi pada dimensi kubur ini adalah ; jika diri berbuat baik, maka masuk surgalah imbalannya. Dan jika diri berbuat jahat maka Nerakalah tempatnya.

Kubur Jasad 

Ketika jiwa memasuki gerbang kesadaran dan mengerti akan esensinya maka jasad adalah sebuah kubur bagi jiwa, proses selanjutnya memaknai jasad sebagai kubur akan merefleksikan bagaimana jiwa selama ini menjadikan jasad sebagai kerangka dalam dimensi ruang dan waktu untuk mewujudkan segala untaian keinginan dalam terminologi tertentu yang umumnya didominan oleh ego.

Kesadaran jiwa akan jasad sebagai perangkap adalah langkah awal dari perjalanan jiwa dalam menggapai kebenaran dan memahami akan kebodohan jiwa itu sendiri (yang terbelenggu oleh keterpikatan duniawi), akan tetapi jasad juga merupakan media yang sempurna dari sebuah penciptaan untuk mengantar jiwa pada gerbang kesadaran akan Kebenaran.

Terbukanya kesadaran jiwa akan jasad sebagai perangkap adalah seiring kesadaran jiwa itu sendiri kalau dirinya (jiwa) adalah juga perangkap atas ruh dari jiwa itu.

Selanjutnya melahirkan perjuangan untuk menyibak berbagai sekat-sekat jiwa akan resonansi Cahaya Ruh agar jiwa terlebur dengnan Cahaya Ilahi dan menciptakan keseimbangan jiwa dalam menyikapi vibrasi kehendak yang bersifat materi (jasad) melalui inderawi.

Pada dimensi kubur jasad ini, pertanyaannya adalah ; ” Kenal-kah kamu dengan Tuhan-Mu.?” Makna pertanyaan ini merupakan esensi pemahaman ke-Tuhan-an melalui alam bathin, dengan indera bathin, dan lebih khusus lagi dengan mata bathin yang dimulai dengan Cahaya Ruh sedangkan prosesnya dinamakan perjalanan Ruhani.

Kenalkah kamu dengan Tuhan-mu ? adalah sebuah proses peralihan dari vibrasi dan resonansi jasad beserta struktur landasan akan makna pembentukan jiwa secara komperhensif menuju vibrasi Ilahi yang terpancar dari resonansi Cahaya Ruh, sehingga jiwa mengalami loncatan quantum menuju gerbang peleburan.

Jiwa akan selalu bercahaya dan mengenal segala sesuatu melalui cahaya karena segala sesuatu sumbernya adalah Cahaya, meskipun vibrasi itu datang dari alam jasad yang merupakan refleksi inderawi.

namun semua adalah Dia adanya….. Konsekwensi pada dimensi kubur ini berupa kedamaian dan ketenangan dalam kebahagiaan hidup yang dualitasnya adalah kepedihan, penderitaan dan keterpurukan dalam hidup karena jiwa yang gelap dan menjadi belenggu nafsu serta ego.

Kedamaian dan ketenangan yang hakiki sebagaimana yang digambarkan Rasulullah Saw; kubur orang-orang mu’min adalah laksana taman-taman di syurga.

Bukankah makna dari taman adalah kedamaian, kebahagiaan dan ketentraman ? demikianlah jika jasad seorang manusia telah terkonvert menjadi taman surga yang merupakan cerminan dari jiwa yang tercahayakan, jiwa yang kebahagiaanya tidak tergantung pada apapun karena cukuplah Tuhan menjadi sumber kebahagiannnya, lihatlah Sulaiman sang raja yang kaya, arief dan bijaksana, namun Sulaiman tidak menyandarkan kebesaran dan kebahagiannya pada vibrasi inderawi.

Renungkan juga akan ketampanan yusuf dan segala kemilau singgasananya, kemudian pikirkan sejenak bagaimana ketabahan Luth maka tersingkaplah apa yang seharusnya termaknai dalam setiap langkah hidup ini.

Kubur Jiwa 

Ini adalah kubur yang tertinggi dan terberat namun dengan Rahim-Nya serta mujahada, maka Insyaallah kita dapat memahaminya. Makna kesadaran jiwa sebagai kubur akan mengantar jiwa pada dimensi kefanaan lantaran kemutlakan Cinta itu sendiri.

Pada dimensi ini jika tergapai dengan sempurna melalui kekuatan dari-Nya, maka tidak akan ada lagi pertanyaan sebagaimana pertanyaan pada dimensi-dimensi kubur dibawahnya, dan yang ada hanya ucapan selamat datang bagi jiwa-jiwa yang tersucikan ;

“Wahai jiwa yang tenang ! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan di ridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hama-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr : 27 -30)”.

Ketika malaikat Izrail mengabarkan kematian pada nabi Ibrahim maka Ibrahim berkata

“Izrail, sampaikan pada Tuhanku, adakah kekasih yang mematikan kekasih-Nya.?”

Izrail pun menghadap Tuhan dengan membawa pesan dari Ibrahim.

Tuhan berfirman “Izrail kalau begitu sampaikan pesanku ini pada kekasih-Ku Ibrahim”

Izrail kembali menjumpai Ibrahim dan menyampaikan pesan tersebut ;

“Ibrahim, Tuhan berfirman ; adakah seorang kekasih yang menolak panggilan kekasih-Nya.?”

Ibrahim pun melebur dalam panggilan itu dengan Cinta.

Lebih sederhana lagi, adalah hal yang mustahil ketika seorang Istri mendatangi rumah suaminya (yang telah menjadi rumahnya) lalu ia ditanya oleh penjaga rumah dengan berbagai pertanyaan sebelum ia diperbolehkan masuk dan bertemu dengan suaminya.

Namun demikian satu hal yang menjadi renungan dasar akan berbagai perjalanan dalam dimensi kubur ini, kita tetap melewati kubur alam, walaupun kita di istimewakan untuk tidak dihadapkan dengan berbagai pertanyaan dan konsekwensinya. Dan itu ada pada penyingkapan jiwa dalam gerbang penyatuan menuju kefanaan…

 


Enhanced by Zemanta

Tuhan dan Kemanusiaan

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


Makna Tuhan dan Kemanusiaan

Dzat wajibul maulana adalah yang menjadi pemimpin budi yang menuju ke semua kebaikan. Citra manusia hanya ada dalam keinginan yang tunggal. Satu keinginan saja belum tentu dapat melaksanakan dengan tepat, apa lagi dua. Nah, cobalah untuk memisahkan zat wab/jibul maulana dengan budi, agar supaya manusia dapat menerima keinginan yang lain”

Manusia yang mendua adalah manusia yang tidak sampai kepada derajat kemanunggalan.Sementara manusia yang manunggal adalah pemilik jiwa yang iradah dan kodratnya telah pula menyatu dengan Ilahi.

Sehingga akibat terpecahnya jiwa dengan roh Ilahi, maka kehidupannya dikuasai oleh keinginan yang lain, yang dalam al-Qur’an disebut sebagai hawa nafsu.

Maka agar tidak terjadi split personality, dan tidak mengakibatkan kerusakan dalam tatanan kehidupan, harus ada keterpaduan antara Zat Wajibul Maulana dengan budi manusia. Dan sang Zat Wajibul Maulana ini berada di dalam kedirian manusia, bukan di luarnya.

“Hyang Widi, kalau dikatakan dalam bahasa di dunia ini, baka bersifat abadi, tanpa antara, tiada erat dengan sakit atau pun rasa tidak enak. Ia berada baik di sana, maupun disini, bukan itu bukan ini. Oleh tingkah yang banyak dilakukan dan yang tidak wajar,menuruti raga, adalah sesuatu yang baru.

Segala sesuatu yang berwujud, yang tersebar didunia ini, bertentangan dengan sifat seluruh yang di ciptakan, sebab isi bumi itu angkasa yang hampa.” Tuhan adalah yang maha meliputi. Keberadaannya, tidak dibatasi oleh lingkup ruang dan waktu, ke ghaiban atau kematerian. Hakikat keberadaan segala sesuatu adalah keberadaan-Nya.

Oleh karenanya keberadaan segala sesuatu di hadapan-Nya sama dengan ketidak beradaan segala sesuatu, termasuk kedirian manusia. Maka sikap yang selalu menuruti raga disebut sebagai “sesuatu yang baru” dalam arti tidak mengikuti iradah-Nya. Raga seharusnya tunduk kepada jiwa yang dinaungi roh Ilahi.

Sebab raga hanyalah sebagai tempat wadag bagi keberadaan roh itu. Jangan terjebak hanya menghiasi wadahnya, namun seharusnya yang mendapat prioritas untuk dipenuhi perhiasan dan dicukupi kebutuhannya adalah isi dari wadah.

“Gagasan adanya badan halus itu mematikan kehendak manusia. Dimanakah adanya Hyang Sukma, kecuali hanya diri pribadi. Kelilingilah cakrawala dunia, membumbunglah ke langit yang tinggi, selamilah dalam bumi sampai lapisan ke tujuh, tiada ditemukan wujud yang Mulia.“Ke mana saja sunyi senyap adanya; ke utara, selatan, barat, timur dan tengah, yang adadi sana-sana hanya di sini adanya.

Yang ada di sini bukan wujud saya. Yang adadi dalamku adalah hampa yang sunyi. Isi dalam daging tubuh adalah isi perut yang kotor.Maka bukan jantung bukan otak yang pisah dari tubuh, laju pesat bagaikan anak panah lepas dari busur, menjelajah Mekah dan Madinah.”“Saya ini bukan budi, bukan angan-angan hati, bukan pikiran yang sadar, bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas dan bukan kekosongan atau kehampaan.

Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah, busuk bercampur tanah dan debu. Napas saya mengelilingi dunia, tanah, api, air dan udara kembali ke tempat asalnya atau aslinya,sebab semuanya barang baru, bukan asli.”“Maka saya ini Zat yang sejiwa, menyukma dalam Hyang Widi.

Pangeran saya bersifat jalal dan jamal, artinya Maha mulia dan Maha indah. Ia tidak mau shalat atas kehendak sendiri, tidak pula mau memerintahkan untuk shalat kepada siapa pun. Adapun orang shalat, itu budi yang menyuruh, budi yang laknat dan mencelakakan, tidak dapat dipercaya dan diturut, karena perintahnya berubah-ubah.

Perkataannya tidak dapat dipegang, tidak jujur, jika diturut tidak jadi dan selalu mengajak mencuri.” Menurut Syekh Siti Jenar, Allah bukanlah sesuatu yang asing bagi diri manusia. Allah juga bukan yang   ghaib dari manusia. Walaupun Ia penyandang asma al-Ghayb, namun itu hanya dari sudut materi atau raga manusia.

Secara rohiyah, Allah adalah ke-Diri-an manusia itu. Dalam diri manusia terdapat roh al-idhafi yang membimbing manusia untuk mengenal dan menghampirinya. Sebagai sarananya, dalam otak kecil manusia, Allah menaruh God-spot (titik Tuhan) sebagai filter bagi kerja otak, agar tidak terjebak hanya berpikir materialistik dan matematis.

Inilah titik spiritual yang akan menghubungkan jiwa dan raga melalui roh al-idhafi. Dari sistem kerja itulah kemudian terjalin kemanunggalan abadi. Maka kalau ada anggapan bahwa Allah itu ghaib bagi manusia, sesuatu yang  jauh dari manusia, pandangan itu keliru dan sesat.Sekali lagi apa yang terurai di atas, adalah suatu kedaaan dan kesadaran yang sudah tidak ada tingkatan lagi.

Jika masih ada terdapat tingkatan maka sebaiknya disempurnakan lagi.Karena tingkatan itu telah dilebur menjadi satu dengan nama keyakinan, sehingga tidak ada perbedaan atau tingkatan.

Semuanya berpulang kepada Allah, Tuhan sekalian Alam,apa kata Alam ini ialah juga kehendak-Nya yang merupakan wujud ADA dalam kehidupan manusia beserta makhluk lainnya…allahu akbar.

“Syukur kalo saya sampai tiba di alam kehidupan yang sejati.Dalam alam kematian ini saya kaya akan dosa. Siang malam saya berdekatan dengan api neraka. Sakit dan sehat saya temukan di dunia ini. Lain halnya apabila saya sudah lepas dari alam saya kematian ini.

Saya akan hidup sempurna, langgeng tiada ini itu.Dalam prespektif  kemanunggalan, dunia adalah alam kematian yang sesungguhnya,di karenakan roh Ilahinya terpenjara dalam badan wadagnya. Dengan badan wadag yang berhias nafsu itulah, terjadi dosa manusia.

Sehingga keberadaan manusia di dunia penuh dengan api neraka. Ini sangat berbeda kondisinya dengan alam setelah manusia memasuki pintu kematian. Manusia akan manunggal di alam kehidupan sejati setelah mengalami mati. Disanalah ditemukan kesejatian Diri yang tidak parsial. Dirinya yang utuh, sempurna, dengan segala kehidupan yang juga sempurna.

“Menduakan kerja bukan watak saya! Siapa yang mau mati! Dalam alam kematian orang kaya akan dosa! Balik jika saya hidup yang tak kenal ajal, akan langgeng hidup saya,tidak perlu ini itu.

Akan tetapi bila saya disuruh milih hidup atau mati saya tidak sudi, Sekalipun saya hidup, biar saya sendiri yang menentukan ! Tidak usah Wali sanga memulangkan saya ke alam kehidupan ! Macam bukan wali utama saya ini, mau hidup saja minta tolong pada sesamanya.

Nah marilah kamu saksikan! Saya akan pulang sendiri ke alam kehidupan sejati.Karena kematian hanya sebagai pintu bagi kesempurnaan hidup yang  sesungguhnya,maka sebenarnya kematian juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari keberadaan manusia sebagai pribadi.

Oleh karena itu, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan bukan sesuatu yang bisa dipilih orang lain. Kematian adalah hal yang muncul dengan kehendak Pribadi, menyertai keinginan pribadi yang sudah berada dalam kondisi manunggal. Oleh karena itu, dalam sistem teologi Syekh Siti Jenar, sebenarnya tidak ada istilah “dimatikan” atau “dipulangkan”, baik oleh Allah atau oleh siapapun.

Sebab dalam hal mati ini, sebenarnya tidak ada unsur tekan-menekan atau paksaan. Pintu kematian adalah sesuatu hal yang harus dijalani secara sukarela, ikhlas, dan harus di selami pengetahuannya, agar ia mengetahui kapan saatnya ia menghendaki kematiannya itu.

Barulah jika seseorang  memang tidak pernah mempersiapkan diri, dan tidak pernah mau mempelajari ilmu kematian, tanpa tau arahnya ke mana, dan tidak mengerti apa yang  sedang dialami. “Betapa banyak nikmat hidup manfaatnya mati.

Kenikmatan ini dijumpai dalam mati,mati yang sempurna teramat oleklah dia. Manusia sejati-sejatinya yang  sudah meraih puncak ilmu. Tiada dia mati, hidup selamanya.

Menyebutkan mati syirik, lantaran tak tersentuh lahat, hanya beralih tempatlah dia dengan memboyong  kratonnya. Kenikmatan mati tak dapat dihitung…” “…Tersasar, tersesat, lagi terjerumus, menjadikan kecemasan,menyusahkan dalam patinya, justru bagi ilmu orang remeh…

ungkapan mistik itu keluar dari ucapan darah Syekh Siti Jenar, setelah dipenggal kepalanya oleh Dewan Walisanga. Darah yang menyembur, jatuh ke tanah melukis kaligrafi la ilaaha illallah, dan mengeluarkan ucapan-ucapan mistik tersebut.

Para wali dan masyarakat yang menyaksikannya terkejut campur  bingung. Setelah beberapa saat, dari lisan kepala yang sudah dipenggal, keluar ucapan yang memerintahkan agar darah kembali ke jasadnya, demikian pula kepala menyatu dengan tubuh. Jelas bahwa kematian fisik tak mampu menyentuh Syekh Siti Jenar.

Mati ada dalam hidup, hidup ada dalam mati.hidup selamanya tidak mati, kembali ke tujuan,langgeng selamanya. Setelah berpamitan dan mengucapkan salam kepada semua yang menyaksikan, Syekh Siti Jenar dengan diliputi oleh semerbak bau harum terbungkus cahaya gemerlapan yang menyorot ke atas, kemudian lenyap terserap ke dalam al-Ghaib,Dia Yang Sudah Dimuliakan.

Iringan cahaya bersinar cemerlang, berkilau gemilang, berkobar menyala, menyuramkan sinar sang mentari, menyilaukan pandang semua orang yang menyaksikan.

Adapun pelaksanaan hukuman atas dirinya, oleh Syekh Siti Jenar sengaja dibiarkan  terlaksana, guna memenuhi hukum duniawi, sekaligus sebagai monumen kebenaran ajarannya. Tanpa bukti yang dinampak kan secara dzahir, maka kebenaran ajaran Manunggaling Kawula-Gusti tidak akan pernah terwujud.

Sebab pembuktian itu – sebagaimana sudah terjadi pada Mansur al-Hallaj, al-Syuhrawardi dan ‘Aynul Quddat al-Hamadani sebagai pendahulunya – memang menuntut jasad sang Guru sebagai martir atau syahid bagi kesufiannya.

Dengan kemartirannya dan kesediannya sebagai syuhada’ bagi sufisme di Tanah Jawa itulah ia disebut sebagai Syekh Jatimurni, Guru Pemilik Inti Kesejatian atau Pusar Ilmu Kasampurnan.

Enhanced by Zemanta

Sunday, October 28, 2012

Ringkasan sejarah empat anasir Kejadian Manusia Tanah Air api Angin

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Ringkasan sejarah empat anasir

Nur Muhammad Mengunjungi empat Anasir Alam Yang Nyata

Selepas Allah s.w.t menjadikan Rohani maka Allahpun jadikan empat sumber alam yang nyata yang terdiri dari Tanah Nurani, Air Nurani, Angin Nurani dan Api Nurul 'Adhom, anasir ini seperti yang di nyatakan pada mengenal diri yang ke 72, selepas saja anasir yang empat ini di cipta oleh Allah maka Allah perintahkan kepada Nur Muhammad (Hakikatul Muhammadiyah) pergi melawat ke empat-empat anasir tersebut (ketika ini tiada satu alam nyatapun yang ujud) Ada juga pandangan yang menyatakan bahawa ketika ini manusia jasmani belum lagi di jadikan Allah seperti yang di nyatakan dalam quran Al Insan ayat 1 kemudian di sambung pada ayat Al Baqarah 29 dan pandangan quran Fi Zilalil Quran terjemahan syed Qutub

Kunjungan Nur Muhammad

Kunjungan Nur Muhammad (Jangan kaitkan dengan Muhammad saw) pada peringkat ini, kunjungan pertama kepada anasir angin nurani dan salam di beri, lalu salam di sambut, ketika ini angin nurani memperlihatkan sikap dan sifatnya kepada Nur Muhammad, dia menjangkakan tiupannya yang kecang serta egonya dapat mempersonakan Nur Muhammad, lalu Nur Muhammad berkata " Adakah engkau menyedari akan kelemahanmu ? Jawab angin nurani "Engkau lihat aku kuat, aku hebat dan aku akan di tempatkan di langit dan juga bumi" Jawab Nur Muhammad " Adakah engkau menyedari bahawa engkau akan di pergunakan oleh manusia, jawab angin " jika demikian engkau rupanya lebih baik daripada aku, jawab Nur Muhammad "Aku adalah makhluk Allah yang di jadikan sama seperti kamu hanya Allah sahaja yang terlepas dari serba kekurangan

Selepas Nur Muhammad mengunjungi angin maka dia pergi pula mengunjungi Api Nurul Adhom yang pada ketika ini sedang memperlihatkan sikap dan sifatnya, lalu Nur Muhammad memberikan salam kepadanya lalu Api menyahut salamnya, kemudian dia terus memperlihat sikapnya yang di anggap kuat dan hebat apabila aku di sentuh atau menyentuh nescaya musnahlah sesuatu itu, lalu Nur Muhammad berkata " Adakah engkau menyedari bahawa satu hari nanti manusia akan mempergunakan kamu ? Jawab Api jika demikian engkau lebih baik daripada aku, jawab Nur Muhammad aku adalah hamba yang Tuhan jadikan sama seperti kamu juga, hanya Tuhan saja yang tiada cacat celanya

Selepas mengunjungi Api maka Nur Muhammad pun pergi mengunjungi Air, ketika ini Air sedang memperlihatkan sikap dan sifatnya, lalu Nur Muhammad memberikan salam kepadanya, lalu salam itu di sambut, Air berkata tidakkah engkau melihat kehebatanku ? Aku ganas, aku kuat, Aku pemusnah, tiada siapapun yang menandingi aku, lalu Nur Muhammad berkata " Tidakkah engkau tahu satu hari nanti kamu akan di pergunakan dan di perintah oleh manusia ? Jawab Air " Jika demikian kamu lebih baik daripada aku "jawab Nur Muhammad "Aku adalah hamba Tuhan sama seperti kamu hanya Allah saja yang tiada cacat celanya

Akhirnya Nur Muhammad pergi pula berjumpa dengan Tanah Nurani lalu memberikan salam kepadanya, salam itu di sambut oleh Tanah dengan baiknya, ketika ini tanah sedang memperlihatkan sikap dan sifatnya yang tenang, dia tidak bongkak, sombong, ego, malah dia sentiasa merendahkan dirinya, lalu Nur Muhammad memperkenalkan dirinya yang di perintah Allah untuk mengunjungi Angin, Api, Air dan dia sendiri lalu Nur Muhammad berkata " Engkau sesungguhnya akan menjadi kekasih kepada Allah (Muthmainnah) Jawab Tanah "Engkau rupanya lebih baik daripada Aku, lalu jawab Nur Muhammad " Sesungguhnya aku sama seperti kamu iaitu hamba kepada Tuhan yang menjadikan aku, hanya Tuhan yang tiada cacat dan celanya

Selepas Nur Muhammad mengunjungi le empat-empat anasir tersebut maka Nur Muhammadpun melaporkan kepada Allah hasil selidiknya, lalu Allah berfirman : Sesungguhnya Aku telah memakluminya dari ilmuKu sesungguhnya Aku akan menjadikan manusia (jasmani) dari Empat anasir tersebut kerana Aku tidak mahu bersikap tidak adil terhadap empat anasir yang Aku jadikan serentak (KUN) itu, sejarah anasir ini di padankan dengan firman Allah dalam surah al anbiya ayat 30 dan 32 dan surah al fussilat ayat 9 hingga 12 serta surah qaf ayat 38

Demikianlah rengkasan cerita asal usul alam yang nyata yang Allah jadikan dari empat anasir tersebut yang mempunyai berbagai ragam makhluknya untuk renungan kita bersama dan melihat perangai setip daripada kita dan alam yang lain



.Perangai Manusia Mengikut Sifat Unsur Tanah, Air, Api Dan Angin

 

Asal tanah daripada air, asal air daripada angin dan asal angin daripada api, ke empat-empat anasir ini berasal daripada Nur, tanah yang di sebut oleh Allah asal kejadian manusia (jasad) yang berbagai perangai dan sikap adalah asas ujudnya air, angin dan api sebagai pengimbang ketahanan diri jasmani apabila Rohani di tempatkan padanya

Di dalam sebuah hadis yang di riwayatkan oleh Tarmizi menyebut begini:

Maksudnya:

Sesungguhnya Allah "Azza Wajalla telah menciptakan Adam dari segenggam tanah dari unsur semua zat tanah, maka telah terbentuk keturunan Adam menurut sifat unsur itu, di antaranya berkulit merah,hiam,sawo matang ada yang berkulit halus dan kasar dan ada yang baik dan ada yang jahat

Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud serta sahabat yang lain menyatakan Allah telah memerintahkan kepada Malaikat Jibrail turun ke bumi untuk mengambil tanah pilihan, sesampainya ke bumi tanah tidak mengizinkan ia di ambil kerana menganggap ia suatu perbuatan membuat kerosakan lalu ia berkata "'Auzubillahi minka" jangan engkau merosakan aku, lalu Jibrail naik berjumpa Tuhan dan berkata " Ya Tuhanku tanah tidak membenarkan dan ia berlindung atas namaMu dan tanah takut Adam akan membuat kerosakan, lalu Allah memerintahkan malaikat Mikail turun kebumi untuk mengambil tanah, sampai ke bumi masalah yang sama berlaku yang mana tanah berkata A'uzubillahi minka, kemudian Allah perintahkan kepada malaikat Israfil pula turun ke bumi juga masalah yang sama berlaku yang mana tanah tidak mengizinkan ia di ambil, akhirnya Allah utuskan pula malaikat 'Izroail pula turun ke bumi untuk mengambil tanah pilihan, tanah tetap juga dengan pendiriannya namun malaikat 'Izroil berkata pada bumi sama ada kamu bagi atau tidak aku tetap juga akan mengambilnya kerana ini adalah perintah daripada Allah, jika engkau engkar maka derhakalah engkau kepada Allah

Tanah tiada pilihan lain melainkan membenarkan malaikat 'Izroil mengambil tanah untuk mencipta manusia (Adam yang awal) yang menjadi keturunan manusia, maka sejak dari peristiwa tersebut maka bermulalah malaikat 'Izroil memegang amanah Tuhan untukmengambil nyawa segala makhluk Allah tanpa mengenal belas kasihan atas perintah Allah kepadanya kerana itulah nyawa setiap manusia tidak akan dapat di lambatkan atau di percepatkan walau dalam keadaan apa sekalipun

ROHANI BERKUASA TINGGI

Sifat dan sikap Rohani adalah berkuasa tinggi yang tiada tolak bandingnya kerana itu dia sentiasa beserta Allah dan menjadikannya menjalankan urusan Allah iaitu Ammar Rabbi, andainya kejadian manusia awal (jasad) itu di bentuk oleh Allah hanya dengan satu anasir sahaja maka sudah tentu anasir yang hanya satu itu akan musnah, kerana itulah ketahanan jasad manusia mesti di selaraskan dengan kuasa yang ada pada kuasa Rohani tersebut, bab ini perlu di bincangkan dengan para doktor dalam hal anatomi yang melibatkan istilah ilmu sain dan bab ini juga ada di dalam ilmu sifat 20 pada bab Iftiqar, ertinya ilmu sifat 20 bukan hanya untuk mengenal diri Rohani, jasmani dan Tuhan saja akan tetapi ia juga melibatkan ilmu kedoktoran bagi tamadun manusia


33.Penciptaan Adam Manusia Pertama

Sebelum Allah s.w.t menjadikan Adam sebagai manusia yang pertama, terlebih dahulu Allah s.w.t telah memaklumkan kepada para malaikat bahawa Dia akan menjadikan manusia untuk menjadi pengganti makhluk yang terdahulu daripadanya (Khalifah)

Dalam sebuah firman Allah (Al Baqarah ayat 30) menyatakan yang bermaksud:

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat "Sesungguhnya Aku akan menjadikan se orang khalifah di muka bumi"

Khalifah di sini bermaksud pengganti, iaitu manusia khalifah yang akan mengantikan bangsa Jin yang terlebih dahulu di tugaskan sebagai khalifah di planet bumi, Jin telah membuat kerosakan di bumi kerana anasirnya tidak sesuai dengan planet bumi, lalu Allah telah mengirim bala tentera dari malaikat yang di ketuai oleh Azazil yang pada ketika itu masih patuh dengan perintah Allah, rujuk juga firman Allah Al An'am ayat 165

Rujuk juga pandangan Ibnu Abbas r.a dalam tafsir quran Ibnu Katsir

Seterusnya saya ceritakan mengikut soal dan jawab untuk kemudahan semua pihak

Soalan:
Apakah reaksi malaikat apabila Tuhan hendak jadikan khalifah ?

Jawapan:
Reaksi pertama malaikat tidak bersetuju kerana dia tidak mengetahui sebab dia tidak tahu manusia khalifah itu makhluk jenis apa dan adakah nanti manusia khalifah ini sama perangainya dengan jin yang telah di peranginya yang di ketuai oleh Azazil

Soalan:
Mengapa malaikat bimbang tentang manusia khalifah ?

Jawapan:
Kerana sangkaan malaikat nanti manusia akan membuat kerosakan dan bertumpah darah, walaupun manusia khalifah belum terbukti melakukan sebarang kerosakan dan bertumpah darah

Soalan:
Kemudian apa jawapan Allah ?

Jawapan:
Jawapan Allah sesungguhnya Aku lebih mengetahui dari apa yang kamu tidak mengetahuinya

Soalan:
Mengapa Tuhan mengatakan malaikat tidak mengetahi rahsia manusia khalifah ?

Jawapan:
Kerana malaikat hanya di beritahu tentang ilmu bidang tugasnya sahaja, ini bermaksud pengetahuan malaikat adalah terhad tentang rahsia Tuhan jadikan manusia

Soalan:
Apakah akhirnya malaikat bersetuju tentang penciptan Adam ?

Jawapan:
Malaikat akhirnya tidak membantah kerana terbukti Adam telah menerangkan segala benda di syurga (taman) sedangkan malaikat tidak mengetahuinya

Soalan:
Setelah Tuhan mengatakan malaikat tidak mengetahui dari apa yang di rancangkan oleh Nya, Apakah terjadi selepas itu ?

Jawapan:
Selepas itu Allahpun pergi mengunjungi Rohani di alam Roh untuk di ambil kesaksiannya seperti firman Allah dalam surah Al A'araf 172

Soalan:
Kemudian Apakah yang terjadi selepas itu ?

Jawapan:
Selepas Rohani di ambil kesaksian maka Allah perintahkan empat malaikat mengambil Zat tanah dari bumi

Soalan:
Mengapa Allah tugaskan malaikat mengambil Zat tanah daripada bumi ?

Jawapan:
Kerana rahsia tanah bumi sesuai untuk menempatkan Adam menjadi manusia khalifah di planet bumi dan penciptaan bagi persediaan menjadikan Adam ini bukan hanya tanah bumi sahaja bahkan tanah syurga juga sebab manusia bakal akan mendiami di syurga juga

Soalan:
Di manakah manusia khalifah akan di ciptakan oleh Tuhan ?

Jawapan:
Manusia pertama di jadikan oleh Tuhan di jannatul khuldi, bukan di bumi, syurga ataupun jannah adalah juga di kenali sebagai tempat balasan anak cucu Adam yang soleh dan soleha

Soalan:
Adakah semasa Tuhan memaklumkan pada malaikat Rohani telah di cipta ?

Jawapan:
Benar ! Rohani telah di cipta oleh Allah lebih awal daripadanya cuma belum lagi dapat bertugas sebagai manusia khalifah sebab lembaga Adam (jasmai) belum lagi di jadikan Tuhan

Soalan:
Mengapakah Rohani belum boleh bertugas sebagai hamba sehingga manusia pertama di cipta ?

Jawapan:
Rohani tidak boleh bertugas kepada Tuhan tanpa jasmani sebab jasmanilah akan menjadi saksi atas perbuatan Rohani itu dan Rohanilah sebenarnya diri manusia tersebut lihat al qiyamah 14


 

Enhanced by Zemanta