Sunday, November 11, 2012

Nur Syu’a'ul Basirah Ainul Basirah ~ Haqqul Basirah

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


Syu’a'ul basirah, menjadi saksi bagimu, yang engkau datang mendekati Allah, dan Allah Ta’ala dekat dengan engkau. Ainul basirah, menunjukkan ketiadaan engkau, karena adanya Allah. Haqqul basirah, menampakkan padamu adanya Allah (wujud), bukan pada ketiadaanmu, dan bukan pula pada adanya dirimu.”
Sinar yang bercahaya, adalah sinar hati dan cahaya akal yang menunjukkan kepada iman. Sedang ainul basirah, adalah cahaya ilmu (nurul ilm), dan haqqul basirah (menyaksikan adanya Allah dengan mata hati yang terang benderang), itu adalah cahaya akal. Diri mereka menjadi saksi atas akal mereka, dan juga menyaksikan adanya Allah dengan mata akal dan mata hati. Tuhan sangat dekat dengan mereka yang bermakrifat kepada-Nya, mengenal akan Allah adalah dengan ilmu, dengan mengenal Tuhan seperti ini, mereka pun akan mengenal diri mereka.
Para ulama Sufi mengungkapkan: “Man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu.” (Barangsiapa mengenal dirinya, pasti ia akan mengenal Tuhannya).
Ulama memberi sinar kepada alam sekitarnya dengan ilmu. Hamba menjadi saksi atas Tuhannya, bukan pada wujudnya. Penyaksian itu adalah pada cahaya kebenaran. Tidak ada penyaksian lain oleh seorang hamba, kecuali pada-Nya (Allah). Ungkapan ini menunjukkan pengertian yang dimaksud, (Allah itu ada, dan wujudnya Allah, tiada satu pun yang sama dengan-Nya. Adanya Allah sekarang sama dengan wujud semula).
Mengenal Allah melalui sinar mata rohani dan mata hati, itulah maqam pertama orang arif yang bermakrifat. Mengenal Allah dan mendekati Allah dengan mata hati harus dengan ilmu untuk meyakinkan wujud Allah seperti disebut dalam ilmu Aqaid (Tauhidullah). Mengenal Allah melalui ainul basirah (keyakinan mata), menunjukkan kemampuan ilmu setelah meningkat ke maqam penyaksian yang haq tentang wujud Allah dan seluruh ciptaan-Nya (ainul yaqin). Mengenal Allah melalui haqqul basirah, artinya dengan ilmu yang mampu mengantar orang arifin mendekati wujud yang benar tentang Allah Ta’ala, sehingga ia mencapai maqam lanjutan, yakni meyakini melalui ilmu (penglihatan akal), basirah (penglihatan hati sanubari) dan keyakinan iman yang meliputi seluruh pemahaman makrifat. Dalam wujudnya Allah Ta’ala dikenal seperti sabda Nabi Muhammad Saw.: “Wa’budullah ka annaka tarahu – Fa in takun tarahu – wa innallaha yaraka” (Sembahlah Tuhanmu, se akan-akan engkau melihatnya, jika engkau mampu melihat-Nya, sesungguhnya Dia (Allah) telah melihatmu.”) Inilah wujud makrifat yang sebenarnya menurut tuntunan Rasulullah, dan inilah yang dimaksudkan dengan Al Ihsan.
Enhanced by Zemanta
Post a Comment