Sunday, July 1, 2012

MALAIKAT WAHYU, KETERJAGAAN & PENYINGKAPAN

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

MALAIKAT WAHYU

Agama-agama langit meyakini suatu keberadaan yang disebut malaikat dan para nabi mengetahui keberadaan mereka. Dalam sistem keberadaan, malaikat memiliki tugas dan tanggung jawab tertentu. Kitab-kitab langit seperti al- Quran, Taurat, dan Injil juga mengisyaratkan keberadaan mereka. Dalam al-Quran, terdapat sekitar 88 ayat yang menyebutkan tentang malaikat. Dengan demikian, kita dapat menyatakan bahwa keberadaan malaikat merupakan sesuatu yang diyakini dan disepakati dalam agama-agama langit khususnya al-Quran. Namun, secara logika tidak dapat dibuktikan keberadaannya dan tidak ada penjelasan yang baik dan tepat mengenai hakikat keberadaan mereka.

Sesuatu yang dapat kita petik dari al-Quran dan hadis berkenaan dengan malaikat hanya sebatas hal berikut.

1. Malaikat ada sebelum keberadaan Adam. Al-Quran menerangkan, Manakala Tuhanmu berkata pada malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” Mereka (malaikat) berkata, “Apakah Engkau akan menjadikan di muka


(110)

bumi khalifah yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah? Sementara kami bertasbih dan memuji Engkau serta menyucikan-Mu.” Allah berkata, “Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui sesuatu yang kalian tidak mengetahui.” (QS. al- Baqarah:30)

2. Sebagian malaikat dipilih sebagai utusan. Al-Quran menjelaskan,Allah memilih utusan-utusan-Nya dari malaikat dan sebagian dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Memperhatikan. (QS. al-Hajj:75)

3. Mengelilingi Arasy Allah. Dijelaskan dalam Al-Quran, Dan kamu (Muhammad) akan menyaksikan malaikat mengelilingi disekitar arasy bertasbih dengan memuji Tuhan mereka. (QS. az-Zumar:75)

4. Taat atas perintah Allah. Al-Quran menerangkan, Mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil anak.” Mahasuci Allah, sesungguhnya malaikat-malaikat adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului- Nya dengan perkataan dan melaksanakan perintah-Nya. (QS. al-Anbiya:26-27)

5. Tidak pernah bermaksiat. Dijelaskan dalam al-Quran, Wahai orang-orang yang beriman, selamatkanlah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan bebatuan. Terdapat malaikat yang tegar dan tegas, tidak bermaksiat pada Allah atas apa yang diperintahkan dan melaksanakan apa yang diperintahkan. (QS. at-Tahrim:6)

Sejumlah hadis juga menyebutkan bahwa:


Malaikat adalah makhluk bercahaya, tidak berjasad dan bermateri. Tidak makan dan minum juga tidak menikah, tidak berbentuk, dan tidak bervolume. Tidak pernah tidur, lalai atau mengalami kelupaan,


(111)

Kita memiliki banyak hadis yang menjelaskan hal-hal tersebut dan kami akan menyebutkan sebagian di antaranya.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata, “Dan para malaikat adalah makhluk yang Engkau ciptakan, Kau tempatkan mereka di langit, tidak terjadi kelemahan dan kelalaian pada mereka, dan tidak bermaksiat. Mereka adalah makhluk-Mu yang paling mengetahui tentang-Mu, paling takut terhadap-Mu, paling dekat kedudukannya dengan-Mu. Mereka adalah makhluk yang paling taat kepada-Mu. Rasa kantuk di mata dan kelalaian serta keletihan di badan tidak pernah terjadi pada mereka. Tidak berada di tulang rusuk ayah atau di rahim ibu dan mereka tidak diciptakan dari air yang menjijikkan.”[108]

Diriwayatkan dari Imam Shadiq as, “Abu Abdillah ditanya tentang malaikat. Apakah mereka makan, minum, dan menikah? Beliau menjawab,’Tidak, mereka hidup dengan hembusan Arasy.’”[109]

Oleh karena itu, malaikat tidak berjasad, tidak berbentuk dan bermateri sehingga tidak dapat dilihat dengan indra penglihatan manusia.

Jibril


Salah satu malaikat Ilahi yang paling dekat adalah Jibril. Kata Jibril berasal dari bahasa Ibrani yang bermakna ‘laki-laki Tuhan, hamba Allah, dan kekuatan Allah.’[110] Jibril adalah malaikat pembawa wahyu yang diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan wahyu dan pesan-pesan Allah kepada para nabi



(112)

Dalam kitab Daniel disebutkan, Sedang aku, Daniel, melihat penglihatan itu dan berusaha memahaminya, maka tampaklah seorang berdiri di depanku, yang rupanya seperti seorang laki-laki; dan aku mendengar dari tengah sungai Ulai itu suara manusia yang berseru: “Gabriel, buatlah orang ini memahami penglihatan itu!”[111]

Dalam kitab tersebut juga disebutkan, “Sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel yang telah kulihat dalam penglihatan yang dahulu itu pada waktu persembahan korban petang hari. Lalu ia mengajari aku dan berbicara dengan aku. Dia berkata, ‘Daniel, sekarang aku datang untuk memberi akal budi kepadamu untuk mengerti.’”[112]

Dalam Injil Lukas disebutkan, “Maka tampaklah kepada Zakariya seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan.”[113]

Pada ayat lainnya disebutkan, “Jawab malaikat itu kepadanya, ‘Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.’”[114]

Ayat lainnya juga menjelaskan, “Dalam bulan yang keenam, Tuhan menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret.”[115]

Disebutkan pada ayat lainnya, “Jawab malaikat itu kepadanya, ‘Roh kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau.’”[116]

Al-Quran juga menyebutkan tentang malaikat bernama Jibril. Al-Quran menjelaskan, Katakan, siapa yang menjadi musuh bagi Jibril, sesungguhnya dia menurunkan sesuatu pada hatimu atas izin Allah. Membenarkan kitab-kitab sebelumnya, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang mukmin. Siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-Nya dan Jibril serta Mikail, sesungguhnya Allah menjadi musuh bagi orang-orang kafir (QS. al-Baqarah:97-98).


(113)

Al-Quran menerangkan, Jika kamu berdua bertaubat pada Allah, sesungguhnya hati kalian telah condong (pada kebaikan) dan jika saling bantu membantu untuk menyusahkan nabi, sesungguhnya Allah adalah pemimpinnya, Jibril, orang-orang saleh dari kalangan orang-orang yang beriman, dan juga malaikat menjadi penolongnya (QS. at-Tahrim:4).

Sebagian ayat al-Quran menyebut malaikat wahyu dengan sebutan Ruhul Qudus. Katakan, turun kepadanya Ruhul Qudus dari Tuhanmu dengan kebenaran untuk memantapkan orang-orang yang beriman, memberi petunjuk, dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim (QS. an-Nahl:102).

Adakalanya disebutkan dengan sebutan Ruhul Amin.

Sesungguhnya al-Quran benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dibawa turun oleh Ruhul Amin pada hatimu agar kau (Muhammad) menjadi salah seorang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang fasih (QS. asy-Syu’ara:192-195).

Kondisi Turunnya Jibril

Dari penjelasan sebelumnya dapat dimengerti bahwa Jibril adalah malaikat wahyu yang turun pada Nabi dan dia menyampaikan pesan-pesan Allah. Disebutkan bahwa malaikat adalah makhluk yang tidak berjasad dan bermateri sehingga tidak dapat turun dan tidak dapat dilihat. Malaikat tidak memiliki lidah dan mulut sehingga tidak dapat berbicara dan tidak mampu didengar ucapannya. Dengan demikian, apa yang dimaksud dengan turunnya Jibril dan ucapannya? Bagaimana? Dijawab bahwa penurunan Jibril bukanlah penurunan secara materi akan tetapi dalam bentuk manifestasi (yang terjadi di alam mitsal).

Berkenaan dengan turunnya Jibril pada Maryam, al- Quran menggunakan kata tamatsal (menyerupai). Disebutkan dalam al-Quran, Dan kisahkanlah dalam al-Kitab tentang Maryam manakala dia menjauhkan dirinya ke suatu tempat


(114)

di arah timur. Dia menjadikan hijab di antara mereka dan Kami utus kepadanya Ruh Kami lalu menyerupai seorang manusia yang sempurna di hadapannya. Maryam berkata, “Aku berlindung darimu pada Zat Yang Maha Pemurah jika kamu bertakwa.” Malaikat berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Tuhanmu untuk memberimu anak laki-laki yang suci.” (QS. Maryam:16-19).

Begitu pula dalam sejumlah hadis yang menjelaskan tentang turunnya Jibril dan malaikat-malaikat lainnya menggunakan kata ‘menyerupai’. Adakalanya kata tersebut juga digunakan untuk sesuatu yang lainnya seperti penyerupaan harta, anak, dan perbuatan manusia saat menghadapi kematian. Begitu juga penyerupaan nabi dan para imam yang suci bagi sebagian orang saat ajal hendak menjemput dirinya; penyerupaan dunia sebagai wanita yang cantik di hadapan Amirul Mukminin; penyerupaan malaikat maut dan malaikatmalaikat lainnya di hadapan manusia saat mencabut nyawa dan juga penyerupaan setan di hadapan sebagian manusia. Penyerupaan-penyerupaan semacam ini banyak kita jumpai di dalam hadis-hadis.

Sebagai contoh, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata, “Anak cucu Adam pada saat terakhir dari masamasa di dunia dan hari pertama dari hari-hari akhirat, hartanya, anaknya, dan perbuatannya tergambarkan di hadapannya.”[117]

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Dari Imam Shadiq as, dari ayah-ayah beliau, dari Amirul Mukminin Ali as beliau berkata, ‘Suatu hari aku berada di tanah Fadak di salah satu bagian lahan perkebunan dan Fadak sudah menjadi milik Fathimah. Di tanganku sebuah cangkul dan aku sedang bekerja dengan cangkul tersebut. Tiba-tiba seorang wanita mendatangiku dan menabrakku. Aku melihatnya, dia wanita yang cantik jelita. Kecantikannya menyerupai Tsainah putri Amir wanita Quraisy tercantik. Wanita itu berkata kepadaku, ‘Wahai putra Abu Thalib, maukah kau menikah denganku dan


(115)

aku akan memberimu kekayaan, aku tunjukkan kekayaankekayaan bumi dan selama kau hidup kau akan tetap menjadi raja.’ Aku berkata kepadanya, ‘Siapakah Anda sehingga aku dapat melamarmu pada keluargamu?’ Wanita itu menjawab, ‘Aku adalah dunia.’ Aku pun berkata padanya, ‘Pergilah! Carilah suami selain diriku, kau tidak layak untukku.’ Aku pun kembali bekerja dengan cangkulku.”[118]

Dalam kitab-kitab sejarah dan hadis banyak disebutkan bahwa seringkali Jibril menyerupai Dihyah Kalbi yang merupakan laki-laki tampan. Adakalanya Jibril juga turun menemui Rasulullah saw menyerupai manusia lainnya. Oleh karenanya, turunnya Jibril hendaknya ditafsirkan sebagai penyerupaan beliau dalam bentuk manusia dengan tataran pemahaman dan kesadaran Nabi saw. Jibril menampilkan dirinya dalam bentuk manusia di hadapan Nabi bukan berarti bahwa hakikat kemalaikatannya lenyap dari dirinya lalu berubah menjadi manusia kemudian turun menjumpai Nabi.

Berkaitan dengan masalah ini, Allamah Thabathaba’i menjelaskan,


“Makna penyerupaan malaikat di hadapan Maryam adalah malaikat menampakkan dirinya dalam rupa seorang manusia bukan peralihan bentuk dari malaikat menjadi manusia. Jibril menampilkan dirinya sesuai dengan kemampuan pemahaman Maryam yaitu dalam tahap manusia. Maryam yang menyaksikan Jibril dalam rupa manusia bukan Jibril yang berubah bentuk menjadi manusia.”[119]


Penjelasan lebih lanjut dapat dikatakan bahwa Jibril adalah wujud yang bercahaya dan nonmaterial yang membawa pengetahuan-pengetahuan Ilahi yang siap memberikannya.


(116)

Ruh suci dan bercahaya nabi juga tersucikan dari kekotorankekotoran hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan jasmani. Pada saat perhatian mereka tertuju pada maqam yang lebih tinggi, sebagian hakikat pengetahuan yang berada pada Jibril tercermin pada hati nabi yang bening. Inilah makna wahyu. Pada tahap pewahyuan ini, tidak lain adalah pemberian pengetahuan bukan pembentukan atau ucapan.


Pembentukan dan ucapan terjadi pada tahap potensi khayal dan pancaindra. Pada saat hakikat pengetahuan ini beralih dari hati dan ruh Nabi menuju potensi khayal dan pancaindra Nabi, pada tahap inilah Jibril tampak di hadapan Nabi sebagai seorang manusia yang tampan yang berbicara dengannya karena pembentukan hanya terjadi pada tahap potensi khayal dan pancaindra.


Nabilah yang dalam media potensi khayal dan kesadaran benaknya yang menyaksikan Jibril dalam bentuk sesosok manusia yang tampan dan mendengarkan pembicaraannya. Adapun manusia-manusia lainnya bahkan orang yang bersama Nabi pun tidak dapat menyaksikan hal tersebut, kecuali orangorang yang hatinya dikuasai oleh Nabi dan dipersiapkan untuk menerima hal seperti ini.

Jangan Anda berpikir bahwa dalam hal ini kami ingin mengatakan bahwa menyaksikan Jibril, mendengarkan pembicaraannya adalah hal yang sia-sia dan tidak berarti. Tidaklah demikian, kami tidak mengatakan hal tersebut. Yang ingin kami nyatakan adalah bahwa Nabi benar-benar menyaksikan Jibril dalam rupa Dihyah Kalbi dan benar-benar mendengar ucapannya. Akan tetapi, seluruhnya terjadi di alam mitsal dan potensi khayal.


(117)

Penyerupaan Jibril dalam rupa manusia yang tampan dan penyaksian nabi adalah sesuatu yang nyata tetapi terjadi di alam mitsal dan di alam kesadaran potensi khayal. Penyaksian ini dan menyaksikan segala sesuatu yang ada di luar tidak memiliki perbedaan yang mendasar.


 

Dalam penglihatan, mata manusia tidak melihat wujud tertentu di luar tetapi sesuatu yang dilihat, sesuatu yang diketahui hakikatnya, itulah yang berada pada kesadaran potensi khayal. Penyaksian malaikat juga demikian namun dengan perbedaan bahwa dalam penglihatan, keberadaan tampilan dalam pancaindra dan potensi khayal terjadi dengan perantara indra

dan datang dari luar. Sementara itu, wahyu dan penyaksian Jibril berasal dari hati Nabi dan turun menuju potensi khayal. Dari kedua kondisi tersebut, pada dasarnya sesuatu yang diketahui adalah wujud yang ada pada potensi khayal.

Hubungan Nabi dengan Malaikat dalam Pandangan Filsafat Islam

Mengenai permasalahan hubungan Nabi dengan malaikat wahyu, filsafat Islam memiliki pandangan tersendiri. Mempelajari pandangan-pandangan tersebut sangat membantu memahami permasalahan.

Ibnu Khaldun menjelaskan, “Di atas alam manusia ini adalah alam spiritual dan alam malakuti. Jiwa manusia memiliki potensi untuk melepaskan diri dari sisi manusiawinya dan menuju alam malaikat yang berada di atas alam ini. Mampu dalam waktu singkat bersama malaikat, menerima pengetahuan dari alam tersebut, dan kembali ke alam manusiawinya. Sesuatu yang dia peroleh dari alam tersebut, dia sampaikan pada masyarakat. Seperti inilah makna wahyu dan perbincangan malaikat.”[120]


(118)

Berkenaan dengan masalah ini, Shadrul Muta’allihin menerangkan:


Pada saat ruh Nabi menuju alam malaikat yaitu alam wahyu rabbani, beliau mendengar kalam Allah yakni hakikat pengetahuan di maqam qaba qawsaini aw adna yang merupakan alam kedekatan pada Ilahi dan kedudukan yang sesungguhnya. Wahyu dalam hal ini adalah kalam hakiki rabbani.


 

Begitu pula ketika ruh nabi berhubungan dengan malaikat illiyin, beliau akan mendengar qalam dan penyampaian kalam. Kalam mereka adalah kalam Allah yang diturunkan pada hati para nabi karena para malaikat ini berada pada maqam kedekatan Ilahi sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw pada malam mikraj, ‘Aku tiba di suatu tempat dan mendengar suara qalam para malaikat.’ Saat ruh

Nabi turun dari alam yang tinggi ke alam malaikat langit, sesuatu yang beliau saksikan di alam ruh qadariyah, beliau temukan bentuk penyerupaannya dan juga tampilan zahirnya. Oleh karenanya terjadi kondisi seperti tidur pada indra beliau. Sebelumnya telah disebutkan bahwa ruh suci Nabi berada pada posisi di antara alam mulk dan malakut dan tetap menjaga kedua sisi alam tersebut. Oleh karena itu, indra beliau berfungsi dan terpengaruh tetapi bukan untuk tujuan hewani melainkan dalam perjalanan spiritual menuju Tuhan semesta alam. Dengan demikian, seluruh indra berada di jalan makrifat (pengetahuan) dan ketaatan pada Allah dan akan mengikuti jiwa.

Manakala wujud manusia semacam ini (Nabi) tanpa ada hijab (penghalang) luar, menjadi lawan bicara Allah—baik secara langsung maupun melalui perantara malaikat wa-


(119)

hyu—dan memiliki hubungan dengan alam metafisik, maka gambaran alam malakut dan tampilan dari alam jabarut tercermin di dalam hatinya. Pengaruh dari hal tersebut maka penyerupaan dari wahyu dan pembawanya termanifestasikan dalam sisi batin beliau. Pada kondisi seperti ini, sisi zahir Nabi juga terangkat ke atas dan tampak baginya penyerupaan dari realitas. Perlu dijelaskan bahwa bentuk-bentuk tersebut dan penyerupaan-penyerupaan adalah sebuah kenyataan dan bukan mimpi belaka atau khayalan yang tidak nyata.

Oleh karena itu, malaikat menampakkan dirinya di hadapan Nabi dalam rupa yang terindra sehingga memiliki kemampuan untuk menyaksikannya. Dengan demikian, Nabi menyaksikan malaikat bukan dalam bentuk lain selain bentuk aslinya. Karena wujud yang nonmaterial pada saat turun ke alam penciptaan materi, maka dia menjadi wujud materi dan terbatas. Berdasarkan hal inilah bentuk wujud materi dapat dilihat dan ucapannya dapat didengar kendati di maqam tertinggi adalah wahyu akal. Terkadang pula Nabi menyaksikan wahyu dalam bentuk manuskrip yang tertulis.


Dengan demikian, malaikat wahyu, kalam, dan kitabnya berasal dari alam metafisik kemudian turun menuju pancaindra dan kekuatan pemahaman Nabi. Penurunan ini bukan bermakna perpindahan atau gradasi dari maqam-nya. Akan tetapi, bermakna gerakan dan penurunan Nabi dari nilai batin ke nilai zahir dan berbeda dengan perjalanan pertamanya, dari alam materi dan zahir ke alam nonmateri dan metafisik.”[121]


Kesimpulan dari penjelasan para ilmuwan ini adalah ruh yang bercahaya dan malakuti Nabi melakukan perjalanan batin dan spiritual menuju alam malaikat yang merupakan


(120)

khazanah pengetahuan Ilahi dan dengan mata hatinya beliau menyaksikan malaikat wahyu. Dengan pendengaran batin, beliau mendengar kalam mereka yang merupakan manifestasi dari kalam Allah. Dalam kondisi seperti ini, pengetahuan dan hakikat yang berada pada diri malaikat wahyu yang bercahaya tercermin dalam hati Nabi yang juga bercahaya.

Dengan memperhatikan bahwa ruh suci Nabi berada di antara alam mulk dan malakut dan mampu dalam satu waktu menjaga kedua sisi alam tersebut, pada saat menyaksikan alam metafisik, menyaksikan Jibril, dan mendengar pembicaraannya melalui ruh suci, mata dan pendengaran batinnya, kondisi ruh beliau itu pun turun dan tercermin menuju potensi khayal dan pancaindra. Pada penurunan inilah beliau menyaksikan Jibril dalam rupa seorang manusia yang tampan dan dikenali di hadapan beliau. Nabi benar-benar menyaksikannya dan mendengar pembicaraannya.

Faktor-faktor Wahyu

Untuk sebuah wahyu, yakni berhubungan dengan alam metafisik, dibutuhkan beberapa faktor di antaranya:

1. Sumber wahyu. Pengutus wahyu adalah Zat Yang Mahasuci yang menciptakan hubungan dengan Nabi baik secara langsung atau melalui perantara malaikat wahyu.

2. Malaikat. Malaikat pembawa wahyu adalah Jibril yang merupakan perantara alami dan ciptaan untuk menurunkan wahyu. Dia adalah pembawa pesan Ilahi. Nabi menyaksikannya dalam rupa manusia yang tampan dan terkadang menyaksikannya dalam bentuk aslinya dan Nabi juga mendengar pembicaraannya.

3. Penerima wahyu. Penerima wahyu adalah manusia sempurna yang karena pengaruh kemaksuman, keterjagaan dari dosa, dan meninggalkan keterkaitan terhadap duniawi serta memiliki kebeningan hati dan kesucian jiwa berpotensi untuk menjalin hubungan dengan alam metafisik


(121)

dan menerima pengetahuan-pengetahuan. Seluruh Nabi demikian. Secara logika, menerima wahyu tidak hanya khusus para nabi. Bahkan, manusia-manusia lainnya pun yang mampu mencapai tingkat kesempurnaan tersebut mampu memiliki hubungan dengan alam metafisik dan mampu menerima pengetahuan gaib. Akan tetapi, untuk menetapkan hal tersebut, dibutuhkan argumentasi dan pembuktian yang pasti. Andaikan terjadi demikian, maka pengetahuan dan hakikat yang diterima bukanlah wahyu secara syariat.

4. Wahyu dan kandungan wahyu. Kandungan wahyu adalah seluruh hakikat dan pengetahuan yang diturunkan oleh Allah pada nabi, seperti pengetahuan tentang Tuhan seluruh alam, sifat tsubuti (positif) dan salbi (negatif) Tuhan, tentang hari akhir atau kehidupan setelah kematian, dan pengetahuan tentang kenabian, baik pengetahuan tersebut yang seluruhnya termasuk ushuluddin maupun pokok-pokok keyakinan dan memiliki bukti-bukti logis atau berkaitan dengan cabang-cabang keyakinan yang pembuktiannya hanya dapat dilakukan melalui wahyu yang diterima.

Begitu pula dengan kisah-kisah para nabi, sejarah umat-umat terdahulu, atau orang-orang tertentu yang dapat dijadikan pelajaran dan berpengaruh dalam memberi petunjuk pada manusia.

Penjelasan terkait tentang kesempurnaan akhlak dan mendorong manusia untuk hal itu, karakter-karakter buruk dan upaya pencegahannya meskipun akal mampu untuk memahaminya. Tata cara beribadah dan hukum-hukumnya, kewajiban-kewajiban, dan anjuran-anjuran. Penjelasan mengenai perbuatan-perbuatan yang diharamkan yang merugikan kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

Hukum dan undang-undang dasar sosial kemasyarakatan, hak-hak asasi, pengadilan, ekonomi, kesehatan, militer


(122)

dan keamanan yang seluruhnya adalah kebutuhan pokok dan menjamin kebahagiaan dan kesejahteraan kehidupan duniawi manusia. Kesimpulannya, segala sesuatu yang terdapat dalam al-Quran dan hadis-hadis nabi adalah kandungan wahyu.

Wahyu terkadang dinisbahkan pada Allah dan hal ini bermakna pemberian pengetahuan-pengetahuan agama ke dalam hati nabi. Terkadang juga dinisbahkan pada kandungan wahyu, yaitu pengetahuan yang telah diturunkan oleh Allah.

Wahyu dan Keterjagaan dari Kesalahan

Terlontar satu pertanyaan, apakah hakikat-hakikat dari wahyu seperti al-Quran, Taurat, Injil dan hakikat-hakikat lainnya sebagai wahyu Ilahi yang disampaikan oleh Nabi adalah hakikat yang nyata dan pasti serta terjaga dari kesalahan?

Ataukah dimungkinkan terjadi kesalahan? Dalam masalah ini, terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, orang-orang Muslim menerima kemungkinan pertama. Mereka mengatakan bahwa hakikat yang terdapat dalam al-Quran, bahkan kata dan kalimatnya diturunkan oleh Allah dan bersumber dari sumber yang terjaga dari kesalahan yaitu ilmu Ilahi. Nabi Muhammad saw juga saat menerima wahyu, menjaga dan menyampaikannya pun terjaga dari segala kesalahan dan kelupaan. Berkenaan dengan seluruh masalah wahyu yaitu seluruh permasalahan yang disampaikan oleh nabi sebagai wahyu dan penyampaiannya dibenarkan dengan bukti-bukti, juga diyakini sebagai wahyu yang terjaga dari kesalahan.

Sebagian Kristen Ortodoks juga memiliki keyakinan yang serupa berkenaan dengan kitab-kitab suci dan hakikat-hakikat wahyu. Dalam kitab Ilm wa Din disebutkan bahwa sejak permulaan abad ke-17 banyak di kalangan Protestan yang meyakini bahwa kitab suci sebagai khazanah pengetahuan laduni yang terjaga dari kesalahan. Begitu pula permasalahan saintis yang disampaikan di dalamnya. Yakni kitab suci alih


(123)

alih diyakini sebagai riwayat-riwayat tentang kejadian yang prosesnya dilakukan oleh Tuhan, mereka meyakininya sebagai sekumpulan pengetahuan yang tidak dapat dibantah dan tidak mungkin salah. Kandungan dan penyampaiannya kata demi kata diturunkan oleh Tuhan.[122]

Dalam kitab Falsafeh_ye Din disebutkan wahyu adalah sekumpulan hakikat yang dijelaskan dalam aturan-aturan dan ketetapan. Wahyu adalah hakikat nyata dan pengungkapan Ilahi yang dialihkan pada manusia. Dalam ensiklopedia Katolik disebutkan wahyu dapat didefinisikan sebagai peralihan sebagian hakikat dari Tuhan pada wujud-wujud yang berakal melalui perantara yang terjadi di luar kebiasaan alami.[123]


Adapun sebagian besar agamawan Nasrani menafsirkan wahyu dengan penafsiran lain dan tidak meyakini bahwa kandungan kitab suci terjaga dari kesalahan.


 

Dijelaskan dalam kitab Ilm wa Din, “Tuhan mengutus wahyu tetapi tidak mendiktekan sebuah kitab yang maksum (terjaga dari kesalahan dan perubahan). Akan tetapi, kehadiran-Nya dalam kehidupan al-Masih dan seluruh nabi serta Bani Israil. Dengan

demikian, kitab suci bukanlah wahyu secara langsung, melainkan kesaksian manusia terhadap penjelasan wahyu dalam cermin kondisi dan kehidupan manusia.”[124]

Dalam kitab Falsafeh_ye Din dijelaskan, “Menurut keyakinan para reformis agama abad ke-16 (Luther dan Bolland) sesuai dengan pandangan ini, wahyu bukanlah sekumpulan hakikat mengenai Tuhan akan tetapi Tuhan masuk melalui jalan memberi pengaruh pada sejarah dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Menurut pandangan ini, ketentuanketentuan teologis bukanlah berlandaskan pada wahyu, me-  


(124)

lainkan gambaran upaya manusia untuk mengetahui makna dan pentingnya kejadian pewahyuan.”[125]

Sementara dalam kitab Ilm wa Din dinukil dari pendapat uskup agung Temple menyatakan, “Wahyu dan pengungkapannya menjelaskan sebuah kejadian. Dengan pandangan ini, penyandaran kepada Allah bukanlah dalam bentuk pendiktean sebuah kitab yang terjaga dari kesalahan atau mengajarkan sesuatu yang tidak mungkin terdapat kesalahan melainkan tampilan-tampilan realitas dalam kehidupan beberapa manusia dan masyarakat. Kitab suci sendiri pada dasarnya adalah tulisan manusia yang menjelaskan realitas pewahyuan tersebut.”[126]

Dia juga menjelaskan, “Bahkan, Luther dan Bolland dalam penafsiran mereka tentang kitab suci sangat fleksibel dan toleran. Menurut mereka kemungkinan kebenaran dan sumber relativitas wahyu bukan pada nas yang tertulis (kitab yang diam) melainkan pada pribadi al-Masih sebagai pembawa wahyu dan lawan bicara wahyu. Kitab suci sangat penting dari sisi sebagai saksi kebenaran terhadap fenomena keselateks melalui cinta dan pengampunan Ilahi yang termanifestasikan pada diri al-Masih, dalam kehidupannya dan kehidupan orangorang yang beriman. Menurut pendapat para reformis pertama, dikuatkan bahwa kata wahyu (kalimat Allah dan kitab yang berbicara) diperoleh melalui ilham-ilham yang setiap manusia mampu menemukannya dari ruh kudus.”[127]

Berdasarkan pandangan ini, sebagian agamawan Nasrani memungkinkan terjadinya kesalahan pada diri Nabi Muhammad. Di antara mereka mengatakan, “Dikatakan bahwa dalam keyakinannya Muhammad adalah manusia yang sehati dan jujur. Hal ini tidak dapat dijadikan sebagai bukti bahwa seluruh keyakinannya adalah benar. Mungkin seseorang dalam satu masalah sehati tetapi salah. Bagi penulis-penulis barat, tidak sulit untuk membuktikan bahwa Muhammad mungkin saja salah.”[128]


(125)

Pandangan ilmuwan-ilmuwan Nasrani yang memungkinkan terjadinya kesalahan pada hakikat-hakikat wahyu bersumber dari penafsiran tertentu mereka mengenai wahyu dan penentuan objeknya. Mereka menafsirkan wahyu sebagai penyatuan Zat Suci Ilahi pada Isa dan meyakini al-Masih sebagai objek dari wahyu. Ucapannya diyakini sebagai ucapan manusia biasa yang mungkin terjadi kesalahan.


Kami telah mengisyaratkan sebelumnya tentang ketidakbenaran pendapat ini dan kebatilan yang dibangun pun akan tampak lebih jelas.

Orang-orang Muslim meyakini tidak hanya Nabi Muhammad saw saja tetapi juga seluruh nabi terjaga dari segala bentuk kesalahan, kealpaan, dosa maupun lupa. Umat Islam meyakini bahwa nabi ketika menerima wahyu, menjaga dan menyampaikannya, beliau terjaga dari segala bentuk kesalahan. Kebohongan, kesalahan, dan kelupaan tidak mungkin terjadi pada diri Rasulullah saw karena kemaksuman (keterjagaan dari salah, lupa dan dosa) merupakan keharusan dalam masalah kenabian. Dalam kitab-kitab teologi, hal ini dijelaskan dan dibahas secara terperinci dan juga dibuktikan dengan bukti-bukti aqlimaupun naqli.

Disebutkan bahwa tujuan terpenting dari para nabi yaitu manusia membutuhkan hakikat-hakikat yang memiliki nilai wahyu guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, jasmani dan ruhani. Hakikat tersebut disampaikan pada manusia tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Hal ini tidak mungkin terealisir tanpa adanya kemaksuman para nabi. Jika nabi sama seperti masyarakat pada umumnya yang mungkin salah, adakah jaminan yang memastikan bahwa hakikat-hakikat


(126)

yang memiliki nilai wahyu tersebut telah disampaikan secara sempurna kepada masyarakat?

Berkenaan dengan masalah ini, al-Quran menjelaskan, Dia adalah Allah Yang Maha Mengetahui hal yang gaib, maka Dia tidak akan menampakkan yang gaib tersebut kepada siapa pun, kecuali pada orang-orang yang Dia ridai di antara para utusan. Sesungguhnya Dia menempatkan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya agar Dia mengetahui bahwa rasul-rasul telah menyampaikan risalah Tuhan mereka dan Allah meliputi apa yang ada pada mereka dan memperhitungkan segala sesuatu dengan satu per satu (QS. al-Jinn:26-28).

Allamah Thabathaba’i mengenai ayat ini menjelaskan, “Yang dimaksud dengan مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ “Di depannya” adalah sesuatu yang disampaikan kepada masyarakat antara Rasulullah dan mereka. Yang dimaksud dengan مِنْ خَلْفِهِ َ “Di belakangnya” adalah sesuatu antara rasul dan sumber wahyu yaitu Allah.

Ayat ini menunjukkan bahwa wahyu Ilahi diambil dari sumber yang terjaga dari kesalahan untuk disampaikan kepada masyarakat. Nabi dalam menerima wahyu sampai menyampaikan wahyu tersebut terjaga dari setan.

Kalimat لِيَعْلَمَ ان قَدْ بْلَغُو رسَالَت ربِّهِمْ  “Agar Dia mengetahui bahwa rasul-rasul telah menyampaikan risalah Tuhan mereka” inilah yang menunjukkan hal tersebut. Jelas bahwa tujuan wahyu adalah penyampaian dan terealisirnya hal tersebut. Andaikan rasul tidak terjaga dari kesalahan, tidak ada jaminan yang memastikan bahwa penyampaian terealisir.”[129]

Oleh karena itu, dengan memperhatikan bukti-bukti aqli dan naqli yang disampaikan dengan nyata, jelas bahwa keterjagaan nabi dari kesalahan, kelupaan dan dosa adalah suatu hal yang pasti. Pada akhirnya, wahyu juga terjaga dari kesalahan dan kealpaan.


(127)

Namun, hal ini bukan bermakna bahwa segala sesuatu yang disebutkan dalam kitab sejarah dan kitab-kitab hadis yang dinisbahkan pada rasul seratus persen benar. Hal ini hanya berlaku pada al-Quran karena kepastian sumber yang mengeluarkan. Adapun hadis-hadis yang telah dipastikan bahwa hadis tersebut disampaikan oleh rasul, kita dapat mengatakan hal yang serupa.

Dalam pembuktian keterjagaan wahyu dari kesalahan dapat kita sampaikan, sebelumnya telah dijelaskan bahwa wahyu adalah bentuk lain dan berbeda dengan pengetahuan yang diperoleh pada umumnya karena dalam wahyu, hakikathakikat yang memiliki nilai wahyu disampaikan secara langsung dari Allah dan diberikan pada hati dan ruh nabi tanpa ada keikutsertaan pancaindra. Pengetahuan yang memiliki nilai wahyu bukan termasuk jenis pemahaman, melainkan penyaksian batin dan hudhuri. Penyaksian dan hudhur tidak mungkin berbeda dengan kenyataan. Oleh sebab itu, tidak terjadi kesalahan dalam penerimaan wahyu.


Penurunan hakikat yang memiliki nilai wahyu dari hati dan ruh suci nabi menuju pancaindra dan penyampaian kepada masyarakat juga tidak terjadi kesalahan karena hal itu berlandaskan pada PENYAKSIAN HUDHURI nabi dan bersumber dari SISI BATIN beliau. SANDARAN BATIN YANG KUKUH INI SELALU ADA PADA NABI DI SETIAP KONDISI.


Perantara Ketenangan

Mungkin seseorang mengatakan bahwa para nabi adalah manusia-manusia yang jujur dan tidak diragukan lagi bahwa nabi terkadang merasakan adanya ucapan di dalam hatinya.


(128)

Akan tetapi, bagaimana dia dapat mengetahui dan memahami bahwa ucapan yang ada dalam hatinya bersumber dari Allah bukan dari setan atau jiwanya sendiri? Sangat mungkin sekali bahwa ucapan tersebut berasal dari setan, apakah kemungkinan ini dapat dinafikan?

Untuk menjawab pertanyaan ini—sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya—perlu diketahui bahwa wahyu tidak serupa dengan pengetahuan pada umumnya yang masih terdapat kemungkinan terjadi kesalahan. Akan tetapi, merupakan hakikat yang memiliki nilai wahyu yang diberikan pada hati dan ruh para nabi. Mereka mengetahui wahyu tersebut secara nyata (hudhur). Pada saat pewahyuan, nabi menyaksikan hakikat-hakikat yang memiliki nilai wahyu dengan mata batin sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan ternafikan.

Sebagian hadis juga menjelaskan mengenai masalah ini, yaitu

 زرارة قال: قلت لأبي عبد الله: كيف لم يخف رسول الله ص فيما يأتيه من قبل الله أن يكون ذلك مما ينزغ به الشيطان قال فقال إن الله إذا اتخذ عبدا رسولا أنزل عليه السكينة و الوقار فكان يأتيه من قبل الله عز و جل مثل الذي يراه بعينه

“Zurarah berkata, ‘Aku bertanya pada Abu Abdillah Imam Ja’far Shadiq as, ‘Bagaimana Rasulullah saw tidak merasa takut bahwa sesuatu yang diturunkan kepadanya dari sisi Allah adalah sesuatu yang mungkin dari setan?’ Imam menjawab, ‘Allah saat menjadikan seorang hamba-Nya sebagai rasul menurunkan kepadanya ketenangan dan kenyamanan. Sesuatu yang didatangkan dari Allah, nabi menyaksikannya seperti menyaksikan sesuatu dengan kedua matanya.’”[130]

Dalam riwayat lainnya disebutkan,


(129)

عن أبي عبى الله عليه السلام قال : قلت له: كيف علمت الرسل انها رسل؟ قال: كشف عنها الغطاء

“Dari Abu Abdillah as, beliau ditanya, ‘Bagaimana para rasul mengetahui bahwa mereka adalah rasul?’ Imam menjawab, ‘Tabir disingkap dari penglihatan mereka.’”[131]

Riwayat lainnya juga menyebutkan, “Muhammad bin Muslim dan Muhammad bin Marwan meriwayatkan dari Abu Abdillah as beliau berkata, ‘Tidaklah Rasulullah saw mengetahui bahwa Jibril adalah utusan dari Allah kecuali dengan taufik dari-Nya.’”[132]

Untuk menyelesaikan masalah ini, Syekh Mufid memiliki penyelesaian lainnya. Beliau menjelaskan,


“Karena nabi memiliki mukjizat, beliau memahami bahwa kalam (ucapan) yang ada dalam hatinya adalah kalam Allah dan bukan dari setan. Begitu pula mengenai al-Quran, karena mukjizat beliau memahami bahwa al-Quran diturunkan oleh Allah dan merupakan kalam-Nya sebagaimana Nabi Musa as dengan perantara mukjizat (tangan yang putih) dan (tongkat yang menjadi ular) yakin bahwa pembicaraan yang keluar dari pohon adalah kalam Allah.”[133]


Oleh karena itu, hendaknya dinyatakan bahwa nabi sejak permulaan wahyu mengetahui dengan jelas bahwa dirinya telah menjadi nabi dan diturunkan padanya kalam Allah. Nabi meyakini hal tersebut dan tidak terdapat keraguan sedikit pun sehingga tidak membutuhkan penguatan dari selainnya. Jika disebutkan dalam sejarah kejadian yang bertentangan dengan hal ini, maka sejarah tersebut tidak dapat diterima.


(130)

Tanda-tanda Terjadinya Wahyu

Dari sebagian hadis, kesaksian dan penukilan dapat dipahami bahwa ketika diturunkannya wahyu, terjadi sesuatu pada kondisi nabi dan para sahabat menganggap bahwa kondisi tersebut sebagai tanda-tanda terjadinya wahyu.

Dinukil bahwa “Penerimaan wahyu begitu beratnya bagi Nabi sampai-sampai pada musim dingin pun nabi mengeluarkan keringat dan mengalir di wajah beliau yang mulia.” Dalam penukilan lainnya disebutkan, “Rona wajah Nabi berubah dan kepalanya tertunduk. Para sahabat menyebut kondisi tersebut sebagai “kondisi pelepasan wahyu.”[134]

Diriwayatkan bahwa terkadang Nabi ketika menerima wahyu berada di antara para sahabat. Karena pengaruh wahyu, adakalanya Nabi jatuh pingsan dan keringat mengalir di tubuh beliau. Saat beliau kembali pada kondisi semula, beliau bersabda, “Allah berfirman demikian, demikian, dan memerintahkan kalian untuk berbuat ini dan melarang kalian untuk melakukan perbuatan itu.” [135]

Ikrimah berkata, “Ketika wahyu diturunkan pada Nabi, sesaat beliau seperti manusia yang lemas dan jatuh ke bumi.”[136]

Abu Arwi berkata, “Aku menyaksikan saat Rasul saw menerima wahyu dan beliau berada di atas kendaraannya. Kemudian hewan itu meringkik dan keempat kakinya lemas. Aku mengira keempat kakinya patah dan karena begitu beratnya terkadang bertumpu pada lututnya dan terkadang memukulkan kedua kaki depannya. Kondisi seperti ini terus berlangsung sampai wahyu selesai sementara keringat mengucur dari wajah Nabi bagaikan mutiara.” [137]

Dari beberapa hadis, dapat diketahui bahwa kondisi-kondisi tersebut tidak terjadi setiap kali Nabi menerima wahyu. Akan tetapi, terjadi hanya saat Nabi saw menerima wahyu dari Allah secara langsung tanpa melalui perantara Jibril.


(131)

Zurarah meriwayatkan dari ayahnya yang berkata, “Aku bertanya pada Imam Shadiq as, ‘Bagaimana Nabi jatuh pingsan pada saat beliau menerima wahyu?’ Imam menjawab, “Kondisi jatuh pingsan terjadi pada saat antara Nabi dan Allah tidak ada perantara, yaitu saat Allah ber-tajalli pada diri beliau. Inilah nubuwat (kenabian).” [138]

Hisyam bin Salim meriwayatkan dari Imam Shadiq as dan sebagian sahabat juga bertanya pada beliau, “Apa maksud Rasul saw saat beliau bersabda, ‘Jibril, inilah Jibril yang memerintahkan kepadaku.’ Dan pada kesempatan lain beliau jatuh pingsan?” Imam Shadiq as menjawab, “Kondisi pingsan terjadi saat wahyu diturunkan secara langsung oleh Allah tanpa perantara Jibril dan jika Jibril menjadi perantara wahyu, maka kondisi tersebut tidak terjadi dan beliau (Nabi) bersabda, ‘Jibril mengatakan demikian dan ini adalah Jibril.’”[139]

Pada akhirnya, seluruh kondisi tersebut adalah tandatanda wahyu dan para sahabat sangat mengenali tanda-tanda tersebut. Abu Hurairah berkata, “Ketika wahyu turun, kami juga mengetahui. Perhatian para sahabat tertuju pada Nabi saw sampai wahyu berakhir, mata mereka tidak terlepas dari memperhatikan Nabi saw.”[140]

Dari penukilan-penukilan tersebut di atas, kita mengetahui bahwa pada saat wahyu turun, terjadi kondisi yang tidak biasanya pada diri Nabi saw. Para sahabat tidak dapat mengungkapkan kondisi tersebut dengan baik, seperti contoh menggunakan kalimat,   كَهَيْئَةِ السَّكْرَان “Seperti kondisi mabuk.” الغَشْيَةِ“Pingsan” اذا غَشْيَةِ الوحی A “Saat dibuat pingsan oleh wahyu.” ثَقَلَ عَلَى جسْمِهِ “Wahyu membebani tubuhnya.” السَّبَهُ “Bayangan” untuk menceritakan kondisi tersebut.

Kondisi demikian, mungkin dapat diungkapkan sebagai bentuk pelepasan diri dari dunia dan daya tariknya serta pemutusan keterkaitan pada dunia dan menuju pada alam metafisik. Menanggung beban seperti ini bagi seorang manusia san


(132)

gatlah berat sehingga terjadi kondisi-kondisi yang demikian. Hubungan manusia yang memiliki jasmani dengan Allah Swt Yang Mahaagung kendati manusia tersebut memiliki maqam yang tinggi adalah sesuatu yang sangat berat sebagaimana Al-Quran menjelaskan,Kami akan berikan kepadamu ucapan yang berat. (QS al-Muzammil: 5).


Ibnu Khaldun menjelaskan, “Saat menerima wahyu para nabi melepaskan diri dari dunia ini dan dibayangkan sampai jatuh pingsan padahal tidaklah demikian. Sesungguhnya mereka tenggelam dalam penyaksian malaikat. Saat itu, mereka memiliki pemahaman khusus yang berbeda dengan pemahaman pada umumnya.” [141]


Pada kesempatan lainnya beliau juga menjelaskan, “Hendaknya di antara manusia ada seorang manusia istimewa yang mampu dalam satu waktu dan satu saat melepaskan diri dari sisi manusiawinya. Lalu terbang tinggi menuju alam malaikat, menerima pengetahuan dan hakikat, kemudian kembali ke alam manusia dan menyampaikannya kepada masyarakat. Inilah makna wahyu. Karena pengaruh pelepasan dari sisi manusiawinya, terjadi kondisi tersebut dan mendengar suara yang tidak biasa pada dirinya.”[142]

Mungkin saja terjadinya cercaan pada Nabi Muhammad saw dengan dituduh berpenyakit ayan, gila, atau sakit jiwa yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam adalah terjadinya kondisi saat Nabi saw menerima wahyu.

Jelas bahwa tuduhan-tuduhan tersebut tertolak karena dengan bukti-bukti sejarah mengenai kehidupan Nabi Muhammad saw sebelum diangkat menjadi Nabi, membuktikan bahwa beliau memiliki kehidupan yang teratur dan sehat dan tidak


(133)

pernah dituduhkan padanya bahwa beliau menderita penyakit tersebut, baik pada masa balita, anak-anak, remaja, maupun dewasa. Jika terdapat kondisi seperti itu yang disebutkan dalam sejarah, pengaruh kegilaan, pingsan, atau lainnya, hal itu tidak kita jumpai pada beliau dalam kondisi normal. Kondisi tidak biasanya hanya terjadi pada saat beliau menerima wahyu. Musuh-musuh Islam karena tidak mengetahui hakikat dan pengaruh yang ditimbulkan dari penerimaan wahyu menuduhkan hal-hal tersebut dan mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan permusuhannya.

Apakah mungkin seseorang yang berpenyakit ayan atau gila mampu mendatangkan sebuah kitab seperti al-Quran? Mampu menetapkan aturan yang luas dan hukum yang terperinci? Mampu memberi manusia pengetahuan yang mendalam seperti yang terdapat dalam al-Quran atau hadis? Mampu selama 23 tahun dengan penuh ketelitian dan keteraturan berusaha menyebarkan Islam? Mampu mengatasi dan melemahkan tipu daya dan rongrongan musuh-musuhnya dan berhasil mengokohkan pilar-pilar Islam? Andaikan tuduhan- tuduhan itu benar, apakah umat pada masa awal Islam yang benar-benar mengetahui Nabi dan kehidupannya dengan baik mau mengikuti manusia yang berpenyakit ayan dan memiliki gangguan kejiwaan, sampai-sampai mereka rela demi mencapai tujuannya mengorbankan jiwa, berjuang, dan lebih mementingkannya daripada diri mereka sendiri? Kemungkinan yang tidak masuk akal ini, tidak mungkin dapat diterima oleh siapa pun.

Wahyu Adalah Manifestasi Spiritual Nabi

Sebagian ilmuwan Barat menyatakan bahwa wahyu atau hubungan manusia dengan Tuhan adalah sesuatu yang tidak mungkin. Mereka berargumentasi bahwa Tuhan adalah wujud yang nonmaterial dan tidak terbatas sementara Nabi adalah wujud materi dan terbatas. Oleh karena itu, hubungan dan perbincangan antara keduanya adalah sesuatu yang


(134)

mustahil. Tuhan tidak bertempat, tidak memiliki lidah dan mulut sehingga dapat berbicara dengan nabi. Bagaimana mungkin nabi yang seorang manusia mampu berhubungan dengan Tuhan?

Pembuktian dan penolakan yang dilakukan oleh ilmuwan Barat mengenai kemungkinan terjadinya wahyu dan kondisinya tidak dapat diterima. Jika sejak awal pembahasan mengenai ruh manusia dimulai dan dengan penelitian, pengalaman yang cukup panjang serta terus menerus akan menghasilkan kesimpulan yang menakjubkan, barulah jalan pembuktian dan penafsiran mengenai wahyu terbuka bagi mereka. Mungkin mereka akan menerima wahyu.


Peneliti-peneliti ruh setelah sekian lama melakukan kajian dan banyak mengadakan penelitian, sampai pada kesimpulan bahwa manusia memiliki dua tingkatan atau memiliki dua kepribadian yaitu kepribadian nafsani dan ruhani.


 

Pertama, adalah KEPRIBADIAN UMUM dan luar manusia yang bekerja melalui pancaindranya dan memiliki kekuatan yang terbatas. Kedua, adalah KEPRIBADIAN BATIN dan bagian tersembunyi dari dirinya atau disebut sebagai kepribadian kedua. Mereka mengatakan, “Kita di alam ini tidak hidup

dengan segala keberadaan yang ada pada diri kita, tetapi hanya memanfaatkan sebagian kecil dari keberadaan itu dalam keterbatasan dan kelemahan pancaindra kita. Kita memiliki wujud yang lebih baik, lebih tinggi, dan kehidupan yang lebih luas yang sebagian besar kita melalaikannya. Kita hanya memanfatkannya pada saat menonaktifkan kehidupan alami kita melalui tidur alami atau hipnotis.”

Para ilmuwan banyak menidurkan orang-orang dengan cara hipnotis. Dengan melakukan tanya jawab yang teliti,


(135)

mereka mendapatkan informasi yang menarik mengenai pemikiran- pemikiran terdalam, kejadian-kejadian dahulu, mendatang, dan mengenai orang lain dengan cara tersebut.

Seseorang yang tidur dapat memberitahukan hal-hal gaib, kejadian-kejadian dahulu, dan akan datang. Dalam waktu yang singkat, dia mampu melakukan perjalanan yang jauh dan mendapatkan berita mengenai tempat tersebut, mampu kembali ke masa lalu dan menyaksikan kejadian-kejadian yang terjadi di masa tersebut. Terkadang permasalahan matematika yang sangat sulit dan pemecahannya membutuhkan waktu yang berjam-jam, mampu diselesaikan dalam waktu yang singkat.

Kita menyaksikan sebagian orang dalam waktu singkat atau beberapa bulan atau beberapa tahun, tanpa tidur dan dalam kondisi biasa mampu memiliki kondisi tersebut. Para ilmuwan mengerjakan hal ini bertahun-tahun dan menuliskan hasil penelitian, pengamatan, dan praktik mereka dalam sebuah buku. Dari penelitian-penelitian ini, mereka menyimpulkan bahwa:


Manusia selain memiliki kepribadian zahir dan telah dikenali, manusia juga memiliki kepribadian yang lebih kuat dan tidak dikenali dalam batinnya. Terkadang kepribadian itu muncul dan meninggalkan pengaruh.


 

Sebagian ilmuwan mendapat manfaat dari kesimpulan penelitian tersebut dan menjadikannya sebagai pembenar, pembuktian, dan menafsirkan wahyu para nabi. Mereka mengatakan, “Wahyu bukanlah ilham dari luar, melainkan muncul dari dalam jiwa para nabi. Kepribadian kedua yang

tinggi dalam jiwa nabi yang meletakkan pengetahuan di dalam hati nabi, meletakkan program-program yang memberi


(136)

kemaslahatan diri dan masyarakat pada dirinya dan diperintahkan padanya untuk memberikannya pada orang lain. Berita mengenai kejadian-kejadian masa lalu dan mendatang serta berita-berita gaib, diletakkan pada dirinya. Pengklaim kenabian memandang bahwa Allah meletakkan berita-berita dan program tersebut dalam dirinya dan berbicara dengan- Nya. Terkadang juga kepribadian batin dirinya membentuk gambaran tertentu yang berbicara dengannya dan dia sendiri menganggap gambaran itu adalah malaikat wahyu yang membawa pesan dari Tuhan. Padahal tidak lain adalah manifestasi dari kepribadian batin dirinya.”[143]

Ilmuwan ini dengan memperhatikan penelitian yang sudah dilakukan berkenaan dengan pembenaran wahyu mengatakan,


“Benar bahwa nabi adalah pribadi yang jujur, tulus, dan baik. Tidak pernah bermaksud dengan sengaja berbohong dan menyampaikan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kendati mengenai hal itu, dia jujur mengatakan bahwa seluruhnya berasal dari alam metafisik yang diwahyukan ke dalam hati kami.”


Akan tetapi, seluruh pemberian tersebut pada dasarnya berasal dari dalam diri mereka bukan dari luar atau dari Tuhan atau melalui malaikat wahyu. Kesalahan para nabi adalah mereka mengklaim bahwa wahyu berasal dari Tuhan. Kurang lebih demikianlah pendapat sebagian ilmuwan.

Sanggahan atas Pendapat ini

Untuk menolak pendapat tersebut, kami perlu menjelaskan beberapa poin berikut.


(137)

PERTAMA, anggaplah bahwa kita menerima keberadaan kepribadian kedua dan batin. Anggap kita juga menerima bahwa kepribadian batin terkadang berpengaruh pada kepribadian zahir dan meletakkan beberapa hal pada dirinya. Namun, semua ini tidak dapat menjadi dalil bahwa hakikat-hakikat yang telah diletakkan pada para nabi juga termasuk hal yang sama dan bukan berasal dari Tuhan. Wahyu dari Tuhan adalah sesuatu yang mungkin dan tidak dapat dipungkiri. Karena itu, minimal ada kemungkinan bahwa wahyu pada mereka berasal dari Tuhan.

KEDUA, dalam kitab-kitab teologi dan filsafat dinyatakan bahwa untuk mengenal cara-cara beribadah dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, jasmani dan ruhani, manusia membutuhkan petunjuk-petunjuk Ilahi. Petunjuk-petunjuk ini diperoleh melalui para utusan dan para nabi. Dinyatakan bahwa Allah Swt tidak menghalangi hamba-hamba-Nya untuk memperoleh karunia semacam ini. Oleh karena itu, pengutusan para rasul dan pemberian pengetahuan metafisik hendaknya kita terima sebagai sebuah keharusan. Tuhan seharusnya mengutus seorang rasul atau nabi dan memberikan pengetahuan- pengetahuan tertentu kepada mereka. Dalam hal ini, bukan saatnya kami menerangkan permasalahan tersebut. Kepada pembaca kami persilakan merujuk pada kitab-kitab akidah dan teologi.

KETIGA, dalam kitab-kitab teologi telah dinyatakan bahwa mereka yang mengklaim kenabian tidak hanya cukup dengan pengakuan saja. Akan tetapi, hendaknya mereka juga mendatangkan mukjizat atau sesuatu yang di luar kebiasaan karena wahyu, hubungan manusia dengan Tuhan, perbincangan dengan-Nya dan menerima pengetahuan metafisik adalah sesuatu yang luar biasa. Oleh karena itu, seseorang yang mengklaim kenabian hendaknya membuktikan pengakuannya dengan mendatangkan mukjizat. Berdasarkan hal ini, seluruh nabi sepanjang sejarah selalu disertai dengan mukjizat. Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa nabi senantiasa melakukan


(138)

perbuatan yang luar biasa kapan saja, di mana saja, dan atas permintaan setiap manusia melainkan nabi mendatangkan mukjizat dalam jumlah terbatas sebatas kebutuhan. Dengan mendatangkan mukjizat, jelas bahwa pengakuan dirinya menerima wahyu dapat dibenarkan. Berbeda dengan manusia- manusia yang melalui kepribadian batinnya menerima hakikat-hakikat, mereka tidak mengklaim kenabian dan tidak pula mendatangkan mukjizat.

KEEMPAT, pengetahuan dan informasi yang diperoleh dari pribadi-pribadi yang ditidurkan melalui hipnotis atau dari kondisi- kondisi yang tidak sewajarnya dan berasal dari kepribadian batin mereka tidak dapat dibandingkan dengan pengetahuan dan hakikat yang luas dan metafisik yang diperoleh para nabi. Bagaimana mungkin membandingkan penyelesaian masalah matematika yang sulit dalam waktu singkat, pemberitaan mengenai sebagian kejadian masa lalu dan masa mendatang, pengilhaman masalah-masalah yang sangat terbatas yang dilakukan dalam kondisi tidur terhipnotis atau karena kejadian tidak wajar dengan keluasan aturan-aturan dan pengetahuan metafisik para nabi untuk kurun waktu yang sangat panjang dan dilakukan dalam kondisi normal dan wajar?

Al-Quran mulia yang diturunkan dan diwahyukan kepada Nabi saw selama dua puluh tiga tahun dalam kondisi dan suasana yang berbeda bahkan dalam keadaan perang. Dalam kitab ini, agama dijelaskan dengan terperinci, terdapat berbagai permasalahan akidah, akhlak, sosial, politik, ibadah, kisahkisah, kesehatan, jihad, pertahanan, pendidikan, ekonomi, peradilan, sanksi hukum, dan puluhan masalah lainnya. Begitu pula pengetahuan dan hukum serta undang-undang yang luas dan beragam dan tetap terlestarikan dalam ucapan-ucapan Nabi Islam yang mulia saw yang menyampaikan agama yang sempurna dan universal.

Apakah pengetahuan dan aturan-aturan yang luas dalam agama Islam dapat muncul dari kepribadian kedua dan batin


(139)

Nabi Muhammad saw? Manusia yang berakal dan sadar tidak mungkin menerima ucapan seperti ini.

Kenabian dan Kejeniusan


Sebagian cendikiawan menganggap bahwa kenabian adalah kejeniusan khusus dan para nabi adalah termasuk di antara manusiamanusia yang jenius.


 

Mereka mengatakan bahwa para nabi sama seperti manusia jenius lainnya yang termasuk pribadi-pribadi yang unggul dan istimewa di masanya.

Para nabi memiliki akal yang sempurna, kecerdasan yang luar

biasa, dan dugaan-dugaan yang tepat. Mereka memiliki pandangan yang cemerlang, pemikiran yang dalam dan perhatian yang tinggi, senantiasa berpikir demi kebaikan dan kemaslahatan serta perkembangan kondisi masyarakat sekitarnya, mengenali problem-problem masyarakat dan berupaya untuk mencari jalan penyelesaiannya. Karena hal inilah, dia berusaha memperbaiki keyakinan masyarakat, selalu menasihati masyarakat untuk selalu berahklak baik. Demi perbaikan masalah kemasyarakatan dan menjaga keamanan sosial, dia menetapkan aturan dan hukum dan memperkenalkan hal-hal tersebut sebagai kewajiban Tuhan. Para nabi menyatakan bahwa melakukan hal-hal tersebut dalam rangka menjalankan perintah Tuhan.

Ringkasnya, para nabi tidak memiliki hubungan khusus dengan Tuhan dan tidak ada wahyu. Semua ini berasal dari kreativitas akal manusia jenius yang mereka nisbatkan pada Tuhan.

Sanggahan atas Pendapat ini

Untuk menjawab para cendikiawan ini, perlu memperhatikan hal-hal berikut.


(140)

PERTAMA, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya,pengutusan seorang nabi atau rasul adalah keharusan dalam teologi.Untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, jasmani dan ruhani, manusia membutuhkan petunjuk Tuhan dan tuntunan para nabi. Oleh karena itu, Tuhan Yang Mahabijaksana harus mengutus para nabi dan membekali mereka dengan pengetahuan, hukum, dan undang-undang yang dibutuhkan. Untuk memenuhi kebutuhan ini, tidak mungkin tercukupi hanya dengan seorang manusia yang jenius.

KEDUA, seperti yang telah diterangkan sebelumnya, dalam teologi telah ditetapkan bahwa para nabi memiliki mukjizat dan melakukan perbuatan yang luar biasa untuk membuktikan kebenaran pengakuannya sementara manusiamanusia jenius tidak memiliki hal-hal tersebut.

KETIGA, para nabi adalah manusia jenius. Pemaparan aturan-aturan berasal dari kejeniusan akal dan pemikiran mereka. Tidak ada alasan untuk menisbatkan mereka pada wahyu dan mendapatkan hal itu dari Tuhan karena seluruhnya sepakat bahwa para nabi bukanlah manusia-manusia pembohong dan penipu.

Kenabian dan Gangguan Jiwa

Sebagian orang mengira bahwa wahyu dan kenabian adalah satu bentuk kegilaan atau gangguan saraf. Untuk membuktikan ucapannya, mereka mengatakan, “Para nabi adalah manusia-manusia yang beriman, sangat perhatian, dan senantiasa menginginkan kebaikan bagi masyarakat. Mereka sangat memprihatinkan setiap kezaliman, ketidakadilan, perampasan hak, dan ketertindasan kaum lemah. Para nabi selalu berpikir untuk mencari penyelesaian problem kemasyarakatan. Sedemikian rupa memikirkan masalah-masalah tersebut, sampai- sampai mereka mengalami gangguan kestabilan kejiwaan. Karena pengaruh hal tersebut, terkadang mereka merasakan gangguan dalam tidur. Merasa mendengar ucapan-ucapan saat tidur dan merasa mendapatkan sesuatu saat itu. Pada


(141)

saat terjaga dari tidur, sesuatu yang didengar dan diperoleh dari tidur dianggap sebuah kenyataan dan diyakini bersumber dari Tuhan dalam bentuk wahyu yang diberikan padanya dan merasa diri telah menjadi nabi atau utusan Tuhan. Secara bertahap dan perlahan pemikiran ini semakin menguat dan ada akhirnya mereka merasakan hal-hal semacam itu pada saat terjaga. Mereka merasa mendengar ucapan-ucapan dan menerima berbagai permasalahan yang diletakkan pada hati mereka. Bahkan, kadangkala menyaksikan seseorang dan berbicara dengannya yang membawa pesan dari Tuhan dan memberi tugas-tugas tertentu.

Mereka berpandangan bahwa semua ini adalah sebuah kenyataan dan perbuatannya adalah wahyu dan merasa dirinya sebagai nabi. Padahal, semua ini muncul dari perasaan batin dan gangguan kejiwaan yang tidak stabil bukan dari Tuhan atau melalui perantara wahyu. Tidak ada wahyu, tidak ada malaikat, yang ada hanya anggapan dan khayalan belaka. Kalian pun menyaksikan bentuk dari khayalan, anggapan, pembicaraan, dan penyaksian semacam ini juga terjadi pada orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Inilah ringkasan dari pendapat mereka.

Sanggahan
Perlu diketahui bahwa pendapat semacam ini bukanlah pendapat yang baru, melainkan diambil dari al-Quran. Pada saat al-Quran diturunkan, sebagian para penentang juga menuduhkan hal yang serupa pada Nabi Muhammad saw. Al-Quran menyebutkan, Bahkan mereka (penentang) mengatakan, “Al-Quran adalah mimpi-mimpi yang kalut, bahkan mengada-ada dan dia (Muhammad) adalah seorang penyair, maka hendaknya dia mendatangkan pada kami mukjizat sebagaimana rasul-rasul yang telah diutus di masa lalu.” (QS. al-Anbiya: 5)

Pada ayat lainnya disebutkan, Dan mereka berkata, “Wahai orang yang diturunkan padanya al-Quran, sesungguhnya kamu adalah benar-benar orang gila.” (QS al-Hijr: 6)


(142)

Ayat lainnya juga menerangkan, Demikianlah, tidak ada seorang rasul pun yang diutus sebelum mereka kecuali mereka mengatakan, “Dia adalah seorang penyihir atau orang gila.” (QS adz-Zariyat: 52) dan ayat-ayat lainnya.

Dari penjelasan ayat-ayat tersebut dapat diketahui bahwa pada masa Nabi Muhammad saw, ada beberapa manusia yang menuduh rasul sebagai penyihir, penyair, dan orang gila. Dengan tuduhan-tuduhan inilah, mereka menyatakan permusuhan mereka. Manusia-manusia semacam ini terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah manusia-manusia bodoh yang tidak mengetahui dan tidak memahami dengan baik tentang makna wahyu serta hubungan nabi dengan Allah yang merupakan perkara yang luar biasa. Karena kebodohan inilah, mereka mengingkarinya dan sebagai alasan, mereka menuduh nabi sebagai penyihir, penyair, atau orang gila. Dengan tuduhan itu, mereka memuaskan hati mereka dan berusaha menjauhkan masyarakat dari nabi.

Kelompok kedua adalah para penentang dan orangorang musyrik. Mereka menuduhkan hal-hal tersebut karena permusuhan dan penentangan mereka sehingga mereka dapat mencegah laju perkembangan Islam.

Akan tetapi, setiap orang yang sadar dan mau mengetahui pasti menafikan tuduhan-tuduhan tersebut dari diri dan pribadi suci Nabi Muhammad saw yang mulia. Untuk lebih jelasnya, perhatikan beberapa hal berikut.

1. Kehidupan Nabi Muhammad saw sebelum diangkat menjadi nabi dan setelahnya yang begitu jelas. Bahkan, bagianbagian dari kehidupan beliau pun tercatat dengan baik dan dapat diketahui oleh orang-orang yang ingin mengetahuinya. Setiap manusia yang sadar dan tidak memiliki tujuan-tujuan buruk, ketika merujuk pada sejarah kehidupan beliau, pasti menemukan bahwa beliau hidup dalam kestabilan jiwa dan memiliki kesempurnaan akal. Tidak memiliki setitik pun


(143)

kelemahan yang dapat menjadi bukti kegilaan dan ketidakwarasan beliau.

Dalam kehidupan rumah tangga, berinteraksi dengan sesama, bergaul dengan para sahabat, dalam kondisi perang atau berdamai, saat menasehati atau berpidato, ketika menjelaskan hukum dan aturan, berhadapan dengan para musuh, andaikan ada satu saja kelemahan beliau, hal itu pasti tercatat dan musuh-musuh beliau tidak akan begitu saja melewatinya.

2. Bukti yang paling nyata dan aktual adalah al-Quran yang diturunkan selama dua puluh tiga tahun pada Rasulullah saw. Al-Quran adalah bukti terbaik terhadap kesempurnaan akal dan kestabilan jiwa beliau. Apakah mungkin seorang penyihir atau orang yang mengalami gangguan kejiwaan dapat mendatangkan sebuah kitab yang indah ini dengan segala nilai keilmuan yang besar dan tinggi yang ada di dalamnya berupa keyakinan, moralitas, hukum-hukum fikih, sejarah, politik, sosial, dan lain-lain? Sementara itu, kita mengetahui bahwa seorang penyihir atau manusia yang mengalami gangguan kejiwaan tidak meninggalkan karya apa pun.

3. Pensyariatan agama, menentukan undang-undang dan aturan-aturan peribadatan secara terperinci, aturan-aturan politik, sosial, kemasyarakatan, peradilan yang begitu luas dan membutuhkan ketelitian juga merupakan bukti terbaik atas kesempurnaan akal dan keselamatan serta kestabilan jiwa Nabi Muhammad saw.

4. Pada dasarnya, para pembangkang dan musuh-musuh Islam sendiri tidak yakin terhadap tuduhan yang mereka lontarkan. Mereka ragu untuk menuduh Nabi sebagai seorang penyihir atau penyair atau orang gila. Terkadang mereka menuduh beliau orang gila, adakalanya mereka menuduh beliau sebagai penyair, kadang kala menuduhnya sebagai penyihir, seperti yang telah dijelaskan dalam ayat al-Quran tersebut di atas.


(144)

Otak Nabi adalah Tempat Turunnya Wahyu

Salah seorang cendikiawan Muslim memiliki pendapat baru berkenaan dengan penafsiran wahyu dan tempat turunnya wahyu. Kami melihat bahwa menyampaikan hal ini adalah hal yang tepat. Cendikiawan tersebut berpendapat bahwa tempat turunnya wahyu adalah otak Nabi Muhammad saw. Untuk membuktikan pendapatnya, dia memberikan penjelasan yang cukup panjang. Akan tetapi, kami meringkas pendapatnya dalam tiga bagian.

Bagian pertama. Al-Quran menjelaskan bahwa tempat turunnya wahyu adalah hati Nabi saw.

Dia dibawa turun oleh Ruhul Amin ke dalam hatimu (qalbika) (Muhammad) sehingga kamu termasuk orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. asy-Syu’ara: 193-195)

Kata qalb secara bahasa bermakna ‘membalikkan’. Anggota tubuh yang berbentuk sanubari yang menjadi pusat peredaran darah. Oleh karena itu disebut “hati” karena menjadi pusat peredaran darah. Melalui anggota ini, oksigen—yang menjadi unsur kehidupan beserta seluruh unsur yang dibutuhkan— dialirkan ke seluruh anggota tubuh bahkan ke hati dan otak.

Otak [hati] membedakan dan memilah unsur yang baik dan bermanfaat dari unsur yang buruk dan tidak bermanfaat serta membuang unsur-unsur tersebut.


Dengan memperhatikan makna hati secara bahasa, otak yang berada di dalam kepala juga bisa disebut sebagai hati karena otak yang membolak- balikkan unsur halus ruhani yaitu berpandangan atau berpikir.



(145)

Oleh karena itu, peletakkan kata qalb pada otak lebih tepat dibanding peletakkan pada anggota sanubari yang berada di dalam dada. Dengan memperhatikan penjelasan ini, dengan yakin kita dapat mengatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat dengan kata qalb adalah otak Nabi Muhammad saw yang menjadi tempat diturunkannya wahyu Al-Quran.

Bagian kedua. Pada bagian ini, dia membahas dan meneliti otak manusia. Tentang sistem kerja yang mengherankan dan kedetailan kerja yang dihasilkan oleh otak.

Bagian-bagian yang beragam, tugas-tugas dari setiap bagian, macam-macam saraf dan jumlah mereka yang sangat banyak, ukuran otak, dan kebutuhan makanan serta pengembangannya dan sejumlah hal-hal lainnya yang menyebutkan tentang kerja otak.

Dengan kata lain, menjadi khalifah Allah di muka bumi bagi manusia bergantung pada kemampuan, perkembangan, dan peningkatan otak manusia serta adanya kemungkinan ak-


Pada akhirnya, dia mengambil kesimpulan bahwa setiap manusia yang mampu memfungsikan setiap saraf yang ada dalam otaknya, dia dapat memanfaatkannya secara sempurna dan dari sisi kerja otak dan kejiwaan telah mencapai tingkat kemungkinan paling sempurna. Manusia seperti itulah yang mampu menduduki posisi sebagai wakil Tuhan di bumi dan paling dekat dengan-Nya serta menjadi khalifah Allah.


ses untuk mencapai hal tersebut. Kemungkinan ini Allah berikan dalam otak manusia yang merupakan wujud terbaik.

Kemudian ia menerangkan tentang kekhalifahan terbaik. Pada mulanya menyebutkan beberapa ayat al-Quran di antaranya, Manakala Tuhanmu berkata pada malaikat, “Sesung-


(146)

guhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” (QS al-Baqarah:30)

Allah berfirman, “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu sebagai khalifah di muka bumi, maka tegakkan hukum di antara manusia dengan kebenaran.” (QS Shad: 26)

Kemudian, dia juga menjelaskan tentang makna khalifah dalam ayat yang telah disebutkan, yaitu Allah Swt menjadikan manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi ini yang memiliki beberapa kekhususan. Di antaranya, memiliki kelayakan menjadi wakil Allah (dari sisi kejiwaan, akal, pikiran, dan kemampuan) dalam memimpin dan memberi petunjuk kepada masyarakat, mampu menegakkan hukum, berperang melawan kebatilan dan kezaliman, tidak mengikuti hawa nafsu, menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah dalam manusia, alam, dan sejarah, menuntun dengan menggunakan kekuatan yang diberikan Allah untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta Yang Esa dan melakukan penghambaan kepada-Nya.

Bagian ketiga. Pada bagian ketiga ini, dia menjelaskan pendapatnya dan menyatakan bahwa kata wahyu dalam al- Quran memiliki makna yang beragam. Di antaranya, bermakna isyarat yang cepat, simbol, ucapan, rumus, suara batin, penguasaan dalam tidur, mengikuti kekuatan insting, peletakan pada qalb yakni otak. Seluruhnya menunjukkan dengan jelas adanya satu pergerakan saraf-saraf dalam otak yang di luar perbuatan pancaindra dan perbuatan-perbuatan pada umumnya. Dengan kata lain, pengaktifan saraf-saraf dalam otak manusia tidak berperan langsung dalam perbuatan-perbuatan penting dalam kehidupan. Akan tetapi, berpengaruh dalam kejiwaan, pemikiran, dan akal manusia.

Setelah kita memperhatikan penjelasan-penjelasan di atas, kita menyaksikan:

PERTAMA, dalam otak manusia, terdapat 12 milyar saraf dan hanya sepertiganya saja yang melakukan perbuatan penting dalam kehidupan atau dengan istilah gerakan, rasa


(147)

dan semacamnya. Adapun sebagiannya, terdapat saraf-saraf yang khusus dan terfungsikan pada diri manusia dan sifatsifatnya serta kekhususannya, seperti berbicara, kecerdasan, hapalan, perasaan, nurani, pemahaman, akal, pemikiran, dan lain-lainnya.

KEDUA, jika saraf-saraf tersebut diberi tugas dan bekerja, kinerja dan percepatannnya bertambah dan hubungannya dengan saraf-saraf lainnya terjalin. Sedemikian kecil dan halusnya atau dengan istilah tanpa akar.

KETIGA, jumlah saraf setiap manusia tidak sama. Jarang sekali dua orang manusia memiliki jumlah saraf yang sama atau kinerja keduanya serupa. Biasanya, secara keturunan dan genetik, sebagian orang memiliki bagian dari otaknya yang kekuatannya lebih dibanding dengan saraf-saraf lainnya atau memiliki potensi pemahaman, pandangan, dan spesialisasi lainnya. Seperti contoh, mereka memahami sesuatu sementara yang lainnya tidak memilikinya, yakni selain tugas perolehan yang diberikan oleh manusia, dari sisi bentuk bangunan juga memiliki perbedaan. Secara praktik kita menyaksikan perbedaan tersebut ada dalam anggota masyarakat.

Sekarang, setelah kita mengetahui penjelasan tersebut dan mengetahui makna wahyu yang beragam seperti yang terdapat dalam al-Quran dan kita coba menerapkannya, maka kita mendapatkan bahwa seluruh manusia dan sebagian hewan mungkin saja mendapatkan wahyu. Wahyu pada manusia beragam, adapun bentuk wahyu yang diberikan pada Nabi Muhammad saw dan segala sesuatu yang terkait dengan al- Quran memiliki keistimewaan yang perlu diperhatikan seperti di bawah ini.

Nabi Muhammad saw sejak kecil dan sebelum diangkat menjadi nabi, memiliki perbedaan dengan masyarakat sekitar beliau. Perbedaan tersebut tercatat dalam sejarah.

1. Imam Ali as menjelaskan mengenai beliau dalam Nahj al-Balagah. Beliau berkata, “Sungguh Allah Swt telah meny


(148)

ertainya (Nabi Muhammad saw) sejak masih kanak-kanak dengan malaikat teragung dari malaikat-malaikat-Nya yang menyertainya pada jalan-jalan yang mulia dan kebaikan akhlak dan yang mengetahuinya baik malam maupun siang.”

2. Abu Thalib sejak masa kecil Nabi Muhammad saw menerangkan sebagai berikut.

“Tidak pernah aku mendengar darinya kebohongan, tidak melakukan perbuatan-perbuatan keji yang terjadi di masyarakat. Tidak pernah tertawa tanpa sebab, tidak bermain bersama anak-anak kecil sebayanya, dan beliau sangat menyukai kesendirian.”

3. Beliau adalah manusia yang jujur dan amanat. Tidak pernah melakukan kobohongan dan penipuan. Karena itulah, beliau termasuk manusia yang banyak disukai di kalangan penduduk dan disebut sebagai al-Amin (yang dapat dipercaya). Disebutkan juga bahwa beliau pernah menggembala kambing.

4. Pada saat memasuki usia ke-37, setiap hari kecintaannya untuk menyendiri bertafakur semakin besar. Beberapa waktu dalam setiap tahun beliau menyendiri untuk bertafakur dan beribadah di gua di bukit Hira. Seakan-akan beliau dalam penantian. Belum genap usia beliau 38 tahun, terjadi perubahan dalam kehidupan pribadi beliau. Setiap malam selalu mengakhirkan dirinya untuk tidur, sedikit sekali mengonsumsi makanan. Dalam kondisi tidur atau terjaga, beliau merasakan ada seseorang yang senantiasa menemaninya. Terkadang beliau dipanggil namanya oleh penjaga tersebut, “Wahai Muhammad!” akan tetapi beliau tidak menyaksikan wajah itu. Sebagian besar malam beliau senantiasa bermimpi dan pada siang harinya tabir mimpi tersebut menjadi kenyataan. Pada akhirnya, suatu malam beliau bermimpi seseorang datang kepadanya dan berkata, “Wahai Rasulullah saw!”

5. Sebagaimana dalam sejarah disebutkan, saat wahyu diturunkan terjadi sesuatu pada diri Rasul dan keluar dari


(149)

kondisi biasanya. Keringat mengalir di sekitar dahi beliau yang mulia. Badan beliau menjadi berat sampai-sampai jika beliau berada di atas hewan tunggangan, maka hewan itu pun terduduk.

Segala hal yang telah disebutkan menunjukkan bahwa terjadi perubahan dalam otak Nabi dan membawanya ke alam lain. Akan tetapi, saat penurunan wahyu terhenti, ayat-ayat al-Quran keluar dari mulut Nabi yang suci tanpa ada satu pun yang terlupakan. Oleh karena itu, tanda-tanda jasmani yang tampak pada diri Nabi saw merupakan tanda terjadinya sesuatu yang mendalam dan agung pada otak Nabi saw yang seutuhnya menonaktifkan sel-sel atau saraf-saraf bagian tertentu dari otak beliau.

Seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya bahwa manusialah yang mengaktifkan saraf-saraf otaknya yang menyebabkan terjadinya akselerasi korelatif dan memasukkan sesuatu ke dalam otak lalu menuju saraf pengirim yang kemudian dipindahkan menuju mata, telinga, dan lidah, yakni fenomena wahyu dikirim menjadi ucapan dan perilaku. Dengan demikian, setiap kali terjadi pewahyuan, maka jumlah neuron berkembang dan siap bertugas. Kita mengetahui bahwa jiwa menugaskan sel-sel otak menjadi sebab perkembangannya.

Sebelum diturunkannya wahyu, pada diri Nabi saw juga terjadi fenomena kejiwaan lainnya seperti berpikir yang mendalam, ilham, mimpi-mimpi yang benar sehingga pada masa diangkat menjadi nabi, otak beliau telah mencapai kesempurnaan. Beliau mampu menerima wahyu, menyampaikan risalah kepada masyarakat, menampilkan sesuatu dari dalam pada tampilan luar dalam rangka mendidik manusia.

Pada akhir makalahnya, dia menulis, “Nabi adalah seorang manusia yang menjadi sumber segala kenikmatan Ilahi. Seluruh neuron otak beliau bekerja berdasarkan perintah Allah Swt Yang Mahaagung dalam perkembangannya dalam memberi petunjuk pada manusia hingga akhir dunia.”[144]


(150)

Untuk menjawab makalah dan pendapat ini, kita dapat menjelaskan bahwa kita menerima adanya perbedaan dari sisi jumlah dan kemampuan sel-sel otak setiap manusia. Perbedaan ini menyebabkan terjadinya perbedaan dalam kemampuan memahami, menghapal, dan kecerdasan setiap manusia. Kami juga mengakui bahwa sebagian besar sel-sel otak yang berada di bagian khusus otak manusia bertanggung jawab dalam masalah keilmuan manusia sampai-sampai jika terjadi sesuatu padanya, maka terjadi gangguan pada pengetahuanpengetahuan yang terkait dengannya.

Kami juga meyakini bahwa saat manusia memahami, berpikir, dan menghapal sebuah permasalahan ilmiah, terjadi interaksi dalam sel-sel yang berhubungan dengan otak sehingga dapat dikatakan bahwa interaksi sel-sel tertentu dalam otak jelas berpengaruh pada pengetahuan dan pemahaman. Kami juga menerima bahwa para nabi adalah manusia luar biasa. Dalam masalah otak dan saraf pun, mereka memiliki kemampuan luar biasa sehingga mereka mampu menurunkan hakikat-hakikat dan pengetahuan-pengetahuan penting kehidupan dari dalam batin, jiwa, dan ruh mereka pada tataran potensi pancaindra dan menampilkannya dalam bentuk kata dan kalimat dan menyampaikannya pada masyarakat. Hendaknya para nabi memiliki kemampuan seperti ini.

Pada dasarnya, ilmu yang bermakna penyingkapan atau kehadiran sesuatu yang diketahui pada diri yang mengetahui


Akan tetapi, kami menolak bahwa otak adalah tempat penurunan wahyu sesungguhnya karena wahyu adalah pengetahuan hudhuri yang diberikan pada Nabi saw dari Allah Swt dan dalam kitab-kitab filsafat Islam dibuktikan bahwa ilmu bukanlah materi atau tergolong dari pengaruh materi.



(151)

tidaklah sesuai dengan materi yang meniscayakan ketiadaan dan ketidakhadiran. Ilmu adalah sebuah hakikat yang bercahaya dan tidak bermateri. Karena itu, pemilik ilmu atau penyingkap hendaknya juga suatu hakikat yang nonmaterial. Dengan demikian, mengetahui, memahami, dan menghapal hakikat ilmu adalah pekerjaan ruh manusia yang merupakan suatu hakikat yang bercahaya dan nonmaterial.

Sesungguhnya mereka tidak mengingkari kenyataan bahwa pancaindra, sel-sel otak berpengaruh dan berperan aktif dalam memperoleh pengetahuan dan penyingkapan sebuah kenyataan. Akan tetapi, mereka meyakini hal ini sebagai pengantar ilmu pengetahuan bukan pengetahuan itu sendiri. Ruh manusia yang nonmaterial setelah terwujudnya pengantar-pengantar tersebut yang menyingkap, memahami, dan menghapal sesuatu yang diketahui.

Kendati sel-sel otak berperan dalam memindahkan hakikat-hakikat yang memiliki nilai wahyu pada masyarakat,


Berkenaan dengan wahyu juga demikian. Wahyu adalah suatu bentuk pengetahuan dan penyingkapan hakikat yang memiliki nilai-nilai wahyu bagi seorang nabi maka pusat dan pengenal hakikat tersebut hendaknya jiwa dan ruh nabi yang nonmaterial bukan otak mereka.


 

tetapi otak atau sel-sel otak bukanlah tempat atau pusat penerimaan wahyu. Akan tetapi, yang menjadi pusat penerimaan wahyu adalah jiwa dan ruh para nabi. Untuk lebih jelasnya, silakan merujuk pada kitab-kitab filsafat.

Antara wahyu dan ilmu hushuli(pengetahuan yang dihasilkan melalui proses belajar) terdapat satu perbedaan yang mendasar. Ilmu hushuli dihasilkan melalui pancaindra kendati pada akhirnya ruh manusia


(152)

yang memahami dan menghapalnya. Berbeda dengan hakikat- hakikat atau pengetahuan yang memiliki nilai wahyu, pada mulanya diberikan pada hati, ruh nabi yang bercahaya kemudian berpindah keluar melalui potensi pengenalan dan pancaindra.

Wahyu dan Ilham

Dari sejumlah hadis dapat diketahui bahwa para imam


Dari sejumlah hadis dapat di-ketahui bahwa para imam maksum juga memiliki pengetahuan-pengetahuan yang tidak termasuk pengetahuan pada umumnya dan tidak diperoleh melalui pancaindra melainkan melalui pengalaman batin dan penyaksian hudhuri mereka. Pengetahuan-pengetahuan semacam ini menyerupai wahyu tetapi sebagai bentuk penghormatan tidak disebut sebagai wahyu.


 

maksum juga memiliki pengetahuan-pengetahuan yang tidak termasuk pengetahuan pada umumnya dan tidak diperoleh melalui pancaindra melainkan melalui pengalaman batin dan penyaksian hudhuri mereka. Pengetahuan-pengetahuan semacam ini menyerupai wahyu tetapi sebagai bentuk penghormatan tidak disebut sebagai wahyu.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Ali bin Yaqtin meriwayatkan dari ayahnya yang bertanya pada Imam Musa bin Ja’far as, ‘Berasal dari manakah ilmu yang kalian miliki?’ Imam menjawab, ‘Bersumber dari pemberian dalam hati atau pada pendengaran atau melalui kedua-duanya.’”[145]

Disebutkan dalam sebuah riwayat, “Harits bin


(153)

Mughirah meriwayatkan: Aku bertanya pada Abi Abdillah, Imam Ja’far Shadiq as, “Jiwaku menjadi tebusanmu, jika imam ditanya tentang sesuatu dan tidak memiliki jawaban, dari mana imam mengetahui?” Imam menjawab, “Diletakkan ilmu dalam hati atau diperdengarkan pada pendengaran.”[146]

Diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Isa bin Hamzah Tsaqafi berkata, “Aku bertanya pada Imam Ja’far Shadiq as, ‘Terkadang kami bertanya tentang sesuatu pada kalian dan kalian langsung menjawabnya. Terkadang pula kalian menjawabnya setelah terdiam sejenak. Apa sebab hal itu?’ Imam menjawab, ‘Benar, masalah-masalah pengetahuan diberikan pada hati kami. Jika langsung diberikan, maka kami pun menjawabnya secara langsung dan jika pemberian sedikit terlambat, maka kami pun tidak segera menjawabnya.’” [147]

Yahya Madani meriwayatkan dari Abi Abdillah Imam Ja’far Shadiq as, “Aku bertanya pada Imam as, ‘Bagaimana Imam menjawab pada saat ditanya?’ Imam menjawab, ‘Melalui ilham atau pendengaran dan terkadang kedua-duanya berbarengan.’”[148]

Harits bin Mughirah juga meriwayatkan dari Imam Shadiq as, “Aku berkata pada Abu Abdillah as, ‘Ilmu yang kalian ketahui, apakah sesuatu yang diletakkan dalam hati kalian atau sesuatu yang diperdengarkan pada pendengaran kalian?’ Imam terdiam, sampai-sampai kaum lupa akan hal itu. Kemudian, Imam menjawab, ‘Terkadang ini, terkadang itu.’” [149]

Hadis lain yang diriwayatkan oleh Harits bin Mughirah menjelaskan, “Aku bertanya pada Abu Abdillah as, ‘Ilmu para alim kalian apakah berupa kalimat yang diletakkan dalam hati kalian atau sesuatu yang diperdengarkan pada pendengaran kalian?’ Imam menjawab, ‘Sebuah wahyu seperti wahyu yang diberikan pada Nabi Musa as.’”[150]

Abu Bashir meriwayatkan dari Imam Shadiq as, “Aku berkata pada Imam Shadiq as, ‘Jiwaku menjadi tebusanmu,


(154)

ilmu semacam apakah yang kalian miliki?’ Imam menjawab, ‘Sesuatu yang dibicarakan siang dan malam, permasalahan demi permasalahan, kejadian demi kejadian hingga hari kiamat.’”[151]

Riwayat lainnya dari Harits bin Mughirah menerangkan: Imam Shadiq berkata, “Sesungguhnya bumi tidak pernah ditinggalkan tanpa seorang alim.” Harits bertanya, “Darimana ilmu yang kalian ketahui?” Imam menjawab, “Warisan dari Rasulullah saw dari Ali bin Abi Thalib as. Ilmu yang menyebabkan kami tidak butuh pada manusia sementara manusia selalu butuh pada ilmu tersebut.” Aku berkata, “Ataukah berupa hikmah yang diletakkan dalam dada kalian atau pengetahuan yang diperdengarkan pada pendengaran kalian?” Imam berkata, “Termasuk keduanya.” [152]

Mufadhdhal meriwayatkan dari Imam Shadiq as, “Suatu hari, Imam Shadiq berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Abdillah,’ Aku menjawab, ‘Labbaik, jiwaku menjadi tebusanmu.’ Imam berkata, ‘Sesungguhnya setiap malam Jumat kami merasa senang.’ ‘Semoga Allah menambah kesenanganmu, apakah yang menyebabkan hal itu?’ tanyaku. Imam menjawab, ‘Sesungguhnya setiap malam Jumat Rasulullah saw naik menuju Arasy juga para imam dan kami pun naik bersama mereka. Ruh-ruh kami tidak kembali ke jasad kami kecuali dengan ilmu yang sangat bermanfaat. Andaikan tidak demikian, maka disempurnakan ilmu yang telah kami miliki.’”[153]

Yunus bin Abi Fadhl meriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as, beliau berkata, “Setiap malam Jumat tidak terjadi sesuatu pada kekasih-kekasih Allah kecuali kebahagiaan.” Aku bertanya, “Jiwaku menjadi tebusanmu, bagaimana hal itu terjadi?” Imam menjawab, “Setiap malam Jumat, Rasulullah saw naik menuju Arasy dan aku naik bersama beliau. Aku tidak kembali kecuali dengan ilmu yang bermanfaat. Andaikan tidak demikian, maka disempurnakan ilmu yang telah kami miliki.”[154]


(155)

Zurarah meriwayatkan dari Imam Muhammad Baqir as, “Aku mendengar beliau bersabda, “Dua belas imam dari keluarga Muhammad saw seluruhnya adalah muhaddats (manusia yang diajak bicara malaikat—penerj.) dari keturunan Rasulullah dan keturunan Ali as. Maka, Rasulullah saw dan Ali as adalah kedua orang tua.”[155]

Dari beberapa hadis yang telah disebutkan dan contohcontoh lainnya yang cukup banyak, kita dapat mengetahui bahwa imam-imam maksum dari Ahlulbait as memiliki pengetahuan yang tidak termasuk pemahaman-pemahaman pada umumnya dan tidak diperoleh melalui pancaindra. Pengetahuan itu diperoleh melalui pengalaman batin, lalu diberikan ke dalam hati mereka atau diperdengarkan pada pendengaran batin mereka. Hal ini adalah hakikat yang serupa dengan hakikat yang telah dijelaskan mengenai wahyu. Akan tetapi, mereka enggan untuk menyebut hal tersebut sebagai wahyu tetapi menyebutnya sebagai ilham atau qadzaf dalam hati mereka atau nakt (anugerah) yang diberikan pada pendengaran mereka. Kalaupun disebut sebagai wahyu, itu sama dengan wahyu yang diberikan pada ibu Nabi Musa as.

Hal ini disebabkan pandangan umat Islam pada umumnya mengkhususkan wahyu hanya pada para nabi. Begitu pula keyakinan mengenai berakhirnya kenabian dengan diutusnya Nabi Muhammad saw, maka masa wahyu secara istilah pun berakhir sebagaimana yang disampaikan oleh Amirul Mukminin Ali as, “Demi ibu dan ayahku yang menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah, sungguh telah terputus dengan kematianmu sesuatu yang tidak terputus dengan kematian selain dirimu dari kenabian, berita, dan kabar-kabar dari langit.”[156]

Pada kesempatan lainnya, beliau juga mengatakan, “Allah mengutus nabi-Nya pada masa peralihan para rasul dan pergantian manusia, dengan perantaranya (Nabi Muhammad saw—penerj.) Allah menyelesaikan utusan-Nya dan diakhiri wahyu dengannya.”[157]


(156)

Pengetahuan imam memiliki perbedaan penting dengan wahyu yang diberikan pada para nabi dalam dua hal berikut.


Perbedaan pertama , wahyu yang diturunkan pada para nabi mencakup hukum-hukum, aturanaturan, dan penjelasan mengenai halal dan haram yang diiringi dengan perintah untuk menyebarkan. Sementara itu, pengetahuan yang dimiliki imam tidak terdapat pada obyekobyek tersebut.


 

Hukum-hukum syariat tidak diberikan ke dalam hati imam tetapi penjelasan dan pendukung hukum-hukum tersebut yang diberikan pada imam sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sulaiman Dailami dari ayahnya, “Aku bertanya pada Abu Abdillah as, ‘Jiwaku menjadi tebusanmu, seringkali aku mendengar darimu ucapan, ‘Andaikan tidak bertambah ilmu kami, maka selesailah.’ Apakah maksud ucapanmu ini?’ Imam menjawab, ‘Adapun halal dan haram dalam syariat, demi Allah semua telah diturunkan dengan sempur-

na pada Rasululullah saw dan mengenai hal ini pengetahuan imam tidak bertambah.’ Aku bertanya, ‘Lalu ilmu apakah yang ditambahkan pada ilmu-ilmu kalian?’ Imam menjawab, ‘Dalam hal-hal lainnya selain kehalalan dan keharaman.’ Aku bertanya kembali, ‘Apakah sesuatu diturunkan pada kalian yang tidak diturunkan pada Rasulullah saw?’ ‘Tidak, ilmu yang hendak diturunkan pada kami, sebelumnya telah diturunkan malaikat pada rasul dan berkata, ‘Wahai Muhammad, Tuhanmu memerintahkanmu untuk melakukan perbuatan ini dan itu.’ ‘Sampaikanlah hal ini pada Ali,’ jawab Rasul. Malaikat membawa perintah tersebut pada Ali. Ali juga mengatakan, ‘Sampaikanlah hal ini juga pada Hasan.’ Disampaikanlah perintah


(157)

itu pada Hasan dan beliau juga mengatakan, ‘Sampaikan hal ini juga pada Husain.’ Disampaikanlah perintah itu pada Husain.’ Seperti inilah berlanjut satu per satu hingga sampai pada kami.’ Kembali aku bertanya, ‘Dengan demikian, ditambahkan sesuatu pada kalian yang tidak diketahui oleh Rasulullah saw?’ Imam berkata, ‘Hati-hati kau! Apakah diperkenankan imam mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Rasulullah saw? Apakah imam lebih dulu dari Rasulullah?’”[158]


Penerima ilham adalah hati. Kendati memiliki perhatian terhadap ilham-ilham batin dirinya, akan tetapi perhatian para imam tertuju pada sumber yang meletakkannya ke dalam hati yaitu Allah SWT.


 

Dari tanda dan alamatnya dapat dipahami bahwa ilham tersebut berasal dari Allah bukan dari waswas setan dan diri mereka sebagaimana hal ini disebutkan dalam beberapa hadis berikut.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Muhammad bin Muslim bertanya pada Imam Shadiq as mengenai muhaddatsah. Imam menjelaskan, “Sesungguh-

nya dia mendengar suara namun tidak menyaksikannya.” Aku berkata, “Semoga Allah senantiasa memberi kemaslahatan padamu. Bagaimana dia mengetahui bahwa itu adalah ucapan malaikat?” Imam menjawab, “Dia diberi ketenangan dan kenyamanan sehingga dia mengetahui bahwa itu adalah malaikat.”[159]

Berkenaan dengan masalah tersebut, sebuah riwayat juga menjelaskan bahwa suatu saat Zurarah bertanya pada Imam Shadiq as. Zurarah bertanya, “Bagaimana (imam) mengetahui bahwa hal itu berasal dari malaikat dan tidak khawatir bahwa mungkin saja dari setan, mengingat dia tidak menyaksikan seseorang?” Imam menjawab, “Diberikan kepadanya ketenangan, dengan demikian dia mengetahui bahwa hal itu berasal  


(158)

dari malaikat. Andaikan dari setan, dia merasa galau dan tidak tenang. Kendati demikian, wahai Zurarah, hal seperti itu (gangguan dari setan) tidak mungkin dialami para imam.”[160]

Poin penting yang dapat diambil dari hadis ini yaitu adanya pengetahuan dan kesempurnaan melalui wahyu atau ilham yang diberikan pada hati imam yang hidup di setiap masa dengan jalan penurunan dari maqam kenabian dan wilayah.


Perbedaan kedua dari wahyu dan ilham yaitu penerima wahyu adalah nabi. Selain penerima wahyu, juga perhatikan sumber pemberi wahyu yaitu Allah Swt. Penerima wahyu memiliki perhatian bahwa pemberian-pemberian dan penyaksian-penyaksian dalam hatinya berasal dari Allah Swt karena hal inilah mereka mengalami ketenangan dan kenyamanan tertentu. Sementara ilham, tidaklah demikian.


Penyingkapan, Penyaksian Para Urafa

Para urafa (pelaku jalan spiritual) yang sesungguhnya mengklaim bahwa pada satu kondisi kejiwaan mereka terjadi penyingkapan hakikat dan pengetahuan yang kemudian kebenaran penyingkapan tersebut terbukti. Terkadang berita-berita kejadian masa lalu terlintas dalam hati mereka, terkadang pula mereka mendapat pengetahuan mengenai kejadiankejadian mendatang. Adakalanya mereka juga mengetahui kejadian atau sesuatu yang sulit untuk dijangkau pancaindra, menyaksikan sesuatu atau seseorang atau mendengar suara tetapi tidak melalui penglihatan dan pendengaran zahir. Beritaberita semacam ini sedemikian banyaknya sehingga pokok dari permasalahan tersebut tidak dapat dipungkiri. Kendati


(159)

sebagian dari mereka yang mengklaim hal-hal tersebut juga terdapat kebohongan yang jelas kita saksikan tetapi hal ini tidak mengganggu pokok permasalahan.

Penyingkapan-penyingkapan pelaku jalan spiritual juga dihasilkan dari pengalaman dan perjalanan batin serta pemberian pada hati mereka dan tidak memiliki keserupaan dengan wahyu dan ilham. Penyingkapan-penyingkapan tersebut memiliki perbedaan dengan wahyu dalam beberapa hal berikut.

1. Sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya bahwa penerima wahyu pada saat itu memiliki perhatian hudhuri pada pemberi wahyu yaitu Allah Swt dan memiliki keyakinan penuh bahwa wahyu berasal dari Allah Swt, berdasarkan hal inilah merasakan ketenangan. Berbeda dengan penyingkapan atau penyaksian para pelaku jalan spiritual yang tidak memiliki perhatian hudhuri kepada Allah SWT.

2. Pada penyingkapan irfani (pelaku jalan spiritual), kemungkinan terjadinya kesalahan dan ada kemungkinan berasal dari waswas setan. Dalam penyingkapan-penyingkapan irfani yang dinukil, terdapat hal-hal berupa khayalan dan hanya anggapan belaka yang bersumber dari kapasitas mereka. Berbeda dengan wahyu para nabi yang senantiasa terjaga dari segala bentuk kesalahan.

3. Wahyu kenabian memiliki pesan dan perintah untuk menyampaikan. Disampaikan guna memberikan kebahagiaan masyarakat di segala bidang. Berbeda dengan penyingkapan- penyingkapan irfani yang membantu pelaku penyingkapan dengan ilmu dan perjalanan spiritual.

4. Penyingkapan-penyingkapan irfani adalah perolehan yang dihasilkan melalui proses latihan-latihan dan menjalani amalan-amalan khusus. Berbeda dengan wahyu yang tidak membutuhkan latihan dan terjadi tanpa proses.

 

Kesempurnaan seorang wali Allah Swt.

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Kesempurnaan seorang wali adalah bertemu langsung dengan Rasululloh Saw. Dalam keadaan jaga ( tidak tidur ) dan berjabat tangan langsung dengan beliau Saw. Sebagaimana pengakuan Sayyidina Ali Alkhowwash yang diterangkan di dalam kitab Fathur Robbani halaman 12 :
لَايَكْمُلُ عَبْدٌ فِى مَقَامِ ْالعِرْفَانِ حَتَّى يَصِيْرَ يَجْتَمِعُ بِرَسُوْلِ اللهِ ص.م يَقَظَةً وَمُشَافَحَةً ( الفتح الربانى ص.12
“ Seorang Hamba Alloh belum dapat dikatakan sempurna berada di dalam kedudukan Ma`rifat kecuali setelah dia berkumpul bersama Rosulullah Saw. Diwaktu dia jaga ( tidak tidur ) dan dapat berdialog langsung ( dengan beliau Saw. ) “
Sebagaimana perkataan Syeh Jalaluddin as Suyuthi :
رَأَيْتُ النَّبِّىَّ ص.م وَاجْتَمَعْتُ بِهِ يَقَظَةً نَيِّفًا وَسَبْعِيْنَ مَرَّةً (الفتح الربانى ص.12 بغية المستفيد ص : 215 , الميزان الكبرى أوّل ص: 44 )
“ Sesungguhnya aku berkumpul bersama Rasulullah Saw. Sampai waktu ini sebanyak 70 kali dalam keadaan jaga dan berdialog langsung ( dengan beliau Saw. ) “
( dituqil dalam kitab Fathur Robbani halaman 12, dan Bughyatul Mustafid halaman 215 dan Al-Mizaanul Qubro 1 halaman 44 )

Syeh Abul Abbas Al-Mursi juga mengatakan:
لِى أَرْبَعُوْنَ سَنَةً مَاحُجِبْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص.م طَرْفَةَ عَيْنٍ وَلَوْ حُجِبَ عَنِّى طَرْفَةَ عَيْنٍ مَا عَدَدْتُ نَفْسِى مِنْ جُمْلَةِ ْالمُسْلِمِيْنَ
(الجيش الكفيل : 43 , الميزان الكبرى أوّل ص: 44 )
40 Tahun Rosulullah Saw. Tidak pernah hilang dariku sekejap matapun . kalau beliau hilang dari aku sekejap mata saja, maka diriku tidak dapat aku golongkan dalam sejumlah kaum muslimin ‘

( dituqil dalam kitab Al-Jaysyul Kafiil halaman 43 dan Al-Mizaanul Qubro Zuj1 halaman 44 )
Syeh sayyid Ibrohim Al-matbuli menyatakan :
نَحْنُ فِى الدُّنْيَا خَمْسَةٌ لَا شَيْخَ لَنَا إِلَّا رَسُوْلُ اللهِ ص.م : اَلْجُنَيْدِىُّ , وَالشَّيْخُ أَبُوْ مَدْيَانَ , وَالشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحِيْمُ اَلْغَنَوِى , وَالشَّيْخُ أَبُوْ السُّعُوْدِ ابْنُ أَبِى ْالعَشَآئِرِ , وَالشَّيْخُ أَبُو اْلحَسَنِ الشَّاذِلِى رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ
(الجيش الكفيل : 43 , بغية المستفيد ص : 215 )

Di Dunia kami berlima tidak mempunyai guru lain kecuali Rosululloh Saw. Yakni :
AlJunaidi,Syeh Abu Madyan,syeh abdurrohim AlGhonawi, syeh abu Su`ud bin Abu A`syaair dan syeh Abu Hasan Asy-Syadzili ra.
( dituqil dalam kitab Al-Jaysyul Kafiil halaman 43 dan Bughyatul Mustafid halaman 215 )

Apabila kita bertemu dengan rasulallah saw. dalam keadaan mimpi atau dalam keadaan jaga ( tidak tidur ), para sahabat berada bersama beliau saw. Begitu juga duriyyah beliau saw.
Sebagaimana dalam kitab Al-Ibriz , bahwa guru kami sayyidi Abdul Aziz Ad-Dibaghi mengatakan “Apabila saidil wujud SAW.telah hadir di dewan para wali, maka hadir pula bersama beliau abu bakar ra. Umar ra. Ustman ra. Ali ra.,hasan ra.husain ra.dan ibu keduanya yakni maulatina fathimah az-zahro terkadang mereka hadir semuanya dan ada kalanya sebagian dari merka saja yang turut hadir r.anhum ajmaiin.
Maulatina fathimah az-zahro duduk di bagian sebelah kiri majlis bersama serombongan wanita yang menyertainya menghadiri dewan itu, dan beliaulah pemimpin wanita-wanita itu ra. Wa anhunna.
Seterusnya sayyidi syeh abdul aziz Ad-dibaghi mengatakan “pada suatu malam saya mendangar maulatina fathimah az-zahro ra.” Memberi sholawat atas ayahnya SAW. Beliau mengucapkan ;

Mimpi dengan Rosululloh Saw. Menjadi kenyataan.
Abu bakar Muhammad bin Gholib bercerita kepadaku bahwa dia telah diberitahukan oleh muhammad bin khofif bahwa ia telah mendengar Abu bakar Muhammad bin Ali al-kattani berkata : “ Aku bermi9mpi melihat Nabi Muhammad Saw. Di dalam kebiasaanku “. Ia biasanya selalu melihat nabi dalam mimpinya setiap malam senin dan malam kamis ketika ia inging bertanya dengan nabi .Nabi selalu menjawabnya – “ dalam mimpiku itu aku diterima nabi Saw. Dimana beliau bersama 4 orang , kemudian beliau Saw. Bertanya kepadaku: Hai Abu bakar tahukah kamu siapa ini ? aku menjawab : Ya, dia Abu bakar asshidiq ra. Nabi bertanya lagi : tahukah kamu siapakah ini ? aku menjawab : Ya, dia Umar bin Khotob ra. , nabi bertanya lagi tahukah kamu ,siapakah ini? Aku menjawab : Ya ,dia Ustman bin Affan ra. , nabi bertanya pula : tahikah kamu, siapakah yang ke empat ini ? maka aku merasa bingbang dan tidak dapat menjawab, kemudian Nabi mengulangi pertanyaannya untuk yang kedua kalinya, akupun masih merasa bingbang dan tidak dapat menjawab, maka Nabi pun mengulangi pertanyaannya untuk yang ketiga kalinya, aku pun masih merasa bingbang, karena didalam hatiku terdapat keragu-raguan, kemudian nabi mengepalkan tangannya dan nununjukkan tangannya dengan isyarat kepadaku dan memukul dadaku , sambil berkata kepadaku : wahai abu bakar , katakanlah : ini adalah ali bin abi tholib. Maka akupun berkata : Ya Rosululloh, ini Ali bin abi tholib? Kemudian nabipun memp[erkenalkan diriku kepada ali bin abi tholib, beliau memegang tangan alira.dan berkata padaku, Hai abu bakar berdirilah! Pergilah ke bukit shofa bersama ali, kemudian aku pergi bersamanya ke bukit shofa . waktu itu aku tidur dalam kamarku tetapi ketika aku terbangun , aku telah berada di bukit shofa.
Mansur bin abdillah bercerita kepadaku bahwa dia telah mendengar Abu Abdillah bin jalla berkata : aku telah memasuki kota rosululloh Saw ( madinah) dan pada diriku terdapat sesuatu keinginan , maka aku berziarah ke kuburan nabi saw dan aku mengucapkan salam kepada beliau dan kepada dua sahabatnya, abu bakar dan umar ra. Kemudian aku berkata : Wahai Rosululloh pada diriku ada sesuatu keinginan ( maksud ) dan malam ini , aku adalah merupakan tamu anda. Selanjutnya aku pergi dari sisi kuburan Nabi dan tertidur di antara kuburan nabi dan mimbar masjid al-madinah dan tiba-tiba Nabi datang kepada ku dan membawakan roti untukku.kemudian aku memakan setengahnya , kemudian aku terbangun , dan kudapati dalam tanganku setengah bagian roti.
Yusuf al-Husain berkata : “ kami mempunyai murid seorang pemuda , ia mempelajari hadits sebelum mendalami pelajaran al-Qur`an , maka dalam tidurnya , ia bermimpi didatangi seseorang sambil berkat6a : seandainya engkau sudah tidak berlaku baik padaku maka mengapa kamu rendahkan pula kitabku, padahal seandainya engkau mengetahuinya di dalamnya terdapat pembicaraan-pembicaanku yang sangat indah.
Kebenaran adanya yang demikian ini dapat dibuktikan dengan suatu riwayat dari ali bin husain bin ahmad as-sarkhosi as-sulami dari suwaid, dari muhammad bin umar bin sholih bin mas`ud al-kila`I dan hasan al-basri, ia berkata : aku telah memasuki masjid al-bashroh, disana aku dapati beberapa kawan ku sedang duduk-duduk , maka akupun duduk beserta mereka , dikala itu aku mendengar mereka membicarakan seseorang dan mereka meburuk-burukkannya .kemudian aku mencegah mereka untuk membicarakan dirinya , dan aku mengalihkan pembicaraan mereka dengan menceritakan kepada mereka tentang beberapa hadits nabi yang berhubungan dengan seseorang yang mencemarkan nama selainnya, dimana saya telah mendengar sifat-sifat rosululloh saw. Dan nabi Isa bin maryam as.kemudian mereka merasa senang , dan pembicaraan mulai berlanjut ke soal-aoal lainnya , tetapi kemudian nama orang laki-laki itu di sebut-sebut lagi, hingga mereka pun membicarakannya kembali dan aku berada di antara mereka.setelah mereka melanjutkan perjalanannya masing-masing, dan akupun meneruskan perjalananku.maka ketika aku tidur, aku bermimpididatangi seoranglaki-laki berkulit hitam tangannya membawa sebuah piring yang di penuhi dengan ranting-rantihng pohoin dan diatasnya terdapat sepotong daging babi.kemudian dia berkata kepadaku: makanlah! Aku menjawab : Aku tidak mau, ini adalah daging babi, ia berkata : makanlah! Aku menjawab aku tidak mau, ini adalah daging babi, haram. Dia berkata : kamu harus memakannya
Akupun mengulai kembali penolakkanku.tetapi kemudian dia membukkan rahangku, dan meletakkan daging itu dalam muutku, akumerasa takut untuk membuang( memuntahkan)nya , dan aku tidak ingin menelannya dalam keadaan demikian itu aku terbangun maka demi alloh setelah kejadian itu selama 30 hari 30 malam , tidak ada makanan yang aku makan atau minum, karena yan g akan makan dan minum tidak memberikan rasa puas pada diriku dan juga karena aku masih merasakan kelezatan daging itu di dalam mulutku, dan bau harum daging itu di dalam lubang hidungku.

SEJARAH PEMBAWA THORIQOH AL-TIJANIYYAH KE-INDONESIA

Sejarah Sayyid Ali At-Thoyyib at-Tijany al-Hasany

Sayyid Ali bin Abdullah at-Thoyyib al-Sufyani al-Azhari
al-Madani al- Hassani R.A
Al-Imam Ahli Thoriqoh al-Tijaniyyah
al-Allamah al-Fadhil al-Shodiq fi-Hubbil Habibb

Syeikh Ali bin Abdullah bin Mustofa al-Thoyyib al-Hasany
Al-Amin al-Fatwa Syafi’iyyah Sabiqon bil Madinah al-Munawwarah

Geneologi

Sayyidina Syeikh al-Arif Billah al-Waliy al-kabir Habibb al-Syarif Ali bin Abdullah al-Thoyyib al-Azhari al-Madani al-Hassani RA, adalah seorang Ulama besar yang berasal dari Kota Rosulullah SAW. Beliau dilahirkan di Madinah al-Munawwarah kira-kira pada penghujung Abad ke-19 dan berasal dari keluarga keturunan ahlul Bayt Nabi SAW. Sayyid Ali al-Thoyyib adalah putra dari Syarif Abdullah bin Mustofa bin Hamid bin ahmad bin Sayyid Muhammad al-Thoyyib al-Sufyani bin Sayyidi Muhammad bin Maulay Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ustman bin Muhammad bin Ahmad Muhammad bin ‘Isa bin Ustman bin Ismail bin Abdul Wahhab bin Yusuf bin Syaidan bin Ammaroh bin Yahya bin Abdullah bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Maulana Idris al-Azhari bin Maulana Idris al-Akbar (Maulana Idris al-Akbar ini adalah kakak beradik dengan Sayyid Muhammad an-Nafsu Zakiyyah “ Muhammad an-Nafsu Zakiyyah ini adalah kakek moyangnya syekh Ahmad at-Tijani” ) bin Abdullah al-Kamil bin Hassan al-Mutsanna bin Hassan ash-Shibti bin Sayyidina Ali bin Abi Tholib Karramallahu Wajhahu, Suami dari Sayyidah Siti Fatimah al-Zahro bintu Sayyidina Wa Habibana Muhammad Rosulullah SAW.
Nama al-Thoyyib pertama kali berasal dari nama buyut Beliau Yakni Sayyidina Muhammad Yang bergelar al-Thoyyib As-Sufyani (“Sayyidina Muhammad yang bergelar al-Thoyyib as-Sufyani ini adalah salah satu sahabat dekat Assyarif Sayyid Abil Abbas Ahmad Bin Muhammad al-Tijany dan sekaligus sahabat terdekat yang dicintai Syeikh Ahmad al-Tijani, dan Juga Beliau lah Yang Memandikan Jasad Syeikh Ahmad al-Tijani atas perintah langsung dari Syeikh Ahmad Tijani. Beliau juga sempat mengarang kitab al-Tijany Yakni Kitab al-Ifadatul Ahmadiyah.”dan nama Gelar al-Thoyyib disamping itu juga disebut juga as-Sufyani.) Dan nama marga/Fam al-Thoyyib al-Hassany  ini diteruskan kepada anak cucunya hingga saat ini.

Masa Menuntut Ilmu
            Semenjak usia dini, Sayyid Ali telah mendapatkan Pendidikan Agama pertama dari keluarganya sendiri, yang adalah Zurriyah Sayyidina Ali bin Abi Thalib “sang pintu kota Ilmu” Karramallahu Wajhahu. Kemudian pada usia 9 Tahun Beliau dibawa ke Negeri Mesir untuk menuntut Ilmu. Di Mesir, Sayyid Ali belajar di Universitas al-Azhar kairo, salah seorang gurunya yang terkenal adalah : Syeikh Hassan al-Saqa Rohimahullah, seorang Khotib di al-Azhar al-Syarif. Dalam Ilmu ushuluddin Beliau mengikuti Madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana dirumuskan oleh Imam Abu Hassan al-Ashari RA dan Imam Maturidi RA adapun dalam Ilmu Fiqih Sayyid Ali mengikuti Madzhab al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’I RA. Sayyid Ali merupakan pelajar yang tekun disamping dikaruniai kecerdasan yang luar biasa ditambah lagi ketaatannya beribadah kepada Allah SWT dengan mengikuti Sunnah Kakeknya Yakni Nabi Muhammad SAW. Setelah tinggal di Mesir , selama kurang lebih 20 tahun, Sayyid Ali Hijrah menuju kota Makkah dan mengajar ilmu agama di sana selama kurang lebih 6 tahun. Di Hijaz al-Haromain, Sayyid Ali berguru pula kepada Ulama-ulama setempat, Khususnya kepada al-Sayyid al-Habibb Husain al-Hibshi Rohimahullah, seorang Mufti Madzhab Imam Syafi’i di Makkah al-Mukarromah.


Sayyid Ali al-Thoyyib Mufti Madzhab Syafi’i.
            Setelah tinggal di Makkah, Sayyid Ali Pulang ke Kampung halamannya (Madinah). Karena kepakaranya dalam Ilmu Fiqih khususnya Madzhab Imam Syafi’I, beliau dipercaya untuk mengajar dan memberi fatwa (menjadi Mufti) berdasarkan Madzhab Syafi’I di Madinah al-Munawwaroh. Meskipun saat itu usianya sangat muda namun karena keahliannya, Beliau diberi Gelar sebagai “Amin al-Fatwa al-Syafi’iyyah” sebagai bukti pengakuan masyarakat Madinah akan kedalaman ilmu agama Beliau.

Sayyid Ali al-Thoyyib Kholifah Toriqoh al-Tijaniyyah
            Sayyid Ali disamping mempelajari ilmu-ilmu syariat, Beliau kemudian mempelajari Ilmu Tasawuf, Khususnya Thoriqoh al-Muktabarah. Dalam Ilmu Thoriqoh, Sayyid Ali mengikuti Thoriqoh al-Mukatabaroh al-Tijaniyyah yang dibangun oleh Sayyidina Syeikh Abul Abbas Ahmad al-Tijani RA (1737-1815). Pertama beliau berguru kepada Syeikh Adam bin Muhammad Syaib al-Barnawi RA kemudian kepada Syeikh Muhammad Hasyim RA, seorang Ulama Ahli Hadits termahsyur di Madinah dan lebih dikenal dengan nama Imam Alfa Hasyim RA.
Dalam kitab “al-Munyat Fi Thoriqot al-Tijaniyyah” yang disusun oleh Syeikh Ali al-Thoyyib RA disebutkan sanad Ijazah Beliau dalam Thoriqoh Tijaniyyah : “Dan telah mengijazahkan kepadaku (Sayyid Ali al-Thoyyib) seluruh awraad Thoriqot Tijaniyyah (Yaitu) Syeikhul Allamah Adam bin Muhammad Syaib al-Barnawi RA pada Tahun (Musim) Haji 1324 Hijriyyah (1906/1907) dan menurut beliau, telah mengizinkan kepadanyaWA NAFAANA BIHI AMIN. Dan bagiku ada sanad lainnya di dalam Taqdim dan Kholifah (Yaitu) Syaikhina al-Allamah Zaman Imam al-Hadits di kota Madinah al-Munawwarah yaitu Syeikh Muhammad al-Hasyimi yang termahsyur dengan nama Alfa Hasyim dan Beliau dari al-Hajji Sa’id dari Syeikh Umar bin Sa’id (al-Fouthi) dari Syeikh Muhammad Ghola dari Syaikhina Ahmad al-Tijany RA dari Nabi Muhammad SAW dengan Muwajahah dan Musyafahah”
Diriwayatkan pula bahwa Syeikh Alfa Hasyim telah memberikan ijazah Toriqoh Tijaniyyah kepada Sayyid Ali al-Thoyyib pada bulan rajab 1334 H bersetuju dengan tahun 1915/1916 M.
Menurut keterangan dari Syeikh Fakhruddin al-Owaisi (Madinah) bahwa Sayyid Ali al-Thoyyib menerima pula ijazah Tijaniyyah dari Syeikhul Islam Ibrohim Niyasse RA yang menerima ijazah dari Syeikh Ahmad Sukayrj dari Syeikh Ahmad Abdal Lawi dari Syeikh Ali Tamasini dari Syeikh Quthbil Maktum Ahmad Tijani dari Rosulullah SAW. Keterangan tersebut ada dalam Kitab “Rihlah al-Hijaziyah” susunan Syeikh Ibrohim Niyasse RA.
Seorang Ahli Sejarah Afrika bernama Ighba Visigh menyatakan dalam karangannya Bahwa Sayyid Ali al-Thoyyib setelah belajar kepada Syeikh Alfa Hasyim, beliau Kemudian kembali ke Mesir dimana menurut Beliau masyarakat Umum di sana tidak banyak mengetahui tentang Tariqoh Tijaniyyah. Namun Sayyid Ali al-Thoyyib mengatakan bahwa ada sekitar 12.000 orang yang telah masuk Tariqoh Tijaniyyah di Mesir pada masa itu. (Jadi Sayyid Ali al-Thoyyib itu, Beliau sebelum menyebarkan Thoriqoh al-Tijaniyyah di Indonesia, Beliau juga sempat menyebarkat Thoriqoh al-Tijaniyyah di Mesir, dan sehingga lebih dari 12.000 orang masuk dalam Ajaran Syeikh Ahmad al-Tijany yakni Thoriqoh al-Tijaniyyah)

Pintu Gerbang/Perantara/Penyambung dan Penyebar Tariqoh Tijaniyyah Di Indonesia
Sekitar Tahun 1920-an Sayyid Ali berkunjung ke Indonesia dalam rangka dakwah. Informasi awal tentang kedatangan Sayyid Ali al-Thoyyib ke Indonesia dicatat oleh seorang orientalis Belanda yang bernama G.F Pijper dalam bukunya yang berjudul “Fragmenta Islamica”, menurut keterangan yang dihimpun oleh G.F Pijper yang mengaku telah bertemu dan melakukan wawancara dengan Sayyid Ali al-Thoyyib di Lereng Gunung Gede, Cianjur-Jawa Barat. Sayyid Ali al-Thoyyib pertama kali datang ke Cianjur dan menjadi kepala Madrasah Muawwanat al-Ikhwan selama 3 Tahun, kemudian pindah ke Kampung Arab Empang, Bogor dan menjabat Kepala Madrasah al-Falah al-Wahidiyah selama 3 Tahun, kemudian pindah lagi ke Tasikmalaya dan kembali mengajar selama 2 Tahun, kemudian pindah lagi ke Cianjur, selain itu Sayyid Ali al-Thoyyib juga mengunjungi beberapa tempat di Pulau Jawa sebelum akhirnya kembali ke Madinah al-Munawwaroh.

Murid-murid Sayyid Ali al-Thoyyib di Indonesia
Berikut ini adalah beberapa anak murid Sayyid Ali al-Thoyyib di Indonesia di antaranya :
  1. Habibb Muhammad bin Ali al-Thoyyib (Wafat 1987 M) Putra kandung Sayyid Ali al-Thoyyib dan tergolong sebagai sesepuh Ulama Kabupaten Bogor dan sekaligus Kholifah Tijaniyyah di Indonesia saat itu. Sepeninggal Ayahanda ke Madinah, Habibb Muhammad meneruskan jejak langkah Ayahanda sebagai Ulama dan Penyebar Thoriqoh Tijaniyyah di Indonesia dan tergolong sesepuh Muqoddam Tijaniyyah di Indonesia. Dan putra-putra dari Habibb Muhammad al-Thoyyib yang meneruskan jejak langkah ayahandanya adalah: al-Muqoddam al-Habibb Luqman al-Thoyyib (Caringin-Bogor) yang banyak sekali mendapatkan ijazah Thoriqoh Tijaniyyah. al Muqoddam al-Habibb Anwar al-Thoyyib (Garut) beliau juga banyak sekali mendapatkan ijazah Thoriqoh Tijaniyyah. Dan sekarang di Empang-Bogor dilanjutkan oleh al-Habibb Salim al-Thoyyib atas izin al-Habibb Luqman al-Thoyyib. Di samping itu, ada pula Putra kandung Sayyid Ali al-Thoyyib yang tinggal di Cianjur, Yakni Habibb Ahmad bin Ali al-Thoyyib RA, yang juga dikenal sebagai Ulama setempat dan salah satu dari guru dari Ulama besar Cianjur yakni KH Aang Nuh (Gentur-Jambu Dipa)
  2. KH Abbas bin KH Abdul Jamil (Wafat 1946 M) sesepuh dari salah satu Pondok pesantren paling berpengaruh di Indonesia Yakni Ponpes Buntet-Cirebon, Ikut berjuang di masa Perang Kemerdekaan dan memimpin tentara Hizbullah di daerahnya. Untuk penyebaran Tariqoh Tijaniyyah, KH Abbas dibantu pula oleh adik kandungnya Yakni KH Anas dan KH Muhammad Akyas, yang juga mempunyai Ijazah Tariqoh Tijaniyyah dari Sayyid Ali al-Thoyyib. Tiga bersaudara ini adalah pintu Utama dari penyebaran Tariqoh Tijaniyyah di Pulau Jawa khususnya di Jawa Tengah dan di Jawa Timur.
  3. KH Nuh bin Idris (Wafat 1966), Beliau adalah keturunan bangsawaan Cianjur dan sesepuh Ulama se-kota Cianjur. Pada masa mudanya belajar di berbagai pesantren di Jawa Barat seperti di Pesantren Gudang, Tasikmalaya yang diPimpin Oleh Mama Ajengan KH Sujai. Setelah itu, Beliau kemudian berangkat ke Tanah Suci Makkah dan Madinah dan belajar kepada berbagai Ulama di sana seperti kepada Syeikh Mukhtar Atharid RA. Sepulangnya dari tanah Suci, Beliau mendirikan Perguruan Islam al-Ianah di Cianjur dan sempat pula menjadi Dewan Konstituante RI pada tahun 1950-an. KH Nuh bin Idris ini adalah ayah Kandung dari KH Abdullah bin Nuh, seorang Ulama besar di Indonesia dan Pendiri Perguruan Islam al-Ghozali dan Majelis al-Ihya Bogor.
  4. KH Ustman Dhomiri (Wafat 1955 M) seorang Ahli Tariqoh Qodiriyyah di Cimahi Bandung. KH Ustman Dhomiri bertemu dengan Syeikh Ali al-Thoyyib di Jawa Barat, namun tidak sempat menerima Ijazah Tariqoh Tijaniyyah dari Beliau. Setelah kepulangan Sayyid Ali al-Thoyyib ke Madinah, KH Ustman Dhomiri kemudian menyusul ke Madinah dan Menerima Ijazah Tariqoh Tijaniyyah dari Sayyid Ali al-Thoyyib pada tanggal 29 sya’ban 1350 H (1931 M). sepulangnya dari Madinah, KH Ustman Dhomiri sempat tinggal di Jatinegara, Jakarta hingga saat kemerdekaan Indonesia tahun 1945. KH Ustman Dhomiri kemudian kembali Tinggal di Cisangkan Hilir, Cimahi, dimana didirikan Pondok bagi para Muriddin dan juga Masjid Baiturohmat (Cimahi-Jawa Barat)
  5. KH Badruzzaman bin Muhammad Faqih (Wafat 1972 M), ulama besar asal Kota Garut-Jawa Barat. Semasa muda belajar di Kota Suci Makkah dan Madinah sepulangnya kemudian mengasuh Pondok Pesantren al-Falah Biru-Garut. Ulama besar ini mendalami berbagai macam ilmu-ilmu agama Islam, keras yakni pemimpin tentara Hizbullah/Sabilillah Garut di masa revolusi fisik. Sempat pula menjabat sebagai wakil ketua kehormatan majelis ulama Jawa Barat semasa hidupnya. Perlu diketahui bahwa hampir seluruh ulama di Kabupaten Garut memiliki afiliasi kepada KH. Badruzzaman, di mana saat ini anak cucu beliau meneruskan perjuangannya, yaitu diantaranya : KH. Dadang Ridwan (Rancamaya), KH Ikhyan (Samarang), DLL
  6. Al-Imam al-Muhaddits Allamah Syeikh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani (Wafat 1990 M) Syeikh Yasin dilahirkan di Makkah pada tahun 1915 M, dari kedua orang tua yang berasal dari Padang, Sumatra Barat. Beliau adalah seorang ulama besar dan pakar Ilmu Hadits di Haromain, semasa hidupnya beliau digelari “al-Musnid al-Ashr”, beliau tinggal di Makkah dan memimpin Madrasah Islam, “Darul Ulum” di sana. Syeikh Yasin al-Fadani mengambil ijazah Thoriqoh Tijaniyyah dari Syeikh Ali al-Thoyyib RA. Dan salah seorang ulama Indonesia yang mengambil sanad dan ijazah Thoriqoh Tijaniyyah dari Syeikh Yasin al-Fadani adalah almarhum KH. Ahmad Jauhari Khotib (Sumenep-Madura). Ayah kandung dari almarhum KH. Muhammad Tijany bin Ahmad Jauhari (mantan Sekretaris Jenderal Rabithah Alam Islami).
  7. Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki RA, mufti Maliki Kota Makkah dan ayahanda dari Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki RA yang termahsyur itu. Beberapa ulama-ulama Indonesia lainnya yang dinyatakan sebagai anak murid Sayyid Ali al-Thoyyib di antaranya ialah: KH. Muhammad Sujai (Pesantren Gudang Tasikmalaya), KH Asyari Bunyamin (Garut) dan KH Ahmad Sanusi bin H. Abdurrohim, seorang ulama ahli tafsir dan pendiri “al-Ittihadul Islamiyah” yang berasal dari Sukabumi-Jawa Barat.

Daftar nama-nama ulama tersebut di atas secara langsung menunjukkan bahwa Sayyid Ali al-Thoyyib adalah seorang Syaikhul Masyaikh (gurunya Para guru) di mana murid-muridnya adalah ulama-ulama besar dan berpengaruh di daerahnya masing-masing. Setelah Sayyid Ali pulang ke Madinah, anak muridnya aktif mengembangkan Thoriqoh Tijaniyyah di daerah masing-masing.

Beberapa Karya Tulis Sayyid Ali al-Thoyyib
            Sayyid Ali al-Thoyyib RA sebagaimana ulama lainnya menyusun beberapa kitab agama Islam baik dalam Ilmu Tauhid, Fiqih maupun Akhlaq/Tasawwuf. Di antara kitab yang disusun oleh beliau diantaranya adalah:
  1. Al- Munyat fi Thoriqot al-Tijaniyyah, kitab ini adalah ikhtisar dari kitab Munyatul Murid susunan Syeikh Allamah Ahmad Baba Syinqithy al-Alawy al-Tijany RA (dicetak di Tasikmalaya tahun 1346 H/ 1927 M).
  2. Tuhfatul Mubtadiin Fima Yajibu Ma’rifatuhu Min al-Din, berisikan dasar-dasar aqidah Ahussunnah wal Jama’ah, Fiqih madzhab Syafi’I dan Tasawwuf Thoriqoh Tijaniyyah (dicetakkan Isa al-Bab al-Halabi-Mesir: tanpa tahun)
  3. Nadzam Asma’ul Husna berisikan Nadzam wiridan Asma’ul Husna (dicetak di Tasikmalaya tahun 1346 H).
  4. Tuhfatul Ahiba fi Fadli Madinah al-Munawwaroh wa Manaqibi Sayyidi al-Syuhada, kitab ini dimulai dengan penjelasan tentang “Tanzih (Dzat Allah) al-Haq Subhanahu Wa Ta’ala” lalu diteruskan dengan penjelasan tentang keutamaan Kota Madinah dan Manaqib para syuhada (tanpa tahun).
  5. Mishkatul Anwar fi Shiroh al-Nabi al-Mukhtar berupa sirah (riwayat Nabi SAW). Dan masih banyak lagi kitab-kitab susunan Syeikh Ali al-Thoyyib RA.

Beberapa Nukilan dari Kitab Sayyid Ali al-Thoyyib RA:
  1. Aqidah Tauhid: dikutip dari kitab “Tuhfat al-Ahiba fii Fadli al-Madinatu wa Manaqibi Sayyidi al-Syudaha”: susunan Sayyid Allamah Ali bin Abdullah bin Mustofa al-Thoyyib as-Sufyani al-Hasani al-Tijany al-Madani RA. Berkata Sayyid Ali al-Thoyyib “ini suatu muqodimah pada menyatakan menyucikan haq Allah SWT. Ketahui olehmu mudah-mudahan memberi petunjuk akan kami oleh Allah SWT dan akan engkau. Akan bahwasanya Allah Ta’ala Azza wa Jalla itu Yang Esa pada Kerajaan-Nya. Yang menjadikan sekalian alam dengan sekalian yang di atas dan yang di bawah. Dan Arsy dan Kursy. Dan tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit. Dan barang yang antara keduanya. Bermula sekalian makhluq itu digagahi sekaliannya dengan Qudrot-Nya. Tiada oleh bergerak oleh satu semut yang kecil melainkan dengan izin-Nya. Tiada ada serta Allah Ta’ala itu yang mengatur kepada makhluq dan tiada sekutu bagi Allah Ta’ala pada kerajaan-Nya. Yang hidup yang berdiri dengan sendirinya. Tiada mengambil akan Allah Ta’ala oleh mengantuk dan tiada tidur. Yang mengetahui akan alam ghoib dan yang dilihat. Tiada samar atas Allah Ta’ala oleh suatu pada di dalam bumi dan tiada pada di dalam langit. Yang mengetahui akan barang yang pada darat dan laut. Dan tiada gugur daripada satu daun melainkan mengetahui ia akan Dia. Dan tiada suatu biji pada tempat yang gelap dan tiada yang basah dan tiada yang kering melainkan pada kitab-Nya yang nyata. Telah meliputi dengan tiap-tiap suatu ilmunya. Dan menghinggakan Ia akan tiap-tiap suatu bilangan dan telah meluaskan Ia akan sekalian alam, Rahmat-Nya dan Hilim (santun)-Nya. Memperbuat Allah bagi barang yang menghendaki Ia. Yang Kuasa atas barang yang menghendaki Ia. Bagi Allah itu Kerajaan dan Kaya. Dan bagi Allah Ta’ala kemuliaan dan kekal. Dan bagi Allah Ta’ala itu Puji dan Bagi Allah Ta’ala itu beberapa nama yang elok nan indah. Tiada yang menolak bagi barang yang telah menghukumkan oleh Allah Ta’ala dan tiada yang mencegah bagi jalan yang telah memberi Ia. Memperbuat Allah akan barang yang menghendaki pada Kerajaan-Nya. Dan menghukumkan Ia pada makhluq-Nya akan barang yang menghendaki Ia. Dan tiada mengharap Ia akan pahala dan tiada takut Ia akan siksa. Tiada ada atas Allah Ta’ala itu haq dan tiada atas Allah Ta’ala itu hukum. Maka bermula-mula tiap-tiap nikmat daripada Allah itu karunia dan bermula tiap-tiap siksa itu daripada Allah itu adil. Tiada ditanya Allah daripada barang yang memperbuat Ia. Bermula sekalian makhluq itu ditanya sekaliannya. Bermula Allah Ta’ala itu ada sebelum menjadikan makhluq. Tiada ada bagi Allah itu sebelumnya. Dan tiada kemudiannya.
  2. Tentang awraad Tijaniyyah: dalam kitabnya “Tuhfatul Mubtadiin” Sayyid Ali menyatakan: “Dan mereka (para ulama) berkata bahwa barangsiapa yang tidak  memiliki wirid, maka ia tak ubahnya seperti kera. Dan Allah telah memberkahi al-Faqir ini (Sayyid Ali al-Thoyyib) dengan mengambil Thoriqoh Tijaniyyah dari ulama-ulama besar al-Amilin” (hal:127). Dan aku berikan ijazah (Thoriqoh Tijaniyyah) kepada siapapun dari golongan Ahlussunnah wal Jama’ah dan mengikuti salah satu empat madzhab. Dengan syarat bahwa dia tidak meninggalkan thoriqoh ini sampai meninggalnya dan tidak menggabungkan dengan thoriqoh manapun selainnya.(hal:129)
  3. Tentang akhlaq muslim: berkata al-Imam al-Faqih Sayyidi Syeikh Ali bin Abdullah al-Thoyyib al-Hasani al-Idrisi RA “Tuntut olehmu akan pangkat iman dan sungguh-sungguh olehmu dengan memegang Islam hingga sampai kepada martabat Ihsan. Maka sekalian martabat Iman itu tiada yang mengetahui dengan dia melainkan sekalian orang yang mempunyai pengetahuan yang sempurna dan yang mempunyai keyakinan. Maka sungguh-sungguh olehmu atas menghasilkan sekalian cabang-cabang yang bermula sekalian perhimpunannya itu yaitu iman yang sempurna dan himpunkan olehmu akan dia dengan tiada menanti-nanti. Maka bermula ia cabang-cabang iman itu yaitu lebih atas 70 cabang yang telah diriwayatkan daripada Nabi kita Thoha yang bangsa Adnani. Maka sambut olehmu akan dia daripada ahlinya padahal engkau menuntut pengetahuan dan memberi pengetahuan akan orang dengan sungguh-sungguh dan meneguhkan dan ambil olehmu akan dia daripada aku supaya engkau mengetahui akan bilangannya serta barang yang ditambahkan dengan sebaik-baiknya keterangan. Inilah cabang-cabang iman. Yaitu men-tauhidkan akan Tuhan. Dan percaya dengan Rosul-Nya dan mendirikan sembahyang. Dan mendirikan zakat dan mengerjakan puasa dan mendirikan haji dan memperbuat jihad yang kedua (jihad ada 2, jihad Ashgar “kecil” yakni memerangi musuh, dan yang kedua jihad Akbar “besar” yakni memerangi hawa nafsu). Dan wudhu. Dan mandi wajib. Dan mandi pada hari Jum‘at. Dan sabar dengan mengerjakan taqwa. Dan syukur dengan sekalian rupa petunjuk. Dan wara’. Dan mempunyai (sifat) pemalu. Dan mempunyai kesentosaan yang sempurna. Dan kasihan kepada orang. Dan taat akan Sulthon (Penguasa). Dan ingat. Dan menahan daripada menyakitkan (yakni mulut). Dan menyempurnakan amanat. Dan menolong bagi orang yang di zholimi dengan baik. Dan meninggalkan zholim. Dan meninggalkan mengupat dengan sengaja (ghibah). Dan meninggalkan mengadu-ngadu. Dan meninggalkan mengintai kejahatan. Dan memasuki (rumah) dengan minta izin. Dan mengejapkan mata daripada barang yang tiada halal. Memelihara telinga daripada yang demikian itu. Dan mendengarkan perkataan yang bagus. Dan mengikut akan yang paling baik. Dan menolak musuh dengan baik seperti kepada orang yang hampir (seperti kepada sahabatnya) saja. Dan tiada mengeluarkan perkataan yang jahat. Dan menuturkan perkataan yang baik. Dan memelihara lidah. Dan mengerjakan taubat. Dan tawakkal. Dan khusyu’. Dan meninggalkan sia-sia perkataan atau kelakuan. Dan mengerjakan barang yang manfaat. Dan meninggalkan barang yang tiada manfaat karena memelihara agama. Dan mengekalkan menyempurnakan janji dan amanat. Dan mengekalkan atas taqwa. Dan bertolong atas kebaikan tiada atas zholim. Dan mendirikan taqwa dan kebaikan. Dan mendirikan taat. Dan benar perkataan. Dan meninggalkan dusta. Dan menyuruh kebaikan. Dan menegahkan kejahatan denga jalan yang bagus. Dan mendamaikan orang yang bercerai-berai/ berkelahi. Dan merendahkan diri bagi ikhwan. Dan baik kepada ibu dan bapak. Dan tiada melawan kepada keduanya selama keduanya berada pada jalan ajaran rosulullah. Mendoakan rahmat akan sekalian akan manusia dan jin. Dan menghormati akan orang yang lebih tua. Dan mengasihi akan orang yang lebih muda/ kecil. Dan mendirikan sekalian syara’. Dan meninggalkan sekalian pengakuan jahiliyah dan jahat.


Penutup:

Seorang penyair pecinta Syeikh al-Sayyid Ali al-Thoyyib menulis dalam syairnya:

Sayyid Ali putra Abdullah al-Hasani
            Madzhabnya Sunni serta Syafi’i
Thoriqohnya Muhammadi al-Tijany
            Penyambung utaian sanad kami
Sayyid Ali al-Thoyyibi….
            Moyangnya Ibrohim al-Hanifi
Kakeknya al-Musthofa al-Nabi
            Ayahnya singa Allah Sayyidina Ali
Moga rahmat salam Ilahi Robbi
            Bagi mereka yang dicintai
Sepanjang zaman ini
            Senantiasa kekal abadi

Al-Imam ahli Toriqoh al-Tijaniyyah al-Allamah al-Fadhil al-Shodiq fi-Hubbil Habibb Syeikh Ali bin Abdullah al-Thoyyib Amin al-Fatwa Syafi’iyyah Sabiqon bil Madinah al-Munawwaroh. Beliau setelah tinggal dan menyebarkan ajaran agama Islam dan ilmu Thoriqoh Tijaniyyah di Indonesia. Kemudian kembali tinggal di Madinah al-Munawarroh sampai wafatnya pada tahun 1944 M.
Innalillahi wa inna ilai Roji’un

Marilah Kita tanamkan doktrin sebagai seorang murid yang siap menjadi hamba sahaya dari seorang guru walaupun guru itu hanya mengajarkan satu huruf (alif). “Fatwa Sayyidina Ali”

Dan dengan sejarah Syeikh Ali al-Thoyyib ini adalah moqoddimah dari kitab ini (Faidhur Robbaniy “Manaqib Syeikh Ahmad al-Tijany”). Semoga menjadi kekuatan hati kita di dalam Tijany (semua muhibbin khususnya ikhwan Tijaniyyah) agar berhati-hati dalam mengamalkan Thoriqoh Tijaniyyah. Dan semoga kita menjadi murid Syeikh Ahmad al-Tijany yang melalui penyambung, pintu gerbang, penghantar kita kepada Syeikh Ahmad al-Tijany yakni dengan perantara Syeikh Ali al-Thoyyib ini agar kita diistiqomahkan di dalam thoriqoh ini. Amin