Wednesday, August 7, 2013

SYARAH KITAB USHUL AL-IMAN karangan IMAM MUHAMAD BIN ABDUL WAHHAB RAHIMAHULLAHU TA'ALA

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


SYARAH KITAB USHUL AL-IMAN KARANGAN IMAM MUMAHAMAD BIN ABDUL WAHHAB.
Disyarah oleh, Abuz Zubair Hawaary.
BAB : MAKRIFATULLAH AZZA WA JALLA WAL IMAN BIHI
Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab memulai kitab Ushulul Iman-nya dengan pembahasan mengenai Makrifatullah wal Iman Bihi, maksudnya ; bab yang membahas tentang pengenalan terhadap Allah Azza wa Jalla dan bagaimana cara mengimaninya.
Sesuai dengan materi kitab ini yang membahas pokok-pokok keimanan, maka seyogyanyalah, masalah makrifatullah ini dahulukan sebagaimana yang dilakukan imam dalam kitabnya ini begitu juga kitab beliau yang lainnya seperti Al-Ushul Ats-Tsalatsah.
Yang dimaksud dengan makrifutullah yaitu ; mengenal Allah Azza wa Jalla dengan hati, pengenalan yang mendorong seseorang untuk menerima apa yang disyari’atkan-Nya serta tunduk dan patuh kepada-Nya, dan berhukum dengan syari’at-Nya yang telah dibawa oleh Rasul-Nya Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallama.
Seorang hamba dapat mengenal Robb-nya dengan beberapa hal, diantaranya; dengan melihat dan men-tadabburi ayat-ayat syar’iyyah yanga ada dalama Kitabullah Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wasallama, ayat-ayat Kauniyah yaitu makhluk-makhluk ciptaan Allah Ta’ala. Sesungguhnya manusia setiap kali ia melihat dan men-tadabburi ayat-ayat tersebut bertambahlah ilmunya terhadap Sang Pencipta yang diibadati-Nya, Allah Ta’ala berfirman :
“Dan dibumi ada tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin, dan begitu juga didalam diri kalian sendiri, maka apakah kalian tidak melihat?”. (QS : Adz-Dzariyat : 20-21).[1]
Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah – semoga Allah merahmatinya -menjelaskan, “Ar-Robbu Tabaroka wa Ta’ala mengajak hamba-hamba-Nya didalam Al-Quran Al-Karim untuk mengenal-Nya dengan dua cara :

Pertama : melihat dan merenungi makhluk-makhluk-Nya.
Kedua : tafakkur dan tadabbur ayat-ayat-Nya.
Yang pertama adalah ayat-ayat-Nya yang dapat disaksikan, dan yang kedua ayat-ayat-Nya yang didengar dan dipahami.
Jenis yang pertama  seperti firman Allah :
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, dan kapal yang berlayar dilaut dengan apa yang mendatangkan manfaat bagi manusia …”. (QS : Al-Baqoroh 164)
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (QS : Ali Imron : 190)
Dan yang kedua seperti firman-Nya :
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qu’an?”. (QS : An-Nisa’ : 84)
“Kitab yang Kami telah menurunkan-Nya kepadamu dengan diberkati agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya”. (QS. Shood : 29).[2]
Kemudian Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwasanya adanya makhluk ini menunjukkan adanya perbuatan, dan perbuatan menunjukkan atas sifat yang dimiliki pembuatnya yaitu ; wujud, Qudroh, Masyi-ah, dan Ilmu. Karena mustahil perbuatan tersebut muncul begitu saja dari sesuatu yang tidak ada atau dari yang ada tapi tidak memiliki kekuasaan, kehidupan dan ilmu.
Apa yang ada pada makhluk-makhluk berupa manfaat dan kebaikan menunjukkan atas rahmat Allah, musibah, kekerasan, hukuman menunjukkan murka-Nya, pemulian, pendekatan dan perhatian yang ada pada ciptaan-Nya menunjukkan Mahabbah-Nya, dan permulaan sesuatu dari sedikit dan lemah kemudian menjadi sempurna dan habis menunjukkan terjadinya kiamat, dan keadaan-keadaan tumbuhan, hewan, serta pengaturan air menunjukkan bahwa hari berbangkit itu mungkin dan tidak mustahil …
Intinya, apa-apa yang telah diciptakan atau dilakukan Allah adalah dalil atau burhan yang  paling menunjukkan atas sifat-sifat-Nya, dan kebenaran apa yang telah diberitakan oleh rasul-rasul-Nya.[3]
Makrifatullah itu ada dua macam :
Pertama : makrifah iqror, yaitu yang sama semua manusia dalam hal ini, baik yang sholeh maupun yang keji, yang ta’at ataupun yang bermaksiat.
Kedua : makrifah yang menimbulkan rasa malu terhadap-Nya, cinta kepada-Nya, keterikatan hati dengan-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, takut terhadap-Nya, kembali kepada-Nya, tenang dengan-Nya dan lari dari makhluk kepada-Nya.[4]
HADITS PERTAMA :
عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Artinya : Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhoinya ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama, ‘Telah berfirman Allah Ta’ala, ‘Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan, ia mensekutukanKu dengan selainKu dalam amalan tersebut, niscaya Aku tinggakan ia dan sekutunya”.[5]
SYARAH :
Hadits yang mulia ini adalah hadits Qudsi yang diriwayatkan Rasulullah dari Robb-Nya Tabaroka wa Ta’ala. Menjelaskan tentang kewajiban mengikhlaskan amal ibadah untuk Allah semata dan bahwasanya Allah Ta’ala tidak menerima amalan melainkan yang ikhlas untuk-Nya semata, bersih dari riya, sum’ah dan keinginan-keinginan duniwi lainnya.
Ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amalan disisi Allah,  setiap amalan yang tidak diniatkan untuk-Nya atau ternodai oleh sesuatu selain-Nya maka amalan tersebut sia-sia belaka, dan dihari kiamat pelakunya akan ditinggalkan Allah bersama orang-orang yang ia dulu riya terhadapnya.
Yang demikian itu karena riya’ adalah perbuatan syirik, dengan riya’ pelaku telah membuat tandingan bagi Allah, dan barangsiapa yang melakukan syirik maka rusaklah amalannya.
banyak sekali nash-nash yang mencela riya dan pelakunya, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah, diantaranya firman Allah Ta’ala :
“Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat. Yaitu orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang riya’ dalam sholatnya”. (QS. Al-Ma’un : 4-6)
“Maka barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Robb-nya maka hendaklah ia beramal sholeh dan tidak mensekutukan Robb-nya dengan sesuatupun dalam ibadahnya”. (QS. Al-Kahfi : 110)
Adapun dari Sunnah diantaranya hadits yang sedang kita bahas, dan hadits :
إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر ، قالوا : و ما الشرك الأصغر ؟ قال الرياء ، يقول الله عز وجل لأصحاب ذلك يوم القيامة إذا جازى الناس : اذهبوا إلى الذين كنتم تراءون في الدنيا ، فانظروا هل تجدون عندهم جزاء ؟!
“Sesungguhnya paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil”, mereka berkata, ‘Apa itu syirik kecil?’ beliau bersabda, ‘Riya, Allah Ta’ala berkata kepada mereka pada hari kiamat apabila ia memberikan balasan kepada manusia atas amalan mereka, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang dulu kalian riya kepada mereka di dunia, adakah kalian mendapatkan sesuatu disisi mereka?’.[6]
Dari Ibnu Abbas – semoga Allah meridhoi keduanya – ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama bersabda,
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللَّهُ بِه
‘Barangsiapa yang memperdengarkan, Allah akan memperdengarkannya dengannya, dan barangsiapa yang yang memperlihat-lihatkan, Allah akan memperlihatkannya dengannya’.[7]
Imam An-Nawawi menjelaskan makna hadits ini, “Ulama mengatakan, ‘Barangsiapa yang memperlihatkan amalannya dan memperdengarkannya kepada manusia agar mereka memuliakan dan menghormatinya serta meyakini kebaikannya, maka Allah akan memperdengarkannya dihari kiamat kepada manusia, dan membongkar keburukan (niatnya)”.[8]
Ada makna lain yang dinukilkan Imam An-Nawawi, yaitu : Allah memperlihatkan pahalanya tanpa memberikan kepadanya agar menjadi penyesalan baginya. Atau barangsiapa yang meniatkan untuk manusia dalam amalannya Allah akan perdengarkan kepada manusia pada hari kiamat dan itulah bagian yang akan didapatnya.
Berkata Al-Khoth-thobi, “Maknanya; barangsiapa yang beramal tidak ikhlas, ia melakukannya agar manusia melihat dan mendengarnya, akan diganjar atas perbuatannya tersebut, dihari kiamat Allah membongkar apa yang disembunyikannya”.[9] (bersambung)

[1] Syarh Tsalatsatul Ushul, Ibnul Utsaimin (hal.19). [2] Fawaidul Fawa-id (28).
[3] Lihat : Fawaidul Fawaaid (28-29 dan 41).
[4] Ibid (40).
[5] Dikeluarkan oleh Muslim (4/2289) kitab Az-Zuhud, no : 2985.
[6] Dikeluarkan oleh Ahmad (5/428, 429) dengan isnad Jayyid sebagaimana ditegaskan oleh Syeikh Al-Albany di Silsilah Ash-Shohihah (no.951)
[7] Dikeluarkan oleh Muslim ( no. 7667)
[8] Syarh Shohih Muslim oleh Imam An-Nawawi (18/316).
[9] Fathul Bari (11/408).
Post a Comment