Thursday, February 7, 2013

Wasiat SUNAN AMPEL

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Wasiat AS-SAYYID RAHMAT SUNAN AMPEL dan Sepuluh Asas Dakwah Wali Songo
Wasiat dalam kitabnya yaitu :
“ Jika sudah tiba zamannya dimana sungai-sungai hilang kedalamannya (banyak orang yg berilmu yg tidak di hiraukan lagi dalam majlisnya), pasar hilang gaungnya ( masjid sudah kosong, jika masjid-masjid tak ada adzan), wanita-wanita hilang malunya (tidak menututup aurat dsb) maka cepat-cepatlah mencari taman-taman surga untuk menyelamatkan diri. janganlah pulang sebelum mendapat hidayah dari Allah swt”

((#tambahan:) Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian bertemu taman-taman surga, maka mampirlah.” Lalu sahabat bertanya, “apakah taman-taman surga itu ya Rosulullah?”
“Taman-taman surga ialah majelis dzikir dan majelis ilmu.” )

Kalau kita buat dakwah berpegang
dengan azas dakwah ini maka dakwah kita akan mirip dengan dakwah nabi dan sahabat sehingga akan menjadi asbab hidayah keseluruh alam.

10 Asas Dakwah Walisongo :
1. Sugih tanpa banda (KAYA TANPA HARTA)
Artinya : jangan yakin pada harta.kebahagiaan bukan karena harta tapi karena ilmu agama dan iman

2. Ngluruk tanpa bala (MENYERBU
TANPA BANYAK ORANG/PASUKAN)
Artinya : jangan yakin dengan banyaknya jumlah kita,…yakin dengan pertolongan Allah pada kita

3. Menang tanpa ngasorake (MENANG/UNGGUL TANPA
MERENDAHKAN ORANG LAIN)
Artinya : dakwah jangan menganggap hina musuh-musuh kita…kita pasti unggul tapi jangan merendahkan orang lain (jangan sombong)

4. Mulya tanpa punggawa (MULIA
TANPA PUNGGAWA)
Artinya : kemuliaan hanya dalam
iman dan kemuliaan kekasih Allah
(WALI) bukan dengan banyaknya
pengikut

5. Mletik tanpa sutang (MELOMPAT TANPA PAKAI GALAH)
Artinya : niat utk dakwah krn Allah, Allah yang berangkatkan kita bukan asbab dunia seperti harta dsb

6. Mabur tanpa lar (TERBANG TANPA SAYAP)
Artinya : berdakwah jangan mengharap bantuan

7. Digdaya tanpa aji-aji (SAKTI
TANPA ILMU KEDIGDAYAAN)
Artinya : digdaya adalah kewibawaan, kewibawaan adalah
ilmu,ilmu adalah Allah, jadi datangilah majlis2 ilmu tanpa
mengharap akan jadi karomah atau sakti tapi mengharaplah jadi teliti dan hati2 dlm hidup

8. Menang tanpa tanding (MENANG TANPA PERANG)
Artinya : dakwah dengan hikmah,
kata-kata nyata dgn dasar yang nyata, akhlaq yg mulia dan menangislah pada Allah agar umat yg kita jumpai dan umat seluruh alam mendapatkan hidayah bukan dengan kekerasan…

Nabi saw bersabda yg maknanya :
‘Haram memerangi suatu kaum
sebelum kalian berdakwah (berdakwah dengan hikmah) kepada mereka”

9. Kuncara tanpa wara-wara
(TERKENAL TANPA PROMOSI ATAU
MINTA SUPAYA DI TERKENAL..IKLAN, SPANDUK, PROMOSI DAN LAIN SEBAGAINYA)
Artinya : ikhlas dalam berdakwah
bukan mengharap terbuka keagungan dan di agungkan manusia, bukan berharap terkenal dan di kenal manusia, tp serahkan semua keagungan dan menangislah bila Allah tdk mengenal kita

10. Kalimasada senjatane ( SENJATANYA IMAN DAN 2 KALIMAT SAHADAT)
Artinya : selalu mendakwahkan
kalimat iman, mengajak umat pada iman dan amal salih…


NASAB SILSILAH SUNAN AMPEL..SAYYID RAHMAT RAHMATULLOH
..Nasab lengkapnya sebagai berikut: Sunan Ampel bin Sayyid Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Sayyid Jamaluddin Al-Husain bin
Sayyid Ahmad Jalaluddin bin Sayyid Abdullah bin Sayyid Abdul Malik bin Sayyid Alwi Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin Sayyid Ali Khali’ Qasam bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Alwi bin Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid Isa bin Sayyid Muhammad
bin Sayyid Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Shadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah SAW


Enhanced by Zemanta

Wednesday, February 6, 2013

Apakah Ma'ul-Hayat Itu?

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

 Menurut Alqur-an Ma-ul Hayat itu adalah:
1-  Air yang mengandung hidup (MAA-UN  HAYYUN )

Sebagaimana tersebut dalam Alqur’an :


WAJA’ALNAA MINAL MAA-I KULLA SYAI-IN HAYYIN AFALAA YU’MINUUN.
Artinya:”Dan Kujadikan dari air tiap-tiap hidup, apakah kamu tidak beriman..?”.(surat Al Anbiya’/s.21/ayat 30)
Disini ada kalimat “AIR”, lalu kenapa dihubungkan dengan Iman?……   
2-  Air suci ( MAA-AN THOHUURON)

Sebagaimana tersebut dalam Alqur’an :
WA ANZALNAA MINAS SAMAA-I MAA-AN THOHUUROO.
Artinya:”Dan Aku turunkan dari langit air suci”.(surat Al Furqon/s.25/ayat  48)
Menurut makna dhohir, yang dimaksud “ LANGIT “ disini adalah “LANGIT DHOHIR” yaitu langit yang menurunkan air hujan. Dan kalau menurut makna bathin, yang dimaksud “LANGIT” disini adalah “BUKAN LANGIT DHOHIR akan tetapi  LANGIT RUHANI”.

3-  Air Barokah (MA-AN MUBAA ROKAN)

Sebagaimana tersebut dalam Alqur’an :
WANAZZALNAA MINAS SAMAA-I MAA-AN MUBAAROKAN.
Artinya:”Dan Saya turunkan dari langit air yang diberkahi”.(surat Qof/s.50/ayat.9)         
4- Air yang menyegarkan ( MAA-AN GHODAQOO)                                         

Maa-an Ghodaqoo yang dimaksud disini adalah air yang menyegarkan, yaitu menyegarkan pikiran, menyegarkan hati, menyegarkan perasaan. Sebagaimana tersebut dalam Alqur’an:
WA AN LAWIS TAQOOMUU ‘ALATH THORIIQOTI LA-ASQOINAAHUM MAA-AN GHODAQOO.
artinya:”Dan jika mereka itu tetap berjalan atas Thoriqotnya, benar-benar kami akan memberikan kepadanya air yang segar”.  (surat  Jin /s 72 /ayat 16).
Jadi air hidup, air suci, air barokah, air segar ini semua haqeqatnya adalah sama, yaitu MA-UL HAYAT. Akan tetapi  kalau makna dhohir yaitu air-air yang turun seperti air hujan, turun dari langit biasa. Oleh karena ada makna bathin, maka yang dimaksud Ma-ul Hayat itu bukan air biasa, akan tetapi air yang turun dari langit  ruchani (langit bathin) bukan langit dhohir.
Ditulisan berikutnya, akan kami sampaikan tentang HIKMAH MAUL HAYAT. Tulisan-tulisan disini kami atur sedemikian rupa, sehingga ketika dibaca tidak terasa begitu mendalam. Semua kembali kepada rohani kita masing-masing dalam merenungkannya.

Enhanced by Zemanta

Hakekat , Keadaan, Pengertian & Bersemayamnya Ruh

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


Jawaban singkat al-Qur’an atas pertanyaan  (lihat QS. Al-Isra’: 85), menunjukkan bahwa ruh akan tetap menjadi “rahasia” yang kepastiannya hanya bisa diketahui oleh Allah semata.
Selanjutnya al-Qur’an juga banyak menggunakan kata ruh untuk menyebut hal lain, seperti :
1. Malaikat Jibril, atau malaikat lain dalam QS. Al-Syu’ara’ 193, al-Baqarah 87, al-Ma’arij 4, al-Naba’ 38 dan al-Qadr 4.
(????? ?????? , ??? ????? , (?????? ???????
2. Rahmad Allah kepada kaum mukminin dalam QS. al-Mujadalah 22
?????? ???? ???
3. Kitab suci al-Qur’an dalam QS. Al-Shura 52. 6
????? ?????? ???? ???? ?? ?????
Tentang bagaimana hubungan ruh itu sendiri dengan nafs, para ulama berbeda pendapat mengenainya. Ibn Manzur mengutip pendapat Abu Bakar al-Anbari yang menyatakan bahwa bagi orang Arab, ruh dan nafs merupakan dua nama untuk satu hal yang sama, yang satu dipandang mu’anath dan lainnya mudhakkar.7
Makalah berikut ini berusaha menjelaskan beberapa pendapat Ulama Islam yang berusaha menjelaskan pengertian, kedudukan dan hubungan ruh dengan nafs dalam diri manusia, berdasarkan rentang urutan hidup mereka :
Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M)
Ibnu Sina mendefinisikan ruh sama dengan jiwa (nafs). Menurutnya, jiwa adalah kesempurnaan awal, karena dengannya spesies (jins) menjadi sempurna sehingga menjadi manusia yang nyata. Jiwa (ruh) merupakan kesempurnaan awal, dalam pengertian bahwa ia adalah prinsip pertama yang dengannya suatu spesies (jins) menjadi manusia yang bereksistensi secara nyata. Artinya, jiwa merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh. Sebab, tubuh sendiri merupakan prasyarat bagi definisi jiwa, lantaran ia bisa dinamakan jiwa jika aktual di dalam tubuh dengan satu perilaku dari berbagai perilaku 8 dengan mediasi alat-alat tertentu yang ada di dalamnya, yaitu berbagai anggota tubuh yang melaksanakan berbagai fungsi psikologis.
Ibnu Sina membagi daya jiwa (ruh) menjadi 3 bagian yang masing-masing bagian saling mengikuti, yaitu :
1. Jiwa (ruh) tumbuh-tumbuhan, mencakup daya-daya yang ada pada manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Jiwa ini merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh yang bersifat alamiah dan mekanistik, baik dari aspek melahirkan, tumbuh dan makan.
2. Jiwa (ruh) hewan, mencakup semua daya yang ada pada manusia dan hewan. Ia mendefinisikan ruh ini sebagai sebuah kesempurnaan awal bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik dari satu sisi, serta menangkap berbagai parsialitas dan bergerak karena keinginan. 9
3. Jiwa (ruh) rasional, mencakup daya-daya khusus pada manusia. Jiwa ini melaksanakan fungsi yang dinisbatkan pada akal. Ibnu Sina mendefinisikannya sebagai kesempurnaan awal bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik, dimana pada satu sisi ia melakukan berbagai perilaku eksistensial berdasarkan ikhtiar pikiran dan kesimpulan ide, namun pada sisi lain ia mempersepsikan semua persoalan yang bersifat universal. 10
Imam Ghazali (450-505 H/1058-1111 M)
Sebagaimana Ibn Sina, al-Ghazali membagi jiwa menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Jiwa nabati (al-nafs al-nabatiyah), yaitu kesempurnaan awal baqgi benda alami yang hidup dari segi makan, minum, tumbuh dan berkembang.
2. Jiwa hewani (al-nafs al-hayawaniyah), yaitu kesempurnaan awal bagi benda alami yang hidup dari segi mengetahui hal-hal yang kecil dan bergerak dengan iradat (kehendak).
3. Jiwa insani (al-nafs al-insaniyah), yaitu kesempurnaan awal bagi benda yang hidupdari segi melakukan perbuatan dengan potensi akal dan pikiran serta dari segi mengetahui hal-hal yang bersifat umum. 11
Jiwa insani inilah, menurut al-Ghazali di sebut sebagai ruh (sebagian lain menyebutnya al-nafs al-natiqah/jiwa manusia). Ia sebelum masuk dan berhubungan dengan tubuh disebut ruh, sedangkan setelah masuk ke dealam tubuh dinamakan nafs yang mempunyai daya (al-’aql), yaitu daya praktik yang berhubungan dengan badan daya teori yang berhubungan dengan hal-hal yang abstrak. Selanjutnya al-Ghazali menjelaskan bahwa kalb, ruh dan al-nafs al mutmainnah merupakan nama-nama lain dari al-nafs al-natiqah yang bersifat hidup, aktif dan bisa mengetahui. 12
Ruh menurut al-Ghazali terbagi menjadi dua, pertama yaitu di sebut ruh hewani, yakni jauhar yang halus yang terdapat pada rongga hati jasmani dan merupakan sumber kehidupan, perasaan, gerak, dan penglihatan yang dihubungkan dengan anggota tubuh seperti menghubungkan cahaya yang menerangi sebuah ruangan. Kedua, berarti nafs natiqah, yakni memungkinkan manusia mengetahui segala hakekat yang ada. Al-Ghazali berkesimpulan bahwa hubungan ruh dengan jasad merupakan hubungan yang saling mempengaruhi. 13 Di sini al-Ghazali mengemukakan hubungan dari segi maknawi karena wujud hubungan itu tidak begitu jelas. Lagi pula ajaran Islam tidak membagi manusia dalam kenyataan hidupnya pada aspek jasad, akal atau ruh, tetapi ia merupakan suatu kerangka yang saling membutuhkan dan mengikat; itulah yanmg dinamakan manusia.
Ibn Tufail (Awal abad IV/580 H/ 1185 M)
Menurut Ibn Tufail, sesungguhnya jiwa yang ada pada manusia dan hewan tergolong sebagai ruh hewani yang berpusat di jantung. Itulah faktor penyebab kehidupan hewan dan manusia beserta seluruh perilakunya. Ruh ini muncul melalui saraf dari jantung ke otak, dan dari otak ke seluruh anggota badan. Dan inilah yang yang menjadi dasar terwujudnya semua aksi anggota badan. 14
Ruh berjumlah satu. Jika ia bekerja dengan mata, maka perilakunya adalah melihat; jika ia bekerja dengan telinga maka perilakunya adalah mendengar; jika dengan hidung maka perilakunya adalah mencium dsb. Meskipun berbagai anggota badan manusia melakukan perilaku khusus yang berbeda dengan yang lain, tetapi semua perilaku bersumber dari satu ruh, dan itulah hakikat zat, dan semua anggota tubuh seperti seperangkat alat”. 15
Ibn Taimiyah ( 661-728 H/1263-1328 M)
Ibn Taimiyah berpendapat bahwa nafs tidak tersusun dari substansi-substansi yang terpisah, bukan pula dari materi dan forma. Selain itu, nafs bukan bersifat fisik dan bukan pula esensi yang merupakan sifat yang bergantung pada yang lain.16 Sesungguhnya nafs berdiri sendiri dan tetap ada setelah berpisah dari badan ketika kematian datang.
Ia menyatakan bahwa kata al-ruh juga digunakan untuk pengertian jiwa (nafs). Ruh yang mengatur badan yang ditinggalkan setelah kematian adalah ruh yang dihembuskan ke dalamnya (badan) dan jiwalah yang meninggalkan badan melalui proses kematian. Ruh yang dicabut pada saat kematian dan saat tidur disebut ruh dan jiwa (nafs). Begitu pula yang diangkat ke langit disebut ruh dan nafs. Ia disebut nafs karena sifatnya yang mengatur badan, dan disebut ruh karena sifat lembutnya. Kata ruh sendiri identik dengan kelembutan, sehingga angin juga disebut ruh. 17
Ibn Taimiyah menyebutkan bahwa kata ruh dan nafs mengandung berbagai pengertian, yaitu :
1. Ruh adalah udara yang keluar masuk badan.
2. Ruh adalah asap yang keluar dari dalam hati dan mengalir di darah.
3. Jiwa (nafs) adalah sesuatu itu sendiri, sebagaimana firman Allah SWT: … Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang … (QS. al-’An’am, 54).
4. Jiwa (nafs) adalah darah yang berada di dalam tubuh hewan, sebagaimana ucapan ahli fiqih, “Hewan yang memiliki darah yang mengalir dan hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir”.
5. Jiwa (nafs) adalah sifat-sifat jiwa yang tercela atau jiwa yang mengikuti keinginannya. 18
Tentang tempat ruh dan nafs di dalam tubuh, Ibn Taimiyah menjelaskan: “Tidak ada tempat khusus ruh di dalam jasad, tetapi ruh mengalir di dalam jasad sebagaimana kehidupan mengalir di dalam seluruh jasad. Sebab, kehidupan membutuhkan adanya ruh. Jika ruh ada di dalam jasad, maka di dalamnya ada kehidupan (nyawa); tetapi jika ruh berpisah dengan jasad, maka ia berpisah dengan nyawa”. 19
Ibn Taimiyah menyatakan bahwa jiwa (nafs/ruh) manusia sesungguhnya berjumlah satu, sementara al-nafs al-ammarah bi al-su’, jiwa yang memerintahkan pada keburukan akibat dikalahkan hawa nafsu sehingga melakukan perbuatan maksiat dan dosa, al-nafs al-lawwamah, jiwa yang terkadang melakukan dosa dan terkadang bertobat, karena didalamnya terkandung kebaikan dan keburukan; tetapi jika ia melakukan keburukan, ia bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Dan dinamakan lawwamah (pencela) karena ia mencela orang yang berbuat dosa, tapi ia sendiri ragu-ragu antara perbuatan baik dan buru, dan al-nafs al-mutmainnah, jiwa yang mencintai dan menginginkan kebaikan dan kebajikan serta membenci kejahatan. 20
Ibn Qayyim al-Jauziyah (691-751 H/1292-1350 M)
Ibn Qayyim al-Jauziyah Menggunakan istilah ruh dan nafs untuk pengertian yang sama. Nafs (jiwa) adalah substansi yang bersifat nurani ‘alawi khafif hayy mutaharrik atau jism yang mengandung nur, berada di tempat yang tinggi, lembut, hidup dan bersifat dinamis. Jizm ini menembus substansi anggota tubuh dan mengalir bagaikan air atau minyak zaitun atau api di dalam kayu bakar. Selama anggota badan dalam keadaan baik untuk menerima pengaruh yang melimpah di atasnya dari jism yang lembut ini, maka ia akan tetap membuat jaringan dengan bagian-bagian tubuh. Kemudian pengaruh ini akan memberinya manfaat berupa rasa, gerak dan keinginan. 21
Ibn Qayyim menjelaskan pendapat banyak orang bahwa manusia memiliki tiga jiwa, yaitu nafs mutmainnah, nafs lawwamah dan nafs amarah. Ada orang yang dikalahkan oleh nafs mutmainnah, dan ada yang dikalahkan oleh nafs ammarah.
Mereka berargumen dengan firman Allah:
Wahai jiwa yang tenang (nafs mutmainnah) …
(QS. Al-Fajr: 27).
Aku sungguh-sungguh bersumpah dengan hari kiamat dan aku benar-benar bersumpah dengan jiwa lawwamah
(QS. al-Qiyamah: 1-2)

Sesungguhnya jiwa itu benar-benar menyuruh kepada keburukan (nafs ammarah)
(QS. Yusuf: 53)

Ibn Qayyim menjelaskan bahwa sebenarnya jiwa manusia itu satu, tetapi memiliki tiga sifat dan dinamakan dengan sifat yang mendominasinya. Ada jiwa yang disebut mutmainnah (jiwa yang tenang) karena ketenangannya dalam beribadah, ber-mahabbah, ber-inabah, ber-tawakal, serta keridhaannya dan kedamaiannya kepada Allah. Ada jiwa yang bernama nafs lawwamah, karena tidak selalu berada pada satu keadaan dan ia selalu mencela; atau dengan kata lain selalu ragu-ragu, menerima dan mencela secara bergantian. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nafs lawwamah dinamakan demikian karena orangnya sering mencela. Sedangkan nafs ammarah adalah nafsu yang menyuruh kepada keburukan. 22
Jadi, jiwa manusia merupakan satu jiwa yang terdiri dari ammarah, lawwamah dan mutmainnah yang menjadi tujuan kesempurnaan dan kebaikan manusia. Sehingga ada kemiripan antara pendapat Ibn Qayyim dengan pendapat Ibn Taimiyah tentang tiga sifat jiwa ini.
Ibn Qayyim juga menjelaskan dan membagi menjadi tiga kelompok kaum filosof yang terpengaruh oleh ide-ide Plato. Ia menyebutkan tiga jenis cinta pada masing-masing kelompok tersebut, yaitu:
1. Jiwa langit yang luhur (nafs samawiyah ‘alawiyah) dan cintanya tertuju pada ilmu pengetahuan, perolehan keutamaan dan kesempurnaan yang memungkinkan bagi manusia, dan usaha menjauhi kehinaan.
2. Jiwa buas yang penuh angkara murka (nafs sab’iyyah ghadabiyyah) dan cintanya tertuju pada pemaksaan, tirani, keangkuhan di bumi, kesombongan, dan kepemimpinan atas manusia dengan cara yang batil.
3. Jiwa kebinatangan yang penuh syahwat (nafs hayawaniyyah shahwaniyyah) dan cintanya tertuju pada makanan, minuman dan seks. 23
Dari konteks pembicaraan Ibn Qayyim ini, dapat dipahami bahwa ketiga macam jiwa ini bukan berdiri sendiri dan bukan pula berarti jiwa yang yang tiga, tetapi ia merupakan tiga daya untuk satu jiwa. 24
FILOSOF LAIN
* Al-Nazzam berpendapat bahwa ruh adalah jism dan jiwa. Ia hidup dengan sendirinya. Ia masuk dan bercampur dengan badan sehingga badan tersebut menjadi bencana, mengekang dan mempersempit ruang lingkupnya. Keberadaannya dalam badan adalah untuk menghadapi kebinasaan badan dan menjadi pendorong bagi badan untuk memilih. Seandainya ruh telah lepas dari badan, maka semua aktivitas badan hanyalah bersifat eksidental dan terpaksa.
* Al-Jubba’i berpendapat bahwa ruh adalah termasuk jism, dan ruh itu bukan kehidupan. Sebab kehidupan adalah a’rad (kejadian). Ia beranggapan bahwa ruh tidak bisa ditempati a’rad.
* Abu al-Hudhail beranggapan bahwa jiwa adalah sebuh definisi yang berbeda dengan ruh dan ruhpun berbeda dengan kehidupan, karena menurutnya kehidupan adalah termasuk a’rad. Ia menambahkan, ketika kita tidur jiwa dan ruh kita kadang-kadang hilang, tetapi kehidupannya masih ada.
* Sebagian mutakallimin lain meyakini bahwa ruh adalah definisi kelima selain panas, dingin, basah dan kering. Tetapi mereka berbeda ketika membahas tentang aktivitas ruh. Sebagian berpendapat aktivitas ruh bersifat alami, tetapi sebagian lain berpendapat bersifat ikhtiyari. 25
Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata’ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.
Update
Bagaimana Ruh dalam Al Qur’an
Al Hijr 29 al hijr 29 tiupan ruh
Artinya : “29. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadaNya dengan bersujud“.

Dari kata “meniupkan kedalamnya ruh” artinya adalah pada saat janin masih berumur 4 bulan janin tersebut mampu merasakan atau menerima Pancaran Gelombang Hidup dari Sang Ilahi (Cahaya Ilahi). Cara mengartikannya jangan secara harfiah yaitu, Tuhan meniupkan ruh itu seperti manusia meniupkan udara dari mulutnya (Damar Jati Supadjar).
Al Israa’ 85 : Al Israa' 85 ruh
Artinya : “85. Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Semoga Tulisan ini Bermanfaat dan bisa menambah Ilmu dan Pemahaman Anda. Terimakasih Atas Kunjungannya. Salam Kenal.
Enhanced by Zemanta

Mencari Ma'ul Hayat (Air Kehidupan)

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


Dalam surat  Al Anfal, surat ke 8 ayat 24 tersebut di tulisan sebelumnya  ada kalimat yang berbunyi :

     “YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUU” (artinya : Wahai orang-orang yang beriman)
*  Ayat ini adalah ditujukan kepada orang-orang yang beriman (AAMANUU).
Kemudian lanjutan ayat tersebut diatas ada kalimat yang berbunyi :
     “ISTAJIIBUU LILLAAHI WALIRROSUULI” ( artinya : Hendaklah kamu semua menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh)
* Ayat ini adalah berisi perintah, agar supaya orang-orang yang beriman (AAMANUU) itu menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh.
Kemudian lanjutan ayat tersebut diatas ada kalimat yang berbunyi :
     “IDZAA DA’AAKUM LIMAA YUHYIIKUM” (artinya : Ketika kamu diseru untuk sesuatu yang menghidupkan kamu).
* Ayat ini adalah berisi tujuan perintah menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh yaitu diseru untuk sesuatu yang menghidupkan kamu.

Melihat dari kalimat demi kalimat dalam surat Al Anfal/s.8/ayat 24 tersebut di atas, lalu timbul beberapa pengertian.
1. SOAL :
Mengapa orang-orang AAMANUU (beriman) itu masih diperintah menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh?…
     JAWAB :
Adanya orang-orang AAMANUU diperintah menyambut ajakan Alloh dan Rosululloh, karena AAMANUU (orang-orang yang beriman) itu adalah  hidup, bukan mati.
2. SOAL :
Tapi mengapa orang-orang AAMANUU yang hidup ini  masih diperintah untuk menghidupkan dirinya, buktinya adalah ayat yang berbunyi LIMAA YUHYIIKUM (artinya untuk sesuatu yang menghidupkan kamu) ?…
     JAWAB:
Kalau begitu  berarti orang-orang yang beriman (AAMANUU) itu masih mati (belum hidup).
3. SOAL :
Dan mengapa orang-orang AAMANUU itu dikatakan masih mati, padahal jelas beda dengan orang kafir ?..
     JAWAB :
Karena orang AAMANUU itu belum minum MA-UL HAYAT, apalagi orang kafir.
4. SOAL :
Kalau memang orang-orang AAMANUU itu masih mati (belum hidup), lalu yang dimaksud ini hidup yang bagaimana?…..
  • Kalau yang dikatakan hidup itu perkembangan, itu adalah hidupnya tumbuh-tumbuhan, sedangkan kita bukan tumbuh-tumbuhan.
  • Kalau yang dikatakan hidup itu keluar masuknya nafas (pergantian zat), itu adalah sama dengan hidupnya hayawan dan ini tidak ada bedanya, hidupnya kucing juga keluar masuk nafas .
    Dan kalau hidupnya orang mu’min itu dikatakan keluar masuknya nafas, itu berarti  sama dengan hayawan..?
  • Kalau  yang dikatakan hidup itu hubungannya roh dengan jasmani, apa bedanya dengan hidupnya orang kafir..? Padahal dalam ayat ini orang AAMANUU itu masih mati kalau belum minum Ma’ul hayat, apalagi orang kafir.
5. SOAL     : Apakah tidak ingin hidup langgeng ..?
     JAWAB : Ya ingin !
6.  SOAL     : Kalau memang ingin, kenapa tidak mencari..?
     JAWAB : Ya mencari !
7.  SOAL     : Kalau memang  mencari,  mengapa tidak tahu tempatnya?….
     JAWAB : Sudah tahu !
8.  SOAL     : Kalau memang sudah tahu tempatnya, mengapa tidak bisa mengambil?…
     JAWAB : Ini semuanya disebabkan karena belum minum MA- UL HAYAT.
Jadi kesimpulannya adalah, kalau kita sebagai orang-orang yang beriman tidak mencari dan minum MA-UL HAYAT, maka kita masih mati (belum hidup).
Kalau dalam tafsir,  ayat 24/s.8/surat Al Anfal ini bermakna dhohir, yaitu dihubungkan dengan peperangan zaman kanjeng Nabi.
Kalau memang ayat ini dihubungkan dengan peperangan zaman kanjeng Nabi,  berarti ayat ini sekarang sudah tidak berlaku dan hanya berlaku pada zaman kanjeng Nabi saja, sebab sekarang sudah tidak ada peperangan seperti zaman kanjeng Nabi dan adanya hanya di Makkah saja. Kalau begitu, tidak di sini. Padahal Alqur’an itu untuk seluruh manusia.
Akan kami perjelas keterang di tulisan berikutnya… ini masih seputar HIDUP, belum masuk tema utama. Tapi sabar saja, nanti buru-buru malah gak paham.

HUKUM MENCARI MA-UL HAYAT
Di dalam Alqur-an diterangkan bahwa hukumnya mencari Ma-ul Hayat adalah WAJIB.
Adapun ayat  yang mewajibkan kita mencari MA-UL HAYAT adalah sebagaimana tersebut dalam surat Al anfal/S.8/ayat24 yang berbunyi :

YAA AYYUHAL LADZIINA AAMANUS TAJIIBUU LILLAAHI WALIR ROSUULI IDZAA DA-’AAKUM LIMAA YUHYIIKUM.

Artinya:”Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua menyambut ajakan Alloh dan ajakan Rosululloh  ketika kamu diseru untuk sesuatu yang menghidupkan kamu.” (Al Anfal/s.8/ ayat 24)
Menurut ayat tersebut diatas, kita sebagai orang mu’min wajib mencari MA-UL HAYAT. Dan kewajiban ini adalah pokok, bukan sunnah.
Kalau sekian lamanya banyak orang mu’min yang belum mencari MA-UL HAYAT, itu namanya belum melaksanakan kewajiban yang pokok. Jangankan mencari, beritanya saja belum mendengar, malahan yang didengar berkali-kali hanya hukum (ini halal – itu haram, ini makruh – itu mubah, ini riba dan lain-lain).


ALASAN WAJIB MENCARI MA-UL HAYAT
1.  Dikarenakan perasaannya, fikirannya, kesadarannya masih mati.
Dalam surat  Al Anfal/s.8/ayat 24 tersebut di atas  ada kalimat yang berbunyi “ YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUU” (artinya Wahai orang-orang yang beriman).
Mengenai hal ini, tidak terbilang banyaknya orang yang bisa membaca Al qur-an, dan juga tidak terbilang banyaknya orang yang tahu dan mengerti maknanya Alqur-an yang dibaca, seperti contoh:

  • Bahwa  “YAA- AYYUHAL LADZII NA AAMANUU”  itu artinya “Wahai orang -orang yang beriman”.
  • Bahwa   “YAA – AYYUHANNAASU” itu artinya : “ Wahai manusia “
Apakah kita merasa bahwa tatkala membaca “YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUU “ itu kita ini orang yang beriman …?
Apakah kita merasa bahwa tatkala kita membaca “YAA -AYYUHANNAASU” itu Alloh bercakap-cakap dengan kita?
Padahal semua orang tahu bahwa itu adalah DAWUHNYA  ALLOH dan yang didawuhi itu adalah  MANUSIA. Manusia kapan?… Kalau manusia sekarang, kan berarti Alloh bercakap-cakap dengan kita…?
Dan manusia juga sering mengatakan ini dawuhnya Alloh, akan tetapi tidak merasa bahwa kita yang didawuhi, kalau didawuhi berarti kita bercakap-cakap dengan Alloh  dan Alloh bercakap-cakap dengan kita.
Akan tetapi kalau kita membaca Al qur-an dan bilang kalau kita bercakap-cakap dengan Alloh, maka gegerlah masyarakat. Sedangkan Al Qur-an itu mengandung 114 surat. Dan pokok surat itu jelas, yaitu :
 BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM ( Dengan nama Alloh yang Maha pengasih dan penyayang)
Dan pokok persoalannya surat juga sudah jelas, yaitu ada surat Ar ro’du, ada surat Al Baqoroh dan lain – lain. Dan yang disurati juga jelas yaitu manusia.
Akan tetapi kalau  ditanya : Surat Fatihah itu suratnya siapa…?  jawabnya suratnya Gusti Alloh. Kalau suratnya Gusti Alloh, lalu siapakah yang disurati itu, manusia ataukah hayawan (kambing, sapi)…? jawabnya adalah : manusia. Tapi kalau kita bicara bahwa “Aku disurati Gusti Alloh” maka gegerlah masyarakat.
Anehnya, kalau kita disurati pak lurah saja, dimulyakan suratnya. Apalagi yang mengirim surat  itu atasannya, sampai dibuat jimat. Tapi kalau disurati Gusti Alloh itu dibiarkan saja hanya ditumpuk dan ditaruh begitu saja. Kalau butuh baru diambil sampai kondisinya berdebu dan ditepuk-tepuk sampai keluar debunya akhirnya  tambah menjadikan batuk.
Dan bila waktu membaca suratnya Gusti Alloh itu tidak merasakan apa-apa,  seperti contoh membaca surat  Al Anfal/s.8/ayat 24  yang berbunyi:
“ YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUU”
(artinya Wahai orang-orang yang beriman), tidak merasa bercakap-cakap dengan yang menyurati, ini tandanya  adalah perasaannya, fikirannya, kesadarannya masih mati.
Apakah sebabnya masih mati ?…. ini sebabnya adalah  belum minum MA-UL HAYAT ( Air Hidup ).
Mengapa belum minum MA-UL HAYAT?…  karena belum tahu tempatnya. (Tahu tempatnya tapi tidak bisa mengambilnya, padahal wajib ).
Jadi alasan kita diperintah mencari Maul Hayat adalah karena perasaan kita, fikiran kita, kesadaran kita masih mati, buktinya adalah kita tidak merasa disurati, tidak merasa diajak bercakap-cakap dengan Alloh, dan lain-lain, ketika kita membaca Alqur-an.
  • Sudahkah kita berfikir ke arah situ…?
  • Sudahkah kita merasakan diwaktu membaca…?
  • Sudahkah kita sadar…?
Inilah alasan kesatu, kenapa kita diperintah mencari MA-UL HAYAT.
Untuk hal ini akan kami ulas lagi di tulisan selanjutnya… Tentang TINGKATAN-TINGKATAN HIDUP.

Enhanced by Zemanta

Tuesday, February 5, 2013

Kisah 4 Nabi Yang Masih Hidup Sampai Sekarang

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


Kisah Empat Nabi Yang Masih Hidup Sampai Sekarang

1. Kisah Nabi Isa Alaihissalam
Al-Qur’an menerangkan dalam surat AnNisaa’:157 bahwa Nabi Isa AS tidaklah dibunuh maupun disalib oleh orang-orang Kafir. Adapun yang mereka salib adalah orang yang bentuk dan rupanya diserupakan oleh Allah SWT seperti Nabi Isa AS (sebagian ulama berpendapat orang yang diserupakan adalah muridnya yang berkhianat yang bernama Yudas Iskariot) dan karena ucapan mereka:
“Sesungguhnya kami telah membunuh AlMasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(An Nisaa’ : 157)

sky.jpg
Nabi Isa AS diselamatkan oleh Allah SWT dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah SWT yang tahu tentang hal ini. AlQur’an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini. ”Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ :158)

2. Kisah Nabi Khidir Alaihissalam
Pada saat Raja Iskandar Dzul Qarnain pada tahun 322 S. M. berjalan di atas bumi menuju ke tepi bumi, Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rofa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang, Raja Iskandar Dzul Qarnain berkata kepada malaikat Rofa’il: “Wahai malaikat Rofa’il ceritakan kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit ”,
malaikat Rofa’il berkata, “Ibadah para mailaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya ”.
Kemudian raja berkata, “Alangkah senangnya seandainya aku hidup bertahun-tahun dalam beribadah kepada Allah ”.
Lalu malaikat Rofa’il berkata, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air bumi, namanya ‘Ainul Hayat’ yang berarti, sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan ”.
Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa’il, “Apakah kau tahu tempat “Ainun Hayat itu?”.
mailaikat Rofa’il menjawab, “Bahwa sesungguhnya Ainun Hayat itu berada di bumi yang gelap ”.

Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa’il tentang Ainul hayat, maka raja segera mengumpulkan ‘Alim Ulama’ pada zaman itu, dan raja bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu, tetapi mereka menjawab, “Kita tidak tahu khabarnya, namun seoarng yang alim di antara mereka menjawab, “ Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam AS, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di bumi yang gelap ”.
“Di manakah tempat bumi gelap itu?” tanya raja.
Seorang yang alim menjawab, “Di tempat keluarnya matahari”.

royo_bestof_023.jpg
Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya. “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap ?”.
Para sahabat menjawab, “Kuda betina yang perawan”.
Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu raja memilih-milih di antara tentaranya, sebanyak 6000 orang dipilih yang cendikiawan dan yang ahli mencambuk.

Di antara mereka adalah Nabi Khidir AS, bahkan beliau menjabat sebagai Perdana Menteri. Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir AS berjalan di depan pasukannya dan mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat.
Kemudian mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam. Kemudian seorang yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya, berkata ia kepada raja. ”Wahai Raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini karena tempat yang gelap ini berbahaya. ”
Lalu Raja berkata: ” Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak.”
Kemudian ketika Raja hendak masuk, maka meraka semua membiarkannya. Kemudian Raja berkata kepada pasukannya: ”Diamlah, tunggulah kalian ditempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu, maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian”.
Kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: ” Apabila kita melewati tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita ?”.
“Tidak bisa kelihatan”,jawab malaikat Rofa’il,” akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka kawan- kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian.”

Kemudian Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi oleh Nabi Khidlir AS.
Di saat mereka berjalan, maka Allah SWT memberi wahyu keapda Nabi Khidlir AS, ”Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu ”.
Setelah Nabi Khidlir menerima wahyu tersebut, kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: “ Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian. ”

Kemudian beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang, maka didapatilah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidlir AS turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “Ainul Hayat” (sumber air kehidupan) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air kehidupan tersebut, maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis daripada madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut, kemudian beliau keluar dari tempat Ainul Hayat itu terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain, sedangkan raja tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nabi
Khidlir AS, tentang melihat Ainul Hayat dan mandi.

(Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah), dia berkata, bahwa Nabi Khidlir AS adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Dan raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat, maka terlihat oleh Raja, bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki kuda, kemudian Raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: “Gemercik ini adalah suara benda apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga. ”
Kemudian di antara pasukan ada yang membawanya namun sedikit, setelah mereka keluar dari tempat yang gelap itu, ternyata bahwa benda tersebut adalah yakut yang berwarna merah dan jambrut yang berwarna hijau, maka menyesallah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, demikianlah pula pasukan yang tidak mengambilnya, bahkan lebih menyesal. Diriwayatkan oleh Ats-tsa’Labi dari: Iman Ali Rodliayllohu ‘ anhu.

1. Cerita ini dikutib dari kitab “ Baidai’iz karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 – 168. Penerbit: Usaha Keluarga s Semarang.
2. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri.
Penerbit Darul Fikri Bairut Halaman 257 – 258.


3. Kisah Nabi Idris Alaihissalam
Lalu keduanya menerusakan perjalanan sampai empat hari lamanya dan selama itu pula Nabi Idris AS menemukan keanehan yang ada pada Malaikat itu dan Nabi Idris AS bertanya: ”Hai tuan, kamu ini sebenarnya siapa?”,
Malaikat itu menjawab: ”Saya adalah malaikat pencabut nyawa”.
Nabi Idris AS bertanya:” Apakah kamu akan mencabut nyawa manusia?”,
Malaikat menjawab:”Ya”,
Nabi Idris AS bertanya: ”Apakah kamu juga mencabut nyawa selama dalam perjalanan bersama saya?”,
Malaikat menjawab: ”Ya, saya telah mencabut beberapa nyawa manusia dan sesungguhnya nyawa manusia itu adalah bagaikan hidangan makanan, sebagai mana kamu menghadapi sesuap makanan saja”.
Nabi Idris AS berkata: ”Dan apakah kamu datang ini untuk mencabut nyawa saya atau sekedar berkunjung?”,
Malaikat menjawab: ”Saya datang hanya untuk berkunjung”,
Nabi Idris AS berkata: ”kalau begitu saya punya hajat kepadamu”,
Malaikat menjawab: ”Hajat apa, hai Nabi Idris?”
Nabi Idris AS berkata: ”Saya ingin agar kamu mencabut nyawa saya, lalu memohonlah kepada Allah untuk menghidupkan saya sehingga saya bisa beribadah kepada Allah sesudah merasakan sakitnya mati”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa mencabut nyawa seseorang tanpa seijin Allah”.
Lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Cabutlah nyawa Idris!”.

Kemudian malaikat itu mencabut nyawa Nabi Idris AS dan matilah Nabi Idris AS lalu Malaikat menangis sambil merendahkan diri untuk memohon kepada Allah SWT agar menghidupkan Nabi Idris AS kembali, kemudian Allah menghidupkan Nabi Idris AS, lalu malaikat bertanya: ”Hai Nabi Idris bagaimana rasanya mati itu?”.
Nabi Idris AS berkata:”Sungguh rasanya mati itu bagaikan binatang yang dikuliti dalam keadaan masih hidup, sedang rasa mati itu melebihi 100X lipat rasa sakit binatang yang dikuliti dalam keadaan masih hidup”.
Malaikat menjawab:”Hai Nabi Idris, padahal saya mencabut nyawamu itu dengan cara hati-hati dan sangat halus dan ini belum pernah saya lakukan kepada siapapun”.
Nabi Idris AS berkata: ”Saya mempunyai hajat yang lain kepadamu, yaitu ingin melihat neraka jahannam, agar saat melihat itu saya lebih banyak beribadah kepada Allah”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa masuk neraka jahannam tanpa ada izin dari Allah”, lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Pergilah kamu bersama Nabi Idris ke neraka jahannam”.

Kemudian malaikat bersama Nabi Idris AS pergi ke neraka jahannam, maka Nabi Idris AS dapat melihat segala yang dipersiapkan untuk menyiksa di neraka jahannam, lalu keduanya kembali dari neraka jahannam. Nabi Idris AS berkata: ”Saya punya hajat lagi kepada kamu, agar kamu mengajakku pergi ke syurga,dan setelah itu saya akan menjadi hamba yang lebih taat dalam beragama”.
Malaikat berkata: ”Saya tidak bisa masuk syurga tanpa ada ijin dari Allah”.
Lalu Allah AS berfirman: ”Hai Malaikat pergilah kamu bersama Idris ke syurga”.

Dan keduanya pergi ke syurga dan berhanti di depan pintu syurga, maka Nabi Idris AS dapat melihat segala kenikmatan yang ada dalam syurga, melihat kerajaan yang banyak, melihat anugerah yang banyak dan melihat pepohonan dan buah-buahan yang beraneka macam ragamnya.
Nabi Idris berkata: ”Wahai Malaikat, saya telah merasakan mati, telah melihat segala macam siksaan dalam neraka, lalu mohonlah kepada Allah, agar ia memberi izin saya masuk ke syurga, sehingga saya dapat minum air syurga dan sakit saya menjadi hilang serta terhindar dari neraka jahannam”.
Lalu Allah Berfirman kepada malaikat: ”Masuklah kamu ke syurga bersama Idris”,
kemudian keduanya masuk syurga dan Nabi Idris AS meletakan sandalnya di bawah salah satu pohon di syurga, dan setelah keluar dari syurga.Nabi Idris berkata kepada Malaikat: ”Sungguh sandal saya tertinggal di syurga, maka kembalikan saya ke syurga”,
dan setelah Nabi Idris AS tiba di syurga, Nabi Idris AS tidak mau di ajak keluar, ia ingin tetap tinggal dalam syurga, hingga Malaikat berteriak:”Hai Nabi Idris, keluarlah”,
dan Nabi Idris AS tetap tidak mau keluar, dan berkata: ” Karena Allah telah berfirman”: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”(Q.Surat Ali’imran ayat 185), Sedang saya telah merasakan mati. Dan Allah Berfirman: “Dan tidak seorangpun darimu, melainkan mendatangi neraka itu….” (Q.Surat Maryam ayat 71). Dan sungguh saya telah memasuki neraka jahannam, dan Allah juga berfirman: “…….. dan sekali-kali mereka tidak akan di keluarkan dari padanya (syurga)”. (Q.Surat AL Hijr ayat 48)”.
Malaikat berkata: ”Lantas siapa yang akan mengeluarkan mu?”.
Lalu Allah berfirman kapada Malaikat: ”Tinggalkanlah Nabi Idris di syurga, sungguh Aku telah menetapkannya, bahwa ia termasuk ahli syurga”,
kemudian Malaikat itu meninggalkan Nabi Idris AS di syurga dan tetaplah Nabi Idris AS berada dalam syurga untuk selama-lamanya.


4. Kisah Nabi Ilyas Alaihissalam
Ihwal Nabi Ilyas kurang banyak diungkap, namun diyakini bahwa beliau masih hidup di dunia bersama Nabi Khidir,
Nabi Ilyas AS adalah keturunan Nabi Harun yang Ke empat, ia di utus Allah kepada kaum Bani Israel yang suka menyembah berhala, yang di sebut “Berhala Ba’al.”
Sebuah riwayat menyebutkan, Nabi Ilyas Al-Nasyabi, yang mendapat panggilan Ibnu Yasin, di yakini masih hidup di Bumi. bersama Nabi Khidir. Sedangkan Nabi Isa dan Nabi Idris juga masih hidup di langit.
Ilyas dan Khidir saling berkumpul pada saat bulan Ramadhan di Baitulmakdis. Keduanya mengerjakan ibadah haji di Padang Arafah dan minum air Zamzam.
Dalam suatu perjalanan bersama Rasul SAW, di suatu lembah, Anas bin Malik mendengar seseorang berkata, “Ya Allah, jadikanlah aku salah satu dari umat Muhammad yang di cintai, diberi ampunan, dan diterima tobatnya.” Selanjutnya Anas berkisah…:
Kudekati lembah itu, dan ternyata ada seseorang di sana. “Siapa kamu?” dia bertanya. “Anas bin Malik, aku pelayan Rasul,” jawabku.
“Dimana beliau?” ia bertanya lagi. “Ada di sini, beliau mendengar ucapanmu,” jawabku.
“Temuilah beliau, dan sampaikan salamku, katakan padanya, “Saudaramu, Ilyas, menyampaikan salam,” katanya.
Maka kuberitahukan hal itu kepada beliau, kemudian Rasulullah SAW menemui, memeluk dan mengucapkan salam kepadanya. Setelah itu keduanya duduk dan berbincang-bincang.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak makan dalam setahun kecuali hanya satu hari. Di hari ini adalah hari berbukaku, aku akan makan bersamamu.”
Maka turunlah meja makan dari langit yang di atasnya terdapat roti, ikan laut dan daun seledri. Lalu mereka berdua makan dan juga memberiku makan, lalu kami salat ashar. Setelah Ilyas meninggalkan Rasulullah dan aku melihat lintasan perjalanannya di awan menuju langit.
Sebuah riwayat menyebutkan, hal itu terjadi dalam perang tabuk, ketika Rasulullah mengutus Anas bin Malik dan Hudzaifah bin Al-Yaman menemuinya. Keduanya mengatakan, “ternyata ia seorang yang berbadan dua atau tiga hasta lebih tinggi dari kami.”
Ketika Rasul berkumpul dengan Ilyas, keduanya makan makanan dari surga. Ilyas berkata, “setiap 40 hari saya baru makan.” Sedangkan di Meja makan Itu terdapat Roti, Anggur, pisang, Kurma, dan sayur-sayuran selain bawang.
Rasulullah bertanya perihal Khidir, maka ia menjawab, “Sesungguhnya engkau akan bertemu dengannya sebelumku, maka sampaikan salamku untuknya.”
Pengalaman Tsabit, salah seorang sahabat, menyebutkan, ketika ia sedang salat sunah di pinggir kota Kufah bersama Mush’ab bin Zubair, tiba-tiba dari belakang terdengar suara, “jika kamu membaca Ghafirudz Dzanbi (yang menghapuskan dosa), ucapkanlah, “Wahai Dzat yang menghapuskan dosa, ampunilah aku atas dosa-dosaku.”
Jika kamu membaca Qarbilut Taubati (yang menerima Taubat), ucapkan, “Wahai Dzat yang menerima taubat, terimalah tobatku.”
Jika kamu membaca Syadiul Iqabi (yang keras hukuman-Nya), “Wahai Dzat yang keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.”
Dan jika kamu membaca Dzat Tuuli (yang mempunyai karunia), ucapkan, “Wahai Dzat yang karunia, keruniakanlah kepadaku rahmat dalam waktu yang lama.”
Ketika itu ia membaca surat Al-Mukmin ayat 1-3, yang artinya, “Ha Mim, turunnya kitab (Al-Qur’an) ini dari Allah, yang Maha Perkasa, yang Maha Mengetahui. Yang menghapuskan dosa, yang menerima Tobat, amat keras hukuman-Nya, dan besar kekuasaan-Nya. Tiada Tuhan selain Dia, kepada-Nya lah tujuan kembali,”
Setelah itu aku menoleh dan ternyata tidak menemukan seorang pun di belakangku. Lalu aku keluar dan bertanya kepada orang-orang. “Apakah orang yang melintas di depan kalian menaiki seekor keledai yang besar?”
Mereka menjawab, “Tidak ada orang yang melintas di sini,” dan mereka tidak mengetahui melainkan Ilyas.
Ilyas adalah Nabi yang ke 17. Ia di utus untuk menyadarkan penduduk Ba’albak atau Punicia yang menyembah berhala Ba’al. Negaranya terletak di bagian pantai Arab Utara, tapi ada yang menyebut sebelah barat Damaskus sekarang. Bangsa Punicia adalah bangsa pelaut. Di wilayah Libanon ditemukan bangunan altar penyembahan Ba’al yang disebut Heliopolis.
Nama Ilyas disebut dua kali dalam surat Al-An’am ayat 85, bersama dengan Nabi Zakaria, Yahya, dan Isa , sebagai orang-orang yag saleh, dan Surah As-Saffat ayat 123, sebagai orang yang di utus oleh Allah.
Surah As-Saffat ayat 123-130 mengungkapkan tugas dakwah Nabi Ilyas dalam menyeru kaumnya bertauhid, menyembah hanya kepada Allah.
“Apakah kamu tidak takut pada siksaan Allah? Kenapa kamu menyembah berhala Ba’al dan mengabaikan Allah?” seruan itu dijawab, “Kami sudah sejak lama menyembah Ba’al, sejak nenek moyang kami, oleh karena itu kami tidak bisa meningglkan begitu saja.”
Karena penolakan itu, Allah menurunkan azab, kecuali orang-orang yang menerima seruan Ilyas, berupa musim kering selama tiga tahun berturut-turut, sehingga mereka kelaparan, karena tanaman dan ternak mereka rusak. Akhirnya mereka menerima ajakan Ilyas, tetapi setelah kehidupan kembali normal, mereka mengulang menyembah berhala.
Nabi Ilyas selalu dikejar dan dicari-cari oleh kaumnya untuk dibunuhnya. Oleh karena itu Nabi Ilyas lari menghindar untuk menyelamatkan diri, bersembunyi di rumah-rumah yang sepi dan kosong.
Berkat kekuasaan Allah, setiap rumah yang dimasuki Nabi Ilyas, maka disana sudah tersedia makanan.
Akhirnya orang-orang mengetahui, setiap mereka memperoleh makanan dalam sebuah rumah, mereka mengatakan, “Pasti rumah ini sudah di masuki oleh Ilyas.”
Melihat kenyataan itu, Ilyas memohon kepada Allah agar tugasnya di akhiri, dan beliau pun wafat. Tugasnya diteruskan oleh Nabi Ilyasa’ keponakannya sendiri. Tapi ada riwayat yang menyebutkan, Ilyasa’ adalah anak seorang perempuan Bani Israel tempat Ilyas menyembunyikan diri dari kejaran umatnya yang tetap durhaka. Dia mempunyai seorang anak laki-laki, bernama Ilyasa’, yang penyakitan. Setelah disembuhkan Ilyas, Ilyasa’ menjadi pengiring setia Ilyas.
Nama Ilyasa’ disebut dua kali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam surah Shad ayat 48 dan Surah Al-An’am ayat 86. Ia termasuk dalam daftar Nabi Bani Israel.

Ketika sedang beristirahat datanglah Malaikat kepada Nabi Ilyas AS, Malaikat itu datang untuk menjemput ruhnya. Mendengar berita itu, Nabi Ilyas AS menjadi sedih dan menangis.
“ Mengapa engkau bersedih?” tanya Malaikat maut.
“ Tidak tahulah.” Jawab Nabi Ilyas AS.
“Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi maut ?” tanya Malaikat.
“Tidak. Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali karena aku menyesal tidak boleh lagi berzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus berzikir memuji Allah, ” jawab Nabi Ilyas AS.

Saat itu Allah SWT lantas menurunkan wahyu kepada Malaikat agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas AS berzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas AS ingin terus hidup semata-mata karena ingin berzikir kepada Allah SWT. Maka berzikirlah Nabi Ilyas AS sepanjang hidupnya.
surga.jpg
“ Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berzikir kepada-Ku sampai akhir nanti. ” Firman Allah SWT.
Enhanced by Zemanta