Thursday, January 31, 2013

KEADAAN MANUSIA SESUDAH MATI

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

BAGAIMANAKAH KEADAAN MANUSIA SESUDAH MATI?  

 

Dalam menjawab pertanyaan ini, dapat diterangkan bahwa keadaan sesudah mati itu sesungguhnya bukanlah suatu keada­an baru melainkan keadaan-keadaan di alam dunia ini juga yang dinampakkan lebih jelas. Apa pun akidah yang dianut dan amal‑amal yang dikerjakan ma­nusia -- yang baik maupun yang buruk -- di alam dunia ini tersembunyi dalam diri manusia. Dan obat penangkalnya atau pun racunnya memberi dampak terselubung pada diri manusia. Akan tetapi, di alam mendatang tidaklah demikian keadaannya, melain­kan segala keadaan itu secara terbuka akan menampakkan wajahnya. Contohnya dapat ditemukan di alam mimpi. Yakni, se­suatu yang mempengaruhi tubuh manusia, di alam mimpi akan nam­pak dalam bentuk jasmani. Apabila seseorang akan terserang demam tinggi, maka acapkali di alam mimpinya nampak api dan kobaran api. Apabila ia terserang influenza, ia melihat dirinya di dalam air. Ringkasnya, sebagaimana tubuh telah melakukan persiapan terhadap penyakit-penyakit, maka keadaan-keadaan itu akan nampak di alam mim­pi dalam bentuk tamsil. Jadi, dengan menelaah untaian mimpi-mimpi, setiap manusia dapat memahami bahwa demikian jugalah sunnah Allah di alam ukhrawi. Sebab, sebagaimana mimpi menimbulkan suatu perubahan tersendiri di dalam diri kita lalu menampakkan unsur-unsur rohani dalam bentuk jas­mani, demikian jugalah yang akan berlaku di alam ukhrawi. Dan pada hari itu amal perbuatan kita serta buah-buahnya akan tampil secara jasmani. Dan segala sesuatu yang terselubung akan kita bawa bersama dari alam ini, pada hari itu semuanya akan tampak nyata di hadapan kita. Dan sebagaimana manusia menyaksikan berbagai-macam tamsil di dalam mimpi -- dan tidak pernah menganggap itu sebagai tamsil, bahkan ia meyakininya sebagai benda-benda nyata -- demikian pula yang akan berlaku di alam ukhrawi. Bahkan Allah Ta’ala, melalui tamsil-tamsil akan memperlihatkan kodrat‑Nya yang baru. Dikarenakan itu merupakan kodrat yang kamil, maka jika pun kita tidak menye­butnya sebagai tamsil‑tamsil dan mengatakan hal itu sebagai suatu kelahiran baru kodrat Tuhan, maka ungkapan itu sangat benar, tepat, dan betul.

Allah Ta’ala berfirman:

Yakni, seorang manusia yang beramal saleh, tidak mengetahui nikmat‑nikmat apa saja yang tersembunyi baginya (32:18). Jadi, Allah Ta’ala telah menyatakan bahwa nikmat‑nikmat itu ter-sembunyi, yang tidak ada contohnya di antara nikmat-nikmat dunia. Ini suatu kenyataan bahwa nikmat‑nikmat dunia tidaklah tersem­bunyi dari kita. Kita mengetahui susu, delima, anggur, dan lain‑lain, serta kita senantiasa memakan benda-benda itu. Jadi, dari itu diketahui bahwa nikmat-nikmat bagi manusia yang beramal saleh adalah lain, dan namanya saja yang sama dengan benda-benda ini. Jadi, barangsiapa yang menganggap bahwa surga sebagai kumpulan benda‑benda dunia, berarti dia tidak memahami satu huruf pun Alquran Suci.

Dalam penjelasan ayat ini -- yang baru saja saya sebutkan --junjungan kita Nabi Muhammad saw. bersabda, bahwa surga dan nikmat-nikmat­nya merupakan benda‑benda yang tidak pernah ter-lihat oleh mata; tidak pernah terdengar oleh telinga; dan tidak pula pernah terlintas di dalam hati. Padahal, nikmat‑nikmat dunia kita saksikan dengan mata dan juga kita dengar dengan telinga, serta di dalam hati pun nikmat-nikmat itu terlintas. Jadi, tatkala Allah Ta’ala dan Rasul menyatakan benda‑benda itu se­bagai benda-benda asing, maka kita jauh meninggalkan Alquran jika kita beranggapan bahwa di dalam surga nanti yang akan ada ialah susu dunia ini juga, yang diperah dari kerbau dan sapi-sapi. Seakan-akan disana terdapat bergerombol-gerombol ternak penghasil susu. Di atas pohon‑pohon bergelayutan sarang­-sarang lebah, dan malaikat‑malaikat mencari lalu mengambil madu, kemudian menuangkannya ke dalam sungai-sungai. Apakah pemikiran-pemikiran serupa itu sesuai dengan ajaran ini? Yaitu, ajaran yang di dalamnya terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa benda-benda itu mencahayai ruh serta melipat-gandakan makrifat Ilahi dan merupakan makanan rohani. Walaupun seluruh gam­baran makanan-makanan itu telah diungkapkan dalam bentuk jasmani, namun beriringan dengan itu telah dijelaskan bahwa sumber utama benda‑benda tersebut adalah ruh dan kebenaran. Janganlah ada yang beranggapan demikian dengan alasan, di dalam ayat Alquran berikut ini didapati bahwa nikmat‑nikmat yang akan dianugerahkan di surga itu akan dikenali oleh para ahli surga setelah melihat-nya, sebab nikmat‑nikmat itu telah mereka peroleh juga sebelum-nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

Yakni, sampaikanlah khabar suka kepada orang‑orang yang beriman dan beramal saleh dan yang tak mempunyai cela sedikit pun, bahwa mereka adalah pewaris surga yang di bawahnya mengalir sungai‑sungai. Di akhirat, ketika mereka akan mendapat buah-buahan yang telah mereka peroleh dari pohon di dalam kehidup­an di dunia ini juga, mereka akan berkata, “Ini jugalah buah‑buahan yang telah diberikan kepada kami dahulu,” sebab mereka akan mendapatkan buah‑buah itu sama dengan buah-buahan sebelumnya (2:26). Anggapan bahwa yang dimaksud dengan buah‑buah yang dahulu itu merupakan nikmat‑nikmat jasmani di dunia, adalah keliru sekali serta sungguh bertentangan dengan arti dan logika sebenarnya dari ayat terdahulu. Melainkan dalam ayat ini Allah Ta’ala menerangkan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka telah membangun sebuah surga dengan tangan mereka sendiri yang pohon-pohonnya adalah iman dan sungai‑sungainya adalah amal-amal saleh. Buah‑buah surga yang demikian itulah yang akan mereka makan di masa mendatang, dan buah‑buahan itu akan lebih nyata dan lebih lezat. Dan dikarenakan mereka secara rohani telah memakan buah‑buah itu di dunia, oleh karenanya mereka akan mengenali buah‑buah tersebut di alam nanti, serta mereka akan berkata, “Tampaknya ini adalah buah-buah yang pernah kami makan sebelumnya.” Dan mereka akan menemukan buah-buah tersebut sama seperti makanan mereka terdahulu. Jadi, ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa orang-orang yang biasa memakan makanan kecintaan serta kasih sayang Tuhan di dunia, makanan itu jugalah yang akan mereka dapati nanti dalam bentuk jasmani. Dan dikarenakan mereka telah mencicipi kelezatan cinta dan kasih sayang, serta mengetahui benar keadaannya, oleh sebab itu ruh mereka akan ingat kembali zaman lampau. Yaitu tatkala mereka duduk menyendiri di pojok-pojok tertentu mengenang Kekasih Hakiki mereka dengan kecintaan di dalam kegelapan malam, dan mereka menikmati kenangan itu.

Ringkasnya, disini makanan-makanan jasmani tidak disinggung sedikit pun. Sekiranya di dalam hati seseorang timbul pemikiran -- bahwa sejak di dunia, orang-orang arif sudah memperoleh makanan-makanan itu secara rohani, maka bagaimana mungkin dapat dinyatakan benar bila mengatakan bahwa itu adalah nikmat‑nikmat yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun di dunia, tidak pernah terdengar, dan tidak pernah terlintas di dalam hati seseorang; sehingga dalam hal demikian timbul pertentangan di antara kedua ayat tersebut -- maka jawabannya adalah, pertentangan itu baru akan timbul jika yang dimaksud di dalam ayat ini adalah nikmat‑nikmat dunia. Padahal pada ayat ini yang dimaksudkan bukan nikmat‑nikmat dunia. Apa pun yang diperoleh seorang arif dalam bentuk makrifat, itu pada hakikatnya merupakan nikmat alam ukhrawi yang contohnya telah diperlihatkan terlebih dahulu untuk membangkitkan seleranya.

Hendaknya diingat bahwa orang yang mempunyai hubungan dengan Tuhan bukanlah berasal dari dunia. Itulah sebabnya dunia membencinya. Melainkan, dia berasal dari Langit, oleh karena itu ia mene­rima nikmat‑nikmat samawi. Orang dunia memperoleh nikmat‑nik­mat dunia, sedangkan orang‑orang samawi menerima nikmat‑nikmat samawi. Jadi, memang benar bahwa nikmat‑nikmat tersebut tersembunyi dari teli­nga, hati, dan mata dunia. Akan tetapi, seseorang yang kehidupan duniawinya telah mengalami maut, dan mangkuk itu diminumkan kepadanya secara rohani -- yaitu mangkuk yang di alam ukhrawi akan dinikmati secara jasmani -- maka pada saat itu akan teringat olehnya bahwa mangkuk itu jugalah yang akan diberikan kepadanya dalam bentuk jasmani. Akan tetapi ini pun benar, bahwa dia dari segi mata dan telinga dunia akan dianggap tidak tahu-menahu perihal nikmat tersebut. Dikarenakan dia dahulu berada di dunia -- namun bukan dari kalangan dunia -- oleh karena itu dia pun akan memberikan kesaksian bahwa nikmat‑nikmat ukhrawi tersebut bukanlah nikmat-nikmat dunia. Ketika di dunia, matanya tidak pernah menyaksikan nikmat semacam itu. Tidak pula telinganya pernah mendengar nikmat demikian, dan tidak pernah terlintas di hati. Akan tetapi, di sisi kehidupan kedua, dia telah menyaksikan contoh‑contoh nikmat ukhrawi yang bukan berasal dari dunia, melainkan yang merupakan suatu khabar dari alam yang akan datang. Dia memiliki hubungan serta kaitan dengan alam itu. Dengan dunia, sedikitpun dia tidak mempunyai kaitan.

Tiga Makrifat Alquran mengenai Alam Akhirat

Kini, sebagai kaedah umum, hendaknya diingat juga bahwa kondisi-kondisi yang tampil sesudah kematian, telah dibagi oleh Alquran Suci ke dalam tiga macam. Dan ketiga makrifat Alquran mengenai alam akhirat itu kami uraikan disini secara terpisah-pisah.

Rahasia Makrifat Pertama

Rahasia makrifat pertama ialah, Alquran Suci berulang‑ulang mengatakan bahwa alam akhirat bukan­lah suatu barang baru, melainkan segala pemandangannya merupakan pantulan dan dampak-dampak kehidupan di dunia ini juga. Sebagaimana Dia berfirman:

Yakni, di dunia ini juga Kami telah mengikatkan dampak amal perbuatan setiap orang pada lehernya. Dan dampak-dampak terselubung itulah yang akan Kami zahirkan pada Hari Kiamat, dan Kami akan memperlihatkan dalam bentuk sebuah daftar amal perbuatan yang telah terbuka (17:14). Di dalam ayat ini terdapat kata             thairun. Maka hendaknya jelas bahwa sebenarnya thairun itu berarti burung. Lalu secara kiasan diartikan juga sebagai amal perbuatan. Sebab, setiap amal -- yang baik maupun yang buruk -- setelah dilakukan, akan terbang seperti burung. Jerih payah ataupun kelezatan amal itu akan sirna, sedangkan kekotoran ataupun kebaikannya akan membekas di dalam hati.

Ini merupakan kaedah Alquran Suci, bahwa setiap amal terus membekaskan jejak-jejaknya secara terselubung. Bagaimanapun bentuk perbuatan manusia, sesuai dengan itu Allah Ta’ala akan memperlihatkan perbuatan-Nya. Dan perbuatan Ilahi itu tidak akan membiarkan dosa atau kebaikan tersebut menjadi sia-sia. Melainkan jejak-jejaknya akan dituliskan pada hati, wajah, mata, ta­ngan, dan kaki. Inilah yang secara terselubung merupakan suatu daftar amal perbuatan, yang akan zahir secara terbuka pada kehidupan akhirat.

Kemudian berkenaan dengan para penghuni surga, di tempat lain Dia berfirman:

Yakni, pada hari itu pun cahaya keimanan yang diperoleh orang-orang mukmin secara terselubung, akan tampak berlari-lari secara terbuka, di depan dan di kanan mereka (57:13). Di tempat lain Dia berfirman kepada orang‑orang yang berbuat buruk:

Yakni, keinginan dan ketamakan berlebih‑lebihan akan dunia telah merintangi kamu mencari akhirat, hingga kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah lekatkan hatimu pada dunia. Kamu segera akan mengetahui bahwa melekatkan hati pada dunia tidaklah baik. Sekali lagi Aku mengatakan bahwa sege­ra kamu akan mengetahui, melekatkan hati pada dunia tidaklah baik. Jikalau kamu memperoleh ilmu yang pasti, niscaya di dunia ini juga kamu akan melihat neraka. Kemudian di Alam Barzakh kamu akan melihat dengan penglihatan-penglihatan yang pasti. Lalu kamu akan dimintai pertanggung-jawaban sepenuhnya pada Hari Kebangkitan, dan azab dalam bentuk penuh akan menimpa dirimu. Dan bukan hanya melalui ucapan saja, melainkan melalui kondisi itu sendiri kamu akan memperoleh pengetahuan ten­tang neraka (102: 2‑9).

Tiga Macam Ilmu

Di dalam ayat‑ayat ini Allah Ta’ala menerangkan dengan jelas bahwa bagi orang-orang jahat di alam ini pun ada kehidupan neraka secara terselubung. Dan jika mereka memperhatikan, mereka akan melihat nerakanya masing‑masing di dunia ini juga. Dan disini Allah Ta’ala membagi ilmu dalam tiga tingkat, yak­ni: ‘ilmul yaqin, ‘ainul yaqin dan haqqul yaqin. Agar umum memahami, berikut ini adalah contoh-contoh ketiga ilmu tersebut. Misalnya, jika seseorang melihat dari jauh kepulan asap tebal di suatu tempat, maka pikirannya menghubungkan kenyataan itu ke­pada api dan ia yakin bahwa di sana ada api, karena antara asap dan api ada hubungan yang tidak terpisahkan. Dimana ada asap disana pasti ada api. Ringkasnya, pengetahuan yang demikian dinamakan ‘ilmul yaqin. Kemudian ketika dilihatnya nyala api, maka pengetahuan demikian di­namakan ‘ainul yaqin. Dan jika ia sendiri masuk ke dalam api, pengetahu­an demikian dinamakan haqqul yaqin.

Jadi, Allah Ta’ala berfirman bahwa ‘ilmul yaqin tentang adanya neraka dapat diperoleh di dunia ini juga. Kemudian di Alam Barzakh akan diperoleh ‘ainul yaqin. Dan pada Hari Kebangkitan pengetahuan itu juga yang akan sampai pada tingkat sempurna, yaitu haq­qul yaqin.

Tiga Alam

Disini hendaknya jelas bahwa menurut ajaran Alquran ter-bukti ada tiga macam alam:

(1) Alam Pertama ialah Dunia yang dinamakan alam kasab (alam usaha) dan nisya ula (alam kejadian pertama).

Di dunia inilah manusia melakukan kebaikan atau keburukan. Walaupun di alam kebangkitan akan ada kemajuan-kemajuan bagi orang‑orang yang berbuat kebaikan, tetapi itu hanyalah merupakan karunia Tuhan. Disitu tidak ada campur tangan upaya manusia.

(2) Alam Kedua dinamakan Barzakh.

Sebenarnya kata barzakh di dalam bahasa Arab ditujukan kepada sesuatu yang ada di tengah‑tengah dua benda. Jadi dikarenakan periode itu ada di antara alam kebangkitan dan alam kejadian per­tama, untuk itulah ia dinamakan Barzakh. Akan tetapi kata ini sejak awal dan sejak dunia diciptakan telah digunakan untuk menunjukkan alam pertengahan. Oleh sebab itulah di dalam kata tersebut terselubung suatu kesaksian agung tentang adanya alam pertengahan itu.

Kami telah membuktikan di dalam buku Minanur‑Rahman bahwa perkataan‑perkataan bahasa Arab adalah perkataan-perkataan yang keluar dari mulut Tuhan. Dan inilah satu‑satunya bahasa di dunia yang merupakan bahasa Tuhan Yang Mahasuci; bahasa yang sudah ada sejak awal; sumber segala ilmu pengetahuan; induk segala bahasa; dan merupakan singgasana awal dan terakhir bagi wahyu Tuhan. Dikatakan sebagai singgasana awal bagi wahyu Tuhan, karena seluruh bahasa Arab merupakan Kalam Tuhan yang dari sejak awal menyertai Tuhan. Kemudian Kalam itu turun ke dunia dan dunia telah menjadikannya sebagai bahasa mereka. Dan dikatakan sebagai singgasana terakhir bagi wahyu Ilahi, karena Kitab terakhir Allah Ta’ala -- yaitu Alquran Suci -- telah diturunkan dalam bahasa Arab.

Jadi, kata barzakh berasal dari bahasa Arab dan merupakan paduan dari kata       (zakhkha) serta              (barra), yang artinya, “Jalan upaya untuk beramal sudah berakhir dan sudah masuk ke dalam suatu kondisi yang terselubung.”

Keadaan barzakh adalah suatu keadaan ketika wujud manu­sia yang fana ini menjadi terurai; ruh terpisah dan tubuh pun terpisah. Sebagaimana yang tampak, tubuh dimasukkan ke dalam suatu lubang, sedangkan ruh masuk ke dalam semacam lubang juga, seperti yang terungkap dari kata zakhkha. Sebab, ruh tidak dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk seperti yang biasa dapat dilaksanakannya ketika mempunyai pertalian dengan tubuh. Adalah jelas bahwa sempurnanya kesehatan ruh bergantung pada tubuh. Akibat luka pada satu bagian tertentu di otak, maka daya ingat menjadi hilang. Dan akibat cedera pada bagian lainnya, kemampuan berpikir menjadi hilang dan segala kesadaran jadi lenyap. Dan apabila di dalam otak terjadi kekejangan, bengkak, atau penggumpalan darah, atau penggumpalan zat lain hingga timbul penyempitan bersifat sementara atau perma­nen, maka seketika itu juga dapat mengakibatkan ping­san, ayan, atau serangan lumpuh. Jadi, pengalaman kita sejak dahulu mengajarkan secara pasti bahwa ruh kita tanpa ada hubungan dengan tubuh, sama sekali tidak akan berarti. Maka amat keliru jika kita beranggapan bahwa pada waktu tertentu ruh kita secara mandiri, tanpa disertai tubuh, dapat memperoleh kebahagiaan. Jika kita mempercayainya sebagai suatu cerita, silahkan. Akan tetapi secara akal tidak ada dalilnya. Kami sama sekali tidak dapat mengerti bahwa ruh -- yang tidak berdaya akibat gangguan-gangguan kecil pada tubuh -- bagaimana mungkin pada hari itu akan berada dalam keadan sempurna, padahal hubungannya dengan tubuh diputuskan sama sekali. Tidakkah pengalaman sehari‑hari mengajarkan kepada kita bahwa untuk kesehatan ruh mutlak adanya kesehatan tubuh? Tatkala seseorang di antara kita menjadi tua‑renta, maka beriringan dengan itu ruhnya menjadi tua. Seluruh kekayaan ilmu pengetahuannya hilang termakan oleh usia lanjut. Sebagaimana Allah swt. berfirman:

Yakni, sesudah manusia menjadi tua, sampailah ia pada keadaan ia lupa sama sekali kepada ilmu yang pernah diperoleh-nya (22:6). Jadi, kesaksian kita ini cukup menjadi dalil atas kenyata­an bahwa ruh tanpa tubuh tidak akan bermakna sama sekali. Kemudian pemikiran ini pun menarik perhatian manusia kepada hakikat bahwa seandainya ruh tanpa tubuh merupakan sesuatu yang bermakna, maka perbuatan Tuhan tanpa alasan mengaitkan ruh dengan tubuh yang fana ini menjadi sia-sia. Dan patut pula direnungkan bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan manusia untuk meraih kemajuan‑kemajuan tak terbatas. Jadi, kalau da­lam keadaan hidup singkat ini saja kemajuan-kemajuan tidak dapat dicapai tanpa keikut-sertaan tubuh, maka bagaimana mungkin dapat diharapkan bahwa kemajuan yang tidak terbatas dan tanpa tepi itu mampu dicapai mandiri tanpa keikut-sertaan tubuh.

Jadi, dari semua keterangan ini terbukti bahwa untuk ter-laksana­nya pekerjaan‑pekerjaan ruh secara sempurna, menurut prinsip-prinsip Islam, keikut-sertaan tubuh pada ruh adalah kekal. Walaupun tubuh yang fana ini sesudah mati akan terpisah dari ruh, tetapi di Alam Barzakh tiap‑tiap ruh akan mendapat suatu tubuh sementara guna mencicipi cita rasa buah amal perbuatannya. Tubuh tersebut bukanlah dari jenis tubuh ini, melainkan ia dipersiapkan dari suatu cahaya, atau ke­balikannya, dari kegelapan -- sesuai dengan keadaan amal perbuatan. Seolah‑olah di Alam Barzakh itu keadaan‑keadaan amal manusia menjalankan peranan sebagai tubuh. Demikianlah berkali‑kali disebutkan dalam Kalam Ilahi, sebagian dinyatakan tubuh cahaya dan sebagian lagi tubuh kegelapan, yang terbentuk dari cahaya amal perbuatan atau dari kegelapan amal perbuatan. Kendatipun rahasia ini amat mendalam, akan tetapi bukanlah tidak masuk akal.

Seorang insan kamil (manusia sempurna), di dalam kehidupan ini juga dapat memperoleh suatu tubuh cahaya di samping tubuh kasar­nya. Dan di alam kasyaf banyak terdapat contoh-contohnya. Meskipun sulit memberikan pemahaman kepada orang yang akal-nya terbatas hanya pada pengetahuan lahiriah saja, namun orang-orang yang pernah mengalami sebagian alam kasyaf, mereka tidak akan heran melihat tubuh semacam itu yang dipersiapkan dari amal perbuatan. Bahkan mereka akan merasakan kelezatan dalam masalah ini.

Ringkasnya, tubuh yang diperoleh berdasarkan kondisi amal perbuatan, itulah yang akan menjadi faktor ganjaran baik dan buruk di Alam Barzakh. Saya mempunyai pengalaman dalam hal ini. Acapkali, secara kasyaf, dalam keadaan sadar, saya mendapat kesem­patan berjumpa dengan beberapa orang yang sudah meninggal dunia. Dan saya melihat tubuh beberapa orang fasik serta orang sesat demikian hitamnya sehingga seakan‑akan tubuh itu terbuat dari asap. Ringkasnya, saya secara pribadi cukup mengenal kawasan ini. Dan dengan tegas saya katakan, seperti yang telah difirmankan oleh Allah Ta’ala, pasti akan demikian bahwa sesudah mati setiap orang akan men­dapat suatu tubuh, baik berupa cahaya maupun kegelapan. Adalah kekeliruan manusia jika ia ingin membuktikan makrifat yang sangat halus ini hanya de­ngan perantaraan akal belaka. Melainkan hendaknya dimaklumi, sebagaimana mata tidak dapat menyatakan cita rasa makanan manis, dan tidak pula lidah dapat melihat sesuatu, demikian pulalah ilmu‑ilmu ukhrawi yang dapat diperoleh melalui kasyaf-kasyaf suci tidak akan da­pat diraih hanya dengan melalui perantaraan akal belaka. Allah Ta’ala telah menetapkan sarana-sarana tertentu secara terpisah untuk mengetahui hal-hal yang tidak berwujud di dunia ini. Jadi, carilah tiap se­suatu melalui sarananya masing-masing, maka barulah akan kalian dapatkan.

Satu hal lagi yang patut diingat, bahwa Tuhan telah menamakan di dalam Kalam-Nya orang‑orang jahat dan sesat sebagai orang mati, dan menyatakan orang‑orang yang beramal saleh sebagai orang hidup. Rahasianya ialah, orang-orang yang telah melupakan Allah Ta’ala, sarana-sarana kehidupan mereka -- yang digunakan untuk memuaskan nafsu makan, minum dan syahwat -- telah terputus dan mereka tidak memperoleh makanan rohani sedikitpun. Jadi, pada hakikatnya mereka telah mati. Dan mereka akan dibangkitkan hanya untuk memikul azab bela­ka. Ke arah rahasia inilah Allah swt. mengisyaratkan, sebagaimana Dia berfirman:

Yakni, barangsiapa datang kepada Tuhan dalam keadaan berdosa, baginya disediakan tempat di neraka Jahanam, di dalamnya ia tidak akan mati dan tidak pula akan hidup (20:75). Akan tetapi orang‑orang yang mencintai Allah tidak mati oleh maut, sebab minuman dan makanan mereka ada beserta mereka.

(3) Alam Ketiga dinamakan Alam Kebangkitan

Sesudah Alam Barzakh kemudian datanglah zaman yang dinama­kan Alam Kebangkitan. Pada masa itu setiap ruh -- yang baik maupun yang buruk; yang saleh maupun yang fasik -- akan mendapatkan tubuh nyata. Dan hari itu telah ditetapkan untuk penampakkan-penampakkan Tuhan seutuhnya, ketika setiap insan akan mengenali Wujud Tuhan dengan sejelas-jelasnya. Dan setiap orang akan mencapai titik akhir ganjarannya. Hendaknya jangan heran mengapa Tuhan akan berbuat demikian, sebab Dia memiliki segala kekuasaan. Apa yang dikehendaki‑Nya dikerjakan‑Nya. Se­bagaimana Dia Sendiri berfirman:

Yakni, apakah manusia tidak melihat bahwa Kami telah menciptakannya dari setetes air yang dimasukkan ke dalam rahim, kemudian ia menjadi seorang pembantah. Ia mulai membuat‑buat perkara mengenai Kami dan melupakan peristiwa penciptaan dirinya. Dan dia akan berkata, “Bagaimana mungkin dapat terjadi, tatkala tulang-belulang pun tidak selamat lagi maka bagaimana mungkin akan hidup kembali. Siapa pula yang mempunyai kekuasa­an demikian sehingga dapat menghidupkan-nya?” Katakanlah kepada mereka, “Yang akan menghidupkan adalah Dia yang telah menciptakannya pertama kali. Dan Dia mengetahui segala macam dan cara untuk menghidupkan. Begitu hebat perintah-Nya sehingga manakala Dia menghendaki se­suatu, Dia hanya mengatakan, ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia. Jadi, Mahasuci-lah Dzat Yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu, dan kepada Dia‑lah kamu sekalian akan kembali” (36: 78‑80; 82‑84). Jadi, di dalam ayat‑ayat ini Allah swt. berfirman bahwa di hadapan Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil; Dia-lah yang telah menciptakan manusia dari setetes air yang tidak berarti. Apakah Dia tidak mampu meng­hidupkan untuk kedua kalinya?

Di sini dapat timbul pertanyaan dari pihak yang kurang paham. Yaitu, Alam Ketiga atau Alam Kebangkit­an akan datang sesudah jangka waktu yang amat lama. Maka dalam ke­adaan demikian bagi setiap orang yang baik dan yang buruk, Alam Barzakh merupa­kan suatu tempat tahanan dan tampak sia‑sia. Jawaban­nya adalah, pengertian demikian sama sekali keliru, yang timbul karena kekurang-pahaman belaka. Justru di dalam Kitab Allah Ta’ala terdapat dua tempat untuk ganjaran baik dan buruk. Yang pertama adalah Alam Barzakh, yang di dalamnya setiap manusia akan memperoleh ganjarannya secara terselubung. Orang-orang jahat, setelah mati akan langsung masuk ke dalam neraka. Orang-orang baik setelah mati akan langsung mendapatkan ketentraman di dalam surga. Banyak terdapat ayat‑ayat semacam itu di dalam Alquran Suci. Segera sesudah mati, setiap insan akan melihat ganjar­an atas amal perbuatannya. Sebagaimana Allah Ta’ala mengabarkan tentang seorang penghuni surga, dan berfirman:

Yakni, telah dikatakan kepadanya, “Masuklah engkau ke dalam surga” (36:27). Dan demikian pula Dia mengabarkan tentang seorang penghuni neraka, lalu berfirman:

Yakni, orang surga mempunyai teman orang neraka. Ketika keduanya meninggal, maka orang surga merasa heran, kemana kawannya pergi. Maka kepadanya diperlihatkan bahwa temannya itu berada di tengah‑tengah neraka Jahanam (37:56). Jadi, pelaksanaan ganjaran dan hukuman itu berlaku segera. Ahli neraka masuk neraka dan ahli surga masuk surga. Akan tetapi, sesu­dah itu akan datang hari lain penampakkan agung yang dizahirkan oleh hikmah agung Tuhan. Sebab, Dia telah menciptakan manusia agar Dia dikenali melalui sifat penciptaan‑Nya. Kemudian Dia akan membinasakan semuanya supaya Dia dikenali melalui sifat keperkasaan‑Nya. Dan kemudian pada suatu hari Dia akan menganugerahkan kepada semuanya suatu kehidupan sempurna, lalu akan menghimpun mereka di suatu lapangan agar Dia dikenali melalui sifat kekuasaan‑Nya. Kini hendaknya diketahui bahwa itulah rahasia makrifat pertama di antara rahasia‑rahasia makrifat tersebut di atas, yang telah diuraikan.

Rahasia Makrifat Kedua

Rahasia makrifat kedua mengenai Alam Ukhrawi yang telah dijelaskan Alquran ialah, segala hal yang dahulu di dunia ini bersifat rohani, disana, di dalam Alam Ukhrawi -- baik di tingkat Barzakh maupun di tingkat Alam Kebangkitan -- akan dinampakkan dalam bentuk jasmani. Berkenaan dengan ini segala sesuatu yang telah difirmankan Allah Ta’ala, satu di antaranya adalah ayat berikut:

Yakni, barangsiapa di dunia ini buta, ia di alam nanti pun akan buta (17:73). Maksud ayat ini adalah, kebutaan rohani di dunia ini akan disaksikan dan dirasakan secara jasmani di alam nanti. Demikian pula pada ayat lain Dia berfirman:

Yakni, tangkaplah orang neraka itu. Kalungkanlah belenggu di lehernya. Lalu bakarlah dia di dalam api neraka. Kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta (69:31‑33). Hendaknya diketahui, di dalam ayat ini telah dizahirkan bahwa azab rohani dunia akan tampil secara jasmani di alam ukhrawi. Demikianlah, belenggu leher merupakan hasrat-hasrat duniawi yang telah menundukkan kepala manusia ke tanah, ia akan tampil dalam bentuk zahir di alam ukhrawi. Begitu pula rantai belenggu-belenggu dunia akan nampak melilit kaki-kaki. Dan api kobaran hasrat‑hasrat duniawi akan nampak menyala-nyala secara zahir.

Di alam kehidupan dunia, orang fasik menyimpan suatu neraka hawa nafsu di dalam dirinya. Dan dalam kegagalan-kegagalan dia merasakan kobaran-kobaran neraka itu. Jadi, tatkala dia dijauhkan dari nafsu berahinya yang fana serta akan diliputi keputus-asaan yang abadi, maka Allah Ta’ala akan menampakkan kepadanya hasrat‑hasrat tersebut dalam bentuk api jasmani. Sebagaimana Dia berfirman:

Yakni, akan diletakkan suatu pemisah antara mereka dengan apa­-apa yang mereka hasratkan (34:55). Dan inilah merupakan akar azab. Kemudian yang difirmankan bahwa, “Ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta,” hal ini mengisyaratkan bahwa kadang-kadang seorang fasik mencapai usia tujuh puluh tahun. Bahkan seringkali di dunia ini ia mencapai usia begitu panjang sehingga apabila dipotong masa kanak-kanak dan masa tua-renta, tetap saja ia memperoleh bagian umur bersih dan murni yang layak untuk digunakan berfikir secara bijak dan bekerja keras. Akan tetapi, orang malang itu menjalani tujuh puluh tahun kehidupannya tersebut dalam cengkeraman-cengkeraman di dunia. Dan dia tidak berkeinginan untuk lepas dari rantai itu. Jadi, di dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman bahwa masa tujuh puluh tahun yang telah dia lalui di dalam cengkeraman-cengkeraman dunia itulah yang akan dinampakkan di Alam Kebangkitan sebagai rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Tiap hasta merupakan satu tahun. Disini hendaknya diingat bahwa Allah Ta’ala dari diri-Nya sendiri tidak menimpakan suatu musibah kepada manusia, melainkan Dia memaparkan di hadapan manusia pekerjaan buruk manusia itu sendiri. Kemudian untuk menzahirkan sunnah-Nya ini Allah Ta’ala di tempat lain berfir­man:

Yakni, hai orang‑orang yang berbuat jahat dan sesat! Pergilah kamu ke tempat bernaung bercabang tiga yang tidak dapat memberi teduh dan tidak pula dapat menyelamatkan dari panas (77: 31,32). Di dalam ayat ini yang dimaksud dengan tiga cabang adalah sifat kebinatangan, kebuasan, dan kejalangan. Orang-orang yang tidak mengubah ketiga sifat ini ke dalam bentuk akhlak serta tidak mene­rapkannya pada tempat yang semestinya, maka sifat-sifat itu pada Hari Kiamat akan diwujudkan dalam bentuk tiga cabang yang berdiri tanpa ­daun-daun serta tidak dapat melindungi dari panas terik. Dan mereka akan hangus karena panasnya. Demikian pula, Allah Ta’ala untuk menzahirkan sunnah-Nya, telah berfirman mengenai orang-orang surga:

Yakni, pada hari itu engkau akan melihat bahwa cahaya orang-orang mukmin -- yang selama di dunia terselubung -- akan berlari-lari secara nyata di hadapan dan di sisi kanan mereka (57:13).

Dan pada sebuah ayat lainnya Dia berfirman:

Yakni, pada hari itu beberapa wajah akan menjadi hitam dan beberapa akan menjadi putih serta bersinar-sinar (3:107).

Kemudian dalam satu ayat lainnya Dia berfirman:


Yakni, surga yang akan dianugerahkan kepada orang-orang mutaki adalah seibarat sebuah kebun. Di dalamnya terdapat sungai-sungai air yang tidak pernah busuk. Kemudian di dalamnya terdapat sungai-sungai susu yang rasanya tidak pernah berubah. Kemudian di dalamnya terdapat sungai-sungai arak yang menimbulkan perasaan sangat riang tapi tidak memabukkan. Lalu di dalamnya terdapat sungai-sungai madu yang sangat murni dan tidak mengandung bahan campuran (47:16). Disini dengan jelas telah difirmankan bahwa surga itu hendaknya dipahami demikian secara kiasan, bahwa di dalamnya terdapat sungai-sungai yang tak bertepi tersebut dari seluruh benda tersebut. Air kehidupan yang diminum secara rohaniah di dunia oleh orang arif, di dalam kebun itu akan terwujud secara zahir. Dan susu rohani -- yang secara rohaniah di dunia dia dibesarkan bagai bayi yang menyusu -- itu akan nampak nyata di surga. Dan arak kecintaan Ilahi -- yang dengan itu dia di dunia secara rohaniah selalu mabuk -- kini di dalam surga sungai‑sungai arak itu akan kelihatan secara nyata. Dan madu manisnya iman -- yang selama di dunia secara rohaniah masuk ke dalam mulut orang arif -- di surga akan terasa dan nampak bagai sungai-sungai yang nyata. Dan masing-masing penghuni surga, dengan sungai-sungai dan kebun-kebun miliknya, akan memperlihatkan secara terbuka taraf keadaan rohaninya. Dan Tuhan-pun pada hari itu akan tampil keluar bagi para penghuni surga dari balik tirai-tirai. Ringkasnya, keadaan‑keadaan rohani tidak akan tersembunyi la­gi, melainkan akan nampak secara jasmani.

Rahasia Makrifat Ketiga

Rahasia makrifat ketiga ialah, kemajuan-kemajuan di Alam Ukhrawi tidak akan ada batasnya. Mengenai itu Allah Ta’ala berfir­man:

Yakni, barangsiapa memiliki cahaya iman di dunia, cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan dan di sisi kanan mereka pada Hari Kiamat. Mereka akan senantiasa berkata, “Ya Tuhan, sampaikanlah cahaya kami kepada kesempurnaan, dan tariklah kami ke dalam maghfirat (ampunan) Engkau. Engkau ber­kuasa atas segala sesuatu” (66:9).

Di dalam ayat ini yang telah difirmankan bahwa mereka senantiasa akan mengatakan, “Sampaikanlah cahaya kami kepada kesempurnaan,” ini mengisyaratkan kepada kemajuan-kemaju­an yang tidak ada batasnya. Yakni, mereka akan memperoleh suatu kesempurna­an cahaya, kemudian akan nampak kesempur­naan kedua. Setelah menyaksikan hal itu, mereka akan mendapatkan bahwa kesempurnaan yang pertama tadi memiliki kekurangan. Jadi mereka akan memohon kesempurnaan yang kedua. Dan apabila itu diperoleh, maka akan zahir pula atas mereka derajat kesempurnaan yang ketiga. Kemudian setelah menyaksikan hal itu, mereka akan menganggap kesempurnaan-kesempurnaan yang terdahulu tidak berarti dan mereka berhasrat mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi. Inilah hasrat terhadap kemajuan-kemajuan yang dipahami dari kata atmim (sempurnakanlah).

Ringkasnya, seperti itulah rangkaian kemajuan tak terbatas yang akan berkesinambungan. Kemunduran tidak pernah akan ter-jadi. Dan tidak pula mereka akan pernah dikeluarkan dari dalam surga. Bahkan setiap hari mereka akan maju ke depan dan tidak akan mundur ke belakang. Dan yang telah difirmankan bahwa mereka akan senantiasa memohon pengampunan bagi diri mereka, disitu timbul pertanyaan: kalau sudah masuk ke dalam surga, mengapa pula masih ada masalah maghfirat (pengampunan)? Tatkala dosa-dosa sudah diampuni, apa pula perlunya istighfar? Jawabannya adalah, arti maghfirat yang sebenarnya ialah menekan dan menutup-nutupi keadaan cacat dan kekurangan. Jadi, para penghuni surga akan berkeinginan untuk meraih kesempurnaan yang paling lengkap serta tenggelam di dalam lautan cahaya. Setelah melihat keadaan yang kedua, mereka akan menemukan keadaan pertama tidak sempurna. Maka mereka akan berkeinginan agar keadaan pertama itu ditekan ke bawah. Kemudian setelah melihat kesempurnaan yang ketiga, mereka akan berkeinginan untuk memperoleh maghfirat bagi kesempurnaan yang kedua. Yakni, supaya keadaan yang tidak sempurna itu ditekan ke bawah dan diselubungi. Seperti itulah mereka akan terus menginginkan maghfirat yang tak terbatas. Kata maghfirat dan istighfar ini jugalah yang selalu dipaparkan oleh beberapa orang bodoh sebagai celaan terhadap Nabi kita saw. Jadi, para pemerhati disini tentu telah memahami bah­wa hasrat akan istighfar ini merupakan kebanggaan ma­nusia. Barangsiapa yang telah lahir dari rahim seorang wanita dan kemudian untuk selamanya dia tidak menjadikan istighfar sebagai adat kebiasaannya, maka dia merupakan seekor cacing, bukan manusia. Buta, tidak melihat. Kotor, tidak suci.

Kini kesimpulannya adalah, berdasarkan Alquran Suci, pada hakikatnya neraka dan surga keduanya me­rupakan bayangan-bayangan dan dampak-dampak kehidupan manusia. Bukanlah benda jasmaniah baru, yang datang dari suatu tempat lain. Memang benar, bahwa keduanya itu akan diperagakan secara jasmani, akan tetapi merupakan bayangan dan dampak keadaan-keadaan rohani yang sebenarnya. Kami tidak mengakui suatu surga yang hanya secara jasmani akan ditanami pohon‑pohon di atas sebidang tanah. Dan tidak pula kami mengakui adanya suatu neraka yang di dalamnya terdapat batu‑batu belerang. Melainkan, sesuai dengan akidah Islam, surga dan neraka merupakan cerminan-cerminan amal perbuatan yang dilakukan manusia di dunia.



Enhanced by Zemanta
Post a Comment