Allahu Akbar … TernyataRasulullah SAW Masih Hidupsampai Sekarang!!
Penjelasan
bahwa Rasulullah Muhammad saw masih hidup setelah kewafatannya saya
kutipkan dari kitab Tanwirul Halak karya Imam Suyuti. Berikut kutipan
dari Kitab Tanwirul Halak: Imam al-Baihaqi telah membahas sepenggal
kehidupan para nabi. Ia menyatakan dalam kitab Dalailun Nubuwwah: “Para
nabi hidup di sisi Tuhan mereka seperti para syuhada.” Abu Manshur
‘Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi mengatakan: “Para sahabat kami yang
ahli kalam al-muhaqqiqun berpendapat bahwa Nabi kita Muhammad saw hidup
setelah wafatnya. Adalah beliau saw bergembira dengan ketaatan ummatnya
dan bersedih dengan kemaksiatan mereka, dan beliau membalas shalawat
dari ummatnya.” Ia menambahkan, “Para nabi as tidaklah dimakan oleh bumi
sedikit pun. Musa as sudah meninggal pada masanya, dan Nabi kita
mengabarkan bahwa beliau melihat ia shalat di kuburnya. Disebutkan dalam
hadis yang membahas masalah mi’raj, bahwasanya Nabi Muhammad saw
melihat Nabi Musa as di langit ke empat serta melihat Adam dan Ibrahim.
Jika hal ini benar adanya, maka kami berpendapat bahwa Nabi kita
Muhammad saw juga hidup setelah wafatnya, dan beliau dalam kenabiannya.”
Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah mengenai hadis kematian dari syeikhnya
mengatakan: “Kematian bukanlah ketiadaan yang murni, namun kematian
merupakan perpindahan dari satu keadaan kepada keadaan lain. Hal ini
menunjukkan bahwa para syuhada (orang yang mati syahid) setelah kematian
mereka, mereka hidup dengan diberikan rejeki, dalam keadaan gembira dan
suka cita. Hal ini merupakan sifat orang-orang yang hidup di dunia.
Jika sifat kehidupan di dunia ini saja diberikan kepada para syuhada
(orang yang mati syahid), tentu para nabi lebih berhak untuk
menerimanya.” Benar, ungkapan yang mengatakan bahwa bumi tidak memakan
jasad para nabi as. Hal itu terbukti bahwa Nabi Muhammad saw berkumpul
dengan para nabi pada malam isra’ di Baitul Maqdis dan di langit, serta
melihat Nabi Musa berdiri shalat di kuburnya. Nabi juga mengabarkan
bahwa beliau menjawab salam dari orang yang mengucapkan salam kepadanya.
Sampai hal yang lebih dari itu, di mana secara global hal tersebut bisa
menjadi dasar penyangkalan terhadap kematian para nabi as yang
semestinya adalah mereka kembali; gaib dari pada kita, hingga kita tidak
bisa menemukan mereka, padahal mereka itu wujud, hidup dan tidaklah
melihat mereka seorang pun dari kita melainkan orang yang oleh Allah
diberikan kekhususan dengan karamah. Abu Ya’la dalam Musnad-nya dan
al-Baihaqi dalam kitab Hayatul Anbiya’ mengeluarkan hadis dari Anas ra:
Nabi saw bersabda: “Para nabi hidup di kubur mereka dalam keadaan
mengerjakan shalat.” Al-Baihaqi mengeluarkan hadis dari Anas ra: Nabi
saw bersabda, “Sesungguhnya para nabi tidaklah ditinggalkan di dalam
kubur mereka setelah empat puluh malam, akan tetapi mereka shalat di
hadapan Allah SWT sampai ditiupnya sangkakala.” Sufyan meriwayatkan
dalam al- Jami’, ia mengatakan: “Syeikh kami berkata, dari Sa’idbin al-
Musayyab, ia mengatakan, “Tidaklah seorang nabi itu tinggal di dalam
kuburnya lebih dari empat puluh malam, lalu ia diangkat.” Al-Baihaqi
menyatakan, atas dasar inilah mereka layaknya seperti orang hidup
kebanyakan, sesuai dengan Allah menempatkan mereka. ‘Abdur Razzaq dalam
Musnadnya meriwayatkan dari as-Tsauri, dari Abil Miqdam, dari Sa’id bin
Musayyab, ia berkata: “Tidaklah seorang nabi mendiami bumi lebih dari
empat puluh hari.” Abui Miqdam meriwayatkan dari Tsabit bin Hurmuz
al-Kufi, seorang syeikh yang shaleh, Ibn Hibban dalam Tarikhnya dan
Thabrani dalam al-Kabir serta Abu Nua’im dalam al-Hilyah, dari Anas ra
berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang nabi pun yang
meninggal, kemudian mendiami kuburnya kecuali hanya empat puluh hari.”
Imamul Haramairi dalam kitab an-Nihayah, dan ar-Rafi’i dalam kitab
as-Syarah diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda “Aku dimuliakan oleh
Tuhanku dari ditinggalkannya aku dikubur selama tiga hari.” Imam al-
Haramain menambahkan, diriwayatkan lebih dari dua hari. Abui Hasan bin
ar-Raghwati al- Hanbali mencantumkan dalam sebagian kitab-kitabnya:
“Sesungguhnya Allah tidak meninggalkan seorang nabi pun di dalam
kuburnya lebih dari setengah hari.” Al-Imam Badruddin bin as-Shahib
dalam Tadzkirahnya membahas dalam satu bab tentang hidupnya Nabi saw
setelah memasuki alam bnrzokh. Ia mengambil dalil penjelasan Pemilik
syari’at (Allah) dari firmanNya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-
orang yang gugur di jalan Allah, itu mati, bahkan mereka itu hidup di
sisi Tuhannya dengan mendapat rejeki,” (QS. Ali ‘Imran: 169). Keadaan di
atas menjelaskan tentang kehidupan alam barzakh setelah kematian, yang
dialami oleh salah satu golongan dari ummat ini yang termasuk dalam
golongan orang-orang yang bahagia (sn’ada’). Apakah hal- ikhwal mereka
lebih tinggi dibandingkan dengan kedudukan Nabi saw? Sebab mereka
memperoleh kedudukan semacam ini dengan barakah dan dengan sebab mereka
mengikuti beliau, serta bersifat dengan hal yang memang selayaknya
mereka memperoleh ganjaran kedudukan ini dengan syahadah (kesaksian),
dan syahadah Nabi Muhammad saw itu merupakan paling sempurnanya
syahadah. Nabi Muhammad saw bersabda: “Aku melewati Nabi Musa as pada
malam aku dasra’kan berada di sisi bukit pasir merah, ia sedang berdiri
shalat di kuburnya.” Hal ini jelas sebagai penetapan atas hidupnya Musa
as, sebab Nabi saw menggambarkannya sedang melakukan shalat dalam posisi
berdiri. Hal semacam ini tidaklah disifati sebagai ruh, melainkan
jasad, dan pengkhususannya di kubur merupakan dalilnya. Sebab sekiranya
(yang tampak itu) adalah sifat-sifat ruh, maka tidak memerlukan
pengkhususan di kuburnya. Tidak seorang pun yang akan mengatakan/
berpendapat bahwa ruh-ruh para nabi terisolir (terpenjara) di dalam
kubur beserta jasadnya, sedangkan ruh-ruh para su’ada’ (orang-orang yang
bahagia/sentosa) dan kaum mukminin berada di surga. Di dalam ceritanya,
Ibn ‘Abbas menuturkan ra: “Aku merasa tidak sah shalatku sepanjang
hidup kecuali sekali shalat saja. Hal itu terjadi ketika aku berada di
Masjidil Haram pada waktu Shubuh. Ketika imam takbiratul ihram, aku juga
melakukan hal yang sama. Tiba-tiba aku merasa ada kekuatan yang
menarikku; kemudian aku berjalan bersama Rasuhdlah antara Mekkah dan
Madinah. Kemudian kami melewati sebuah lembah. Nabi bertanya, “Lembah
apakah ini?”Mereka menjawab, “Lembah Azraq.” Kemudian Ibn ‘Abbas
berkata, “Seolah-olah aku melihat Musa meletakkan kedua jari telunjuk ke
telinganya sambil berdoa kepada Allah dengan talbiyah melewati lembah
ini. Kemudian kami melanjutlam perjalanan hingga kami sampai pada sebuah
sungai kecil di bukit.” Ibn ‘Abbas melanjutkan kisahnya, “Seolah-olah
aku melihat Nabi Yunus di atas unta yang halus, di atasnya ada jubah wol
melewati lembah ini sambil membaca talbiyah.” Dipertanyakan di sini,
bagaimana Ibn ‘Abbas bisa menuturkan tentang haji dan talbiyah mereka,
padahal mereka sudah meninggal? Dijawab: bahwasanya para syuhada itu
hidup di sisi Tuhan mereka dengan diberikan rejeki, maka tidak jauh
pula, jika mereka haji dan shalat serta bertaqarrub dengan semampu
mereka, meskipun mereka berada di akhirat. Sebenarnya mereka di dunia
mi, yakni kampungnya amal, sampai jika telah habis masanya dan berganti
ke kampung akhirat, yakni kampungnya jaza’ (pembalasan), maka habis pula
amalnya. Ini pendapat dari al-Qadhi Iyadh. Al-Qadhi Iyadh mengatakan
bahwa mereka itu melaksanakan haji dengan jasad mereka dan meninggalkan
kubur mereka, maka bagaimana bisa diingkari berpisahnya Nabi saw dengan
kuburnya, jika beliau haji, shalat ataupun isra’ dengan jasadnya ke
langit, tidaklah beliau terpendam di dalam kubur. Kesimpulannya dari
beberapa penukilan dan hadis tersebut, bahwa Nabi saw hidup dengan jasad
dan ruhnya. Dan beliau melakukan aktivitas dan berjalan, sekehendak
beliau di seluruh penjuru bumi dan di alam malakut. Dan beliau dalam
bentuk/keadaan seperti saat sebelum beliau wafat, tidak berubah sedikit
pun. Beliau tidak tampak oleh pandangan sebagaimana para malaikat yang
wujudnya adalah ada dan hidup dengan jasad mereka. Jika Allah
berkehendak mengangkat hijab tersebut terhadap orang yang Dia kehendaki
sebagai bentuk anugerah dengan melihat Nabi, maka orang tersebut akan
melihat beliau dalam keadaan apa adanya (seperti saat beliau hidup) dan
tidak ada sesuatu pun yang menghalangi dari hal tersebut serta tidak ada
pula yang menentang atas pengkhususan melihat yang semisalnya.Air mata rosululloh
Oleh : Fuad
Kauma Tangisan ketakutan inilah yang sering dilakukan Nabi Muhammad SAW,
dalam munajatnya kepada Allah, diantara tangisan itu adalah : 1. Air
mata Rasulullah menjelang perang Badar. Nabi Muhammad menangis dalam
shalatnya menjelang perang Badar, dalam usahanya memohon pertolongan
Allah agar kaum muslimin diberikan kemenangan, untuk mengembalikan
wibawa kaum muslim dari penindasan dan penghinaan kaum kafir Quraisy. 2.
Air mata Rasulullah melihat jasad Mush’ab. Mush’ab meninggal pada
perang Badar, sebagai Duta Islam yang pertama yang menyampaikan agama
tauhid. Ketika tak ada sehelai kain yang mampu menutupi jasadnya maka
Rasulullah mengatakan, ‘Tutuplah ke bagian kepalanya (kain burdah),
sedang kakinya tutupilah dengan rumput idzkir’. 3. Air mata Rasulullah
mendengar kematian Ja’far. Sahabat Rasulullah yang meninggal pada perang
Mu’tah. 4. Air mata Rasulullah atas kematian Utsman bin Mazh’un. Utsman
bin Mazh’un adalah muhajiran pertama yang meninggal di Madinah, dan
Nabi Muhammad mencium kening dari jasad Ustman dan berkata, ‘Semoga
Allah memberimu rahmat, wahai Abu Saib. Kamu pergi meninggalkan dunia,
tak satupun keuntungan yang kamu peroleh daripadanya(dunia), serta tak
satupun kerugian (dunia) pun deritanya daripadamu’. 5. Air mata
Rasulullah melihat jasad Hamzah. Hamzah adalah paman Rasulullah, yang
meninggal pada perang Uhud, perang balasan kaum kafir atas kekalahannya
pada perang Badar. 6. Air mata Rasullulah melihat Sa’ad bin Ubadah
sakit. 7. Air mata Rasulullah mendengar kematian Abdullah. Sahabat nabi
yang pertama kali di Baiat, Baiat terkanal dengan Baiatul Aqabah 1, dan
meninggal pada saat perang Mu’tah. 8. Air mata Rasulullah mengingat
nasib Husain. Saat kelahiran cucu Rasulullah yang kedua nabi Muhammad
menangis sambil memangku Husain, karena Nabi telah tahu nasib Husain
akan dibantai di Padang Karbala. 9. Air mata Rasulullah ketika putranya
meninggal. Ibrahim adalah putra Nabi Muhammad dari istrinya yang bernama
Mariyah Al-Qibthiyyah, meninggal saat berusia kurang dari 2 tahun. 10.
Air mata Rasulullah terhadap kematian Ruqayyah. Ruqayyah adalah putri
sulung Nabi Muhammad dari khadijah. 11. Air mata Rasulullah melihat
penderitaan Fatimah. Fatima Az-Zarrah putri terakhir Rasulullah. 12. Air
mata Rasulullah melihat kemelaratan Fatimah. 13. Air mata Rasulullah
melihat kemurahan hati Fatimah. Sabda nabi, “Roh suci (malaikat Jibril
as) telah dating padaku memberitahu bahwa pada saat Fatimah meninggal
dunia, di dalam kuburnya ia akan didatangi malaikat dan ditanya, ‘Siapa
tuhanmu?’ Maka Fatimah menjawab, ‘Allah tuhanku’. Dan ditanya lagi,
‘Siapa nabimu?’ Ia akan menjawab, ‘Ayahku’. “Barang siapa di kemudian
hari berziarah ke pusaraku (makamku), di sama artinya mengunjungiku di
kala aku masih hidup. Dan barang siapa berziarah ke makam Fatimah, dia
sama dengan berziarah ke pusaraku”. 14. Air mata Rasulullah mengingat
ibunya. 15. Air mata Rasulullah teringat keyatimannya. 16. Air mata
Rasulullah mengingat kemalangannya. 17. Air mata Rasulullah
ditinggalkan istri tercinta. 18. Air mata Rasulullah melihat kalung
putrinya. 19. Air mata Rasulullah melihat pilihan Zaid bin Haritsah.
20. Zaid merupakan tawanan yang dicuri perampok kemudian di beli oleh
paman Khadijah yaitu Hakim bin Hizam dan di berikan kepada Rasulullah
suami Khadijah, ketika ayah dan paman zaid datang ingin menebusnya dari
Rasulullah maka Zaid lebih memilih Rasulullah, kemudian Zaid diangkat
anak oleh Rasulullah. 21. Air mata Rasulullah menghayati isi Al-Quran.
22. Air mata Rasulullah mendengar peringatan. 23. Air mata
Rasulullah mengingat siksaan wanita. 24. Air mata Rasulullah mengingat
nasib umatnya. 25. Air mata Rasulullah mengingat hari hisab. 26.
Air mata Rasulullah dalam mensyukuri nikmat. 27. Air mata Rasulullah
dalam shalat gerhana matahari. 28. Air mata Rasulullah mendengar
protes seorang ayah. 29. Air mata Rasulullah melihat kasih sayang
sahabatnya. 30. Air mata Rasulullah teringat siksaan musyrikin
Quraisy. 31. Air mata Rasulullah ketika ingat neraka. 32. Air mata
Rasulullah atas kematian anak Usman bin Zaid. Menangis adalah sesuatu
yang alamiah dan fitrah manusia ketika hatinya sedang dirundung duka dan
kesedihan. Begitu juga yang dialami oleh Rasulullah SAW. Ketika
bersedih, beliau menangis tapi tak bersuara hanya meneteskan air mata.Tahukah Anda: Islam Masukke Nusantara Saat RasulullahSAW Masih Hidup
Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku- buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.Riwayat Wafatnya Rasulullah SAW
Terbelahnya Bulan
terbelahnya
bulanSebagian orang mungkin belum mengetahui hal ini yaitu bulan pernah
terbelah di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kejadian ini telah
diceritakan dalam Al Qur’an dan dalam berbagai hadits. Kejadian ini
pula adalah di antara tanda datangnya kiamat. Marilah kita lihat
pembahasan selanjutnya. Allah Ta’ala berfirman, ﺍﻗْﺘَﺮَﺑَﺖِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ
ﻭَﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ “Telah dekat (datangnya) kiamat dan telah terbelah
bulan.” (QS. Al Qamar: 1) Terdapat hadits yang juga menyebutkan hal ini,
sebagaimana yang disebutkan dalam shohih Bukhari. Dari Ibnu Mas’ud,
beliau berkata, ﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻓِﺮْﻗَﺘَﻴْﻦِ ، ﻓِﺮْﻗَﺔً ﻓَﻮْﻕَ ﺍﻟْﺠَﺒَﻞِ ﻭَﻓِﺮْﻗَﺔً
ﺩُﻭﻧَﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - » ﺍﺷْﻬَﺪُﻭﺍ »
“Bulan terbelah menjadi dua bagian pada zaman Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Satu belahan terdapat di atas gunung dan belahan
lainnya berada di bawah gunung. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, ’Saksikanlah’.” (HR. Bukhari no. 4864) Berita ini juga
dikeluarkan oleh At Tirmidzi dari sahabat Anas, beliau berkata, ﺳَﺄَﻝَ
ﺃَﻫْﻞُ ﻣَﻜَّﺔَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﺁﻳَﺔً ﻓَﺎﻧْﺸَﻖَّ
ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ ﺑِﻤَﻜَّﺔَ ﻣَﺮَّﺗَﻴْﻦِ ﻓَﻨَﺰَﻟَﺖِ )ﺍﻗْﺘَﺮَﺑَﺖِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ
ﻭَﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ( ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻮْﻟِﻪِ )ﺳِﺤْﺮٌ ﻣُﺴْﺘَﻤِﺮٌّ ) “Penduduk
Makkah meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu bukti.
Akhirnya bulan terbelah di Makkah menjadi dua bagian, lalu turunlah ayat
: ‘Telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan. Dan jika
mereka (orang- orang musyrikin) melihat suatu tanda (mu'jizat), mereka
berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus".(QS. Al
Qamar: 1-2)” (HR. Tirmidzi no. 3286. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits
ini hasan shohih. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At
Tirmidzi mengomentari bahwa hadits ini shohih. Riwayat ini juga
dibawakan oleh Jalaluddin As Suyuthi dalam Asbabun Nuzul, hal. 184,
Darul Ibnu Haitsam.) Hadits terbelahnya bulan telah diriwayatkan oleh
sekelompok sahabat di antaranya: Abdullah bin ‘Umar, Hudzaifah, Jubair
bin Muth’im, Ibnu ‘Abbas, Anas bin Malik, dan juga diriwayatkan oleh
seluruh ahli tafsir. Namun, sebagian orang merasa ragu tentang hal ini
dan menyatakan bahwa terbelahnya bulan itu terjadi pada hari kiamat
nanti sebagaimana hal ini diriwayatkan oleh ‘Utsman bin ‘Atho’ dari
ayahnya, dll. Namun, perkataan semacam ini adalah perkataan yang syadz
(yang menyelisihi pendapat yang lebih kuat) dan pendapat ini tidak bisa
menggantikan kesepakatan yang telah ada. Alasannya adalah kata
‘terbelah’ (pada ayat di atas) adalah kata kerja bentuk lampau (dan
berarti sudah terjadi). Sedangkan menyatakan bahwa kata kerja lampau ini
berarti akan datang membutuhkan dalil, namun hal ini tidak diperoleh. –
Inilah perkataan Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir-. (Lihat tafsir surat
Al Qomar ayat 1 di Zaadul Masiir, 5/449, Asy Syamilah) Intinya, kita
haruslah meyakini kejadian di atas dengan penuh keyakinan karena ini
adalah kabar yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah memberi
taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu
‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala wa alihi wa shohbihi wa sallam.
Wasiat Terakhir NabiMuhammad SAW
Ali bin Abi Tholib ra berkata : Ketika telah turun surat An Nashr, Rasulullah saw sakit dan pada hari kamis Rasulullah keluar dengan kepala yang diikat. Kemudian naik diatas mimbar dan duduk diatas mimbar dengan muka yang pucat dan airmata yang berlinang. Lalu memanggil Bilal dan menyuruhnya berseru di Madinah mengajak orang – orang supaya berkumpul untuk mendengar dan menerima wasiyat Nabi saw sebagai wasiyat yang terakhir. Maka berkumpullah semua penduduk Madinah, kecil, besar, laki – laki, dan perempuan sehingga mereka tinggalkan rumah terbuka dan pasar kosong, serta tidak ketinggalan gadis – gadis pingitan sama – sama keluar untuk mendengarkan wasiyat Rasulullah saw sehingga penuhlah masjid. Nabi saw berkata : “Berilah kesempatan kepada orang – orang yang di belakang supaya masuk.” Kemudian Nabi saw berdiri sambil menangis dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, lalu memuji syukur kepada Allah sebagaimana lazimnya dan membaca sholawat untuk semua Nabi juga pada dirinya. Lalu bersabda : “Aku Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththolib bin Hasyim bangsa Arab kelahiran haram Mekkah yang tiada nabi sesudahku. Hai semua manusia, diriku ini telah diberitakan akan mati, telah dekat akan meninggalkan dunia ini dan aku telah rindu kepada Tuhanku, maka alangkah sedihnya meninggalkan ummatku, apakah yang mereka katakan kelak sepeninggalku, ya Allah selamatkan, selamatkan. Hai manusia, dengarlah wasiyatku, perhatikan dan ingat – ingatlah, yang hadir harus menyampaikan kepada yang tidak hadir. Karena ini wasiyatku yang terakhir kepada kamu. Hai manusia, Allah telah menerangkan kepada kamu dalam kitab yang diturunkanNya, apa yang halal dan yang haram, yang harus kamu lakukan dan yang kamu tinggalkan, maka gunakanlah yang halal, tinggalkanlah yang haram, percayalah pada yang mutasyabih, laksanakan yang muhkam (tegas) dan jadikan sebagai peringatanmu yang berupa contoh – contoh itu”. Nabi saw melihat ke langit sambil berkata : “Ya Allah saya telah menyampaikan maka saksikanlah. Hai manusia, awaslah kamu dari hawa nafsu yang sesat menyesatkan yang jauh dari tuntunan rahmat Allah dan surga, bahkan dekat kepada neraka. Hendaklah kamu menjaga jama’ah (persatuan) dan istiqomah (tetap lurus) karena ini dekat kepada Allah dan surga, jauh dari api neraka. Ya Allah saya telah menyampaikan. Hai manusia, takutlah kapada Allah, takutlah kepada Allah dalam menjaga agama dan amanat yang diamanatkan kepadamu. Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah dalam memelihara budak – budakmu, berilah mereka makan dari apa yang kamu makan, pakaian dari apa yang kamu pakai dan jangan memaksa mereka apa yang mereka tidak kuat, karena mereka itu juga tercipta dari daging dan darah, makhluk yang sama seperti kamu, ingatlah yang aniaya pada mereka, maka akulah lawannya pada hari kiamat dan Allah hakimnya. Takutlah kepada Allah dalam memelihara istri, tepatilah mahar mereka dan jangan menganiaya mereka niscaya kamu akan diharamkan dari hasanat – hasanatmu di hari kiamat. Ingatlah saya telah menyampaikan. Hai manusia, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, ajarkan kepada mereka akhlak sopan santun, sebab mereka ditanganmu bagaikan tawanan dan amanat, ingatlah saya telah menyampaikan. Hai manusia, patuhlah pada pemerintahmu dan jangan menentang mereka meskipun dari turunan budak Habasyi yang terpotong hidungnya, sebab yang patuh pada amir itu berarti ta’at padaku, siapa yang taat padaku berarti taat kepada Allah dan siapa yang menentang mereka berarti menentang aku dan siapa yang menentang aku berarti ma’siyat kepada Allah. Ingatlah jangan keluar dari mereka dan jangan memutuskan janjimu pada mereka. Ingatlah saya telah menyampaikan. Hai manusia, hendaklah kamu cinta pada keluargaku, ahli – ahli Al Qur’an dan cinta pada ulama – ulamamu, jangan kamu membenci atau hasud kepada mereka, jangan kamu menghina kepada mereka, ingatlah siapa yang cinta kepada mereka berarti cinta kepadaku, siapa yang cinta padaku maka cinta kepada Allah dan siapa yang benci pada mereka berarti benci padaku, siapa benci padaku maka benci kepada Allah. Ingatlah saya telah menyampaikan. Hai manusia, jagalah sholat lima waktu dengan menyempurnakan wudhu’, menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Hai manusia, keluarkan zakat hartamu, ingatlah siapa yang tidak mengeluarkan zakat, maka tidak dianggap sholatnya, tidak beragama, tidak dianggap puasa, haji dan jihadnya. Ya Allah saya telah menyampaikan. Hai manusia, sungguh Allah telah mewajibkan haji pada orang yang kuasa melakukan perjalanannya dan siapa yang tidak melaksanakannya, boleh pilih apakah akan mati yahudi, nasrani atau majusi, kecuali jika ia berudzur penyakit yang menahannya atau raja yang dzalim. Ingatlah bahwa ia tidak akan mendapat syafa’atku dan tidak akan minum dari haudh (telaga)-ku. Ingatlah saya telah menyampaikan. Hai manusia, sesungguhnya Allah akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat di suatu lapangan dalam kedudukan yang sangat berat, mengerikan, pada hari yang tidak berguna harta atau anak buah, kecuali orang yang menghadap kepada Allah dengan hati yang suci bersih dari syirik, ingatlah saya telah menyampaikan. Hai manusia, jagalah lidahmu, tangiskan matamu, tundukkan hatimu, letihkan badanmu, berjihadlah melawan musuhmu, makmurkan mesjidmu, ikhlaskan imanmu, nasihatilah teman – temanmu, berbuatlah kebaikan untuk dirimu, jagalah kemaluanmu, bersedekahlah dari hartamu, jangan hasud menghasud niscaya akan hilang hasanatmu dan janganlah ghibah (menyebut aib orang lain) niscaya binasa kamu. Ingatlah saya telah menyampaikan. Hai manusia, berusahalah kamu untuk memerdekakan budak – budakmu dan berbuatlah kebajikan untuk hari kebutuhan dan hajatmu. Hai manusia, jangan menganiaya sebab Allah sendiri yang akan menuntut terhadap siapa yang kejam aniaya, kamu yang menanggung perhitunganmu dan kepada Allah kamu akan kembali, Allah tidak rela jika kamu berbuat ma’siyat. Hai manusia, sesungguhnya siapa yang berbuat kebajikan maka untungnya untuk dirinya sendiri, begitu pula sebaliknya jika berbuat kejahatan maka ditanggung sendiri, dan Tuhan tidak menganiaya pada hamba – hambanNya. Jagalah dirimu dari hari dimana kamu dihadapkan kepada Allah, kemudian tiap orang akan dibalas atas segala amal usahanya dan mereka tidak dianiaya. Hai manusia, sesungguhnya saya akan menghadap kepada Tuhanku dan saya telah diberitahu akan meninggal karena itu saya titipkan kamu kepada Allah yaitu agama dan amanatmu. Wassalamu alaikum hai para sahabatku dan semua ummatku. Wassalamu alaikum warohmatullah wabarokatuh”. Kemudian beliau turun dari mimbar lalu masuk rumah dan tidak keluar lagi sesudah itu. Shalawat dan salam atas beliau saw, keluarga, sahabat dan umatnya.Hadirnya Nabi Khidir AS pada wafatnya Nabi Muhammad SAW
Ibnu Mash’ud berkata: “Ketika Rosulullah saw telah mendekati ajalnya, beliau mengumpulkan kami sekalian dikediaman ibu kita Siti Aisyah, kemudian beliau memperhatikan kami sekalian sehingga berderrailah air matanya dan bersabda: “Selamat datang bagi kamu sekalian dan mudah-mudahan kamu sekalian dibelas kasihani oleh Allah, saya berwasiat agar kamu sekalian bertaqwa kepada Allah sertamentaatiNya. Sungguh telah dekat hari perpisahan kita dan telah dekat pula saat hamba yang dikembalikan pulang kepada Allah ta’ala dan menemui surgaNya. Kalau sudah datang saat ajalku, hendaklah Aly yang memandikan, Fadhal bin Abas yang menuangkan air, dan Usamah bin Zaid yang menolong keduanya, kemudian kafanilah aku dengan pakaianku sendiri, bila kamu sekalian menghendaki, atau dengan kain Yaman yang putih; Kalau kamu sekalian memandikan aku, maka taruhlah aku diatas balai tempat tidurku dirumahku ini, dekat dengan lobang lahatku. Sesudah itu keluarlah kamu sekalian barang sesaat meninggalkan aku. Pertama-tama yang mensholati aku ialah Allah Aza wajalla, kemudian malaikat Jibril, kemudian malaikat Isrofil, malaikat Mikail, kemudian malaikat Izroil dan beserta para pembantunya, selanjutnya semua para malaikat. Sesudah itu masuklah kamu sekalian dengan berkelompok-kelompok dan lakukan sholat untukku.”
Setelah mereka mendengarkan ucapan perpisahan Nabi Muhammad saw, mereka para sahabat menjerit dan menangis seraya berkata, “Wahai Rosullullah, Engkau adalah seorang Utusan untuk Kami sekalian , menjadi kekuatan dalam pertemuan Kami dan sebagai penguasa yang mengurus perkara Kami, bila mana Engkau telah pergi dari Kami, kepada siapakah Kami kembali dalam segala persoalan?”
Rosullullah bersabda,”Telah kutinggalkan kamu sekalian pada jalan yang benar dan diatas jalan yang terang dan telah kutinggalkan pula untuk kamu sekalian dua penasehat yang satu pandai bicara yang satunya diam saja, yang pandai bicara adalah al-Qur’an dan yang diam adalah ajal atau kematian. Apabila ada persoalan yang sulit bagimu, maka kembalilah kamu sekalian kepada Al-Qur’an dan kepada sunnah. Dan kalau hati kamu keras membatu maka lunakkan dia dengan mengambil tamsil ibarat dari hal ihwal mati.
Sesudah itu maka Rosullullah saw menderita sakit mulai akhir bulan Shafar selama delapan belas hari. Para sahabat pun menengok silih berganti. Sedang penyakit yang diderita mulai hari pertama sehingga akhir hayatnya ialah pusing kepala.
Rosullullah mulai menjadi Rosullullah pada hari senin dan wafat juga pada hari senin. Tatkala pada hari senin, penyakit beliau bertambah berat. Maka setelah Bilal selesai adzan subuh, dia pergi menghampiri pintu rumah Rosullullah saw sambil mengucapkan salam, “Assalamu alaika ya Rosullullah!” Siti Fatimah menjawab, “ Rosullullah masih sibuk dengan dirinya sendiri” Bilal terus kembali masuk ke Masjid, dia tidak memahami kata-kata Fatimah. Ketika waktu subuh makin terang, Bilal datang lagi menghampiri pintu rumah Rosullullah saw dan salam seperti semula. Rosullullah mendengar suara Bilal itu, maka beliau bersabda: ‘’ Masuklah hai Bilal, aku masih sibuk terhadap diriku sendiri dan penyakitku rasanya bertambah berat. Maka suruhlah Abu Bakar agar sholat berjamaah dengan orang-orang yang hadir. Bilalpun keluar sambil menangis dan meletakkan tangannya diatas kepala, sambil mengeluh, “Aduh musibah, susah, terputus harapan, telah habis hilang tempat tujuan, andaikata ibuku tidak melahirkan aku.”
Bilal terus masuk masjid dan berkata,”Hai sahabat Abu Bakar, sungguh Rosullullah menyuruh engkau agar sholat bersama-sama dengan orang yang hadir, karena Beliau sibuk mengurusi dirinya yang sedang sakit. Ketika Abu Bakar melihat mihrab (tempat sholat imam) kosong dan Rosullullah tidak hadir, maka Abu Bakar menjerit keras sekali dan jatuh tersungkur karena pingsan. Maka ributlah kaum muslimin, sehingga Rosullullah mendengar keributan mereka, dan bertanya kepada Fatimah, “Hai Fatimah mengapa pagi ini, dan apakah keributan di sana itu?” Siti Fatimah menjawab, “Keributan di sana itu ialah kaum muslimin sendiri , karena engkau tidak hadir”. Maka Rosullullah saw memanggil Ali dan Fadhan bin Abbas, lalu beliau bersandar kepada keduanya dan keluar rumah menuju masjid lalu sholat bersama-sama dengan mereka dua rekaat. Selesai sholat beliau berpaling ke belakang dan bersabda, ”Hai kaum muslimin, Kamu semua dalam pemeliharaan dan pertolongan Allah, oleh sebab itu bertaqwalah kepada Allah serta mentaatinya, maka sesungguhnya saya akan meninggalkan dunia ini. Dan di hari ini hari pertamaku di akhirat dan hari terakhir bagiku di dunia”.
Lalu Rosullullah saw berdiri dan pulang ke rumahnya. Kemudian Allah ta’ala memberi perintah kepada malaikat kematian, ”Turunlah Engkau kepada KekasihKu dengan sebaik-baiknya bentuk, dan lakukan dengan halus dalam mencabut ruhnya, kalau dia mengijinkan kamu masuk, masuklah dan kalau tidak mengijinkan maka janganlah masuk dan kembalilah”.
Maka malaikat kematian pun turun dengan bentuk seperti orang Arab Baduwi desa, seraya mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaikum ya ahlal baiti nubuwwati wa ma’danir risalati adkhulu?(mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu sekalian, wahai penghuni rumah kenabian dan sumber risalah, apakah saya boleh masuk?) ”
Maka Rosullullah saw mendengarkan suara malaikat kematian itu dan bersabda, “Hai Fatimah, siapa yang berada di pintu?” Siti Fatimah menjawab, “Seorang Arab Baduwi yang memanggi dantelah aku katakan bahwa Rosullullah sedang sibuk menderita sakitnya, kemudian memanggil lagi yang ketiga kali seperti itu juga, makadia memandang tajam kepadaku, sehingga menggigil gemetar badanku, terasa takut hatiku dan bergeraklah sendi-sendi tulangku seakan-akan hampir berpisah satu sama lainnya serta berubah menjadi pucat warnaku, Rosullullah saw bersabda, “Tahukah engkau wahai Fatimah, siapa dia” Siti Fatimah menjawab, “Tidak” Rosullullah bersabda, “Dia adalah Malaikat yang mencabut segala kelezatan, yang memutus segala macam nafsu syahwat, yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan keadaan kuburan.”
Maka menangislah Siti Fatimah, dengan tangisan yang keras sekali sambil berkata, “ Aduhai celaka nantinya, sebab kematiannya Nabi yang terakhir, sungguh merupakan bencana besar dengan wafatnya orang yang paling taqwa, terputusnya dari pimpinannya para orang-orang yang suci serta penyesalan bagi kami sekalian karena terputusnya wahyu dari langit, maka sungguh saya terhalang mendengarkan perkataan engkau, dan tidak lagi bisa mendengarkan salam engkau sesudah hari ini” Kata Rosullullah, “Jangan Engkau menangis Fatimah, karena sesungguhnya, engkaulah dari antara keluargaku yang pertama berjumpa dengan aku” Selanjutnya Rosullullah saw bersabda, “Masuklah Engkau Malaikat Kematian, Maka Malaikat Kematianpun masuk sambil mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaika yaa Rosullullah” Rosullullah menjawab, “Wa laika salam, hai malaikat kematian, engkau datang untuk berkunjung atau untuk mencabut nyawaku?” Kata malaikat Kematian, “Saya datang untuk berkunjung dan untuk mencabut nyawa, sekiranya Engkau mengijinkan. Kalau tidak maka saya akan kembali”.
Kata Rosullullah, “ Hai Malaikat Kematian, dimana Jibril Engkau tinggalkan?” Kata malaikat Kematian, ”Dia saya tinggalkan di langit duniadan para malaikat sedang menghormat memuliakan dia”. Tidak selang sesaat Malaikat Jibril as pun turun dan duduk diarah kepala Rosullullah saw. Kata Rosullullah saw, “Tahukah Engkau kalau ajalku telah dekat?” Jawab malaikat Jibril, “Ya Tahu, Yaa Rosullullah” Kata Rosullullah, “Beritahukanlah kepadaku kemuliaan yang menggembirakanku di sisi Allah”.
Kata Jibril, “Sungguh pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah berbaris rapi, menanti ruh engkau di langit, pintu-pintu surga telah telah dibuka dan para bidadari telah berhias menanti kehadiran ruh Engkau”.
Kata Rosullullah, “Alhamdulillah, Hai Jibril, berilah berita gembira tentang umatku di hari kiamat”. Jibril berkata, “Saya beritahukan, bahwa sesungguhnya bahwa Allah ta’ala berfirman, Sungguh telah Aku larang para nabi masuk ke dalam Surga, sehingga engkau masuk lebih dulu, dan Aku larang juga semua umat sehingga umat engkau masuk lebih dahulu.” Kata Rosullullah, “Sekarang telah puas hatiku dan hilanglah rasa susahku. Hai malaikat Kematian mendekatlah kepadaku.”
Malaikat Kematian mendekat dan melaksanakan tugasnya mencabut ruh Beliau, dan ketika ruh sampai di pusat (perut), Rosullullah berkata, “Hai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati itu” maka malaikat Jibril memalingkan wajahnya dari Rosullullah saw, “Hai Jibril apakah Engkau tidak suka melihat wajahku?” Kata Jibril, “Wahai kekasih Allah, siapakah orangnya yang sampai hati melihat wajah Engkau, sedang Engkau di dalam sakaratul maut”.
Annas bin Malik ra berkata, “ketika ruh nabi Muhammad saw sampai di dada beliau bersabda, Aku wasiatkan agar kamu sekalan menjaga sholat dan apa-apa yang menjadi tanggungannmu maka, masih saja beliau berwasiat dengan keduanya itu sampai putuslah perkataannya.”
Kata Ali ra, ´Sungguh Rosullullah saw ketika menjelang akhir hanyatnya telah menggerakkan dua bbibirnya dua kali, dan ketika saya mendekatkan telinga, saya mendengarkan beliau mengucapkan dengan pelan-pelan, umatku… umatku…”
Maka ruh Rosulullah saw dicabut pada hari senin bulan Rabi’ul awwal. Seandainya dunia ini akan kekal bagi seseorang, Niscaya Rosulullah saw di dunia ini akan kekal.
Diriwayatkan, bahwa Ali telah membaringkan jenazah Rosullullah saw untuk dimandikan tiba-tiba ada suara dari sudut rumah yang mengatakan dengan keras sekali, “Muhammad jangan engkau mandikan karena dia sudah suci dan disucikan” maka timbullah keragu-raguan pada diri Ali terhadap suara itu. Kata Ali, “Siapa Engkau sebenarnya, karena sesungguhnya Nabi Muhammad saw telah memerintahkan untuk memandikan.”
Tiba-tiba ada suara lain yang mengatakan, “Wahai Ali, mandikanlah dia,karena sesungguhnya suara yang pertama tadi adalah suara Iblis terkutuk, sebab dengki terhadap Muhammad saw maka dia bermaksud agar beliau dimasukkan ke dalam kubur tanpa dimandikan”.
Kata Ali, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu, sebab Engkau telah memberitahukan bahwa tadi itu suara iblis terkutuk, maka siapakah Engkau?” Suara itu menjawab, “Saya adalah Nabi Khidir, menghadiri jenazah Nabi Muhammad saw.”
Selanjutnya Ali ra, memandikan Jasad Nabi Muhammad saw, Fadhal bin Abbas dan Usamah bin Zahid ra yang menuangkan air dan malaikat Jibril telah datang dengan membawa obat penahan kehancuran jasad dari surga. Kemudian mereka mengkafani beliau serta menguburnya di kamar Siti Aisyah ra, di tengah malam Rabu, sedang Siti Aisyah ra berdiri di atas kubur Nabi Muhammad saw sambil berkata, “Hai orang yang belum pernah mengenakan pakaian dari sutra, dan belum pernah tidur di atas ranjang yang empuk, hai orang yang keluar dari dunia sedang perutnya belum pernah kenyang meskipun dengan roti,dengan gandum kasar; hai orang yang memilih tidur di atas tikar daripada balai/ranjang; hai orang yang tidak tidur sepanjang malam karena takut siksa neraka Sa’ir” (Duratun Nasihin, Pengajian ke 16)
9 Pedang Nabi Muhammad SAW
ini adalah pedang-pedang yang pernah dipakai oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya untuk berdakwah. jumlah total pedang yang pernah digunakan ada 9 buah.
1.Al Mat'thur
Juga dikenal sebagai 'Ma'thur Al-Fijar' adalah pedang yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW sebelum dia menerima wahyu yang pertama di Mekah. Pedang ini diberi oleh ayahnya, dan dibawa waktu hijrah dari Mekah ke Medinah sampai akhirnya diberikan bersama-sama dengan peralatan perang lain kepada Ali bin Abi Thalib.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 99 cm. Pegangannya terbuat dari emas dengan bentuk berupa 2 ular dengan berlapiskan emeralds dan pirus. Dekat dengan pegangan itu terdapat Kufic ukiran tulisan Arab berbunyi: 'Abdallah bin Abd al-Mutalib'.
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa 'uddah harbi-hi (Cairo: Hijr, 1312/1992).
2.Al Adb
Al-'Adb, nama pedang ini, berarti "memotong" atau "tajam." Pedang ini dikirim ke para sahabat Nabi Muhammad SAW sesaat sebelum Perang Badar. Dia menggunakan pedang ini di Perang Uhud dan pengikut-pengikutnnya menggunakan pedang ini untuk menunjukkan kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Sekarang pedang ini berada di masjid Husain di Kairo Mesir.
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa 'uddah harbi-hi (Cairo: Hijr, 1312/1992).
3.Dhu Al Faqar
Dhu Al Faqar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan pada waktu perang Badr. Dan dilaporkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan pedang ini kepada Ali bin Abi Thalib, yang kemudian Ali mengembalikannya ketika Perang Uhud dengan bersimbah darah dari tangan dan bahunya, dengan membawa Dhu Al Faqar di tangannya. Banyak sumber mengatakan bahwa pedang ini milik Ali Bin Abi Thalib dan keluarga. Berbentuk blade dengan dua mata.
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa 'uddah harbi-hi (Cairo: Hijr, 1312/1992).
4.Al Battar
Al Battar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Pedang ini disebut sebagai 'Pedangnya para nabi', dan di dalam pedang ini terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi : 'Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW'. Di dalamnya juga terdapat gambar Nabi Daud AS ketika memotong kepala dari Goliath, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya. Di pedang ini juga terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 101 cm. Dikabarkan bahwa ini adalah pedang yang akan digunakan Nabi Isa AS kelak ketika dia turun ke bumi kembali untuk mengalahkan Dajjal.
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa 'uddah harbi-hi (Cairo: Hijr, 1312/1992).
5.Hatf
Hatf adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Dikisahkan bahwa Nabi Daud AS mengambil pedang 'Al Battar' dari Goliath sebagai rampasan ketika dia mengalahkan Goliath tersebut pada saat umurnya 20 tahun. Allah SWT memberi kemampuan kepada Nabi Daud AS untuk 'bekerja' dengan besi, membuat baju baja, senjata dan alat perang, dan dia juga membuat senjatanya sendiri. Dan Hatf adalah salah satu buatannya, menyerupai Al Battar tetapi lebih besar dari itu. Dia menggunakan pedang ini yang kemudian disimpan oleh suku Levita (suku yang menyimpan senjata-senjata barang Israel) dan akhirnya sampai ke tangan Nabi Muhammad SAW
Sekarang pedang ini berada di Musemum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade, dengan panjang 112 cm dan lebar 8 cm.
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa 'uddah harbi-hi (Cairo: Hijr, 1312/1992).
6.Al Mikhdham
Ada yang mengabarkan bahwa pedang ini berasal dari Nabi Muhammad SAW yang kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Thalib dan diteruskan ke anak-anaknya Ali. Tapi ada kabar lain bahwa pedang ini berasal dari Ali bin Abi Thalib sebagai hasil rampasan pada serangan yang dia pimpin di Syria.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 97 cm, dan mempunyai ukiran tulisan Arab yang berbunyi: 'Zayn al-Din al-Abidin'.
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa 'uddah harbi-hi (Cairo: Hijr, 1312/1992).
7.Al Rasub
Ada yang mengatakan bahwa pedang ini dijaga di rumah Nabi Muhammad SAW oleh keluarga dan sanak saudaranya seperti layaknya bahtera (Ark) yang disimpan oleh bangsa Israel
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 140 cm, mempunyai bulatan emas yang didalamnya terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi: 'Ja'far al-Sadiq'.
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa 'uddah harbi-hi (Cairo: Hijr, 1312/1992).
8.Al Qadib
Al-Qadib berbentuk blade tipis sehingga bisa dikatakan mirip dengan tongkat. Ini adalah pedang untuk pertahanan ketika bepergian, tetapi tidak digunakan untuk peperangan. Ditulis di samping pedang berupa ukiran perak yang berbunyi syahadat: "Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah - Muhammad bin Abdallah bin Abd al-Mutalib." Tidak ada indikasi dalam sumber sejarah bahwa pedang ini telah digunakan dalam peperangan. Pedang ini berada di rumah Nabi Muhammad SAW dan kemudian hanya digunakan oleh khalifah Fatimid.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Panjangnya adalah 100 cm dan memiliki sarung berupa kulit hewan yang dicelup.
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa 'uddah harbi-hi (Cairo: Hijr, 1312/1992).
9.Qal'a
Pedang ini dikenal sebagai "Qal'i" atau "Qul'ay." Nama yang mungkin berhubungan dengan tempat di Syria atau tempat di dekat India Cina. Ulama negara lain bahwa kata "qal'i" merujuk kepada "timah" atau "timah putih" yang di tambang berbagai lokasi. Pedang ini adalah salah satu dari tiga pedang Nabi Muhammad SAW yang diperoleh sebagai rampasan dari Bani Qaynaqa. Ada juga yang melaporkan bahwa kakek Nabi Muhammad SAW menemukan pedang ini ketika dia menemukan air Zamzam di Mekah.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 100 cm. Didalamnya terdapat ukiran bahasa Arab berbunyi: "Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah." Pedang ini berbeda dari yang lain karena pedang ini mempunyai desain berbentuk gelombang.
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa 'uddah harbi-hi


No comments:
Post a Comment
AkvvfKEyCzFtfheJCWaEteNVKP0